August 26, 2010

Renungan Keempat Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda

Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan tentang 15 pandangan hidup dari Swami Vivekananda. Mereka sedang membicarakan tentang pandangan hidup keempat Sang Swami. Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka gunakan sebagai referensi…….

Sang Istri: Pandangan hidup keempat………. Adalah tergantung pada rasa kita: Merasa seperti Kristus dan kita akan menjadi seorang Kristus; merasa seperti Buddha dan kita akan menjadi seorang Buddha. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai derajat keilahian. *Vivekananda.

Sang Suami: Istriku, Swami Vivekananda berbicara mengenai keyakinan diri dan aku ingat beberapa SMS Wisdom tentang Niat dan Keyakinan…….. Bila niatmu kuat dan keinginanmu untuk bekerja keras pun ada, maka ketahuilah bahwa tiada sesuatu yang dapat menghalangimu untuk mewujudkan impianmu…….. Jangan berandai-andai. Jangan melamun. Apa yang ada dalam khayalanmu itu bisa menjadi kenyataan. Percaya diri, keahlian dan kesiapsediaan untuk kerja keras. Trisakti itu yang kau butuhkan……… Bangkitkan semangatmu, tak ada yang dapat membangkitkannya untukmu……. Keyakinan adalah kepercayaan terhadap apa yang tak terlihat. Hasilnya melihat apa yang engkau percayai…….

Sang Istri: Kata lain dari yakin adalah percaya diri. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan bahwa…… Gunakan segala daya dan upaya untuk menumbuhkembangkan rasa percaya diri, “Yes, I can do it… I will do it!” ini jelas tidak sama dengan positive thinking, di mana kita “hanya berpikir” bahwa semuanya pasti beres. Rasa percaya diri bukanlah hasil positive thinking, tetapi hasil positive behavior, perilaku positif. Dan, perilaku menyangkut “laku”, bukan sekadar pikiran. Rasa percaya diri timbul dari “hati yang percaya”. Dan, hati yang percaya adalah hati yang kuat…….. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan.

Sang Suami: Benar isteriku, aku ingat buku “Mederi MedisMeditasi” yang menyampaikan bahwa…… Belakangan ini saya juga menemukan makna baru bagi “kepercayaan”. Hendaknya kepercayaan tidak dikaitkan dengan masa lalu. Bila saya percayai masa lalu saya, maka saya akan mempercayai penyakit leukemia yang pernah saya derita. Kepercayaan berarti percaya pada kemungkinan-kemungkinan tak terbatas yang dapat terjadi. Bila seorang ilmuwan hanya percaya pada written text, buku-buku teks dan pada penelitian serta kesimpulan yang pernah diambil, ia tak akan berkembang, tak akan memiliki gairah meneliti dan menemukan sesuatu yang baru. Kemudian, ia bukanlah seorang ilmuwan……. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan.

Sang Isteri: Buku “Hidup Sehat dan Seimbang  Cara Sufi” menjelaskan hubungan antara keyakinan dan kesehatan…… Anda harus bisa membedakan antara “pikiran” dan “keyakinan”. Afirmasi menuntut keyakinan. Afirmasi bekerja atas dasar keyakinan. Apabila Anda berpikir, “Aku akan sehat sebenarnya secara implisit Anda sudah “meyakini” penyakit Anda. Dan karena Anda meyakini penyakit Anda, maka mengulangi ribuan kali setiap hari “Aku akan sembuh, aku akan sembuh” tidak akan membantu. Anda harus meyakini ucapan Anda. Keyakinan Anda dapat menyehatkan tubuh Anda, menenangkan pikiran Anda, menenteramkan jiwa Anda yakinilah hal ini! Meyakini diri sendiri, juga berarti meyakini Kekuasaan Allah yang tak tertandingi. Meyakini diri sendiri berarti meyakini Kemurahan Tuhan yang tak tersaingi. Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Keyakinan Anda dapat menyembuhkan segala macam penyakit……. Keyakinan merupakan modal utama manusia. Tanpa keyakinan, hidup kita akan selalu terombang ambing. Untuk mengembalikan keselarasan tubuh, keseimbangan diri, kejernihan pikiran dan ketenteraman jiwa sangat dibutuhkan keyakinan…….. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan.

Sang Suami: Adalah tergantung pada rasa kita: Merasa seperti Kristus dan kita akan menjadi seorang Kristus; merasa seperti Buddha dan kita akan menjadi seorang Buddha. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai derajat keilahian………. Shirdi Sai Baba, mistik sufi yang seumur hidup tinggal di masjid, menempatkan sabar dan keyakinan diatas segalanya, saburi dan shraddha, demikian dalam bahasa Marathi, salah satu dialek di India. Hubungan kita dengan sesama manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia. Interaksi dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan adalah dua Urusan utama manusia. Sejak lahir sampai mati, inilah dua hal yang harus diurusi. Karena itu, kesabaran dan keyakinan dapat dijadikan landasan bagi dharma, bagi kewajiban dan tugas kita di dunia. Demikian disampaikan dalam buku “Life Workbook”…….. Kemudian dalam buku “Five Steps to Awareness” disampaikan bahwa…….  Berkaryalah dengan penuh semangat, dan yakinilah kebijakan-Nya. Ia tahu persis apa yang kita butuhkan, apa yang baik bagi diri kita. Ia akan melengkapinya sendiri tanpa kita minta. Jangan ragu, jangan bimbang, janganlah sekali-kali menyangsikan hal ini……

Sang Istri: Dalam buku “I Ching Bagi Orang Modern” dikemukakan bahwa…….. Senjata bisa dibeli, tetapi keberanian tidak bisa. Bintang Jasa bisa direkayasa, diatur, tetapi kepahlawanan tidak bisa. Semangat seorang pahlawan, seorang pemberani, muncul dari dalam dirinya sendiri. Mereka yang bicara tentang “motivasi”, sungguh tidak memiliki “semangat”. Anda membutuhkan sesuatu untuk memotivasi anda, untuk mendorong anda, karena anda tidak memiliki kekuatan dalam diri sendiri. Anda tidak bersemangat. Semangat merupakan energi yang mampu menegakkan kepala anda tanpa bantuan siapa pun juga. Selama anda masih membutuhkan bantuan dari luar, anda belum bersemangat. Lalu, jika anda mengerjakan sesuatu tanpa semangat, anda akan selalu gagal. Semangat adalah “gairah” hidup. Apabila hidup anda “menggairahkan”, anda akan bersemangat. Apabila hidup anda tidak menggairahkan, anda tidak akan bersemangat. Dan, hidup akan menggairahkan jika anda memahami makna hidup, arti kehidupan. Lalu untuk memahami arti hidup, makna kehidupan, anda harus mengenal diri sendiri. Anda harus menemukan jati diri. Anda harus memahami potensi diri, dan menjalani hidup, melakoni hidup, sesuai dengan potensi diri tersebut. Demikian, hidup anda akan sangat menggairahkan. Anda akan bersemangat untuk menjalaninya, melakoninya……. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan.

Sang Suami: Keyakinan harus dilengkapi dengan kelembutan dan ketenangan…… Dalam buku “Surah Terakhir” disampaikan bahwa……… Keyakinan, kelembutan dan ketenangan pernahkah anda menyelami kata-kata kunci ini? Pernahkah anda menganggapnya sebagai kata-kata kunci? Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam hati, anda harus berkeyakinan. Berarti pikiran anda tidak kacau lagi. Selama pikiran anda masih kacau, anda tidak bisa yakin sepenuhnya. Keyakinan anda, iman anda akan selalu mengalami pasang surut. Jadi pikiran anda harus terkendalikan. Kemudian, anda harus lembut. Dan yan dimaksudkan harus menjadi lembut adalah kepribadian anda, sifat anda. Perilaku anda harus lembut. Kata-kata yang anda ucapkan harus lembut. Cara anda mengucapkan harus lembut. Tetapi kelembutan ini harus muncul dari kesadaran. Bukan sesuatu yang dipaksakan. Bukan pula topeng yang harus anda pakai. Anda harus menjadi lembut karena “sadar” bahwa kekerasan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Yang ketiga, dan terakhir, adalah ketenangan. Ketenangan adalah rasa. Anda harus mengembangkan rasa dalam diri anda. Jangan mengembangkan otak melulu………

Sang Istri: Buku “Neospirituality & Neuroscience” menyampaikan permasalahan bangsa tentang kepercayaan……. Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah diset, diprogram, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka……… Kita tidak memahami arti kebebasan. Padahal manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat diset dan diprogram. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orangtua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia………

Sang Suami: Benar istriku kita membutuhkan Kepercayaan dari orang Yang Sadar……… Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience” disampaikan bahwa……. Kepercayaan tanpa pemahaman adalah kepercayaan yang buta, sedangkan kepercayaan dengan pemahaman adalah kepercayaan yang sadar. Sekarang, tergantung pada diri kita sendiri: Mau memilih yang mana?……… Pertama, yang penting adalah Kepercayaan. Memang betul. Kedua, Kepercayaan itu Selalu Buta. Oleh karena itu anak-anak muda harus memperoleh kesadaran dulu sebelum mempercayai sesuatu. Ini juga betul. Sesungguhnya kedua pernyataan di atas tidak saling bertentangan tetapi malah saling melengkapi dan menjelaskan. Bila kita menggabungkannya, Yang Penting adalah Kepercayaan yang Sadar. Orang-orang yang percaya dan sadar hanyalah mereka yang dapat membawa perubahan yang berarti. Karena mereka sudah lebih dulu menjadi perubahan itu sendiri. Mereka telah berubah. Mereka tidak percaya secara membabi buta. Mereka percaya karena sadar…….. Semoga……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus, 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone