March 16, 2011

Sebuah Bangsa Yang Sebagian Putra-Putrinya Mulai Mati Rasa

Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna

Sepasang suami istri bercengkerama di depan sebuah laptop di rumahnya. Mereka membolak-balik email, status dan note para sahabat-sahabatnya tentang sidang pengadilan tokoh spiritual lintas agama, Bapak Anand Krishna. Sejak ditetapkan ditahan sejak tanggal 9 Maret 2011, Bapak Anand Krishna terus melakukan mogok makan sebagai bentuk perlawanan terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya selama proses hukum atas tuduhan pelecehan seksual. Sebagaimana telah dijelaskan oleh kuasa hukumnya bahwa selama persidangan tidak pernah bisa dibuktikan tuduhan pelecehan seks tersebut bahkan materi pertanyaan hakim dan jaksa 90 persen sama sekali tidak berhubungan dengan pelecehan seks……. Saat ini sudah menginjak hari ke-8 puasa……

Sang Suami: Seorang sahabat membandingkan kasus dugaan pelecehan seksual bapak Anand Krishna dengan film “Indictment : The  Mc Martin Trial”, sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Sahabat tersebut menulis bahwa dia melihat pola yang sangat mirip dengan kasus yang menimpa Bapak Anand Krishna. Mulai dari awal munculnya kasus dimana sang terapis mengaku sudah memberikan terapi kepada TR lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa TR mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa TR baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi? Dan setelah ditelusuri, ternyata terapisnya lulusan PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), sertifikat terapi yang konon dari Universitas Maryland, tidaklah diambil secara langsung namun dengan mengikuti kuliah jarak jauh (sama dengan universitas yang diambil oleh terapis dalam film). Setahu dia, pelecehan seksual adalah salah satu kasus klinis yang harus ditangani minimal seorang psikolog lulusan klinis dewasa yang sudah mempunyai pengalaman terapi bertahun-tahun, bukannya lulusan PIO, yang mengambil sertifikat hypnoterapi dengan sistem jarak jauh karena tidak semua kasus dapat diselesaikan dengan hypnotherapy. Salah-salah, yang terjadi justru bukan membangkitkan memori yang terkubur, tapi justru malah membuat memori yang ada menjadi bias atau distorsi sehingga yang muncul justru persepsi yang salah terhadap suatu peristiwa apalagi dari pengakuan terapis sampai dilakukan puluhan kali…… Dari stimulus ini, bisa berkembang persepsi yang keliru yang kemudian berkembang menjadi suatu beliefs yang tertanam melalui suatu proses terapi secara intensif dan repetitif seperti terapi puluhan kali dan pasien tidak boleh kontak dengan dunia luar. Namun sekali lagi, karena memang peristiwa itu tidak pernah terjadi, akhirnya informasi yang disampaikan pun menjadi berubah-ubah seperti yang terjadi di persidangan. Dia menjadi lebih yakin setelah membaca berbagai artikel mengenai kasus-kasus nyata terkait dengan false memory implant yang terjadi di luar negeri. Keyakinan dia bertambah setelah membaca hasil penelitian Mazzoni, et.all (1999) mengenai bagaimana seorang therapist bisa menanamkan memori palsu terhadap pasien (http://www.spring.org.uk/2008/02/therapists-can-implant-false-beliefs.php). Kesamaan lain dari kasus Mc Martin Trial dalam film indictment adalah kasus ini besar karena peran media. Belum ada keputusan hukum, pihak Bapak Anand Krishna sudah di hakimi bersalah oleh masyarakat. Padahal proses hukum masih berjalan, dan belum ada keputusan yang resmi. Sepertinya, istilah “asas praduga tak bersalah” itu hanya slogan kosong belaka. Persis sama dengan apa yang dialami oleh keluarga Mc Martin. Dalam kasus ini jelas bukan Bapak Anand Krishna yang diserang, tapi kebhinekaan, pluralisme, multikulturalisme.

Sang Istri: Banyak petugas hukum yang hanya melihat fakta tentang apa yang diinginkan mereka, segala kejanggalan diabaikan dan dengan segala cara membenarkan apa yang mereka maui. Mereka telah melupakan kaidah emas “Jangan melakukan sesuatu yang engkau tidak senang tindakan tersebut dilakukan terhadapmu”. Sebagian petugas hukum lupa, apakah mereka rela bila orang tua atau putra-putrinya dilakukan hal yang sama terhadap mereka? Mereka nampaknya sudah kehilangan rasa. Nampaknya sudah mati rasa. Mau menang sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Mereka sudah mengabaikan nurani dan pikiran jernih.

Sang Suami: Aku ingat buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”…….. Pujangga Sri Mangkunagara IV selalu menekankan bahwa pengetahuan tertinggi tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan “rasa” dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin…… Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita. Dan ……… mereka yang dididik tanpa mengembangkan rasa, rasanya saat ini  sudah menjadi elit bangsa. Mungkin saja pencapaian dalam bidang materi relatif sangat banyak, akan tetapi itu hanya berupa kenyamanan hidup, bukan kebahagiaan hidup.

Sang Istri: Rasanya aku hampir tidak mengenal anak-anak bangsa kita. Banyak yang mengabaikan  rasa “tepo sliro”, “Jangan melakukan kepada orang lain apa yang tidak senang dilakukan terhadapmu”……. Kita juga melihat beberapa mass media mem-“blow up” berita “asbun” tanpa dasar etika keberimbangan, bagaimana seandainya sang insan mass media tersebut mengalami hal demikian? Saat membaca mass media, kita sering menemukan statement-statement tanpa peduli rasa, tanpa tepo sliro. Nyatanya kita memang belum santun, masih kasar, rasa kita belum halus.

Sang Suami: Buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” menyindir kita……… bahwa raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti  buto, seperti “makhluk yang tidak berbadan”, berarti seperti kayu gelondongan yang belum dipahat….. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang……..

Sang Istri: Suamiku, mari kita menggunakan buku ““Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 sebagai referensi……… Bila kita mempelajari otak manusia: Selain lymbic, ada juga yang dalam bahasa sehari-hari disebut Otak Kanan dan Otak Kiri. Maksudnya Otak Bagian Kanan dan Otak Bagian Kiri. Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya. Sementara, Bagian Kanan lebih “berperasaan”. Sense of Beauty, Keindahan, Estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imajinasi, visi… semuanya diurusi Otak Bagian Kanan. Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. Lymbic menyatakan keinginannya, “Aku butuh ini, butuh itu….” Ia memerintah Otak Kiri, “Hai Otak Kiri, usahakan dengan segala cara dan upaya sehingga keinginanku terpenuhi. Silakan beranalisa, berlogika, ber-apa saja, asal keinginanku terpenuhi.” Ini yang kita sebut akal.

Sang Suami: Pendidikan yang kita peroleh juga tidak banyak membantu, karena bertujuan untuk mengasah akal belaka. Kita menjadi sangat intelektual. Akal pun ada kalanya berubah menjadi “akal-akalan”. Namun demikian, kita tetap menjadi budak lymbic. Walau, cara kita barangkali menjadi lebih sopan sedikit, lebih lembut – setidaknya “terasa” demikian. Padahal, sami mawon. Tujuan kita masih sama, yaitu memuaskan hewan di dalam diri. Dan, bukan saja Otak Kiri, Otak Kanan pun diperbudak oleh Lymbic. Otak Kanan pun diperintahnya, “Hai Otak Kanan, kamu kan pandai memoles dan menciptakan keindahan, tolong dong keinginan-keinginanku dipoles supaya terlihat lebih indah, lebih halus.” Dengan cara itu, Otak Kanan pun dibuatnya menjadi sibuk untuk menutupi kehewaniannya. Otak Kanan tanpa pembersihan Lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting yang lebih indah dan mewah. Itu saja. Kita harus selalu mengingatkan diri bahwa kebutuhan insting itu seratus persen adalah sifat hewani, sifat kita yang masih primitif…….

Sang Istri: Hewan berpikir, manusia pun berpikir. Hewan memikirkan makan, minum, tidur dan seks. Itulah kodratnya. Bila manusia pun memikirkan makan, minum, tidur dan seks saja, maka la masih hewan, masih sub-human, manusia kelas rendah, manusia kelas hewan. Manusia yang sudah berkembang kemanusiaannya, yang sudah tidak terkendali oleh insting-insting hewaninya, sudah pasti memikirkan kepentingan luas, bukan lagi kepentingan diri dan kelompok. Inilah kodrat manusia. Sekarang ini kita baru menjalani kodrat binatang. Para pemimpin, pejabat, bahkan yang menganggap diri “rohaniwan”, tapi masih memikirkan dirinya saja atau memikirkan kepentingan kelompoknya saja, sesungguhnya masih terkendali oleh insting hewani. Bila aku memaksa orang lain untuk menerima pendapatku atau melihat kebenaran dari sudut pandangku, maka aku pun masih terkendali oleh insting hewani……..

Sang Suami: Manusia yang “urgent needed by nation” pada saat ini adalah manusia yang pikirannya menjadi lebih jernih. Cara pandangnya meluas. Ialah Manusia yang Memiliki Visi. la dalam perjalanan menuju Kesempurnaan Diri. Dalam diri mereka insting-insting hewani sudah mereda, tidak menggebu-gebu lagi. la masih harus tetap makan, minum, tidur, bahkan melakukan hubungan seks. Tetapi tidak “terbawa”, oleh semua itu. Tidak “larut” di dalamnya. Mereka tidak lagi memikirkan diri dan kelompok, tetapi memikirkan kepentingan yang lebih luas. Bagi mereka “keutuhan serta persatuan bangsa” hanyalah anak tangga pertama untuk mewujudkan “kesatuan dan persatuan dunia” – bahkan untuk mencapai Yang Tunggal!

Sang Istri: Saya ingat sebuah wejangan bijak, bahwa dulu penyakit kita sederhana sekali : sakit perut, sakit kepala lalu menelan satu pil dan selesailah masalah kita. Sekarang kita sedang mengalami penyakit berat. Mekanisme tubuh kita sudah berantakan. Demikian pula masalah bangsa, masalah ekonomi, politik ditambah dengan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap sistem pemerintahan kita, belum lagi dirongrong oleh oknum-oknum yang ambisius dan ingin naik tahta. Dalam keadaan seperti ini, tugas seorang pemimpin sangat berat. Beban yang dia pikul pun sangat berat. Tetapi di situlah kebijakan dan kesadarannya teruji…….

Sang Suami: Kembali ke buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”……. Seorang bijak selalu berusaha untuk berdialog dengan hati, berkomunikasi lewat rasa. Seorang ilmuwan, seorang cendikiawan, seorang ahli matematika tidak akan melakukan hal itu, ia akan berkomunikasi lewat prosa, tidak lewat puisi. Sebaliknya, apabila seorang bijak sedang berkomunikasi, prosa dia pun akan mengandung puisi. Yang sedang bicara adalah hati dia. Yang sedang diajak bicara adalah hati kita. Demikian terjadilah hubungan dari hati ke hati. Apabila rasa berkembang, pikiran-pikiran yang kacau akan hilang dengan sendirinya. Penjernihan jiwa pun terjadi dengan sendirinya. Itulah sebabnya para bijak, para pujangga kita menyampaikan lewat tembang, lewat lagu……. Semoga para penegak hukum mulai meningkatkan rasa dan tidak bertindak menggunakan segala cara untuk memaksakan keinginan mereka atau keinginan pihak-pihak yang sedang mempengaruhinya…….. …….. Hukum dan Keadilan perlu disatukan. Hukum dan keadilan itu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri. Pada satu sisi hukum adalah peraturan dan pada sisi lain keadilan yang berdiri sendiri. Padahal keduanya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Sebab “ruh hukum adalah keadilan”. Saat ini yang terasa adalah masih jauhnya kesenjangan antara hukum dan keadilan.  Kita semua sangat berharap agar penegakan hukum lebih mencerminkan keadilan…..

Terima kasih Bapak Anand Krishna yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone