July 15, 2010

CATURASRAMA Sebuah Pedoman Dari Leluhur

Nagarakretagama pupuh 81 menyebutkan tentang caturasrama, yaitu empat taraf kehidupan bagi tiga golongan warna. Tercatat ada 2 raja yang menjalankan caturasmara secara lelaku kasat keseluruhan yaitu Raja Erlangga pada masa kerajaan Kediri dan Raja Wikramawardhana dari Majapahit.

Raja-raja yang lain menjadikan caturasrama sebagai pedoma berlelaku spiritual untuk meningkatkan evolusi kesadaran tanpa harus meninggalkan kenyamanan hidup, tetap menikmatai kenyamanan hidup dan menjadikan kenyamanan hidup sebagai kendaraan menuju kesadaran sempurna. Sejenak mari kita selami kembali caturasrama untuk meningkatkan kesadaran spiritual kita.

BRAHMACARIN

Kehidupan taraf pertama ini disebut dengan Brahmacarin, yaitu kehidupan sebagai siswa atau murid berguru pada seorang guru spiritual yang mumpuni, yang pandangannya sudah tidak terkotak-kotakan, yang sudah merdeka dan tidak lagi terbelenggu oleh dogma-dogma keagamaan.

Sang guru mengajarkan VRATA atau kedispilinan, tujuan yang ingin dicapai adalah BHAKTI. Pada taraf ini sang murid digembleng oleh sang guru dengan c ara mengikuti perintah sang guru, sobdo panditho ratu apa kata sang guru itu yang harus dilakukan. Pada taraf ini sang guru memborbardir mind murid, mengikis egonya, sehingga BHAKTI dapat tumbuh di lahan jiwa sang murid.

Setelah dirasakan cukup oleh sang guru maka murid dapat melanjutkan langkah berikutnya yaitu SAMAVARTANA.

SAMAVARTANA

Setelah sang guru merasa muridnya telah menguasai semua pelajaran yang diberikan pada taraf kehidupan pertama, maka sang guru akan membuat upacara slamatan yang di sebut GREHASTA dimana simurid akan memasuki taraf kehidupan kedua SAMAVARTA yaitu kehidupan sebagai pemimpin rumah tangga.

Disini simurid diajarkan tentang perkawinan yang diambil dari kitab Weda. Jadi Nampak jelas untuk mencapai jenjang status perkawinan seseorang tidak bisa begitu saja menikah, tidak main menikah sembarang, begiru sreg langsung nikah, undang tentangga panggil penghulu, beli ranjang, ngesek dan kemudian punya anak, bosan, cerai atau selingkuh.

Perkawinan adalah sesuatu yang suci sifatnya dan harus dipersiapkan dengan matang, bapak Anand Krishna menasehati kalau belum punya rumah sendiri jangan menikah. Menikah adalah tanggungjawab berat.

Saat ini menikah sudah dijakan arena ‘pelacuran yang dihalalkan oleh agama’ karena begitu ngerasa sreg di hati dan disela-sela maka langsung nikah untuk bisa ngesek. Lain dulu, segalanya harus dipersiapkan dengan matang, tidak hanya materi namun spiritualpun harus matang untuk memasuki gerbang perkawinan.

Pernikahan dijadikan kendaraan untuk mempersiapkan diri ke taraf kehidupan berikutnya, segala guncangan dan kenikmatan perkawinan dijadikan sebagai pemicu untuk meningkatkan evolusi spiritual. Pada taraf ini meski mengarungi kehidupan bahtera berumah tangga simurid tetap berhubungan dengan guru, tetap mengabdi kepada sang guru.

Begitu siap, begitu matang. Maka kemudian masuk ke dalam taraf kehidupan tiga yang disebut VANAPRASTHA

VANAPRASTHA

Vabaprastha adalah taraf kehidupan ketiga yaitu menjalani hidup sebagai pertapa ditengah hutan sendirian.

“Jika kulit sudah mulai berkerut, rambut beruban dan anaknya sudah beranak, itulah saatnya seorang bapak meninggalkan rumahnya untuk masuk ke hutan sendirian atau bersama isterinya, tanpa membawa apa-apa, kecuali api suci dan bahan persajian. Ditengah hutan, menyingkirkan segala kesenangan, tidur diatas tanah, dibawah pohon memprihatinkan diri” (Undang-Undang Manawa)

Artinya adalah seseorang harus menyadari bahwasannya peranannya sebagai kepala rumahtangga, sebagai orang tua berakhir sudah, anak-anaknya keluarganya sudah dapat mencukupi kebutuhan hidup sendiri. Saatnya memikirkan diri sendiri, memikirkan kesadaran diri sendiri.

Meski mengarungi bahtera rumah tangga dan menjadikans ebagai media untuk meningkatkan evolusi spiritual tetap saja akan timbul keterikatan-keterikatan, dan pada taraf kehidupan ketiga inilah saatnya belajar memutuskan keterikatan-keterikatan kepada apa dan siapapun.

Latihan-latihan meditasi pada taraf ini menjadi amat intensive karena pada dasarnya ini adalah merupakan taraf retret dimana hidup hanya untuk latihan meditasi saja, latihan-latihan meditasi yang diberikan pun berbeda-beda tergantung dari kebutuhan karena tingkat permasalahan setiap orang berbeda-beda sang gurulah yang memberikan latihan yang paling tepat untuk para murid-muridnya ini , taraf kehdiupan terakhir adalah SANNYASIN

SANNYASIN

Taraf kehidupan keempat ini disebut SANNYASIN, yaitu kehidupan pendeta pengembara. Dalam taraf ini murid mempraktekan pengetahuan dan ilmunya dengan berbagi kepada bangsa dan dunia. Berkarya tanpa pamrih.

Taraf kehidupan ini adalah sebuah perayaan seperti yang dikutip dalam kita perundang-undangan MANAWA “………. Tidak mengharapkan mati, namun juga tidak mengharapkan dapat terus hidup, hanya menunggu datangnya saat laksana hamba dan menunggu upah yang akan diterima”

Hidup menjadi sebuah persembahan keapda sang pencipta, kepada Allah, Kepada Widhi, Kepada Bapak dan kepapada setiap nama yang mampu disebutkan oleh lidah. Karena hakekatnya adalah Dia hanya Dia “Manakala ku palingkan wajahku ke Timur dan Barat yang ku lihat hanyalah wajahNya”

Seperti itulah caturasrama sebuah warisan dari leluhur kita yang masih relavan hingga saat ini, kita tidak perlu mempraktekannya secara kasat, karena raja-raja jaman dulupun tidak mempraktekannya secara kasat melainkan melakoni essensinya.

Kita memiliki kenangan terhadap ajaran leluhur, dan kenangan-kenangan itu oleh alam tengah diangkat kepermukaan, saat ini menjadi jauh lebih mudah menggali kenangan-kenagan masa lalu, manfaatkanlah untuk meningkatkan evolusi batin kita masing-masing. Dan setiap individu akan mendapatkan kenangannya sendiri-sendiri.

Jaya Nusantara ! ! !

Refrensi

Nagara Kretagama

Tafsir Sejarah Nagara Kretagama – Prof DR. Slamet Muljana – LKIS

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone