July 11, 2010

Menggugat Media

“Wartawan tergolong di dalam golongan karya pempin… Wartawan-wartawan kita dipertinggi mutunya, maka itu adalah benar. Mempertinggi mutu wartawan itu apa ? Pertama, wartawan harus mempunyai pengetahuan umum yang luas. Orang tidak bisa menjadi wartawan jikalau ia tidak mempunyai pengetahuan umum yang luas. Kedua, wartawan harus mengerti kedudukan dia sebagai satu bagian daripada rakyatnya, terutama sekali di dalam kalangan bangsa kita yang sedang di dalam revolusi yang belum selesai.

Wartawan harus mengerti dan menjadi suatu bagian daripada ia punya adreng hati sendiri, krengsengnya hati sendiri, rangsangnya ia punya hati sendiri, akan semua persoalan-persoalannya yang dihadapi oleh bangsa dan rakyatnya, akan semua persoalan-persoalan yang harus dipecahkan oleh bangsa dan rakyatnya. Pengetahuan umum mutlak, demikian pula ini tadi, sang wartawan harus merasa dirinya bagian daripada rakyat, harus merasa dirinya ikut berusaha memajukan rakyatnya, mengerti problem-problem daripada zamannya.

Jika wartawan tidak tidak memenuhi syarat dua ini, maka ia bukan wartawan yang ulung.” (Seokarno)

Wartawan adalah ujung tombak dari media massa, karena sumber pemberitaan sebuah media massa adalah wartawan. Wartawan tidak boleh asal-asalan dalam mencari berita, apalagi mengangkat berita yang belum tentu benar keberadaannya, karena akan menjadikan fitnah dan bahan pergunjingan masyrakat.

Seorang tokoh bangsa lintas agama bapak Anand Krishna beberapa waktu lalu menjadi bulan-bulanan media, media menghakimi padahal palu hakim belum diketok namun seolah-olah bapak Anand Krishna sudah bersalah.

Tidak ada satu mediapun yang memberitakan dengan benar siapa sebenarnya bapak Anand Krishna, profile bapak hanya dibuat sekilas, hanya garis besarnya saja. Informasi yang disajikan mengenai bapak Anand Krishna hanya diambil sembarangan, kebanyakan dari sampul buku-buku beliau.

Tidak ada satu mediapun yang memberitakan apa yang sudah beliau kerjakan, perjuangan beliau dalam mewujudkan Indonesia damai, perjuangan beliau dalam mengajarkan pluralisme. Mediapun tidak ada yang mewartakan keberhasilan para peserta meditasi dibawah bimbingan beliau, narasumber di ambil hanya dari salah satu pihak saja. Tidak ada satu mediapun yang memberitakan keikut sertaan beliau di Parliament of World Religions, juga tidak ada pemberitaan mengenai di undangnya beliau oleh PPB hingga berafiliasinya Anand Ashram dengan PBB. Jikalau lembanga sebesar PPB mau mendengar pemikiran beliau, tragisnya para wartwan negeri sendiri tidak mau mengangkat pemikiran beliau.

Ketika doa bersama ditabukan, dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Bapak Anand Krishna memulainya dengan melakukan kegiatan doa bersama, dan sekarang doa bersama menjadi trend. Namun kemanakan media ketika bapak memulainya ?.

Media terlalu pengecut untuk mengangkat seorang tokoh sekaliber Anand Krishna yang dikenal sangat kontroversial dan menggerahkan banyak pihak, terutama mereka yang tidak sepaham dengan kebhinekaan Indonesia. Ketegasan bapak Anand Krishna telah membuat gerah banyak pihak, dan hal ini bukan merupakan nilai jual bagi media. Siapa bilang ? coba dulu jika media memang benar-benar berani, seperti kata bung Karno wartawan dan media harus dapat mengangkat permaalah apa yang ada dibangsanya, salah satunya bisa diangkat lewat sudut pandang seorang Anand Krishna, beranikah media Indonesia ?

Saya pernah beberapa kali di interview oleh majalah, bersangkutan profesi saya sebagai seorang web design. Dari sisi narasumber tentu saya girang banget, wah bisa berbagi pengalaman. Namun dari sisi wartawannya sendiri sepertinya tidak tahu mau menayakan apa, penggalian terhadap topik interviewpun sangat dangkal, Nampak jelas siwartawan tidak melakukan survey terlebih dahulu terhadap topik interview. Jika tidak karena adanya unsur promosi bisnis, saya malas diwawancarai lagi oleh majalah.

Melaui Radar Bali, Senin 28 Januari 2008, bapak Anand Krishna menerangkan :

Gillmor menawarkan 4 Pilar yang dipercayainya sebagai penyelamat Media. Saya akan mengupasnya sesuai dengan pemahaman saya dan relevansinya dengan keadaan di negeri kita.

Pertama: Kedalaman Berita. Tidaklah cukup bila kita hanya meliput berita dari dua sisi saja. Misalnya dari Sisi yang Dituntut dan Sisi yang Menuntut. Kita mesti memperoleh sudut pandang yang lain juga. Barangkali sudut pandang yang tidak populer, namun penting bagi masyarakat. Dan, diatas segalanya kita mesti memberi ruang yang cukup kepada pembaca dan pemirsa untuk menyampaikan pendapat dan pandangan mereka.

Kedua: Ketepatan Berita. Tidak semua fakta tepat untuk diberitakan. Fakta yang bisa menjadi besar tetapi tidak bermanfaat bagi masyarakat tidaklah tepat untuk diberi porsi besar.

Ketiga: Keseimbangan Berita atau Fairness. Setiap berita mesti diperlakukan secara fair. Setiap pelaku mesti diperlakukan secara fair. Kita tidak boleh berpihak karena urusan suka/tak-suka. Sulit? Tidak juga, bila kita selalu ingat bahwa Media adalah dari Rakyat, dan untuk Rakyat. Sebab itu, monopoli perusahaan-perusahaan besar memang harus berakhir. Di setiap daerah semestinya ada beberapa pilihan, persis seperti di Bali. Sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya.

Keempat: Keterbukaan atau Transparency. Sumber Berita harus jelas. Apalagi dengan kemajuan IT, sumber situs web segala dapat diperoleh dan dicantumkan dengan mudah.

Nah, kira-kira seperti inilah Dharma Media….. Semoga kita semua dapat menempuh Jalan yang Benar, yang Lurus, dan terhindar dari Jalan yang berliku-liku dan hanya menyesatkan jiwa….. Amin……

Anand Krishna
Radar Bali, Senin 28 Januari 2008

Refrensi :

BUNG KARNO PUTRA FAJAR – Solichim Salam – PT. Gunung Agung
Dharma Media Radar Bali, Senin 28 Januari 2008 (untuk tulisan lengkap bisa lihat di catatan sahabat saya Arief Rahman) Baca Catatan Lengkap

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone