May 22, 2010

Renungan Tentang Pandangan Hidup Sebuah Genteng Tua

Malam itu sepasang suami istri setengah baya sedang bercengkerama di suatu rumah di daerah Surakarta. Di depan mereka nampak buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”. Sebuah buku karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Siang itu 100 teman-teman kantornya dari Semarang datang ke rumah mereka. Beberapa teman-temannya dari Solo membantu persiapan acara. Bulan depan sang suami sudah memasuki purna tugas, dan teman-temannya mengadakan acara perpisahan sederhana. Kemudian naik bis  bareng ke Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri untuk makan bersama.

Sang Istri: Pensiun kerja adalah latihan, simulasi dari acara pensiun kehidupan. Saya ingat pada waktu seseorang “pensiun dari kehidupan” sebelum dikebumikan atau disempurnakan, seorang wakil keluarga memberikan sambutan. Hadirin sekalian, apabila diantara saudara sekalian masih mempunyai ikatan, pinjaman dengan almarhum atau almarhumah mohon menghubungi kami untuk diselesaikan…… Mungkin wakil keluarga belum sadar juga, iya bila hutangnya hanya uang saja, bila hutangnya berupa perbuatan siapa yang bisa menyelesaikan? Suamiku, setelah perpisahan di rumah, kita makan bersama di tepian waduk Gajah Mungkur pada Rumah Makan “Pak Glinding” di tepian waduk berbatas jalan. Mungkin kita diminta merenung, Wonogiri adalah hutan di gunung tempat hulunya Bengawan. Gajah Mungkur berarti diminta mungkur, membelakangi ego, meninggalkan keserakahan. Gusti memberi simbol kita untuk “ngglinding”, berputar dan berjalan seperti roda kehidupan.

Sang Suami: Benar Istriku, yang selalu saya ingat adalah nasehat Guru, pak Tri tugas mengabdi negara sudah selesai, tetapi tugas mengabdi bangsa tak pernah usai. Isteriku, betapa tepatnya panduan Guru, tugas pengabdian pada Ibu Pertiwi sudah menanti. Tugas memelihara kesadaran agar terus bersemayam dalam diri merupakan tugas tak pernah berhenti. Mengabdi dengan skill dan sisa energi yang masih tersisa yang masih bisa dipunyai.

Sang Isteri: Suamiku, tiga tahun yang lalu kita pernah berdiskusi tentang dialog sebuah genting, mengkin sekarang sudah ada pekembangan dalam pemahaman kita. Mari kita membicarakannya.

Sang Suami: Sebuah “genting baru” dipasang di atas rumah menggantikan genting lama yang retak dan mengakibatkan bocor di dalam rumah. Sang Genting Muda berbicara pada genting tua di sebelah…… Saya bangga, hanya tanah liat berkualitas yang diharapkan manusia bisa menjadi genting yang prima. Setelah terpilih, saya dicampur dengan kotoran sapi yang kering dan diaduk hingga rata. Selanjutnya saya dimasukkan dalam cetakan, dipres ditekan sekuat-kuatnyanya. Setelah selesai kami jemur di terik sang surya. Sampai tiba saatnya saya dibakar, dimasukkan oven dan menjadi genteng yang kuat pada akhirnya. Memang selalu saja ada teman yang gagal tidak sempurna. Dia dibuang sebagai bahan urug jalanan untuk tergilas banyak roda. Tetapi berdasar pengalaman, tanah liat yang baik menghasilkan genteng yang prima. Sang Genting Muda bercerita berapi-api dengan bangganya.

Sang Isteri: Sang Genting Muda ada benarnya. Dalam kehidupan pun, kita harus menjaga pergaulan kita. Seperti tanah liat yang tidak mau bercampur dengan sembarang tanah karena telah berhasrat untuk menjadi genteng yang prima. Kita pun harus memilih teman-teman yang tidak menurunkan tingkat kesadaran kita. Selanjutnya, tanah liat pasrah dengan ahlinya. Dicampur, diaduk dengan kotoran sapi harus bersedia. Sabar menerima kejadian yang menimpanya seperti dipres, mendapatkan tekanan yang luar biasa. Juga tidak mengeluh kala dijemur di terik sang surya. Setelah dijemur, calon genting siap memasuki ruang yang panas membara. Dan, selanjutnya terjadilah transformasi, berubah dari tanah liat menjadi keramik yang perkasa….. Begitulah seharusnya sikap manusia yang telah menetapkan tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan. Kita harus yakin dengan Gusti yang menghamparkan kesempatan kepada kita untuk meningkatkan kesadaran. Bersedia menjalani semua ujian demi peningkatan kesadaran untuk mendapatkan transformasi kesadaran.

Sang Suami: Sang Genting Tua berkata. Luar biasa, dan kamu Genting Muda sudah siap menjalankan dharma. Mengayomi penghuni rumah dengan tidak membeda-bedakannya. Apakah penghuninya keluarga yang harmonis atau pun sekelompok penghuni yang sedang merencanakan sebuah kejahatan nyata? Baik Genting Muda, kau sudah belajar dari alam, belajar dari sang surya. Kau tidak akan pandang bulu, mengayomi siapa pun penghuninya…….. Tetapi tengoklah genting lama yang sudah kau gantikan. Teronggok bercampur puing berserakan. Menunggu di sebarkan sebagai dasar pondasi jalan. Apakah dia sudah tidak bisa berdharma kemudian? Seberapa lama kamu akan bertahan. Akhirnya kamu akan menjadi tua, atau mungkin yang punya rumah akan membangun gedung bertingkat sembilan. Dan kamu dibawa pekerja untuk memperbaiki atap rumahnya di pedesaan? Bila demikian anak muda masihkah kau mempunyai kebanggaan? Kebanggaan, keangkuhan juga mengandung kekhawatiran…….. Sang Genting Muda merenung lama. Terpukul juga egonya. Tetapi kemudian berkata. Terima kasih Guru, terus apa yang harus kulakukan, bagaimana sebaiknya? Kata-katamu berhasil mengubah pola pemikiran lama. Akhirnya tersadarkan juga Sang Genting Muda.

Sang Isteri: Barangkali adalah suatu kekeliruan nyata. Bila kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia. Dalam satu kelompok saja, bahkan di bawah bimbingan seorang Guru yang sama. Setiap orang mengalami evolusi sesuai dengan daya dan upaya sendiri yang telah dilakukannya. Seorang Guru boleh membanting tulangnya. Boleh jungkir-balik, tapi hasilnya tetap sesuai dengan jerih payah masing-masing muridnya. Pengetahuan dari seorang Guru adalah input atau masukan bagi muridnya. Jerih payah adalah proses yang harus dijalani muridnya. Menurut Guru pencerahan adalah output atau hasilnya.

Sang Suami: Beruntunglah Sang Genting Muda yang telah bertemu dengan Sang Genting Tua yang berkenan memberi panduan.  Keserakahan manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Tidak pernah hilang dari pikiran. Dengan melayani keserakahan, makin menjadi serakah berlebihan . Manusia mengejar keduniawian. Setelah memperoleh begitu banyak, apa yang dirasakan? Renungkan?….. Puaskah diri manusia dengan apa yang telah dimilikinya? Puaskah dirinya dengan keberhasilannya? Tidak juga. Sebab itu, dia masih terus mencariya, masih mengejar yang lainnya. Keserakahan menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta. Tidak dapat diobati dengan memperluas wilayah kekuasaannya. tidak dapat diobati dengan menaklukkan orang lainnya…… Belajarlah, untuk menaklukkan diri sendiri. Untuk menaklukkan keserakahan yang bersarang di dalam diri. Itulah raksasa yang harus dijauhkan dari hati nurani.

Sang Isteri: Sang Genting Muda telah sadar bahwa bagaimana pun dia akan ditaklukkan oleh waktu, sang kala. Santo Agustinus menulis bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan waktu, artinya waktu dimulai ketika dunia bermula. Waktu adalah rangkaian kejadian, suatu kontinuitas, kesinambungan. Dalam waktu ada masa lalu, masa kini dan masa depan. Waktu dunia mempunyai tekanan, misalnya pemberian hadiah ulang tahun yang tepat waktu membuat hati berkenan. Sedangkan dalam waktu spiritual tidak ada garis yang jelas antar tahapan kejadian. Misalnya waktu seseorang merasa dirinya damai tidak jelas mulai kapan. Einstein mengatakan lain orang waktunya juga berlainan. Misalnya seseorang berada di Solo dan waktu menunjukkan pukul tujuh, tetapi temannya di Papua pada saat itu menunjukkan pukul sembilan. Padahal suara telpon dia di Solo pada saat itu akan sampai di Papua beberapa detik kemudian.

Sang Suami: Benar isteriku, pada waktu mimpi, waktu berjalan sangat cepatnya. Bermimpi melakukan perjalanan hidup yang panjang yang setelah bangun ternyata tidurnya hanya satu jam saja. Sehingga waktu itu relatif juga. Seorang Master menjelaskan waktu di shambala satu menit sama dengan waktu dunia fisik lima warsa. Tuhan disebutkan tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Artinya Tuhan melampaui waktu, melampaui sang kala. Karakter Tuhan tidak berubah karena bertambahnya waktu, sedangkan karakter dunia berubah seiring perjalanan waktunya. Semakin kasar, semakin berwujud fisik waktu semakin lambat saja. Ibarat lingkaran roda yang besar sekali, di luar bergerak banyak apabila pusat bergerak sedikit saja. Semakin mendekat Ilahi gerakan atau perubahan semakin kecil juga. Di titik pusat sendiri berputar pun tetap dalam titik porosnya. Praktis tidak ada perubahan, melampaui masa. Apalagi Tuhan tidak dapat diserupakan dengan apapun juga, sehingga tetap akan merupakan misteri keberadaan-Nya.

Sang Isteri: Dalam Buku Life Workbook karya Bapak Anand Krishna, dijelaskan bahwa manusia dan makhluk lainnya terjerat waktu. Manusia harus tunduk pada waktu….. Waktu adalah kontinuitas, kesinambungan. Tidak ada garis jelas yang memisahkan masa lalu dari masa kini, dan masa kini dari masa depan. Untuk menyikapinya, manusia perlu mengingat nasihat pujangga besar yang pernah menjabat sebagai presiden India, Prof. S. Radhakrishnan….. Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan. Masa lalu sudah berlalu, mau percuma disesalkan. Buatlah rencana untuk masa depan tanpa kekhawatiran. Jangan gelisah, jangan pula ngebet seolah kita sedang berpacu dengan waktu, karena kita hidup dalam waktu. Hidup dan berkaryalah dalam masa kini dengan penuh kesadaran. Kita tidak dapat berkarya dalam masa lalu yang sudah berlalu, atau pun dalam masa depan yang belum datang. Kita harus berkarya dalam masa kini. Saat ini adalah saat kita untuk berkarya, untuk hidup dan menghidupi. Gunakanlah sebaik-baiknya saat ini!

Sang Suami: Manusia sudah melampaui waktu, kala setiap waktu dia hidup dalam kekinian. Semestinya manusia tidak terpengaruh “periphere”, terpengaruh luaran. “Periphere” atau dunia ini adalah bayangan, semacam film yang terpampang di layar kehidupan. Manusia terlalu terpengaruh bayangan, bereaksi terhadap adegan film di layar, padahal layar hanyalah proyeksi dari film di proyektornya. Semestinya manusia tidak menempatkan dirinya di bayangan, semestinya manusia mendekatkan diri pada proyektor, pada jatidirinya. Kalau penonton wayang  bisa menangis dan tertawa dan terobsesi dengan pertunjukan wayang, manusia perlu mendekat pada dhalangnya. Semoga……… Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva.

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Mei, 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone