December 18, 2010

Seni Memberdaya Amarah Untuk Menggapai Hidup Penuh Keceriaan

Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas pasir : “HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU”

Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis diatas Batu “HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”

Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, “Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya diatas pasir dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?

Temannyapun menjawab : “Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas pasir, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya”

Renungan :

Saya suka sekali dengan kisah tersebut, kisah tersebut dikemas dalam banyak versi yang inti pesannya adalah “ Memafkan dan Melupakan Keburukan (kesalahan) Orang, namun tetap mengenang setiap perbuatan baik orang. Gampang di tulis, namun susah di praktekan karena ada amarah yang bersarang di dalam jiwa kita, untuk dapat memafkan dan melupakan terlebih dahulu amarah itu harus dikeluarkan dari dalam jiwa. Kita bisa memanfaatkan tip dan latihan mengatasi amarah di dalam buku Bersama J.P. Vaswani: Menggapai Hidup Damai & Ceria buah karya bapak Anand Krishna, di dalam buku setebal 202 halaman ini  bapak Anand Krishna mengulas theraphy kecerian dan membagikan tip dan latihan mengatasi amarah.

Di dalam kehidupan sehari-hari tidak mungkin kita untuk tidak marah, di dalam interaksi social kita dengan  sesama tidak mungkin tidak terjadi silang pendapat yang bisa saja sengaja atau tidak sengaja membuat hati kita marah. Tidak mungkin semuanya berjalan seperti maunya kita, pasti akan terjadi sesuatu di luar dari yang kita rencankan dan biasanya itu membuat diri kita marah. Memaafkan dan melupakan sesuatu yang membuat diri kita marah adalah pekerjaan yang sulit, kita tidak bisa dengan begitu saja memafkan dan melupakan, oleh karennya kita perlu mempelajarinya, kita perlu mengolah diri. Kita perlu memberdayakan amarah untuk mengapai hidup ceria, sehingga kita dapat berprilaku seperti kisah diatas. Ketika kita marah kita seperti menulis diatas pasir agar angin dapat membawa amarah itu pergi, namun kita mengingat kebaikan orang selamanya seperti kita memahatnya diatas batu, abadi.

Baginda Rasul Sendiri pernah mengatakan bahwa cara terbaik mengenang mereka yang telah tiada adalah dengan mengingat kebaikan-kebaikannya. Lagi-lagi pilihan ada di tangan kita, mau memilih membenci orang  atau melatih diri memberdayakan amarah agar jiwa dapat terbebaskan dari kemarahan dan menggapai hidup ceria, sepenuhnya pilihan ada ditangan kita.

Selamat membedaya diri, semangat !.

Refrensi

Bersama J.P. Vaswani: Menggapai Hidup Damai & Ceria – Anand Krishna – PT. Gramedia Pustaka Utama – http://booksindonesia.com/

= =

Di Publikasikan di :

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone