June 27, 2010

Renungan Tentang Lambang Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Pendayagunaan Energi Alam Semesta Bagi Peningkatan Kesadaran Manusia

Sepasang suami istri setengah baya sedang memperbincangkan Lambang Lingga dan Yoni. Mereka pernah masuk Candi sukuh dan menemukan beberapa lambang ini. Buku-buku karya Bapak Anand Krishna “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” dan “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”, dijadikan sebagai referensi.

Sang Suami: Manusia bisa disebut “homo simbolicus”, makhluk pengguna simbol-simbol sebagai alat untuk menggambarkan fenomena-fenomena abstrak maupun nyata. Simbol-simbol tersebut ada yang dapat digunakan sebagai alat peningkat kesadaran manusia. Di antara simbol peningkat kesadaran, Lingga digunakan sebagai simbol dari Energi Maskulin, “Yang”, Pria dan Yoni dipakai sebagai  simbol dari Energi Femin, “Yin”, Wanita. Lingga dan Yoni adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia dan di alam semesta….. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan. Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan. Tanpa penyatuan tak ada generasi lanjutan…… Tugu adalah simbol dari Lingga, sedang Yoni sering diwujudkan sebagai Gapura. Tugu Monas juga melambangkan Lingga dan Yoni yang diletakkan di tengah taman di depan istana negara. Simbol Bintang Daud yang juga merupakan simbol Tantra berwujud bintang segi enam atau dua buah segitiga. Segitiga di bawah yang sisinya membuka ke atas adalah simbol wanita. Sedangkan simbol segitiga di atas yang sisinya membuka ke bawah adalah simbol pria. Simbol tersebut merupakan penyatuan juga.

Sang Istri: Bagi masyarakat Yogyakarta, Laut Selatan dianggap sebagai lambang Yoni dan Gunung Merapi di Utara sebagai lambang Lingga. Panggung Krapyak Selatan sebagai Yoni, Tugu Utara sebagai Lingga. Bahkan ada yang menyebut Monumen Yogya Kembali sebagai tumpeng raksasa. Gunung Merapi – Monumen Yogya Kembali – Tugu – Kraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan, yang merupakan “Garis Lurus Imajiner” sampai sekarang masih dihormati masyarakat Yogyakarta. Dan menurut kepercayaan, bersatunya Lingga dan Yoni di Kraton akan menimbulkan kemakmuran bagi Yogyakarta…. Di depan Kraton Kanoman, Cirebon juga terdapat lambang Yoni dan Lingga. “Lumpang” sebagai simbol Yoni dan “Alu Besar” sebagai Lingga….. Di desa-desa alat penumbuk padi zaman dulu berwujud “lesung dan alu” juga merupakan simbol Yoni dan Lingga. Padi yang ditumbuk diharapkan membuat makmur dan sejahtera. Simbol Lingga dan Yoni mudah dipahami oleh semua manusia. Dipahami semua manusia yang telah terprogram oleh kepercayaan yang berbeda. Karena simbol Lingga dan Yoni bersifat mendasar, polos dan sederhana.

Sang Suami: Ada pandangan yang mengungkapkan bahwa arca Ganesha menggambarkan misteri penyatuan alam semesta secara tantra. Makhluk yang perkasa ini melambangkan kedashyatan energi penyatuan alam semesta. Belalainya melambangkan keperkasaan sebuah lingga dan mulutnya yang lebar melambangkan yoni, perpaduan antara purusha dan prakriti, pria dan wanita. Ganesha sebagai lambang spiritual, pengetahuan kesadaran dan penyatuan adalah hasil sinergi dari Tri-murti dan Tri-shakti. Yaitu pasangan kekuatan Brahma-Saraswati, Shiwa-Kali dan Wishnu-Lakshmi. Brahma-Saraswati melambangkan kekuatan alam penciptaan. Shiwa-Kali melambangkan kekuatan alam pendaur ulangan. Wishnu-Lakshmi melambangkan kekuatan alam pelindung dan pemelihara kehidupan. Doa Ganesha selalu dilakukan di awal sebagai doa pembukaan.

Sang Istri: Para Leluhur beranggapan “Bahwa segala sesuatu ada awal-nya”. Pengajaran ini divisualisasikan dalam Relief Pertemuan Lingga dan Yoni di Candi Sukuh yang saling berhadapan pada lantai gerbang utama. Relief Pertemuan Lingga dan Yoni tersebut juga merupakan “candra sangkala” yang berbunyi : “ Wiwara Winirasa Hanahut Jalu “ secara harafiah berarti “lobang kenikmatan menggigit kejantananan” yang bermakna angka tahun 1359 Tahun Saka. Atau tahun  1437 Masehi, tahun penanda diawalinya pembangunan candi di sana.

Sang Suami: Penyatuan atau sanggama menggambarkan proses hubungan timbal balik dan keharmonisan yang terjadi di alam semesta. Sanggama bukan hanya dalam hubungan fisik, tetapi juga interaksi keseharian dengan objek di sekitarnya. Kesempurnaan akan tercapai apabila interaksi tersebut berada dalam irama keharmonisan. Kegiatan “sanggama dengan alam” dapat dilihat dalam keseharian hubungan sosial antar individu, dan persembahan hubungan spiritual antara atma dengan Brahman, antara jiwa dengan Tuhan.

Sang Istri: Penyatuan adalah intisari kehidupan keilahian yang diwariskan dari masa ke masa, dari mahluk ke makhluk, dari fauna ke fauna, dan dari flora ke flora. Adalah anugerah alam yang menakjubkan, yang luar biasa. Penyatuan berasal dari alam semesta. Proses regenerasi menunjang alam semesta. Alam menambahkannya dengan gairah, nafsu dan makna-makna rahasia yang sering disalah gunakan oleh manusia yang tidak dapat memahaminya. Karena pikirannya yang  telah terpola oleh program kepercayaan yang berlangsung sejak masa balita.

Sang Suami: Ahli Ilmu Jiwa, Sigmund Freud mempunyai kajian perkembangan psikologi seksual pada manusia. Insting seksual seorang anak telah tampak sejak awal masa kehidupannya, seperti naluri mengisap Air Susu Ibu dan juga mengisap jarinya. Anak-anak cenderung bersifat autoerotik, yaitu memuaskan dirinya dengan menggunakan bagian tubuhnya, seperti dengan mengisap ibu jari atau menyentuh organ genitalnya. Demikian adalah hal yang wajar dalam perkembangan kehidupan manusia.

Sang Istri: Suamiku, mari kita mengkaji dengan buku-buku Bapak Anand Krishna. “Kama” atau Nafsu adalah “an integral part of life”, bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Dan, “Sutra” atau pedoman suci yang berkaitan dengannya. Kama semestinya keinginan kuat, keinginan tunggal, untuk menemukan Jati Diri. Sementara ini, keinginan kita masih bercabang, terdorong oleh hawa nafsu, kita menginginkan kenyamanan duniawi, kepentingan pribadi. Pelan-pelan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan keinginan ini kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan, kita menjadikannya satu keinginan untuk Menemukan Jati Diri.

Sang Suami: Bila kita memahami Kama sebagai keinginan, maka energi seks adalah sarana untuk mewujudkan keinginan itu. … Energi seks yang sesungguhnya adalah Energi Dasar di dalam diri kita, merupakan sarana untuk mewujudkan hal itu. Bila “kenikmatan” dipahami sebagai tujuan Kama, maka tentunya kenikmatan yang kita inginkan bukanlah kenikmatan sesaat saja. Kita sudah pasti menginginkan kenikmatan yang tidak semu yang dapat bertahan selamanya. Dan, kata lain bagi kenikmatan semacam ini adalah Kebahagiaan. Kebahagiaan yang langgeng, kekal, abadi, bebas dari segala macam persyaratan. Kebahagiaan yang membebaskan.

Sang Istri: Energi di dalam diri, yang selama kita “merasa”, kita “memikir” bahwa diri kita terpisah dari alam sekitar kita, adalah energi seks, “Sexual Energy”. Energi di dalam diri jika kita “merasa”, kita “memikir” bahwa diri kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam sekitar kita, dari Lautan Energi di sekeliling kita, itulah Kundalini, Potential Energy”. Pikiran kita, perasaan kita dapat mengubah energi seks menjadi Kundalini, sehingga kita dapat mengembangkan potensi diri. Sebab itu, Proses atau Tantra, cara mengubah pikiran serta perasaan ini pun sesungguhnya menggunakan pikiran dan perasaan sendiri. Gunakan pikiran, mind dengan penuh kesadaran untuk mengubah cara pandang yang lama, yang keliru. … Tantra adalah sebuah eksperimen dengan mind, dengan pikiran, demikian penjelasan bapak Anand Krishna seperti tersebut dalam buku. Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup, dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini dianggap mati, sesungguhnya tidak mati, semuanya hidup hanya cara pandang lama kita yang keliru.

Sang Suami: Vatsyayana mengajak kita untuk mengurusi dulu nafsu birahi. Karena Ilahi tidak dapat dirasakan kehadiran-Nya, selama kita masih terkendali oleh birahi. Birahi menyeret kesadaran kita ke bawah, sedangkan Ilahi membutuhkan kesadaran kita berada di tempat tinggi.  Tetapi juga tidak berhenti di ketinggian itu saja. Dari ketinggian tersebut, kesadaran kita meluas, meliputi segalanya… termasuk birahi yang kemudian menjelma sebagai birahi yang ditujukan kepada Ilahi. Tantra merupakan suatu revolusi dalam bidang spiritual bagi manusia. Tantra berarti latihan, eksperimen atau cara. Bereksperimen dengan energi yang berada dalam diri kita sendiri, yang selama ini kita sebut energi seks, untuk meningkatkan kesadaran kita. Itulah tujuan Tantra. Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, tidak dengan terbuka, tetapi secara implisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun pembicaraan tentang seks dianggap tabu. Para pendidik agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seks, tidak pernah bicara tentang hal itu.

Sang Istri: Menurut ajaran-ajaran Tantra, kita tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama, dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana kita dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, kita tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran diri.

Sang Suami: Seks mengawali kehidupan manusia. Seks merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan kita. Hubungan seks antara kedua orang tua melahirkan kita. Kesadaran seks berpusat pada bagian tubuh di bawah pusar manusia. Di atas pusar, sekitar jantung, di dada merupakan pusat kesadaran cinta. Cinta berkembang di dada. Emosi mulai bergejolak di sana. Kita harus meningkatkan kesadaran dari bawah pusar ke atas pusar manusia. Selama kesadaran masih di bawah pusar, kita belum dapat mengenal cinta. Yang kita kenal selama ini, hanyalah napsu birahi saja. Paling atas, sekitar kepala, merupakan bersemayamnya Kasih, demikianlah tingkatan kesadaran setiap manusia. Tingkat awal adalah seks, tengah adalah cinta dan atas adalah kasih. Passion, love, and compassion. Pembagian yang dilakukan Bapak Anand Krishna ini berdasarkan pusat-pusat energi yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Ini disebut cakra, lingkaran-lingkaran energi. Sentra-sentra energi yang berada di sekitar pusar, dada dan kepala merupakan sentra-sentra energi penting sekali, yang dapat meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan  dengan seksual saja. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu juga. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, dia adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila seseorang mengasihi setiap makhluk, segala sesutau yang ada dalam alam ini, apabila dia mengasihi alam semesta ini, dia adalah seorang “Yang Terjaga”. Lingga dan Yoni bukan hanya sebuah lambang tetapi pelajaran spiritual yang sangat berharga.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Dewa.

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Lambang Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Pendayagunaan Energi Alam Semesta Bagi Peningkatan Kesadaran Manusia

  1. Luar biasa leluhur nusantara telah memahami proses penciptaan alam semesta. Banggalah jadi putra nusantara….
  2. Seks adalah energi. karena ia adalah energi maka tidak melulu berkaitan dengan seksual saja. seks adalah energi dalam hal ini berarti libido. libido berarti keinginan (KAMA), dan napsu juga berarti keinginan (passion). Tugas kita kemudian menyadari cakra (energi/keinginan/Kama) di tingkat awal adalah seks, menuju tengah adalah cinta dan puncaknya adalah kasih. Passion, love, and compassion. Bukan terjerumus kepada hawa napsu (=keinginan rendah).
  3. Energi Kasih adalah perluasan dari energi sex. Kalau kita menafikan sex,maka Kesadaran Kasih hanya menjadi impian belaka,dan perilaku kita makin kaku,alot,keras dgn mengaku sok suci. Bersyukurlah krn budaya kita mengajarkan utk memberdaya energi sex.
  4. Para yogi mengolah pikiran dengan metode yang tepat secara bertahap menuju kekosongan, KASUNYATAAN. Untuk metode tantra yang sering dijumpai bentuk-bentuk seksualitas secara simbolis, Buddha vajradhara/samantabadhra memangku dakini, sang Buddha adalah simbol realitas hidup atau praktek hidup, sang dakini adalah simbol kebijaksanaan. Bersatunya mereka dalam sanggama atau yabyum menandakan kita sebaiknya jangan dikacaukan dualitas, dibimbing untuk melampaui dualitas itu menuju kekosongan / kesunyataan yang mulia. Secara prakteknya, para yogi hidup berumahtangga dengan wanita pilihan atau dakini sebagai pernikahan spiritual, adanya sanggama hanya merupakan pertukaran energi yang saling mengisi diri mereka masing-masing, dengan demikian olah batin mereka juga berkembang pesat menuju pencerahan.
  5. Konsep the mother of the buddhas yang mewujud dalam prajnaparamita merupakan pendekatan yang tepat dalam memahami realitas hidup ini yang sebenarnya. Alam Semesta penuh kasih keibuan, jadi Yoni merupakan kekuatan utama penggerak kehidupan ini. Tiada kasih ibu yang menyambut dengan sukacita datangnya benih dari ayah, membiarkannya tumbuh dalam badannya, memeliharanya dengan penuh kasih, dan melepaskannya, mengeluarkannya ketika sudah ‘matang’, sudah sempurna, tentu dengan taruhan nyawa, maka kehidupan ini tidak akan berlangsung hingga sekarang.
  6. Kata-kata “bersanggama” merupakan simbol makna yang sangat luas seperti luasnya alam semesta ini jadi bukan hanya hubungan fisik…setiap hari disaat kita berdiam, berdiri, berjalan dan berlari (dalam keadaan apapun) bagaimana kita harus selalu berada dalam keadaan “bersanggama”….seperti contoh dalam “bersanggama” nya dua insan ketika mereka berdua mencapai keadaan klimaks (orgasme) sadar (maupun yang tidak) bahwa — seperti kisah tristan dan isolde : tristan berteriak “akulah isolde'” dan isolde berteriak “akulah tristan” — kita tidak tau apakah diri kita ini seorang pria ato wanita (meski hanya dalam beberapa detik)…….dalam wikipedia : walau terdapat perbedaan anatomi antara alat kelamin pria dan wanita, orgasme pada pria dan wanita secara fisiologis dan psikologis, atau subjektif sangat serupa. Sebenarnya,penelitian telah dilakukan dimana para “ahli” tidak dapat menentukan jenis kelamin dengan pasti saat membaca gambaran orgasme-orgasme yang semua petunjuk anatominya dihilangkan…..sekarang bagaimana cara memandang “bersanggama” tergantung dari masing-masing individu…..”bersanggama” dalam kesadaran dan keberadaan diliputi ilahi sebagai timbal balik dalam kehidupan di alam semesta ini.
  7. Sebaiknya ikut Latihan Seni Memberdaya Diri 1, dengan diimbangi latihan relaksasi, bisa lebih tenang dalam menghadapi hidup ini.
  8. Konon energi Yang itu terbatas, sedangkan Yin itu tidak terbatas. Sehingga pria harus mendapatkan energi Yin, tidak hanya memuaskan diri sendiri saja agar mendapatkan manfaat energi semesta.
  9. Bagi para kawula muda. Sperma atau ovum adalah sari-sari makanan yang untuk membuatnya memerlukan waktu yang lama, sekitar 21 hari katanya. Sperma dan ovum adalah liquid energy. Bila didayagunakan untuk berkarya, maka hasilnya menjadi luarbiasa. Offspring bukan hanya anak, tetapi karya juga merupakan offspring.
  10. Sudah saatnya Sex/Senggama/Penyatuan itu bukanlah hal yang kotor ataupun tabu, tapi adalah hal yang suci.
  11. Penyatuan adalah hal yang suci. Seseorang yang telah puas di rumah, di tempat kerjanya bisa mengendalikan diri, mengendalikan keserakahan tidak mau menang sendiri.
  12. .Alam Nusantara kita sebenarnya menjadi lahan & wahana peningkatan spiritualitas sejak nenek moyang. Sayang beribu sayang bila kita sia-siakan.
  13. Energi sebenarnya satu…tidak ada bedanya apakah ia seksual ataukah illahiah. Perbedaan muncul melalui ‘pintu’ mana energi itu terartikulasi atau memanifestasi. Konon, disebut energi seksual karena ia mengalir ke bawah, ke cakra sex, dn disebut energi illahiah karena ia mengalir ke atas, ke cakra mahkota. Ada pula orang yang membagi cakra dada ke bawah sebagai insting binatang, mulai dada ke atas ialah naluri kemanusiaan, dn terakhir ketuhanan (cakra mahkota). Saya tidak tahu kebenarannya seperti apa atau bagaimana, karena toh kita bisa pula memperincinya lagi atau membuat kategori yang lain. Namun, apa yang cukup penting ialah merumuskan atau mendeskripsikan ‘parameter’nya, yakni modus hubungan seksual yang seperti apakah atau yang bagaimana sehingga hal ini bisa kita kualifikasikan sebagai meditatif? Apa dn bagaimana gejala intrinsiknya yang muncul menyertai, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai berkualitas ‘baik’? Kita punya artikulasi bahasa yang baik untuk memaknai sikon ini, kita menyebutnya “hubungan intim” yang lebih bermakna batin, tapi sikon ini gejalanya seperti apa? Apakah hubungan seks ini kemudian juga kita rasakan ‘additive’? Lalu, ‘melampaui’ seksualitas diri itu seperti apa?
  14. Kita tahu seks begitu mempesona, gairahnya begitu ‘memaksa’ kita, karena ia merupakan instrumen alam untuk kelanggengan species. Namun, kita pun tahu bahwa wacana seks juga diproduksi dn direprodusi terus-menerus secara massal dn intensif oleh mesin industri masyarakat kapitalistik demi tujuan akumulasi keuntungan. Liberalisasi wacana seksual selalu bak pedang bermata dua, jika kita tidak hati-hati mengembannya bukan tidak mungkin justru akan berdampak lebih fatal dan destruktif.

Terima Kasih

Salam __/\__

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone