October 18, 2010

Tunggu Sebentar

“Baiklah sobat , kau ingin bertemu dengan Mumal…”

“Ya,ya,ya, aku ingin bertemu , ajaklah aku ke istannya.”

“ikuti aku.”

“Tunggu sebentar Rano. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri. Lagi pula aku harus membawa sedikit bekal untuk perjalanan.”

Tunggu sebentar, tunggu sebentar, kemudian “se”bentar menjadi “dua” bentar, “tiga”bentar dan seterusnya.

Kita sering mendengar , “Aku memang senang sekali dengan hal-hal spiritual, dengan segala sesuatu yang berbau rohani…. Tapi tunggu sebentar; biarlah aku selesaikan dulu pertanggunganku. Dan …. Tanggungan itu tak pernah selesai (Anand Krishna ISHQ ALLAH Terlampauinya Batas Kewarasan duniawi dan Lahirnya Cinta Illahi – PT. Gramedia Pustaka Utama)

Kalimat bapak Anand Krishna itu menjadi penampar betapa saya selama ini telah banyak menyianyakan waktu, sibuk dengan filsafat, alias muter-muter ngga keruan. Sekitar tahun 2003 mungkin, saya mendapati buku-buku bapak Anand Krishna, dan baru tahun 2004 akhir saya datang ke Anand Ashram, perjumpaan awal yang membekas. Namun seperti tertera diatas terlalu banyak  “se”bentar untuk memulai latihan memberdaya diri.

Buku-buku memberdaya diri 1,2,3 Sehat dalam Sekejap, yoga dan lain sebagainya yang berisikan panduan untuk mengolah diri entah sudah beberapa kali saya baca, seperti seorang yang ingin belajar masak, resep masakan sudah hapal, tetapi masih enggan memasak wal hasil makanannya tidak pernah bisa matang, apa yang dapat di sajikan untuk dimakan ?.

Hingga kemudian sekitar tahun awal 2008 saya menderita penyakit yang cukup serius, dan baru tersadar betapa selama ini waktu lewat begitu saja. Dan kemudian saya mulai memberdayakan diri dengan melakukan latihan-latihan secara rutin.  Awal latihan niatnya adalah untuk menjadi sembuh dari penyakit, hingga kini penyakit itu belum sembuh, dan saya masih harus minum obat. Setiap sebulan sekali masih harus ketemu dokter. Tetapi tidak menjadi masalah, saya tetap melakukan latihan, karena latihan itu membuat saya bahagia.

Latihan-latihan tersebut memberikan sudut pandang yang lebih baik terhadap kehidupan, sehinga saya bisa menjalani kehidupan dengan lebih ceria, dan yang terpenting itu adalah itu, menjadi bahagia. Jika di dalam kondisi susah kita masih dapat bahagia, apalagi di dalam kondisi yang sedang senang?. Hanya jika kita bahagia sajalah kita dapat bersyukur, meski berlimbahan nikmat jiklaau kita tidak bahagia kita tidak akan dapat beryukur, tidak akan dapat berbagi.  Sekali lagi saya mengulangi kalimat ini, kalimat ini adalah sebagai affirmasi buat diri saya sendiri untuk tetap memberdaya diri, “Tidak ada yang dapat membantu diriku, terkecuali diriku sendiri”.

= = =

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone