November 25, 2010

Memberdayakan Pandangan (Sight Culturing) Agar Tak Terkecoh Oleh Pandangan Sendiri

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

(Seri Dongeng http://www.ceritakecil.com/)

Renungan :

Bolak-balik kita tekecoh oleh pandangan kita sendiri, pengelihatan kita sudah terkontaminasi oleh emosi yang tak terkendali. Pada dasarnya kekurangan yang kita lihat dari seseorang adalah merupakan kekurangan diri sendiri, namun lebih mudah melihat dari orang lain. Buat yang berani akan mengakui kekurangan dirinya, dan kemudian memperbaiki dirinya. Sebuah ucapan bijak mengatakan“Apabila anda menuding seseorang, satu jari menunjuk ke orang lain, tiga jari menunjuk ke diri anda sendiri. Sebelum menyalahkan orang lain, tanyalah pada iri sendiri 3 kali, apakah anda sudah benar”.

Di buku Seni Memberdaya Diri 1 karya bapak Anand Krishna di jelaskan bahwa mata menggunakan energy paling banyak, kurang lebih 70% energy diboroskan oleh mata. Oleh karennya kita perlu memberdayakan pandangan kita agar tidak terjebak oleh pandangan kita sendiri, agar tidak terkecoh oleh pandangan kita sendiri. Sebuah gelas yang berisikan air bisa di simpulkan dengan setengah kosong atau setengah isi, tergantung dari pandangan kita.  Kira-kira sepertilah memandang kehidupan, jikakita memandang isi gelas itu setengah kosong maka kita akan rugi, namun jika kita memandang gelas itu setengah isi kita akan untung. Untung dan rugi itu sendiri sangat tergantung dari pandangan kita. Sebuah penyakit bisa menjadi serapah atau menjadi berkah tergantung kita melihatnya.

Bapak Anand Krishna juga memberikan latihan sederhana yang bisa kita latih sendiri di rumah  untuk memperbaiki pandangan kita, namun semua pada akhirnya kembali kepada diri kita, resep sudah diberikan. Mau atau tidaknya menebus resep dan minum obat menjadi sangat tergantung kepada diri kita sendiri. Pada akhirnya segala perbuatan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita, kita sendiri yang harus menanggung hasil perbuatan tersebut. Oleh karenya sebelum di susahkan oleh pandangan sendiri, yuk kita tebus obat dan minum obat.

Suatu hari Mulla Nasruddin meminjam jambangan bunga besar dari tetangganya. Besoknya ia mengembalikan jambangan bunga itu beserta sebuah jambangan bunga kecil.

“Yang kecil ini bukan milik kami,” kata si tetangga.

“Ya, memang,” sahut si Mulla. “Semalam jambanganmu melahirkan yang kecil ini.”

Si tetangga  merasa senang dan menerima keduanya.

Beberapa hari kemudian Mulla meminjam jambangan besar lagi, tapi dia tidak mengembalikannya keesokan harinya. Ketika si tetangga datang memintanya, Mulla berkata:

“Malang benar jambangan itu, ia sudah tak ada lagi. Semalam ia telah meninggal dunia.”

“Bicara apa kamu ini?” protes si tetangga.

“Mana mungkin jambangan bunga bisa mati?”

“Yah, mana mungkin jambangan bunga bisa melahirkan, “ jawab Mulla.

Refrensi :

Seni Memberdaya Diri 1 – Anand Krishna – PT. Gramedia Pustaka Utama

= =

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone