May 8, 2010

Renungan Tentang Shifting Awareness, Hiburan Raga dan Hiburan Jiwa

Agak tidak biasa memang, sepasang suami istri setengah baya menghibur diri mereka dengan berbalas pantun. Tetapi itulah mereka. Kali ini yang dijadikan rujukan pantun adalah buku “Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2008.

Sang Istri: Seseorang mengambil beberapa sajian makanan yang telah disediakan di warung prasmanan. Sederet orang di belakangnya menunggu orang tersebut menyelesaikan pilihan. Nasi dan lauknya menggunung begitu banyak di luar standar kenormalan. Setelah ambil minuman, membayar di kasir sendirian, dan kemudian nampak menikmati santapan. Tidak ada yang salah memang, tidak ada yang dirugikan. Banyak orang tak peduli, tidak menjadi perhatian.

Sang Suami: Pada waktu indera menikmati makanan. Sesaat, terlupakan beban pikiran. Pikiran, yang selalu memikir masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Celah antara dua pikiran memang membahagiakan. Perpindahan kesadaran yang membahagiakan. Disebut “shifting awareness”, demikian buku be Happy menjelaskan. Membuat diri kecanduan. Membuat makan berlebihan

Sang Istri: Benar suamiku, bukan hanya makanan. Minuman keras, oplosan dan narkotika pun membuat kecanduan. Karena melupakan masalah lalu dan tidak mengkhawatirkan masa depan memang mendatangkan kenikmatan….. Bukan hanya yang dilarang, yang halal pun bisa meminta pengulangan.  Mata bisa mengkonsumsi berlebihan. Pikiran pun bisa menikmati internetan, FB-an sampai leher kaku rasa nggak keruan. Hidung dan telinga juga mengkonsumsi melebihi kewajaran. Bacaan, berita, diskusi dimasukkan otak melampaui takaran. Bahkan segala sesuatu dinikmati tanpa aturan. Sering melewati batas kemampuan badan.Tidakkah itu semua wujud dari pelarian? Ataukah semacam “pause”, berhenti sejenak bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran?

Sang Suami: Para Bijak mengatakan, tinggalkan sesuatu yang berlebihan. Bila melebihi takaran, yang baik pun bisa menjadi racun yang merusakkan. Shifting Awareness, perubahan kesadaran memang membahagiakan……. Bisakah kebahagiaan dipertahankan?

Sang Istri: Ketenangan batin dan kepuasan muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batasan. Setiap keinginan yang tidak terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, kita membatasi keinginan dengan penuh kesadaran. Saat itulah kita menjadi tenang dan berada dalam kepuasan……. Selama ini manusia tidak bahagia di hatinya, dia mencari kebahagiaan di luar dirinya, karena dia tidak pernah menghargai diri pribadinya. Justru keadaan dan benda-benda di luarlah yang dihargainya.

Sang Suami: Shifting Awareness, adalah pergantian kesadaran. Pergantian kesadaran yang membahagiakan…….. Seorang pecandu, pemabuk, perokok merasa bahagia ketika ia mengalami shifting of awareness, ketika ia melampaui kesadaran jaga dan memasuki kesadaran yang lainnya. Saat terjadinya shifting awareness itulah saat bahagia. Pergantian kesadaran yang hanya terjadi sesaat saja. Semestinya manusia mencari kebahagiaan sejati lewat shifting awareness yang bukan sesaat saja, tetapi untuk selamanya………… Bukan sekedar di antara dua celah pikiran. Pikiran seharusnya ditundukkan. Sudah lama dia menyalahgunakan kekuasaan. Fungsi pikiran sebagai alat perlu dikembalikan. Saat pikiran terkendalikan, hidup dalam kekinian. Tidak dibebani masa lalu dan tidak mengkhawatirkan yang akan terjadi kemudian. Kita akan bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan dari dalam bukan karena obyek di luaran. Kebahagiaan bukan lagi diantara dua celah pikiran. Karena pikiran sudah dikendalikan. Kebahagiaan karena hidup dalam kekinian.

Sang Istri: Manusia mencari hiburan, karena mendapatkan kenikmatan pada celah di antara dua pikirannya. Tetapi Guru menjelaskan lewat sms wisdom, bahwa spiritualitas adalah hiburan bagi jiwa. Bila kita masih mencari hiburan lain, maka itu membuktikan kita belum mengetahui kebutuhan jiwa, baru bersentuhan dengan raga.

Sang Suami: Seekor kambing merasa berbahagia selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandangnya. Seekor binatang belum bisa membedakan antara kebahagiaan dan kenyamanan dirinya. Terpenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan, minum, tidur dan seks, maka manusia pun merasa nyaman juga. Tentu saja kualitas kenyamanan bagi setiap orang berbeda. Akan tetapi rasa nyaman tidak sama dengan rasa bahagia. Banyak orang berharta yang mestinya sangat nyaman tetapi belum merasa berbahagia. Manusia sering mengejar kenyamanan, dan akhirnya kecewa. Puas sebentar saat tercapai, kemudian ada hal yang lain yang juga perlu dikejarnya. Karena keserakahan memang tak ada batasnya.  Memang harus dibedakan antara kenyamanan panca indra dan pikiran, dengan rasa bahagia.

Sang Istri: Polling yang diadakan di Inggris pada tahun 1957 menyatakan bahwa 52% di antara para responden merasa sudah cukup bahagia. Sementara itu, pada tahun 2007, hanya 36% yang merasa bahagia. Padahal, dalam 50 tahun terakhir penghasilan orang-orang Inggris telah meningkat hingga 3 kali lipatnya…….. Menurut polling dari BBC tersebut, faktor yang membahagiakan adalah 1. Relasi atau hubungan; 2. kesehatan; 3. ketenangan batin dan kepuasan. Faktor no.1 dan no.2 menyangkut fisik, akan tetapi faktor no.3 menyangkut batin, kerohanian.

Sang Suami: Konon, lain dengan orang Indonesia, kebanyakan orang berkata, Tuhan dan Uang membuat bahagia. Tuhan pun diperlukan karena ada maunya. Agar dikabulkan permohonannya. Agar tercukupi kebutuhannya, terutama agar berlebihanlah uangnya. Tuhan, aku sudah beribadah, aku selalu bangun malam, aku tak lupa berdoa pada-Mu, kabulkanlah doa saya. Berlimpahkanlah harta saya. Dengan cara apa saja ya Tuhan agar saya bahagia. Seandainya sudah bergelimang harta, mungkin Tuhan pun tidak diperlukannya, kecuali untuk mengampuni dosa dan memberi hadiah surga. Bukankah itu artinyamenganggap uang sebagai Yang Maha Kuasa.Tuhan pun dianggap sebagai alat untuk memenuhi keinginannya. Tuhan yang demikian yang ada dibenaknya. Itulah yang disebut Tuhan Konsep Pikiran Manusia. Antara kebahagiaan dan kenyamanan belum bisa dibedakannya. Semoga tidak demikian adanya. Semoga kesadaran bangkit di seluruh jiwa putra-putri bangsa.

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Mei, 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone