October 12, 2010

Menebus Resep Sang Guru

“Untuk apa berdebat dengan mereka yang tidak mau tahu! Bila sesorang belum tahu, tidak tahu, dengan senang, hati ia akan mendengar ulasan Anda. Saat itu, terjadilah dialog yang mencerahkan. Sedangkan bila orang tidak mau tahu, ulasan Anda hanya akan mengundang perdebatan.

Janganlah menyia-nyiakan tenaga  untuk berdebat. Besok belum tentu kita memiliki tenaga yang sama seperti hari ini. Tenaga. Prana, atau life force bagaikan tabungan, bekal yang kita peroleh dari Keberadaan. Beriritlah dalam penggunaannya. Janganlah memboroskan energy yang sangat berguna itu.”

(Anand Krishna – 5 Step to Awareness 40 kebiasaan orang yang Tercerahkan karya terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam)

Jikalau ada anjing yang menggonggong haruskah saya balik menggonggongi ajing itu ?, tentu saja situasinya akan  menjadi sangat ramai, dan juga  saya akan menjadi terlihat sangat bodoh, apa gunanya menggonggongi anjing ?, anjing memang peranannya menggonggong, sementara saya ya berlalu saja, dan membiarkan anjing itu tetap menggonggong. Beberapa waktu lalu, entah apa yang menyebabkan seseorang ingin sekali berdebat dengan saya. Namun saya tidak menanggapi karena malas, pada akhirnya perdebatan tidak akan menghasilkan apa-apa. Disamping itu saya juga tidak memiliki pengetahuan untuk diperdebatan.

Selama 2 bulan lebih orang ini selalu memberikan komentar yang menyulut emosi, namun tetap saya diamkan, dia pun mengatai saya banci, dan pengecut, dan juga kata makian dan sumpah serapah lewat inbox FB, tetapi saja diam saja. Namun harus jujur saya akui bahwa letupan emosi amarah masih membara ketika saya membaca komentar-komentarnya, namun saya tetap berusaha mengendalikan diri saya. Teringat pesan Pak   Marhento Wintolo “Ingat pesan Guruji Kita tidak bisa membersihkan lantai kotor dengan air  kotor, jangan di timpali”.

Sementara itu sahabat saya yang cantik Arbania Fitriani selalu mengingatkan bahwasanya pentingnya pengendalian diri, karena menuliskan  tentang cinta kasih tidak sama dengan melakoni cinta kasih, menuliskan tentang kesadaran tidak sama dengan menjadi sadar. Dan bercermin dari tulisan-tulisan saya sendiri itulah yang membuat saya tidak melayani sebuah perdebatan. Makian, cemooah atau apa pun itu sangat berguna untuk menujuki saya bahwa saya masih memiliki amarah yang tidak terkendali yang sewaktu-waktu bisa meledak jika saya diamkan, oleh karenanya pentingnya untuk terus latihan pengendalian diri.

Profesi sehari-hari saya sebagai  web design, dan tentu saja tugasnya adalah memberikan pelayanan yang baik, dan sering kali saya mendapatkan email yang menjengkelkan dari calon pelanggan atau pelanggan, dan di butuhkan pengendalian diri untuk dapat merespon email itu dengan baik. Sekarang saya sudah jarang menjawab email, hanya satu dua yang sifatnya sudah sangat penting yang sudah tidak bisa di handel oleh mitra kerja saya. Saya bisa mengomeli mitra kerja saya jika menjawab email dengan seenaknya, namun siapa yang akan mengomeli saya jika saya menjawan email dengan seenaknya, paling banter saya kehilangan kesempatan melakukan penjualan. Oleh karennya di perlukan kesadaran untuk selalu mengintropeksi diri, ok, amarah masih ada di situ saatnya mengolah diri.

Beberapa tip yang saya lakukan ketika sedang marah, semua ini saya dapat dari Anand Ashram :

1)      Bernafas dengan menggunakan satu lubang hidung kiri, dan menutup lubang hidung kanan untuk 10 menit kedepan

2)      Menarik dan membuang nafas, mengembungkan perut sewaktu menarik nafas, mengempiskan perut sewaktu membuang nafas.

3)      Memukul bantal sambil membayangkan hal-hal yang membuat saya marah atau kesal.

4)      Teriak dengan mengeluarkan suara HAAA…..

Latihan diatas itu saya lakukan sesuai dengan kondisi, yang terpenting adalah untuk kembali tenang dulu, caranya dengan membuang energy marah itu pada tempatnya tanpa harus melukai atau menyakiti orang lain. Mba Arbania Fitriani mengatakan bahwa untuk menulis sesuatu kita bisa mengutip dari banyak sumber, namun untuk menebus resep Sang Guru kita harus melakukannya sendiri, resep Sang Guru yang dimaksud adalah pemberdayaan diri.

Sekali lagi tidak ada yang bisa membantu mu surahman, kamu harus mengolah dirimu sendiri. Meski dengan tertatih-tatih namun kau harus melakukannya sendiri surahman. Ejekan orang, propvokasi orang, makian orang hanya  untuk menunjukan jikalau kau masih memiliki gejolak emosi yang belum terkendali, kendalikan sebelum emosi itu meluap dan membuat susah dirimu sendiri. So Let’s do it. . . . . gunakan energy, life force, prana itu untuk memberdayakan diri. Resep sudah diberikan oleh Sang Guru, saatnya menebus dan minum obat.

Refrensi :

Anand Krishna – 5 Step to Awareness 40 kebiasaan orang yang Tercerahkan karya terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam

Status, Komentar dan Inbox FB Arbania Fitriani

==

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone