April 3, 2010

Renungan: “Nrimo” Bukan Menyerah, Arjuna “Menerima” Perannya sebagai Satria dalam Medan Perang Kurukshetra

Malam itu di Semarang, sepasang suami istri sedang membicarakan tentang ungkapan “narimo ing pandum” dan keadaan negeri yang masih “semrawut”. Di depan mereka ada buku Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Sang Istri: Sebagian besar masyarakat memahami konsep “narimo ing pandum” dengan kacamata yang kurang tepat dengan menganggap bahwa “narimo ing pandum” adalah konsep totaliter yang bermakna menyerah. Padahal kalimat populer tersebut mengandung arti bahwa kita selayaknya menerima peran atas apa yang telah dianugerahkan oleh Keberadaan pada kita. Arjuna “menerima” perannya sebagai satria dalam medan perang Kurukshetra untuk berjuang melawan sanak saudaranya yang berpihak pada “adharma” setelah mendapat nasehat dari Sri Krishna.

Sang Suami: Benar isteriku, kata “nrimo” bermakna sangat dalam. Manusia yang menerima adalah manusia yang telah sadar akan hakikat jati dirinya. Kesadaran awal seseorang adalah menyadari bahwa “kesadaran belum tumbuh dalam dirinya”. Kesadaran masih merupakan potensi yang terpendam. Seseorang berpotensi menjadi Budha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapainya. Dengan meningkatnya kesadaran, dia tidak mengeluh atas keadaan yang dihadapinya. Dia begitu yakin atas “Kuasa Kebenaran” atau “Kesadaran Murni” dan menjadikan-Nya sebagai pelindungnya. Selanjutnya dia sadar akan “dharma” atau perannya di atas panggung kehidupan dunia di negerinya. Dan dia selalu berpikir tentang “sangha” atau komunitas negerinya…….

Sang Isteri: Benar suamiku, selama ini sebagian besar masyarakat hanya menerjemahkan tiga perlindungan, Buddha sebagai Sidharta Gautama, Dharma sebagai ajaran sebagaimana mereka pahami dan Sangha sebagai sekte Buddha sesuai dengan afiliasi dan asosiasi mereka. Ajaran Buddha tidak pernah sesempit itu. Dalam Jangka Jayabaya jika Sabdapalon meramalkan kebangkitan ajaran budhi di tanah air kita, mungkin yang dimaksudkan adalah pemahaman tentang Bodhi Chitta – ajaran tentang Kesadaran Murni. Dharma adalah peran yang dianugerahkan kepada kita di atas panggung kehidupan dan Sangha adalah komunitas  negeri kita. Apa pun agama yang dianut, diwarnai dengan penuh kesadaran. Mereka yang beragama Islam akan menjadi muslimin dan muslimat yang lebih saleh. Yang beragama Katholik dan Kristen akan menjadi umat yang lebih mengasihi. Yang beragama Hindu dan Buddha menjadi lebih peduli, lebih bertanggung jawab. Benang merahnya adalah kesadaran.

Sang Suami: Seseorang yang meningkat kesadarannya akan begitu mencintai negerinya, dia melakukan peran yang diberikan kepadanya untuk mencerdaskan masyarakat, mempersatukan masyarakat, dan bukan bertindak menyusahkan negerinya atau merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia….. Kebanyakan orang baru sebatas dapat mensyukuri pengalaman yang menguntungkan diri mereka saja. Mereka belum bisa melihat “tangan” Tuhan dibalik setiap peristiwa. Mereka yang mau membuka mata dan mau sedikit saja merenungkan hidup mereka, akan melihat berbagai kebetulan yang sebenarnya merupakan desain Sang Keberadaan. Semua peristiwa, semua kejadian, bahkan tanaman dan patung yang berada di taman terjadi karena ada “tangan” Tuhan. Ada sebuah kecerdasan, ada intelegensia dibalik semuanya. Dia yang sudah sadar, seluruh hidupnya menjadi ibadah dan pelayanan tanpa akhir. Ia sudah menemukan jati dirinya.

Sang Isteri: Dalam keadaan suka dan duka dia tetap sama. Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, keceriaannya tidak terganggu. Dia bebas dari rasa takut. Dia tidak menutup-nutupi kebenaran. Dia mengungkapkannya demi kebenaran itu sendiri.

Sang Suami: Benar isteriku, dia menerima setiap tantangan hidup. Menerima yang tidak pasif, tidak statis, bukan karena merasa tidak berdaya. Dia ikhlas bukan karena tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Gusti Yesus menerimanya di atas kayu salib. Dia berserah kepada kehendak Ilahi sebagaimana Nabi Muhammad SAW memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya. Banyak orang yang berprasangka sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru mengisi manusia dengan semangat, dengan energi. Dia menerima dan menghadapi setiap tantangan. “Nrimo” merupakan sebuah ungkapan dari para leluhur yang sangat dalam maknanya.

Sang Isteri: Seorang “pengabdi” selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya, akan tetapi jiwanya tak pernah berhenti berkarya. Dia akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya. Sri Krishna menyuruh Arjuna menjadi “pengabdi”. Sri Krishna tidak bermaksud agar Arjuna meninggalkan perang, melayani fakir miskin atau menyanyikan lagu pujian di puncak gunung. Sri Krishna bermaksud agar Arjuna agar “menerima” tugasnya sebagai satria mengangkat senjata demi kebenaran, demi keadilan. Semoga semakin banyak anak bangsa kita yang sadar……… Semoga.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

April 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone