March 31, 2011

Jiwa Satria Anand Krishna dan Kesewenang-wenangan keputusan hakim

Saat saya membaca berita koran di kompas.com dan detik.com tentang perjuangan Anand Krishna tanggal 30 Maret 2011, saya baru sadar mengapa sosok Anand Krishna berada di negeri ini. Telah 23 hari per tanggal 31 Maret 2011 ia tidak makan, hanya minum air putih. Suatu keteguhan memegang prinsip berjuang tanpa kekerasan. Puasa tidak makan yang dijalaninya sejak tanggal 9 Maret 2011 karena keputusan hakim Hari Sasangka untuk menahannya. Suatu keluhuran jiwa satria.
Ia dituduh melakukan pelecehan seksual pada mantan peserta meditasi di Anand Ashram, Tara Pradipta Laksmi. Dalam beberapa kali persidangan yang sudah dijalani selama 5 bulan, tiada satupun bukti yang memberatkannya. Semua kesaksian dari pihak pelapor saling bertentangan. Bahkan saat si pelapor ditanya tentang tanggal kejadian pelecehan menunjukkan suatu hal yang tidak sesuai. Saat tanggal pelecehan yang dilaporkan (21 Maret 2009), Anand Krishna tidak berada di tempat kejadian. Dan bukti-bukti ada, karena saat itu sedang diadakan Open House di Sunter. Sedangkan menurut pelapor, kejadiannya di Ciawi. Demikian juga dari kesaksian pelapor lainnya yang juga mantan peserta meditasi di Anand Ashram. Mereka sudah lama keluar, bahkan antara mereka dengan si pelapor Tara P L sesungguhnya tidak saling mengenal. Jadi banyak kejanggalan yang terjadi dalam persidangan.
Sementara dari para saksi yang meringankan, pihak pecinta Anand Ashram, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tiada satupun berkaitan dengan pengaduan utama, pelecehan seksual. Semua pertanyaan tentang yang dilakukan di Anand Ashram dan selalu di arahkan tentang ajaran. Pada hal tiada sesuatu ajaran yang diberikan di padepokan Anand Ashram. Tentang seragam yang dikaitkan dengan sekte. Pada prinsipnya tiada satupun berkaitan dengan tuduhan. Jadi tampak semakin jelas ada tujuan mengkriminalkan Anand Krishna. Jika dinyatakan dalam prosentase, pertanyaan yang mengait ke dakwaan, pelecehan seksual hanya 10 persen. Sedangkan yang 90 persen tentang yang menjadi dakwaan utama. (lihat berita lengkapnya Majalah Tiro, Edisi 57, Feb 2011)
Anand Krishna adalah penulis buku yang produktif. Selam kurang lebih 20 tahun berkarya, sudah 140 an buku yang dituliskan. Dan sesungguhnya kebanyakan tentang bagaimana mengembalikan keluhuran budi warisan leluhur yang semakin meluntur. Bahkan hilang dilanda pemahamn impor yang jelas-jelas tidak sesuai bagi jiwa bangsa ini. Banyak seminar dan lokakarya dihadiri maupun dilaksanakannya sendiri. Dan semua bertemakan hal yang sama. Pluralisme dan kebhinekaan serta cinta bangsa dan produk sendiri. Semua yang ditulis maupun dilakukan hanya bertujuan satu: ‘menciptakan masyarakat yang sadar dan mencintai negerinya’.
Tapi memang sesuatu hal yang baik menurut kita, belum tentu disukai oleh setiap orang. Suara kebangsaan yang terus digaungkan Anand Krishna selama kurang lebih 20 tahun, ternyata tidak disukai oleh kelompok penghianat yang tidak menginginkan bangkitnya jiwa-jiwa nusantara. Nah dengan menggunakan pintu masuk kasus pelecehan seksual, Anand Krishna dijebloskan ke penjara oleh hakim Hari Sasangka sejak tanggal 9 Maret 2011. Jika di simak secara mendetail dari kasus persidangan dan jalannya proses peradilan, tidak layak Anand Krishna di tahan. Alasannya tidak masuk akal. Bukankah Anand Krishna masih memiliki hak praduga tidak bersalah. Karena belum terbukti kesalahan yang didakwakan. Tapi mengingat bahwa mungkin ada pesanan khusus, maka hakim Hari Sasangka melakukan perbuatan sewenang-wenang dalam memutuskan perkara.
Sebagai seorang berjiwa satria, Anand Krishna patuh terhadap keputusan pegadilan yang baginya dirasakan sebagai perbuatan yang mendzolimi dirinya. Walaupun ia tidak bersedia menandatangani berita acar penahanan. Karena memang belum ada tuntutan dari jaksa. Bahkan pledoi pun belum dibacakan.
Sebagai bentuk protes atas perbuatan hakim yang sewenang-wenang, ia mogok makan. Inilah kebesaran jiwa seorang Anand Krishna, protes tanpa kekerasan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya prinsip kuat dalam memperjuangkan ketidak adilan bagi dirirnya. Sekali lagi bukan karena ‘ngambeg’. Tapi dilakukan demi menuntut keadilan bagi dirinya. Ia melakukan dengan penuh kesadaran dan dengan penuh kasih. Ia bahkan tidak membenci hakim maupun jaksa penuntut. Ia berbesar hati menerima, karena ia tahu dan sadar betul bahwa hakim melakukannya di bawah tekanan.
Yang disayangkan oleh Anand Krishna, hakim begitu tega menjual bangsanya karena ketakutan. Hakim dengan sadar turut memberangus suara kebangsaan yang disuarakan oleh Anand Krishna selama ini. Begitu rendahnya kah akhlak bangsa nusantara yang dulu dikenal penuh welas asih dan berjaya pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Betapa menyedihkan nasib bangsa yang menurut penelitian Arsyo Santos, di wilayah nusantara lah keberadaan bangsa Atlantis. Demikian juga keyakinan dari hasil penelitian O. Stephen Heimer.
Pantaslah jiwa besar Anand Krishna lahir di nusantara dengan membawa misi untuk mengembalikan nilai-nilai luhur nusantara yang telah memudar dan bahkan cenderung melenyap. Coba bayangkan, jika kita bandingkan dengan perjuangan Mahatma Gandhi menuntut kemerdekaan dari pemerintah Inggris. Beliau mogok makan selama 21 hari. Dan kemudian pemerintah Inggris luluh hatinya untuk meng-akhiri pendudukannya di India. Anand Krishna telah 23 hari tidak makan, pemerintah dan mayoritas rakyat seakan membutakan diri. Tampak sekali betapa telah begitu lemahnya dan bahkan mendekati ketertutupan total nurani bangsa ini.
Perjuangan Mahatma Gandhi berhasil karena rakyat India sadar memang memerlukan sosok Gandhi. Selain itu pemerintah Inggris juga memiliki intelejensia kemanusiaan yang tinggi. Dilain pihak pemerintah kita saat ini rendah intelejensia kemanusiaannya.
Sesungguhnya rakyat Indonesia saat ini juga di jajah. Hanya tidak sadar bahwa ia dijajah. Jiwanya sudah digadaikan pada agama dan dunia. Lupa jati dirinya sebagai manusia luhur. Sebagai contoh, hakim Hari Sasangka yang sudah menggadaikan jiwanya dibawah tekanan ketakutan. Banyak orang sakit jiwa di rumah sakit jiwa tidak mau ngaku bahwa dirinya gila. Tidak hanya seorang Hari Sasangka, tetapi masih banyak yang amnesia terhadap keluhuran budi pekerti leluhurnya….

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone