October 7, 2010

TIDAK PERCAYA BAHWA MIRZA GULAM AHMAD ADALAH NABI

(Ini adalah merupakan project menulis bersama antara Erwin Thomas dengan Su rahman dengan menghadirkan kembali ruh bung Karno diantara kita, semoga cawan hati kita tidak terlalu penuh dan tersedia sedikit ruang untuk bung Karno, bapak bangsa ini saat ini sedang menangis melihat kondisi bangsanya, salah satu yang bisa kita perbuat adalah membebaskan diri dari kekolotan dan mulai menyingsingkan lengan baju untuk negeri tercinta ini, semoga guratan jiwa bapak bangsa kita ini dapat memberikan inspirasi buat kita semua. Untuk sahabat mohon bantuannya menyebar luaskan tulisan ini, terimakasih)

BEBERAPA hari yang lalu saya mendapat surat “vlieg-post” (kilat pos) Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa dari seorang kawan di Bandung, bahwa ‘Pemandangan’ telah memuat satu entrefilet bahwa saya telah mendirikan cabang Ahamdiyah dan menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes. Walaupun Pemandangan yang memuat kabar itu belum tiba di tangan saya, dus belum saya baca sendiri – kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang oleh karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percayai, segeralah saya minta kepadanya membantah kabar dari tuan-tuan punya reporter itu.

Saya bukan anggota Ahmadiyah.Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi “buat bagian Celebes”! Sedang pelesir ke sebuah pulau yang Jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! Di Endeh memang saya lebih memperhatikan
urusan agama daripada dulu. Di sampingnya saya punya studie sociale wetenschappen (studi ilmu2 sosial), rajin jugalah saya membaca buku-buku agama . Tapi saya punya ke-Islam-an tidaklah terikat oleh sesuatu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama persoonnya tuan A Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.

Kepada Ahmadiyah-pun saya wajib berterima kasih.
Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujadid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya dapat banyak faedah daripadanya: Mohammad the Prophet dari Mohammad Ali, Inleiding tot the studie van den heiligen Qor’an juga dari Mohammad Ali, Het Evalingelie aan den daad dari Khawadja Kamaludin, De bronnen van het Christendom, dari Khawadja Kamaludin dan Islamic Review yang banyak membuat artikel yang bagus.

Dan tafsir Qur’an buatan Muhammad Ali, walaupun ada beberapa pasal yang tidak saya setujui, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Memang umumnya saya mempelajari agama Islam itu tidak dari suatu sumber saja, banyak sumber yang saya datangi dan saya minum airnya.

Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Penyiaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dan India dan Mesir, dari Inggris dan Jerman, tafsit-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronye, Arcken, Dozy Hartmann dan lain sebagainya), buku-buku dari orang-orang bukan Islam tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus buku yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu.

Dan mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya “features” yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka
punya hati-hati terhadap kepada hadis, mereka punya streven (tujuan) Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam (terjemahan bebas: sistem rujukan logis Islam).

Buku-buku seperti Het Evalingelie aan den daad tidak ayal saya menyebut brilian, berfaedah sekali bagi semua orang Islam.

Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa pasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Gulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imperialisme Inggris, toh saya merasa waiib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasional, modern, broadmindedness dan logis itu.

Bagian-bagian fiqih terutama sekali, Persatuan Islamlah yg menjadi saya punya penuntun. Memang persatuan Islam adalah sangat sekali tinggi duduknya di dalam saya punya simpati. kalau umpamanya saya mesti menyebutkan catat “Persatuan Islam”,  maka saya akan katakan: “Persatuan Islam” itu ada mempunyai neiging (kecenderungan) kepada sektarisme. Alangkah baiknya kalau “Persatuan Islam” bisa mengenyahkan neiging yang kurang baik ini, kalau memang benar ada neiging itu.

Islam adalah satu Agama yang luas yang menuju kepada persatuan manusia. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya, kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran yang berhubungan kepadanya dan yang harus kita saring dengan saringan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jikalau benar-benar kita saring kita punya keagamaan itu dengan saringan pusaka ini dan tidak dengan saringan lain, walaupun dari Imam manapun juga, maka dapatlah kita satu Islam yang tidak berkotoran bid’ah, yang tak bersifat takhayul sedikit jua pun, yang tiada “keramat-keramatan”, yang tiada kolot dan mesum, yang bukan “hadramautisme”, yang selama-nya “up to date”, yang rasional, yang gampang maha gampang, yang cinta kemajuan dan kecerdasan, yang luas dan “broadminded”, yang hidup, yang
levend (hidup).

Inilah tuan-tuan redaktur yang terhormat, saya punya keterangan yang singkat berhubung dengan khabar kurang benar dari tuan punya reporter, bahwa saya sudah mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandis Ahmadiyah. Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini buat memberitahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang “Ahmadiyah”.  Tapi hanya seorang pelajar agama yang sudah nyata bukan kolot dan bukanpun seorang “pengikut yang taqlid saja”.

Terima kasih, tuan-tuan Redaktur.

Soekarno
Endeh, 25 November 1936

Artikel ini adalah merupakan tanggapan bung Karno atas gossip yang menimpa beliau dimana di katakan beliau ingin membuat agama baru dan bergabung dengan Ahmadiyah (Baca JUga Surat-Surat Islam Dari Endeh). Meski menyangkal keterlibatan beliau di dalam organisasi Ahmadiyah, bung Karno mengakui Ahmadiyah sebagai salag satu elemen bangsa yang berhak mengapresiasikan keyakinannya dalam Bergama.

Bung Karno dapat memilih dan memilah mutiara diatara tumpukan batu,  oleh sebabnya bung Karno mengambil beberapa point penting dari keberadaan Ahmadiyah. Dan itulah seharusnya yang kita semua lakukan, bung Karno telah merasakan keberadaaan Tuhan dimana-mana, dan menyadari bahwa segalanya bersumber dariNya, dan semuanya terjadi atas izinNya. Oleh karenanya beliau menerima keberdaan Ahmadiyah  namun disisi lain beliau juga mengungkapkan pendapatnya, ketidak setujuan keyakinan beliau dengan keyakinan pengikut Ahmadiayah.

Andai kata kita cukup bijak menyingkapi berbedaan tidak akan pernah terjadi pembakaran rumah ibadah, tidak akan terjadi kekerasan terhadap penganut sebuah paham. Kita harus mencontoh bung Karno dalam menyingkapi perbedaan itu, kita hidup di dunia yang penuh dengan warna dan perbedaan adalah kemutlakan. Jika Dia yang maha mencipta teah bersedia menciptakan perbedaan lantas kenapa kita ngotot menyeragamkannya ?. Dan bukankah kengototan itu bertentangan dengan kehendakNya ?.

Di publikasikan di :

http://www.facebook.com/erwin.thomas

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://www,surahman.com

http://kompasiana.com/surahman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone