October 14, 2010

Seperti Mengobati Tuberkulosis (Sebuah impian manakala maut datang menjemput)

Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini adalah salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru (disebut sebagai TB Paru), walaupun pada sepertiga kasus, organ-organ lain ikut terlibat. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus.

Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya meninggal. Tanggal 24 Maret diperingati dunia sebagai “Hari TBC” oleh sebab pada 24 Maret 1882 di Berlin, Jerman, Robert Koch mempresentasikan hasil studi mengenai penyebab tuberkulosis yang ditemukannya.

Banyak yang bilang TB adalah penyakit orang susah yang kekurangan gizi, mungkin dimasa lalu itu benar. Saat ini, coba  mampir ke rumah-rumah sakit yang cukup ternama, lihat di bagian poli paru, setiap hari akan ada pasien baru yang menderita TB, dan mereka yang datang berobat ke RS tentunya adalah yang memiliki uang, dan sebagian besar adalah para esekutif.

Ketika berbincang dengan seorang dokter apa yang menyebabkan penyakit TB kian mewabah ?, jawabanya adalah di sebabkan karena penderita TB tidak  berobat secara tuntas, menurut dokter bahwa seorang penderita TB gejalanya akan hilang jika dalam 2 minggu meminum obat secara teratur, namun bakterinya tidak mati. Bakterinya baru dapat mati setelah 6 bulan minum obat secara rutin, namun saat ini bakteri TB sendiri telah berevolusi menjadi lebih kuat, rata-rata di perlukan sekitar 8 – 9 bulan untuk penyebuhan. Kemalasan meminum obat adalah menjadi sebab kenapa penyakit ini susah sekali di berantas.

Ah, benakkupun melayang kepada pemberdayaan diri, ya seperti memberdayakan diri, kendalanya adalah MALAS. Sering kali kita merasa sudah sehat, sudah sadar kemudian berhenti minum obat, berhenti latihan. Wal hasil bakteri ketidaksadaran menggerogoti dengan perlahan namun pasti, seprti bakteri TB yang semula sudah lemah bangkit dan menyerang tubuh, bakteri ini menjadi lebih kuat dan lebih ganas.

Jika sakit TB diperlukan waktu yang panjang untuk menyembuhkannya, bagaimana dengan penyakit ketidaksadaran ?, ku pikir di perlukan waktu seumur hidup untuk terus memberdaya diri, melatih diri, mendisiplinkan diri. Sering kali penderita TB berhenti minum obat karena mendengarkan kata orang, untuk apa minum obat lama-lama?. Dalam kasus penyakit lain mungkin bisa di benarkan, namun ketika berhadapan dengan TB pengobatannya harus tuntas, dan jika tidak tuntas kemudian kumat pengobatannya harus lebih intensip dengan dosis dan variasi obat yang juga di lebihkan. Dan saat itu terjadi yang terasa adalah penderitaan phisik.

Begitu juga ketika sedang berlatih memberdaya diri, pergaulan sering kali menyeret kita ke bawah. Kita menjadi malas karena terbawa pergaulan, kita bergaul dengan mereka yang tidak sedang berlatih, tidak sedang mengolah diri, dan kita pun terbawa oleh kemalasan.  Dan lagi-lagi kita sendiri yang harus menanggung akibatnya, ketika ajal menjemput, pikiran kita di penuhi dengan penyesalan, betapa kita telah menyia-nyiakan waktu selama ini.  Dan menurutku kesadaran seseorang baru terlihat kwalitasnya ketika maut menjemput, bagaimana orang ini menghadapi sang maut. Seperti Mahatma Gandhi ketika maut menjemput yang keluar dari bibirnya adalah “Rama…. Oh… Rama

Biasakanlah menyebut dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam hidup ini sehingga manakala maut datang menjemput kesadaran itu jualah yang kita rasakan. Dan itulah cita-cita (impian) saya, ketika maut datang nanti saya dapat menyebut, mengingat dan merasakan kehadiran Dia yang satu adanya, semoga !. Amin Ya Rabb Amen.

(Ku persembahkan untuk mereka yang  selalu ada di sisi dalam 2 tahun terakhir ini, terimakasih atas waktu , semangat serta cintanya, semoga Dia yang satu adaNya memberkahi dengan kesadaran bahwa semua ini adalah pelajaran untuk melepaskan diri dari keterikatan)

= = =

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone