February 21, 2011

Latihan Katarsis Dan Pelembutan Jiwa Anak Bangsa, Renungan Ke-68 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai katarsis,salah satu cara pembuangan sampah emosi yang terpendam dalam diri.

Sang Suami: Istriku, setiap peristiwa yang mengakibatkan kekecewaan selalu kita simpan dalam otak satu paket lengkap dengan emosi yang mendampinginya. Pada waktu kita marah atau kecewa, dan kita tidak dapat melampiaskan akibat situasi yang tidak mendukung, misalnya marah dengan pimpinan kantor kita atau orang terpandang di lingkungan kita, atau gelisah membaca koran tentang negara yang tak kunjung menyelesaikan masalah kekerasan, maka peristiwa tersebut akan kita simpan lengkap dengan emosi negatif yang menyertainya…….. Sejak bayi pun, kita diprogram mana yang baik dan mana yang buruk oleh orang tua, pendidikan dan lingkungan. Ketika kita yang seharusnya melampiaskan emosi, akan tetapi tidak dapat kita lakukan dengan pertimbangan kriteria baik-buruk yang diprogramkan pada kita, maka peristiwa itu juga kita simpan lengkap dengan kegelisahannya. Emosi negatif yang terjadi sepanjang kehidupan, kita simpan dalam bagian otak yang disebut limbik. Semakin tua, kandungan emosi negatif tersebut semakin banyak, sehingga, semakin tua semakin mudah marah, kadang hanya terpicu hal yang sepele………

Sang Istri: Benar suamiku, pada zaman dahulu kala, manusia ke mana-mana bepergian dengan jalan kaki, sehingga fisik tubuh terlatih kuat dan kegelisahan tereduksi. Sekarang orang bepergian dengan  naik kendaraan, sehingga daya tahan fisik berkurang dan kegelisahan tidak tersalurkan lewat gerakan fisik. Pada zaman dahulu kita sambil jalan bisa menikmati pemandangan alam yang segar dan bunyi burung-burung yang berkicau di atas pohon. Sekarang perjalanan macet di mana-mana, penuh suara klakson dan asap knalpot. Dengan adanya HP di dekat kita maka informasi yang masuk kepada diri kita luar biasa banyaknya. Fisik kita semakin sedikit digunakan, beban psikis sangat berat, aura kegelisahan menyebar di koran, internet dan HP. Jelas kegelisahan orang sekarang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang pada zaman dahulu. Cara-cara menenangkan pikiran zaman dahulu perlu dikaji ulang…….

Sang Suami: Untuk itulah kita sangat menikmati latihan “katarsis” di Anand Krishna Center, manfaatnya sangat terasa. Katarsis, adalah semacam pengeluaran sampah emosi negatif lewat ”voice culturing”. Latihan ”voice culturing” dimaksudkan untuk memancing emosi negatif yang tersimpan dalam bawah sadar sehingga dapat dikeluarkan. Latihan dengan napas “kelinci” yang kacau ditambah musik keras tertentu akan memicu ketegangan diri, sehingga emosi yang terpendam dalam diri dapat terungkap keluar. Dan dengan teriakan yang keras, kita akan membuang sampah emosi negatif. Katarsis lewat “voice culturing” ini akan melegakan perasaan kita……. Aku ingat kutipan dalam  buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”………. “Lakukan apa pun yang kau inginkan; lakukan yang sudah lama hendak kau lakukan. Jangan memendam emosimu. Berteriaklah, menjerit, dan ekspresikan dirimu… Bebaskan dirimu dari sampah pikiran. Lepaskan segala kecemasan dan kekhawatiran juga ketakutan…. kemudian barulah kau dengan lebih mudah bisa memasuki alam meditasi. Di situ kau akan mengalami kebahagiaan. Dalam kesadaran itu kau akan menemukan kebenaran yang sejati dan kebahagiaan yang tak pernah berakhir”…….

Sang Istri: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki” disampaikan……… Meditasi itu hanya dapat terjadi apabila kita sudah membebaskan diri kita dari sampah-sampah pikiran yang kacau dan emosi yang terpendam. Untuk memasuki alam meditasi, duduk hening, diam, tanpa gerakan tidak akan pernah membantu. Kita harus mulai dengan pembersihan diri secara aktif; setelah itu keheningan, ketenangan akan terjadi sendiri…….. Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan…….. Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan tetapi menggelisahkan Anda………

Sang Suami: Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Dalil apa pun yang kita gunakan, pembenaran apa pun yang kita lakukan, amarah adalah amarah. Pisau amarah sangat tajam, ia yang disayatnya memang terluka, namun penyayatnya pun tidak bebas dari luka batin. Sebelum Anda memarahi orang, racun amarah telah meracuni diri Anda terlebih dahulu. Yang marah dan yang dimarahi sama-sama menderita. Tidak ada yang menang dua-duanya kalah. Amarah adalah emosi yang menghanyutkan dan yang dihanyutkan adalah kesadaran. Namun emosi yang menghanyutkan ini tidak harus selalu ditekan. Berbagai macam penyakit yang kita derita merupakan hasil penekanan emosi……… Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan…….. Sesungguhnya, ia kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak mampu mengurusi dirinya. Ia pun sadar bahwa dirinya gagal melakukan apa yang semestinya dilakukannya. Ia dalam keadaan kecewa berat. Kecewa pada dirinya sendiri, tetapi tidak mau menerima hal itu, maka ia pun mencari alasan atas kekecewaannya. Ia akan mencari-cari kesalahan orang lain. Untuk itu, ia akan berbohong, menipu, menyesatkan, melakukan apa saja. Ia menjadi keras. Ia menjadi pemarah. Amarah adalah benih kehancuran. Jika tidak cepat-cepat diurusi, diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat. Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah………. Istriku, betapa berbahayanya sifat amarah yang terpendam dalam diri karena tumpukan emosi negatif yang terpendam dalam diri. Luapan emosi yang tidak terkendali, khususnya luapan emosi amarah, menurunkan frekuensi kita sehingga kita tidak lagi bergetar bersama orang-orang bijak. Untuk berada pada gelombang mereka yang bijak kita mesti bebas dari rasa dengki, iri, amarah, dan lain sebagainya. Kita mesti mampu mengendalikan hawa-nafsu dan tidak terkendali olehnya. Salah satu caranya dengan melakukan latihan katarsis.

Sang Istri: Amarah juga ada kaitannya dengan sifat kekerasan dalam diri. Tanpa kita sadari kekerasan dalam adalah akibat sifat genetik bawaan. Proses pembentukan pribadi manusia dimulai sejak sel telur dibuahi oleh sperma. DNA yang dimiliki calon manusia ini dapat dikatakan sebagai ”blueprint” sifat-sifat manusia yang diturunkan oleh para orang tua dari zaman ke zaman. Sifat yang dimiliki oleh para orang tua dari generasi ke generasi, secara potensial juga dimiliki anaknya. Menurut ilmu psikologi, potensi sifat ini terdapat di alam bawah sadar. Dalam perjalanan kehidupan, sifat potensial ini dapat muncul apabila faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Sebagai contoh tawuran antar desa, kekerasan atas nama agama dan sebagainya…….. Kekerasan yang terjadi di negara kita, mungkin dapat dirunut dari kekerasan yang terjadi sepanjang sejarah negeri kita. Apabila potensi kekerasan ini tidak dicarikan cara pelembutannya, maka sewaktu-waktu potensi kekerasan ini dapat tersulut dan terulanglah lembaran hitam terjadinya beberapa huru-hara di negeri kita……..

Sang Suami: Meskipun demikian, menurut ilmu pengetahuan tentang syaraf, proses pembentukan pikiran bawah sadar manusia, sebetulnya, bukan semata-mata kesalahan para generasi terdahulu. Karena kita sendiri punya “kehendak bebas” untuk menciptakan conditioning kekerasan atau tidak memberi kesempatan kekerasan mempengaruhi diri. Memberikan “perhatian” pada kekerasan secara berulang-ulang secara repetitif-intensif, seperti pada praktek brainswash atau cuci otak, akan membuat kita terbiasa melakukan kekerasan…….. Dengan tidak mengurangi makna dan nilai pendidikan agama, walaupun orang tua sudah berlomba mengajari pendidikan agama sedini mungkin,  mungkin saja kekerasan tetap akan muncul. Kalau potensi di dalam diri masih ada, kekerasan bisa muncul dalam bentuk tindakan kekerasan demi agama yang dianutnya, bahkan membunuh orang lain demi agama yang dianutnya………

Sang Istri: Suamiku, aku pernah baca file lama pada laptopmu yang merupakan download dari sebuah surat kabar yang masih relevan dengan masa kini…….. Celakanya, yang terjadi pada saat ini, kebanyakan orang Indonesia sengaja memperpanjang pengkondisian yang diterimanya dari generasi terdahulu. Praktek berpolitik, beragama, bermasyarakat dan berkeluarga kebanyakan kita, sangat menyuburkan pengkondisian kekerasan dalam alam bawah sadar. Misalnya fanatisme buta dalam beragama yang didoktrinkan secara turun-temurun. Ketika pada seorang anak diajarkan bahwa orang beragama selain yang dianutnya adalah “kafir”. Si anak kemudian akan mengasosiasikannya  bahwa mereka yang beragama lain itu tak pantas mendapat keadilan atau bahkan “darahnya halal”. Lebih celaka lagi, bila fanatisme semacam ini dimanfaatkan secara politik untuk meraih dukungan massa. Pengkondisian ini dengan sendirinya menjadi memori yang akan tersimpan sangat lama. Sewaktu-waktu, ia akan muncul dan meledak bila diberikan berbagai rangsangan atau stimulus. Adanya provokator maupun rekayasa politik, tak lain hanya merupakan stimulus yang sengaja diberikan. Potensinya, sudah terlanjur tertanam dalam diri banyak orang. Bukan berarti nasib bangsa ini sudah tak bisa diubah. Secara teoritis, rantai sikap reaktif terhadap kekerasan yang diturun-temurunkan secara genetik ini dapat diputuskan. Hal ini dimungkinkan terjadi, bila kecenderungan yang muncul dari alam bawah sadar ini tidak dengan sengaja “dirangsang”. Jika dibiarkan, lama-kelamaan potensi yang membentuk synap-synap ini akan teregresi dan lenyap……….

Sang Suami: Benar istriku, kembali ke latihan katarsis…….. apabila kita cari akarnya, kita akan temukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Kita ingin marah, kita ingin menjerit, kita ingin berteriak, tetapi kita menahan diri. Kita harus punya outlet atau saluran keluar yang lain. Kita harus dapat mengeluarkan segala sesuatu yang terpendam ini lewat jalur lain. Latihan ini merupakan jalur alternatif. Keluarkan kegelisahan, kekesalan kita, namun tidak ditujukan kepada seseorang. Dalam latihan ini, kita akan menembus berbagai lapisan alam bawah sadar, sehingga apa saja yang terpendam akan keluar. Tujuannya melampiaskan emosi yang menghanyutkan kesadaran tanpa “melukai” orang lain dan diri sendiri. Apabila latihan yang harus dilakukan di bawah bimbingan para fasilitator yang menguasai latihan tersebut, tidak dapat dilaksanakan, maka dapat dilakukan sendiri dengan “Latihan Memukul Bantal”. Emosi terpendam dipancing dan kemudian dikeluarkan dengan melakukan latihan dengan memukul bantal. Dan setelah selesai dilakukan pengaturan napas kembali…….

Sang Istri: Orang tua yang sudah terlanjur terbentuk pribadi yang keras perlu rajin katarsis untuk pelembutan pribadi, sehingga semakin tua akan semakin lembut. Bagi anak-anak muda yang belum kawin perlu rajin katarsis sehingga potensi kekerasan dalam dirinya akan berkurang. Pada waktu dia nanti kawin dan mempunyai anak, potensi kekerasan sudah tidak diturunkan lagi ke generasi berikutnya. Dengan berkurangnya potensi kekerasan, keserakahan, dan trauma dalam diri, kita akan lebih tenang. Dan pada gilirannya kita akan dapat menjalankan agama dengan lebih jernih.

Sang Suami: Benar istriku, bagiku nasehat untuk tidak melakukan ibadah pada saat mabuk dapat dimaknai agar kita melakukan ibadah dengan penuh kesadaraan. Saat mabuk duniawi, mabuk kemarahan dan keserakahan, tenangkan diri dulu, dan setelah tenang baru melakukan ibadah……… Semoga…….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone