July 15, 2010

PARA PELAYAN DAN RUMAH (Amnesia)

Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang pergi, rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para pelayan.

Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering mereka lupa, mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang-ngulang yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.

Konon, ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh, muncullah sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu terbatas pada dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah mereka ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu yang lain orang-orang datang bermaksud membeli rumah itu, dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta, dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.

Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa persediaan untuk rumah senantiasa muncul “secara rahasia,” dan perbekalan itu tidak cocok dengan anggapan bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.

Petunjuk-petunjuk untuk mengurus rumah itu telah ditinggalkan dalam kamar si empunya rumah–dengan maksud agar bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi, kamar itu menjadi begitu keramat sehingga tak ada seorangpun yang diperbolehkan memasukinya; dan kamar itu pun dianggap sebagai rahasia yang tak tertembus. Malahan, beberapa diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali tak ada, meskipun mereka melihat pintunya. Namun, tentang pintu itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan dinding belaka.

Begitulah keadaan para pelayan rumah tersebut, yang tidak mengambil alih rumah itu, tidak pula tetap setia kepada petunjuk semula.

Catatan :

Ah, jadi ingat dengan kebodohan diri sendiri yang sering kali lupa dengan apa peranan di dunia ini, dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengembalikan ingatan akan asal, namun kemudian kita menjadi betah di dunia, hingga terikat dengan dunia, bahkan berulang kali mati dan lahir kembali di dunia yang sama untuk kembali pada hal yang sama yaitu LUPA.

Siapa Aku ?
Darimana Asalku ?
Kemana Tujuanku ?
Sudah seberapa dekat Aku dengan Tujuanku ?

Karena lupa itulah kita menjadi tinggi hati, menjadi serakah, dunia ingin kita miliki untuk keuntungan diri sendiri, kelompok sendiri. Para pendahulu kita telah meninggalkan catatan cara merawat dunia hingga melampaui dunia untuk kembali ke negeri asal, namun catatan itu kita hanya jadikan riasan, hanya dijadikan ritus.

Mari sama-sama kembali kita melihat catatan-catatan para pendahulu kita untuk menyegarkan ingatan kita akan rumah asal kita, mari kita baca dan resapi guratan indah hati para pendahulu kita agar kita dapat pandai merindui rumah asal kita, mari kita tauladani prilaku para pendahulu kita agar kita pandai merawat dunia ini dalam kesadaran.

Siapa Aku ?
Darimana Asalku ?
Kemana Tujuanku ?
Sudah seberapa dekat Aku dengan Tujuanku ?

Refrensi :

Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Idries Shah, yang nama lengkapnya Nawab-Zada Sayyid Idries Shah al-Hasyimi, adalah Syekh Besar (Syekh al-Kabir) Sufi dan anak sulung Nawab asal Sardana, dekat Delhi di India. Keluarganya berasal dari keluarga Kerajaan Pagham di Hindu-Kush, yang nenek moyangnya memerintah sejak 1221. Idries Shah dilahirkan di Simla-Himalaya dan menetap di London. Ia mengarang beberapa buku tentang mistik-tasawuf, diantaranya Mahkota Sufi (The Sufis) dan Jalan Sufi (The Way of the Sufi), kumpulan cerita sufi, serta karya-karya lainnya.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone