July 31, 2010

Just Do it Become Enterpreuner

Beberapa minggu terakhir ini saya sedang sibuk memperbaiki kekurangan di dalam bisnis yang sedang saya geluti dalam 3 tahun terakhir ini. Disebabkan ada beberapa pemahaman saya tentang bisnis atau usaha bagi evolusi jiwa. Membaca file-file lama dimana saya pernah diwawancarai membawa kenangan saya ke masa awal ketika saya baru ingin memulai usaha sendiri. Saya tidak memiliki background sebagai pengusaha, naluri bisnis pun pas-pasan bahkan sangat tumpul. Background saya adalah music, saya pemain gitar rithem sebuah band underground yang memainkan music trash metal, namun karena bosan dengan hiruk pikuk party underground, saya memutuskan untuk berhenti bermain music dan dengan segala kegilaan saya waktu itu, saya kemudian mulai bekerja formal sebagai tenaga administrasi dan operator disebuah perusahaan ground handling.

Namun saya tidak pernah menyukai pekerjaan itu, jiwa saya berontak, karena pada dasarnya saya adalah seorang pekarya. Saya bekerja formal hanya untuk memisahkan diri sementara dari pergaulan masa lalu. Dan setelah 2 tahun bekerja, saya mulai mapan, dan dapat berdiri sendiri. Saya sudah dapat memutuskan pergaulan lama. Dan kemudian sayapun berhenti berkerja, dan mulai menekuni hobby saya mengutak atik computer, wal hasil sayapun menjual jasa saya sebagai tukang service dan install computer.

Dari kegiatan ini saya banyak belajar, termasuk kemudian belajar programming, yang kemudian masuk ke ranah web programming. Dan kemudian saya menemukan keasyikan di dunia ini, saya pun mulai menekuni, coba-coba jadi freelance, dan sambutanya lumyan bagus. Sayapun mulai berpikir untuk menekuni bisnis ini sebagai profesi bukan pekerjaan paruh waktu, namun saya kurang pede saya mencari-cari konfirmasi dari teman-teman. Hasilnya luar biasa membuat metal saya yang kurang pede waktu itu menjadi benar-benar tidak pede, down total. Wah, kurang ajar memang teman-teman waktu itu. Mulai dari modal hingga segala kemungkinan buruk yang akan menimpa, terlebih lagi waktu itu ekonomi masih tidak bagus, dan web design adalah sebuah profesi elite yang Cuma bisa dilakoni oleh mereka yang berduit dan berpendidikan. Alah mak !.

Namun kemudian saya teringat sebuah kalimat dari bapak Anand Krishna yang entah saya baca dimana, tiba-tiba terbesit saja, kira-kira “Apakah kita harus menunggu fasilitas untuk berbuat atau memulai sesuatu ?, fasilitas akan mengikuti begitu kita siap”.

Jreng.. jreng…

Dan kemudian saya memulainya, dengan bermodalkan 1 komputer, kamar tidur saya sulap menjadi workshop, dan gudang saya sulap menjadi kamar tidur saya. Waktu itu hanya ada satu orang yang mau mendengarkan ide-ide saya dan berani ambil resiko, saya berterimakasih kepadanya, dengan tambahan uang 2 juta sebagai dana opresional dari teman saya tersebut yang kemudian membantu saya mengelola keuangan dan administrasi, saya memulai usaha baru. Setelah bebarapa bulan, jatuh bangun menghadapi kesulitan, belajar sambil berjalan, apa yang bapak Anand Krishna katakan mulai terasa, bawah fasilitas akan mengikuti, sedikit-sedikit saya mulai melengkapi fasilitas……..

Hal yang terpenting adalah kemandirian, dengan berusaha di atas kaki sendiri, dengan kemampuan sendiri, kita menjadi kuat. Tidak mudah terombang-ambing oleh trend. Untuk memiliki kekuatan seperti itu kita memerlukan cinta, kita harus mencintai pekerjaan kita itu. Tanpa itu kita akan mudah berputus asa, karena memang kesulitan akan mendahului datang sebelum kita dapat memahami sebuah pembelajaran.

Seperti lirik sebuah lagu dangdut, “Jatuh bangun aku mengejarmu…….” Hi ha…. Itu adalah suatu yang biasa, sebuah proses yang harus kita lalui untuk dapat menemukan kekuatan dan potensi diri. Ketika ikut di dalam kelas stress management ibu Norma mengatakan, “bahwa apa iya kita akan seperti ini terus , bekerja terus, tidak ada hal-hal yang lebih esensial yang perlu kita gali ?” (ibu Norma becerita pengalaman kehidupan pribadinya. . . .)

Dari pertanyaan itu saya kembali merenungi perjalan diri, dan saya sadari bahwa ada roda-roda evolusi yang harus ditempuh : Roda Pekerja –Roda Pengusaha – Roda Cendikiawan dan Roda Panditha (brahma) adalah merupakan roda evolusi yang harus ditempuh oleh manusia.

Roda Pekerja : di sini kita mulai mengenal kehidupan, kita mulai berkerja, mulai mengenal tanggungjawab, meski tanggungjawab itu masih diiming-imingi oleh gaji. Surga neraka, pahala dan lain sebagainya.

Roda Pengusaha : disini kita mulai mandiri, berbekalkan pengalaman selama menjadi pekerja, kita mulai mengeplorasi diri, mulai mengembangkan potensi. Di sini kita lebih mandiri, lebih bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Menyadari segala sesuatu yang terjadi atas akibat dari perbuatan diri sendiri.

Roda Cendikiawan : berbekalkan materi yang di dapat ketika menjadi pengusaha kita mulai belajar, mulai banyak waktu untuk belajar, karena sudah tidak terikat pada rutinitas waktu, karena kita adalah boss bagi diri kita sendiri, kita dapat mempelajari tentang apa saya, salah satunya adalah tentang pemberdayaan diri, kita mulai menjadi cendikiawan, mulai pintar, intelektual mulai terasah, namun terasa masih ada yang kosong, ada yang kurang dan kita akan melangkah lebih jauh lagi, mencari tahu lebih jauh lagi. Kita mulai akan belajar mengolah rasa.

Roda Panditha (brahma) : disini kita mulai menikmati buah dari perjalan spiritual kita, namun saya tidak dapat menulis tentang roda ini karena saya belum sampai, saya masih dalam proses perjalanan.

So…., let’s do it.

Salah satu factor lemahnya daya saing dan kreatifitas SDM negeri ini karena kita tidak dididik untuk menjadi enterpreuner, kita tidak memilki enterpreunership, kita lebih senang dan bangga menjadi pekerja . Salah satu ungkapan yang dengan bangga kita ucapkan adaah ketika ada perintah dari boss, “Wah gua lagi di suruh sama boss neh” dengan nada bangga…… kita tidak menjadi bangga ketika kita sendiri yang menjadi boss.

Negara ini akan menjadi kuat dari sisi ekonomi dan akan semakin kreatif jika banyak para muda yang mulai berdiri di atas kakinya, mengeplorasi bakat dan minatnya, menyulap hobby menjadi lapangan pekerjaan, tidak harus menjadi kelas kakap. Tak berkelaspun tak menjadi masalah, yang penting sudah bisa membuat lapangan pekerjaan dan meringankan beban pemerintah, dan juga memberikan kesempatan buat yang masih ada di roda pekerja untuk belajar agar kelak dapat menjadi pengusaha juga.

So….., Just Do it Become Enterpreuner, selebihnya akan di tambahkan seiring dengan waktu.

= =

Di Publikasikan di :

http://www.surahman.com/
http://www.oneearthmedia.net/ind
http://www.facebook.com/su.rahman.full
http://www.kompasiana.com/surahman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone