September 29, 2010

Masihkan Adakah Alasan Untuk Bermalasan-malasan dan berduka?

Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini berbuah. Buahnya di sebut Praarabdha. Sesuatu yang sudah tak mungkin dielakan. Kendati demikian , kita masih memiliki pilihan, yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Tarulah panennya tidak sesuai dengan harapan, tak apa, it is not end of the world. Saat itu kita belum mahir dengan cocok tanam. Sekarang, sudah mahir, maka tanaman kita di masa depan sudah pasti lebih baik.

Kebaikan yang kita lakukan hari ini sudah pasti menghasilkan kebaikan pula. Tetapi, jangan lupa masih ada Sanchita Karma, karma-karma terakumulasi dari masa lalu yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma. Karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahami hal itu, kita menjadi tenang.

(5 Steps to Awareness  40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan  Karya Terakhir Mahaguru Shankara  Saadhanaa Panchakam – Anand Krishna – PT Gramedia Pustaka Utama – http://www.booksindonesia.com)

Ketika saya sedang susah, sedang dirundung duka oleh sebab apapun, saya membaca ulang dan merenungi nasehat diatas, dan entah bagaimana saya terobati saya dapat  tenang, dan dapat kembali melakoni hari saya meski dalam kondisi yang susah atau duka.

Kita tidak mungkin dapat melepaskan diri dari susah dan duka, dari ketidaknyamanan. Namun kita memiliki pilhan untuk menjalaninya dengan bekeluh  kesah, mengutuk Tuhan, mencaci maki setan atau menerima semuanya dan kembali melanjutkan hidup, karena memang duka atau kesusahan itu juga merupakan buah dari perbuatan diri kita sendiri.

Penjelasan bapak Anand Krishna tersebut sekaligus memberikan suntikan energy yang maha dasyat buat saya untuk tetap memberdaya diri, melakukan latihan-latihan yang dapat menunjang terjadi peningkatkan kesadaran.  Kesadaran yang saya peroleh saat ini adalah merupakan hasil dari perbuatan saya di masa lalu, lumayan lah, setidaknya saya sudah tidak kolot bin alot. Dan saya harus melanjutkan itu yaitu dengan cara melatih diri saya, mendisiplinkan diri saya. Buahnya akan saya rasakan kelak, entah kapan, di kehidupan mana, saya tidak terlalu memikirkan. Yang terpenting adalah saya sedang  mempersiapkan masa depan saya untuk hasil yang lebih baik, agar lahan jiwa ini tumbuh oleh tanaman bunga kasih.

Saya tidak akan menikmati taman bunga kasih jikalau saya tidak mulai menam lahan hati saya dengan bibibit kasih, jikalau saya tidak memelihara lahan hati saya dari lumput liar amarah, rumput liar iri hati, semak belukar kemunafikan. Saya harus berkerja keras setiap hari, harus terus melatih diri saya. Hanya dengan itu saya dapat memperbaiki kesadaran saya di masa ini dan masa depan.

Semua adalah merupakan pilihan saya, hidup saya adalah pilihan saya, mau saya bawa kemana hidup ini sepenuhnya adalah tanggungjawab saya, suka dan duka yang saya alami juga karena perbuatan saya . Kemudahan dan keberuntungan yang saya terima juga merupkan buah dari perbuatan saya. Dan jika saya menginginkan hasil yang lebih baik maka masihkan adakah alasan untuk bermalasan-malasan dan berduka ?.

Antonio De Mello bercerita tentang Mullan Nasarudin, bahwa semuanya berpulang dari diri sendiri, tidak mungkin kita dapat menolong orang jika kita menolong diri kita terlebih dahulu, dan juga tidak mungkin kita mencelakakan orang tanpa dapat mencelakakan diri kita sendiri.

Nasruddin  sedang  bersungut-sungut terhadap dirinya sendiri ketika kawannya bertanya apa yang ia risaukan. Nasruddin menjawab,  “Ahmad yang  goblok  itu  selalu  menabok punggung  saya  setiap  kali  ia melihat saya. Maka hari ini saya menaruh satu dinamit di bawah jaket  saya.  Kalau  kali ini ia menabok saya ia akan kehilangan tangannya!”

Pilihan ada ditangan saya!.

Refrensi :

5 Steps to Awareness  40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan  Karya Terakhir Mahaguru Shankara  Saadhanaa Panchakam – Anand Krishna – PT Gramedia Pustaka Utama – http://www.booksindonesia.com

DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990

==

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone