April 6, 2011

Membangun Kebangsaan Indonesia Yang Bulat dan Utuh

Membangun Kebangsaan Indonesia yang bulat itulah terlebih dahulu yang harus di lakukan oleh bangsa ini jika ingin mendapatkan peran di dalam dunia International, kita tidak akan dapat berbicara di dunia international tentang kesatuan antar bangsa-bangsa jika di dalam negeri sendiri masih terjadi perpecahan , masih terjadi pengkotak-kotakan manusia ke dalam golongan ras, warna kulit dan agama.

Untuk itu hal pertama yang perlu dibangun adalah keutuhan jiwa manusia Indonesia, di dalam lagu kebangsaan selalu di kumandangakan prinsip dasar ini :

“Hiduplah tanahku,

Hiduplah neg’riku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.”

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Bangunlah Jiwanya, jiwa-jiwa manusia Indonesia harus di bangunkan dahulu, jiwa-jiwa manusia Indonesia harus di sadarkan terlebih dahulu sehingga dapat menjadi utuh dan dapat melihat kesatuan di balik perbedaan. Teringat perkataan St Takdir Alisjahbana “Indonesia Muda yakin seyakin-yakinnya, bahwa tinggi rendahnya vonis sejarah atas dirinya bukan bergantung pada berapa memuji dan memuja, berapa ia menghormati dan meniru yang lama, tetapi ialah pada apa yang dibangunkannya, yang lahir dari dasar jiwanya sendiri yang setara atau melebihi zaman yang lampau”.

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Jiwa-jiwa manusia Indonesia harus  terbentuk menjadi satu kebangsaan yang bulat, kebangsaan Indonesia. Keutuhan tersebut akan dapat menunjang pembangunan phisik (materi) secara lebih cepat dan terarah. Karena jiwa-jiwa yang utuh akan melihat persatuan sehingga pembangunan yang di lakukan akan beroreintasi pada kemakmuran bersama. Saat ini apa yang kita upayakan adalah sepenuhnya pada pembangunan Phisik (materi) namun apa kemudian yang terjadi, jiwa-jiwa yang belum terbentuk ini saling berbenturan dan terjadi pergolakan. Terjadi letupan-letupan yang di dasari oleh perbedaan ras, warna kulit dan agama. Benturan-benturan tersebut. Letupan-letupan tesebut di karena ketidak utuhan jiwa yang tidak mampu melihat persatuan sehingga ketika bersingungan dengan perbedaan terjadi priksi yang kemudian di selesaikan lewat jalur kekerasan. Kemudian semua itu terbentuk dan terjadi pemakluman, sehingga tidak ada lagi kebebasan dalam mengapresiasikan keyakinan beragama, semua harus seragam. Penyeragaman ini adalah merupakan bukti dari tidak utuhnya manusia-manusia Indonesia saat ini.

Ketidak utuhan jiwa-jiwa ini yang kemudian menghambat pertumbuhan dan perkembangan bangsa secara kolektif, bangsa Indonesia saat ini berkutat dengan permasalahan yang sama dari tahun ke tahunnya yaitu kekerasan atas nama agama. Pembungkaman para tokoh-tokoh yang menyuarakan semangat berkebangsaan dan pluralisme adalah sebuah bentuk dari ekpresi  ketidakmampuan jiwa-jiwa yang tidak utuh ini dalam mengapresiasi perbedaan. Seorang tokoh nasionalis dan juga aktivis lintas agama Anand Krishna harus mendekam di dalam tahanan atas tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak terbukti di dalam persidangan, upaya-upaya pembungkaman Anand Krishna adalah upaya membunuh semangat berkebangsaan dan pluralism di Indonesia.

Proses persidangan Anand Krishna yang di dakwa atas kasus pelecehan seksual tanpa adanya saksi-saksi yang meihat sendiri kejadian tersebut, di dalam persidangan hanya 10% yang membahas dakwaan pelecehan seksual tersebut, selebihnya mempermasalahan buku-buku Anand Krishna dan pemikiran Anand Krishna tentang kebangsaan dan pluralisme. Anand Krishna sendiri tergolong penulis yang produktif sudah sekitar 140an buku-buku di terbitkan,  buku-buku tersebut membahas tentang pemberdayaan diri dan semangat berkebangsaan. Semua buku-buku tersebut tidak ada satupun yang di larang oleh kejaksaan, semua buku-buku di jual bebas dan dapat di peroleh oleh siapa saja.

Dengan kondisi terkotakan dan picik seperti ini kita sebagai bangsa tidak akan pernah dapat berbicara dan mengambil peran di dalam dunia International, oleh karenya kita sebagai bangsa harus kembali kepada pemikiran bapak bangsa Soekarno :

“Marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama : Kebangsaan Indonesia, Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia . . . .

. . .Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justeru inilah prinsip saya yang kedua”

Sehingga kita dapat berbicara di dunia International , dengan terlebih dahulu membangun semangat nasionalisme dan baru kemudian menuju semangat Internalionalisme. Bung Karno meyakini akan hal tersebut, dan kita dapat pula mewarisi keyakinan tersebut.

Refrensi : http://www.freeanandkrishna.com

= = = =

Di Publikasikan di :

http://www.surahman.com/

http://www.oneearthmedia.net/ind

http://www.facebook.com/su.rahman.full

http://www.kompasiana.com/surahman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone