May 29, 2011

Renungan Kebangsaan: Hakikat Pengorbanan Sadewa Menjelang Perang Bharatayuda

Dewi Kuntì, ibu Pandawa cemas mengenai nasib anak-anaknya yang sedang mengembara di hutan menjalani masa pengasingan selama 12 tahun. Waktu sudah mendekati tahun ke-12, kala Dewi Kunti mendengar bahwa ada dua raksasa Kalantaka dan Kalajaya yang sangat kuat yang akan membantu koalisi Korawa dalam perang Bharatayuda. Bhima dan Arjuna pernah berperang tanding dengan mereka, akan tetapi kedua saudara Pandawa tersebut terdesak, karena pada saat kedua raksasa tersebut hampir kalah, mereka selalu membaca mantra pemberian Bathari Durga, dan mereka berdua dapat menjadi kuat kembali. Beruntung pada waktu perang tanding tersebut kedua raksasa segera meninggalkan Bhima dan Arjuna karena menerima panggilan dari Bathari Durga.

Dewi Kunti sangat prihatin melihat kesulitan Bhima dan Arjuna dalam menghadapi kedua raksasa tersebut. Sebagai seorang ibu, Dewi Kunti berupaya sekuat tenaga agar Bhima dan Arjuna dapat menang melawan mereka. Kemenangan tersebut akan membangkitkan semangat mereka untuk lebih percaya diri kala menghadapi perang Bharatayuda nantinya. Dewi Kunti kemudian menemui Bathari Durga agar berkenan menarik kembali mantra kesaktian raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Sang Bathari bersedia mengabulkan permintaannya asal Dewi Kuntì membawa Sadewa kepadanya. Dewi Kuntì dengan tegas menolak permintaan tersebut. Akan tetapi pada saat terjadi pergolakan batin, seorang pembantu Bathari Durga merasuk ke dalam diri Dewi Kuntì dan berhasil mempengaruhi  dirinya untuk membawa Sadewa ke tempat Bathari Durga.

Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang ahli astronomi. Yudisthira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Sadewa giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya serta amat patuh terhadap Dewi Kunti. Sejak Dewi Madrim, ibunya meninggal, Dewi Kunti merawatnya sebagai putra sendiri. Baginya Dewi Kunti adalah Guru Pertama dalam kehidupan, apa pun perintah ibunya dia jalani. Sadewa bersyukur bahwa dia dilahirkan di dunia sebagai saudara bungsu Pandawa. Pandawa adalah contoh abadi sebuah sangha, support group yang baik dalam menegakkan dharma. Support group yang sangat kompak, dimana mereka saling bantu-membantu dan mau berkorban demi keselamatan saudara yang lain. Pengorbanan adalah mahkota para kesatria.

Dalam buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…… Carilah support group yang betul-betul dapat menunjang kesadaran. Kemudian, jika sudah mendapatkannya, upayakan kerjasama yang baik dengan peserta lain. Untuk itu, belajarlah untuk berkorban. Ya, kerjasama yang baik tidak hanya berlandaskan pada win-win theory. Win-win berarti kau menang, aku pun ikut menang. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada win-win, karena untuk memenangkan, kamu tak apa bila kau mesti berkorban. Semangat dan kerelaan untuk berkorban adalah penting, Walau semangat itu sendiri sudah cukup untuk memastikan bahwa pihak yang berkorban pun tidak pernah merugi, tidak pernah kalah. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Setiap orang yang rela berkorban, telah keluar sebagai pemenang. Ia berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendiri……

Bagi Sadewa, ini adalah kesempatan untuk berbhakti kepada ibunya, kepada saudara-saudaranya dan berkorban demi kemenangan dharma. Sadewa belum tahu apa yang akan dilakukan Bathari Durga terhadapnya. Bila pengorbanan ini akan merenggut nyawanya, asal Pandawa menang dalam perang Bharatyuda dia pun rela. Sadewa juga lebih tenang, karena Romo Semar sang pamomong bersedia mengantarkan dia yang dibawa ibu nya ke ke hutan tempat tinggal Bathari Durga……… Sadewa tiba-tiba ingat akan nasehat Romo Semar sewaktu dia masih kecil. Pada waktu itu, Romo Semar pernah membisikinya bahwa akan datang suatu saat dirinya akan diuji rasa bhaktinya kepada sang ibu, dirinya akan ditakut-takuti untuk dibunuh, akan tetapi hal tersebut merupakan proses pendewasaan spiritualnya. Di kemudian hari, kala dia telah dia bebas dari rasa takut terhadap kematian, hidupnya akan lebih bermakna. Dharmanya adalah mengembalikan keadaan sebagaimana mestinya, mengurangi malapetaka dan memberikan kontribusi bagi kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayuda.

Romo Semar juga pernah bercerita tentang Bathari Durga. Diawali kala Bathara Guru, Shiwa sedang sakit parah, sehingga dia minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan obat. Obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu adalah susu lembu hitam. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma segera pergi mencari air susu yang dimaksud, dengan harapan suaminya cepat sembuh setelah minum susu lembu hitam tersebut. Sang Dewi mencari ke mana-mana, akan tetapi lembu hitam belum ketemu juga. Dalam keputusasaannya, Dewi Uma bertemu seorang penggembala lembu hitam. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala memberikan susu lembu hitam tersebut. Tetapi sang penggembala ngotot tidak mau menyerahkan air susu lembunya, kecuali Dewi Uma menyerahkan tubuhnya kepadanya. Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani suami tercinta mati, bila mau melayani berarti suami hidup, akan tetapi dirinya ternoda.

Dengan pengorbanan diri, akhirnya susu lembu hitam dapat diberikan dan diminumkan kepada Bathara Guru sehingga Dia sembuh dari penyakitnya. Setelah sehat, Bathara Guru menyampaikan bahwa yang menjadi penggembala lembu hitam adalah Bathara Guru sendiri, dan Bathari Uma yang hanya mengandalkan pikiran telah melupakan nuraninya sehingga telah melakukan perselingkuhan. Bathara Guru bersabda, “Adinda perlu bertapa, melakukan introspeksi agar nurani Adinda muncul kembali, hanya para raksasa yang belum memiliki hati nurani.”

Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan…….. Raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti  bhuta, seperti “makhluk yang tidak berbadan”, berarti seperti kayu gelondongan yang belum dipahat. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam…….

Dan, untuk itu Dewi Uma diminta melakukan “laku” di dunia menjadi Bathari Durga yang berwujud raksasa yang sangat menyeramkan. Bathari Durga bertugas memangsa manusia yang tersesat yang berada dalam wilayahnya. Setelah dua belas tahun menjalankan “laku” apabila telah kembali hati nuraninya, maka dia berhak kembali ke kahyangan. Para leluhur mengungkapkan perjuangan yang memakan waktu lama sebagai masa duabelas tahun. Rama selama duabelas tahun berada dalam pengasingan, Pandawa selama duabelas tahun dalam hukuman, Bathari Uma pun bertapa duabelas tahun sebelum diruwat.

Bangsa kita juga telah melakukan kesalahan dengan berselingkuh dengan budaya luar, melupakan kebenaran jati dirinya. Iming-iming mata uang asing dan ilusi kenikmatan duniawi dan surgawi telah memburamkan penglihatan dan menempuh perjalanan yang kurang benar. Ibarat seekor ikan, umpan kenikmatan duniawi dan surgawi telah mengecoh kita, sehingga bangsa kita menjadi korban sang pengail di air keruh. Oleh karena itu  bangsa kita berada dalam kegelapan, kebuasan dan kengerian dalam Hutan Kecemasan. Pikiran bangsa harus kembali dijernihkan, diruwat agar kembali kepada kemuliaan Bangsa Indonesia.

Duduk di bawah pohon tempat dia diikat dan diawasi Semar dari jarak jauh, Sadewa ditakut-takuti makhluk-makhluk mengerikan. Sadewa tetap tabah dan sesekali melihat ke arah Semar yang sedang khusyuk bersemedi. Sadewa sadar bahwa dirinya adalah alat Hyang Widhi. Sadewa pasrah, apapun peran yang diberikan Hyang Widhi dilakukannya dengan sebaik-baiknya. Dia tidak ingin terkenal seperti Arjuna atau Bhima, dia hanya ingin menjalankan peran sebagai alat dari Hyang Maha Kuasa sebaik-baiknya. Berbeda dengan para pemimpin kita yang memaksakan diri, saling sikut untuk menjadi pemeran utama. Mereka tidak memahami anugerah Gusti bahwa pemeran pembantu pun diperlukan dalam pertunjukan panggung duniawi.

Ada sebuah uraian tentang “alat” dari Bapak Anand Krishna…… Sang Kala atau Waktu, menurut Bhagavad Gita, adalah Pemusnah yang tak-tertandingi. Ia juga tak terhindari. Ia memusnahkan segalanya, kebaikan maupun keburukan, dan ia melakukannya di saat yang sama. Ketika ia memusnahkan keburukan/kejahatan, ia juga sekaligus mengakhiri penderitaan mereka yang baik dan bijak. Rodanya berputar terus. Adakah cara untuk melepaskan diri dari cengkeramannya? Bhagavad Gita menjawab, “ya”. Dengan cara menjadi alat Sang Kala. Kemudian apa pun yg terjadi tidak lagi menimpa dirimu. Apa pun yg terjadi atas kehendak-Nya. Kamu hanyalah agen, khalifah. Saat ini, kata Krishna kepada Arjuna, adalah saat untuk mengakhiri kebatilan. Janganlah berpikir bahwa mereka yang melakukan kejahatan itu adalah kawan atau kerabat, pernah dekat denganmu. Itu dulu ketika kau berada di alam yang sama dengan mereka. Sekarang alammu lain. Kau berada di alam-Ku menjadi alat-Ku. Maka, jadilah alat yang baik. Jadilah alat yang tajam, tidak tumpul. Akhiri mereka, karena itulah kehendak-Ku. Arjuna baru tersadarkan bila perang yang dihadapinya bukanlah untuk meraih kerajaan (pikiran itu berada dalam lingkupan waktu), tapi perang untuk menegakkan kebajikan dan keadilan, atau dharma. Kesadaran seperti itulah yang membebaskan kita dari cengkeraman Sang Kala dan menjadi bagian dari Sang Kala, Hyang Maha Menyengkerami…….

Akhirnya Bathari Durga datang dengan wujud yang mengerikan dan minta Sadewa mengusir setan dari dalam tubuhnya. Sadewa mengatakan bahwa dia belum mempunyai kesaktian untuk mengusir setan tersebut. Ketidakyakinan Sadewa membuat Bathari Durga memuncak kemarahannya, dan wajahnya menjadi semakin mengerikan. Di lain pihak, Romo Semar telah kontak batin dengan adiknya, Bathara Guru untuk segera menolong Sadewa. Setengah tidak sadar, Sadewa merapal mantra, dan tangannya memercikkan air suci. Dan, Bathari Durga yang mendapat percikan air, menjadi sadar kembali siapa jatidirinya dan berubah wujudnya menjadi Bathari Uma yang cantik.

Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…… Setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, setiap buddha datang untuk menunjukkan jalan kepada mereka yang tersesat. Untuk mengembalikan mereka pada jalur yang benar. Demikian pula dengan ajaran-ajaran luhur dan kitab-kitab suci yang diturunkan “lewat” mereka. Kitab diturunkan untuk menunjukkan jalan kepada kita-kita yang selama ini “hilang”. Hilang dalam “permainan dunia”, permainan hawa nafsu. Apabila umat manusia sudah menjadi “suci” – untuk apa harus ada Nabi? Untuk apa ada Pir dan Mursyid dan Wali? Justru karena kita tidak suci, maka mereka datang untuk memberitahu cara, “Begini lho, cara menyucikan diri.” Dan yang mereka maksudkan tentu bukanlah cara “penyucian” badan saja. Tetapi cara penyucian jiwa, batin……

Percikan air yang dibarengi mantra Sadewa mensucikan Bathari Durga. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 juga disampaikan…… Setiap agama menganjurkan pembersihan diri sebelum berdoa. Agama Katolik demikian, agama Hindu demikian. Agama Islam, dan Buddha pun sama. Ritus tirtha, wudhu atau memercikkan air sebelum memasuki ruangan ibadah sungguh sangat indah. Setiap kali melakukannya, kita harus ingat bahwa yang dibersihkan bukan hanya badan. Tetapi jiwa badan……

Bathari Uma berterima kasih kepada Sadewa dan memanggilnya dengan sebutan  “Sudamala”, “yang membersihkan noda kejahatan”. Sadewa telah berhasil “meruwat” Bathari Durga kembali menjadi Dewi Uma. Kemudian Dewi Uma mencabut mantra yang telah diberikan kepada Raksasa Kalataka dan Kalanjaya. Selanjutnya “Sudamala” membantu Arjuna dan Bhima mengalahkan raksasa Kalantaka dan Kalanjaya, sehingga calon pendukung potensial koalisi Korawa tersebut bisa dihabisi dan rasa percaya diri para Pandawa meningkat.

Menurut Bapak Anand Krishna, meruwat adalah membersihkan daki-daki yang ada pada jiwa kita, yang membuat kita melupakan jati diri kita…….. Sebagai bangsa kita lupa siapa kita, kita lupa kekayaan alam kita, kita lupa bahwa kita sudah berbudaya dan mengenal globalisasi, sudah mengirimkan rempah-rempah sejak 1000 tahun lalu. Ruwatan ini penting untuk kembali kepada jati diri kita, mengingat kekuatan kita di mana, bagaimana menggunakan kekuatan itu, untuk membangkitkan bangsa kita.

Sayang kecintaan Bapak Anand Krishna terhadap budaya, persatuan bangsa dan kebhinnekaan disalahpahami oleh beberapa pihak yang tidak senang terhadap keberadaan kebhinnekaan di Indonesia. Silakan lihat….

http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone