September 24, 2010

Seperti Bermain PlayStation

Malam itu entah apa yang membawa langkah kaki saya datang ke  rental PlayStation seorang teman, lama juga tidak berjumpa, dulu dia memulai usaha rental ini dengan bermodalkan 2 unit sekarang sudah bertambah menjadi 8 unit, dan nampaknya selalu penuh oleh anak-anak yang sedang bermain PlayStation. Ditambah lagi sebuah kantin kecil untuk para pemain yang membutuhkan makanan dan minuman.

Sambil ngobrol dan mengenang masa lalu, saya mengamati anak-anak yang sedang bermain ini, semuannya bergembira, tertawa dan ceria. Meski ada yang kalah, namun tetap gembira. Ada yang berbagi trik, dan yang berpikir  cara memecahkan permainan.

Dan ku pikir harusnya melakoni hidup ini seperti itu, seperti anak-anak yang sedang bermain PlayStation. Terkadang menang, terkadang kalah, terkadang berhasil, terkadang tidak. Terkadang ada di atas , terkadang diabwah, terkadang tidak kemana-mana. Namun tetap bergembira, karena mereka sadar ini hanyalah sebuah permainan, mereka sedang bermain.  Di dalam permainan itu juga terdapat teka-teki, mirip kehidupan. Jika ingin masuk ke level berikutnya harus bisa memecahkan teka-teki di dalam permainan, jika belum ahrus mengulanginya kembali. Harus mampu melewati semua rintangan yang ada di dalam permainan, dan makin tinggi levelnya maka makin sulit teka-tekinya, kian hebat tantangannya. Namun anak-anak ini tetap tertawa, tetap ceria. Sesekali mereka memaki karena gagal, namun tertawa lagi dan bermain lagi.

Yang sudah terlebih dahulu mendapatkan level tinggi atau sudah dapat menyelesaiakan sebuah permaianan, berbagi tips dan trik, anak yang lain langsung mempraktekannya dan keduanya tertawa.  Di sisi lain dua orang anak sedang berdiskusi memecahkan teka-teki sebuah permaian  kemudian mempraktekan strategi mereka, dan kalah. Mereka memaki, kemudian tertawa, dan bermain lagi. Di sisi lain ada yang baru menang, baru menyelesaikan sebuah teka-teki dan mereka tertawa, kembali bermain memasuki level berikutnya.

Dan aku pun ikut tertawa, ternayata melakoni hidup tidak diperlukan filasafat yang bikin jidat merengut sesuatu yang sederhana saja, yaitu dengan menyadari bawah semua ini adalah permainan. Dan harus dimainkan dengan penuh suka cita. Suara tawa anak-anak diantara suara permaianan dari sound adalah sebuah perayaan terhadap kehidupan.

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone