February 5, 2011

Aku Sudah Lelah Gusti, Renungan Ke-61 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang berolah-rasa mengenai berguru. Beberapa buku, artikel dan wejangan Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka membuka diri terhadap aliran wisdom yang berasal dari sumber mata air referensi penuh kasih tersebut. Mereka membiarkan aliran wisdom tersebut membasahi dan membuat lembab hati mereka…….

Sang Suami: Istriku, kita baru saja membaca bersama sebuah file berisi sharing seorang murid tentang Gurunya…….  “Mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu dalam spiritualitas relatif lebih mudah dari pada mempertahankannya. Malah yang sering kali terjadi adalah kejatuhan kesadaran ke posisi yang lebih rendah.  ‘Satsang’, entah berapa kali Guru sudah menasehati kita akan hal ini, sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kesadaran yang telah kita capai. Demikian pula, penggunaan pikiran yang lebih diutamakan daripada bhakti, membuat kita lebih mudah jatuh, atau paling tidak mandek di tempat. Mengenai hal ini, Guru pernah memberikan ilustrasi.”……. Vivekananda yang penuh gelora semangat, di akhir hidupnya, setelah begitu banyak yang dia lakukan, akhirnya kembali ke kaki Bunda Kali dan berkata, “Cukup Bunda, aku sudah lelah. Terimalah aku di kaki-Mu”……….

Sang Istri: Iya suamiku, dalam file tersebut juga disampaikan…….. “Cara terbaik untuk mempertahankan kesadaran adalah dengan menjauhi ‘Kusang’ atau lingkungan yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Dan, memulai kembali untuk meningkatkan bhakti kita dengan cara lebih mengembangkan Rasa daripada Pikiran. Namun kadang kita sudah mencoba untuk ‘satsang’ tetapi pikiran kita justru melakukan ‘kusang’. Dan di situlah kita memerlukan seorang Guru untuk selalu mengingatkan kita karena keberadaan beliau dari mulai perbuatan, ucapan dan apa pun yang dipikirkannya selalu mengenai peningkatan kesadaran…….. Seorang sahabat konon lagi iseng menggambar seekor anjing di atas selembar kertas. Kemudian Guru datang dan menambahkan gambar tersebut dan merubahnya menjadi gambar Yesus, sambil berkata, ‘See the difference? I make God from Dog.’ Betapa seorang Guru dalam situasi apa pun mencoba meningkatkan kesadaran kita meskipun dalam keadaan bercanda”…… Dan, suamiku…..  betapa telaknya pernyataan Sang Guru bagi kita yang membaca sharing tersebut…….. kita semua tadinya bagaikan hewan yang hanya menuruti nafsu dan naluri…… dan karena tuntunan seorang Guru kita dapat meningkat kesadarannya….. Tanpa tuntunan seorang Guru, tanpa panduan terus-menerus penuh kasih untuk memelihara kesadaran kita akan kembali ke sifat hewani lagi…….

Sang Suami: Istriku, dalam file tersebut Sang Murid meneruskan sharingnya…….. “Yang paling susah adalah masalah Bhakti. Menurut Guru, saat ini kita sudah terlalu banyak menggunakan pikiran dan meninggalkan Bhakti, seperti ilustrasi tentang Vivekananda di atas yang pada akhirnya pun harus kembali ke Bhakti. Spiritualitas, mengutip kata-kata Guru, pada akhirnya adalah suatu proses penghapusan Ego secara terus menerus. Dengan keberadaan seorang Guru, kita dapat lebih mudah untuk menghapuskan Ego kita karena seorang Guru dapat menjadi subjek bagi kita untuk menafikan ego. Dalam salah satu kelas, Guru bercerita bahwa seorang global master di depan jutaan muridnya pernah berkata bahwa beliau sedang mencari seorang Bhakta. Bayangkan dengan jumlah murid yang berjumlah jutaan itu dan dengan tingkat devosi yang demikian tinggi, Sang Master masih sedang mencari seorang Bhakta. Mendengar penjelasan Guru seperti itu, bikin shock juga”……..

Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Puluhan ribu tahun yang lalu, dalam Masa Emas atau Sat Yuga, “bertapa” adalah jalan yang paling tepat. Kemudian pada Masa Perak atau Treta Yuga, Datanglah Rama untuk menunjukkan jalur “pengorbanan”. Kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, Krishna menganjurkan “pelayanan” penuh kasih sebagai jalan yang paling tepat untuk Masa Tembaga atau Dwapara Yuga. Sekarang, untuk Masa Besi atau Kali Yuga, adalah “bhajan” atau naam sankeertan menyanyikan kebesaran, keagungan dan kemuliaan Gusti Pangeran…….. Istriku, dalam kehidupan modern yang sangat kompleks ini mestinya kita juga melakoni semuanya dalam satu masa kehidupan. Kita melakukan “tapa”, melakukan “pengorbanan”, melakukan “pelayanan” dan terakhir “bhajan” mengagungkan nama Gusti……. Bukankah Swami Vivekananda yang penuh gelora semangat telah melakukan semuanya, tapa, pengorbanan, pelayanan dan akhirnya pasrah pada Gusti dan mengagungkan nama-Nya? Bukankah demikian sharing dari sahabat kita di awal pembicaraan? Bunda Kali adalah salah satu dari nama-Nya……. Vivekananda yang penuh gelora semangat, di akhir hidupnya, setelah begitu banyak yang dia lakukan, akhirnya kembali ke kaki Bunda Kali dan berkata, “Cukup Bunda, aku sudah lelah. Terimalah aku di kaki-Mu”……….

Sang Istri: Benar suamiku, mengenai istilah “tapa” dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” disebutkan  sudah meliputi pengorbanan……. Tapa berarti “pengorbanan”. Apa yang harus kita korbankan? Keangkuhan kita, hawa nafsu kita, ketamakan dan keserakahan kita. Semua itu yang harus dikorbankan, dilepaskan. Tapa tidak berarti pelarian diri dari dunia.  Tapa berarti pelepasan diri dari keterikatan duniawi – tetap berada di dunia ini, menikmati segalanya, tetapi tidak terikat pada apa pun. Mereka yang sanggup melakukan hal itu, baru bisa disebut Pertapa………

Sang Suami: Pertama sekali kita perlu memahami lebih dahulu tentang peran Guru. Swami Vivekananda memahami lebih dulu peran Sadgurunya yaitu Sri Ramakrishna. Dalam buku “Sri Sai Satcharita” disampaikan……. Pemahaman kita tentang peran Guru mesti jelas. Ia adalah pemandu yang menunjukkan jalan, jalan ke dalam diri dan di dalam diri itu, Dia bersemayam. Bagiku menjadi sangat mudah untuk meniti jalan ke dalam diri, ketika kusadari bahwa yang sedang kucari di dalam diri juga adalah Dia, Sadguru! Kemudian, tinggal memancarkan kesadaran diri itu ke luar… Maka, Sadguru yang ada di dalam diri, juga terlihat jelas di luar diri. Ia berada di mana-mana. Kemudian, seluruh hidup ini menjadi nyanyian ruhani yang indah, sekaligus tak terputuskan, akhand bhajan!……..

Sang Istri: Masalah nyanyian ruhani, mengagungkan nama Gusti……. Seorang penyanyi dengan suara merdu menyanyikan lagu spiritual dengan penuh rasa diiringi musik sebagai latar belakangnya. Keberadaan musik sebagai pengantar lirik sang penyanyi, tidak mengganggu suara sang penyanyi. Lirik sang penyanyi begitu jelas terdengar menyentuh kalbu para pendengarnya. Seluruh yang hadir kemudian menirukan lirik sang penyanyi bait demi bait dengan segenap rasa. Kegiatan menyanyi bersama ini disebut bhajan. Bhajan akan terasa lebih berjiwa ketika Sang Guru, Sang Murshid mengikuti kegiatan bhajan tersebut…….. Masing-masing peserta yang berpartisipasi mempunyai ego sendiri-sendiri, dan mempersatukan ego tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Musik bersifat universal, rasa bersifat universal pula sehingga bhajan dapat mempersatukan pikiran semua peserta yang berlainan egonya. Musik dan lirik yang spiritual merasuk diri, dan dapat diterima peserta bhajan dengan terbuka. Penyanyi adalah The Leader, Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak mengikuti irama musik seperti halnya pada musik karaoke. Para pemain musiklah yang mengikuti nyanyian Sang Pemimpin. Seluruh yang hadir mengulangi lirik lagu Sang Pemimpin dengan nada yang sama. Di situlah para pemain musik dan para peserta bhajan bertindak menafikan ego untuk mengikuti Sang Pemimpin. Penyanyi yang handal diikuti pemain musik yang harmonis dan peserta bhajan yang patuh menghasilkan lagu yang indah dan menyentuh hati. Seandainya pemimpin negara yang handal diikuti para pejabat (pemain musik) yang telah menghilangkan ego pribadi dan warga negara (peserta bhajan) yang patuh dan yakin pada Sang Pemimpin maka kemajuan suatu negara sudahlah pasti diambang mata…….Lagu-lagu spiritual yang dinyanyikan sepenuh hati dalam bhajan melembutkan jiwa kita……..

Sang Suami: Istriku, aku ingat dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” Diriku ini Milik-Mu. Inilah penyerahan diri. Inilah keikhlasan dan kepasrahan diri yang sempurna. Tanpa embel-embel. Inilah cinta yang tak terbatas, dan tanpa syarat. Cinta seperti ini adalah suatu “kejadian” yang jarang terjadi. Inilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh jiwa. Inilah kejadian yang dapat mengantar jiwa pada tahap evolusi berikutnya, tempat ia “menjadi”cinta. Tahap pertama adalah penyerahan diri: “Aku milik-Mu”. Inilah “kejadian” awal. Saat kejadian ini, ego kita sudah knock out, flat on the ground. Ia sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia sudah tidak berdaya. Diri-Mu adalah Milikku. Inilah langkah kedua setelah penyerahan diri. Setelah penyerahan diri, sekarang pernyataan kepemilikan diri. Aku telah menjadi milik Gusti Pangeran, sekarang Gusti Pangeran menjadi milikku. “Cintaku untuk-Mu semata untuk Melayani-Mu” tak ada kepentingan pribadi, tak ada tuntutan birahi, tak ada urusan kepuasan diri. “Harapanku padaMu,” bukanlah supaya kau membalas cintaku, tapi “semoga Kau berkenan atas ungkapan kasihku padaMu.” Cinta macam apakah ini? Inilah Cinta Sejati, inilah Kasih Ilahi. Nafsu birahi selalu menuntut, cinta penuh emosi memberi, tapi selalu mengharapkan balasan/imbalan. Cinta sejati adalah ungkapan kasih ilahi yang selalu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut sesuatu. Ia tidak mengharapkan imbalan. Ia tidak peduli akan balasan………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone