August 21, 2010

Tribute Untuk Husin Abdullah ‘BULE Gila’ Pemungut Sampah DI NTT

Di   pingggir jalan dan dekat pasar-pasar tradisional masih terlihat papan pengumuman bertuliskan besar-besar, “Kebersihan sebagian dari Iman, DILARANG MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN”, namun hasilnya apa ?, pengumuman tinggalah pengumuman, Iman tinggalah slogan yang terpampang di papan pengumuman. Kita tetap membuang sampah seenaknya, mengotori sungai, membuat mampat got-got, wal hasil wabah penyakit berkembang biak di air yang mampat, di gundukan sampah lalat-lata menyebarkan penyakit. Namun kita tetap cuek, tetap tutup mata, karena apa ?, karena kita sudah buta mata hati.

Di India Mahatma Gandhi harus turun tangan sendiri memberikan contoh membuang sampah dan kotoran manusia, mengajari penduduk di sana membuat jamban, dan membuang kotorannya di jamban. Entahlah, mungkin saya yang kurang gaul, namun di Indonesia saya belum melihat pemuka agama yang melakukan hal itu, justeru kita semua di kejutkan oleh seorang BULE asal Selandia Baru yang besar di Australia yang memiliki nama asli Gavin Birch, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Husin Abdullah.

Pak Husin yang seorang Bule lebih cinta kepada tanah air ketimbang kita, berangkat dari keprihatinya akan kemiskinan dan sampah di sekitar panta Senggigi, Pak Husen tanpa ba bi bu mulai action, memunggut sampah organic dan non organic, tidak hanya sampai memunggut belaiu juga berekperimen dengan cara membuat alat pendaur ulang sampah agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk.

Jam 6 pagi beliau sudah bangun dan mulai menyapu jalanan sekitar 2 KM, memunggut sampah, memunggut kotoran kuda, semua itu kemudian di kumpulkan dan di olah menjadi pupuk, beliau juga membuat kakus pertama. Sama Seperti Mahatma Gandhi yang dikatai sebagai orang gila, dan orang kurang kerjaan, pak Husin pun di katai seperti itu oleh penduduk sekitar, lambat laun kebersihan memang indah dan nyaman, sehingga pendudukpunb mulasi simpatik.

Pak Husin sempat menjual motornya untuk membiayai oprasional karyawan-karywan yayasannya. Uang dari penjualan kompos dan sumbangan dari donator dan beberapa instansi pemerintahan, tidak di pakai oleh Pak Husin untuk membiayai hidupnya, melainkan di perguanakn oleh pak Husin untuk membiayai yayasannya, membayar karyawan-karywannya dalam mengelola sampah. Kehidupan sehari-hari pak Husin dan keluarganya di topang oleh Isterinya Siti Hawa.

Sungguh suritaudan yang perlu di contoh di tengah gersangnya Tokoh Tauladan negeri ini, meski tiada pernah gembar gembor, tiada pernah mengutip ayat, prilaku pak Husin adalah merupakan ayat yang berjalan.

Pak Husin mengatakan “Pada akhirnya kita semua yang akan dirugikan oleh ulah kita sendiri dalam ketidak mampuan mengelola sampah. Karena lingkungan akan rusak. Meski bisnis berjalan lancar, usaha-usaha berjalan lancar, kehidupan manusia berjalan lancar, namun jika lingkungan rusak, lambat laun akan mempengaruhi wilayah dan negera, maka wilayah dan Negara akan rusak, dan jika sudah demikian kita semua yang akan susah terkena dampaknya.

Pak Husin telah pulang ke Rahim Illahi, telah kembali menyatu dengan Nya, namun ketauladan prilakunya masih hidup dan harus merasuki diri kita semua, teringat pesan Pak Marhen untuk mengisi kemerdekaan ini, jikalau kita cinta negeri ini tidak usah muluk-muluk, tidak usah memikirkan kemiskinan, tidak usah memikirkan kelaparan, pikirkan hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menggunakan kantong plastik secara berlebihan, menghemat listrik. Hal-hal sederhana dan kecil jika kita laukan bersama hasilkan akan merubah Indonesia kita ini, tak perlu menunggu uluran tangan pemerintah, seperti Pak Husin, ACTION ! dan langsung ACTION tiada perduli apa kata orang, yang terpenting adalah rasa di dalam diri, kebahagian manakala melakukan sesuatu tanpa di iming-imingi oleh janji surge dan tanpa di intervensi oleh neraka, hanya melakukan atas dasar dorongan hati.

“Berkarya tanpa pamrih, tanpa memikirkan hasil akhir. Saat berkarya, bila kita memikirkan hasil akhir melulu, kesadaran kita sudah pasti terbelah. Banyak energy untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik tidak terpenuhi, Hasilnya pun kurang baik.

Seorang pengabdi tidak pernah memikirkan hasil akhir. Ia sudah puas dengan kesempatan untuk mengabdi yang diperolehnya. Ia sadar betul bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal, reaksi dengan proposi dan kekuatan yang sama seperti aksi yang menyebabkannya” (Anand  Krishna – 5 Steps to Awareness  – 40 kebiasaan orang yang tercerahkan  – karya terakhir Mahaguru Shankarna Saadhanaa Panchakam – Gramedia Pustaka Utama)

Selamat jalan Pak Husin terimakasih atas kepedulian bapak terhadap bunda pertiwiku. Aku hanya dapat mempersembahkan tulisan ini untuk bapak. Terimakasih Boss.

==

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone