July 14, 2010

Semua Tentang Kekuasaan

Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah, jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum miskin.

Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya. Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun mencari akal.

Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu sepuluh ribu uang perak.

Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.

Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.

Catatan :

Kisah diatas sering dikisahkan oleh Syeh Nasir Al-Din Syah yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,” meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Kisah ini berasal dari tradisi lisan kaum Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk melakukan instropeksi kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri sendiri.

Ada sebuah kisah dari sahabatku Mulla Nasrudin ketika menjabat sebagai ketua partai politik. Awalnya Mulla konsisten menjunjung tinggi strategi politik para pendahulunya yaitu menjual agama. Jualan agama di negeri ini sangat menguntungkan, karena banyak orang kaya dari agama. Ada kisah seorang penceramah yang menjadi milyuner, awalnya hanya hanya hapal 3 – 5 ayat, namun karena bertampang menarik dan gemar memakai pakaian import maka ia berhasil menarik simpati umat dan menjadi penceramah nomor wahid di negeri ini.

Namun kemudian era berubah karena gerakan seorang Tokoh Spiritual Lintas Agama Anand Krishna selama puluhan tahun bersama tokoh-tokoh prulalisme lainnya menyuarakan kebhinekaan, maka kebhinekaan menjadi sesuatu yang asyik untuk dibincangkan.

Tidak hanya untuk dibincangkan melainkan kebhinekaan telah berubah menjadi keniscayaan, dan kita semua menyakini hal itu. Karena itu adalah sudah merupakan kehendak Tuhan yang menciptkan segala sesuatunya dengan beraneka ragam dengan tujuan satu yaitu untuk saling berkerjasama dan saling sayang menyayangi.

Mulla kemudian menyelenggarakan kongres dan kemudian disepakati bahwa Kebhinekaan adalah jualan yang sedang laku, dan di rubahlah visi partai menjadi partai yang berbhineka. Mulla memang seorang marketing yang handal, dia dapat membaca peluang. Dan sebagai seorang pebisnis Mulla berani ambil resiko. Ya sepertu itulah pebisnis. Semua ini hanya bisnis semata, semua hanyalah untuk mencapai ambisi menuju kekuasaan. Semua jargon parpol apa pun itu hanyalah omong kosong belaka, semua hanya ingin kekuasaan, semua hanya tentang kekuasaan.

Jika berjualan secara fair dan jujur seperti kisah diatas, maka jualannya tidak akan laku-laku. Oleh karenya perlu dikemas agar mendapat restu dari Tuhan, dikemas dengan nilai moral, nilai kebhinekaan dan ketuhanan. Siapa yang sedang kita bohongi ?, sesungguhnya mereka sedang membohongi diri mereka sendiri.

Adakah diantara kita yang benar-benar ingin membangun negeri, menjunjung tinggi kebhinekaan. Jika ada mulailah bekerja, kenapa harus mengandalkan jubah parpol, mengapa harus menunggu berkuasa, bekerjalah sekarang juga ! dan biarkan rakyat melihatnya. Mpu Tantular berkerja tidak untuk kekuasaan, Mpu Tantulan berkerja karena cinta. Dan lihatlah hasil kerjanya masih diagung-agungkan hingga kini bahkan mulai di adopsi dibelahan eropa “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”

Bhinneka = beraneka, berbeda-beda.
Tunggal = satu, siji.
Ika = itu
Tan = tidak
Hana = ada, ana.
Dharma = kebenaran.
Mangrwa = mendua, ganda.

“Beraneka ragam itu satu, tiada kebenaran ganda”. Itulah pandangan Mpu Tantular dalam Suta Soma yang tetap abadi hingga saat ini.

Refrensi :

K I S A H – K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau – Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono) – Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone