September 4, 2010

Surat-Surat Islam Dari Endeh 3

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  –  Sega Arsy  2010)

Endeh, 17 Juli 1935

Assalamu’alaikum,

Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudah kah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu ?.

Kabar Endeh: sehat wal’afiat, Alhamdullilah. Saya masih terus studi Islam, tetapi saya kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari , sudah cabut-cabut rumput di kebun dan di samping “mengobrol” dengan anak bini buat menggembirakan mereka, sisa waktu saya pakai untuk membaca saja. Berganti-ganti membaca buku-buku Ilmu Pengetahuan Sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangan kaum Ilmu Pengetahuan yang bukan Islam.

DI Endeh sendiri tak seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot bin kolot. Semuanya hanya nertaqkid saja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu dua pengetahuan sedikit, di Endeh ada seorang “sajid” yang sedikit terpelajar, tetapi tidak dapat memuskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab Fiqih”: mati hidup dengan kitab fiqih itu, dus-kolot, dependent, unfree, taglid, Quran Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqih itulah yang seakan-akan menjadi algojo “Ruh” dan  “Semangat” Islam. Bisa sebagai misal, satu masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada “Wetboek van starafrecht” dan “Burgerlijk Wetboek”, kepada artikel ini dan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segera menjadi masyarakat “mati”, masyrakat “bangkai”, masyarakat ialah justerui ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada ruh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sekali tenggelam di dalam “kitan-fiqih” itu tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup.

Nah, negitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada saja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit- autoriteit ke Islaman itu pun, masih ada yang mengandung beberapa hal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan bertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu gampang melebarkan saya punya sayap. . . . .

Alhamdulliah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka mulai sehaluan dengan kita dan tidak mau mengambing saja lagi kepada kekolotanlagi kepada kekolotannya, ketahayulannya, kemusyrikannya  dan mulai terbuka hatinya buat agama yang “hidup”.

Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaise, mereka minta kepda saya mendatangkan buku-buku itu dengan separuh harga. Sekarang saya minta keridhaan Tuan mengirimkan buku-buku yang saya sebutkan diabwah ini dengan separuh harga…. Haraplah Tuan ingatkan, bahwa yang mau baca buku-buku ini adalah korban-korban malaisme, dan bahwa mereka pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolotan dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyrakat mesum sebagai sekarang !.

Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa saja yang bisa menambah pengetahuan saya, terserah kepada saudara buku apa.

Terimakasih lebih dahulu, dari saya dan kawan-kawan di Edeh.

Sampaikan salam saya kepada saudara-saudara yang lain.

Wassalam,

SUKARNO.

Ah, kekolotan.  Bung Karnopernah cerita sewaktu di Edeh ketika sedang diskusi mengenai Islam dan Ilmu pengetahuan social lainnya, temperature sempat naik menjadi 180 derajat, hal ini di karena kekolotan, dan apa yang di lakukan oleh Bung Karno hanya tertawa dan berlalu.

Kita tidak dapat berdikusi dengan merek ayang kolot, yang bisa di lakukan hanyalah berlalu. Mungkin di dalam berlalunya itu kita akan di cemooh dan dikatai sebagai pengecut, namun cemoohan itu tidak membuat diri kita menjadi pengecut. Karena betapa rendahnya diri kita jika keperkasaan atau kejantanan di nilai dari sebuah ajang perdebatan.

Dan kekolotan itu berasal dari kurangnya pengetahuan, kurangnya pengalaman, Bukan berena bodoh, meski orang yang kolot sering kali berlaku bodoh.  Mungkin bisa jadi orang yang klolot memiliki segudang pengetahuan, tetapi tidak pernah di praktekan, mirip burung beo. Bisa dan pintar bekata-kata tetapi tida mengerti apa yang diucapkannya, tiada pernah menyelami, tiada pernah mengalami, semua berdasarkan katanya.

So saatnya membuka diri , dan biarkan hawa segar ilmu pengatuah dari segala penjuru arah menyegarkan diri kita, boleh jadi kita tidak setuju dengan kelembabannya, namun jangan ditolak, biarkan saja, karena bisa jadi esok anda dapat memahami kelembabannya tersebut. Kelembabam itu tidak akan pernah dapat menyesatkan kita, karena apa karena saat ini di dunia ini kita semua sedang tersesat. Oleh karena di dalam doa kita berucap kepada Allah, “Ya Allah Ya Rabb Tunjukilah aku jalan yang lurus dan benar”, andai kita sudah tahu mana jalan lurus dan benar itu kita tidak akan berdoa seperti itu dan kita juga sudah tidak berada di sini. Sahabat saya, sekaligus guru, Pak Triwidodo pernah menulis di dalam artikelnya Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda,:  “Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati………

Hanya niat sahabat, hanya niat dan itu sudah cukup.

[Baca Notenya http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=422852927595&id=1587940362&ref=mf]

Bersambung . . . . . . . . . .

==

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone