June 6, 2011

Diskusi Kebangsaan “Satukan Hati Satukan Hati”

Pada tanggal 4 Juni 2011 bertepatan dengan Retreat yang diadakan di One Earth  One Sky  One Humankind yang dinaungi oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB), diselenggarakan program Diskusi Kebangsaan yang bertajuk sama dengan Retreat “Satukan Hati Satukan Visi”

Diskusi kebangsaan ini di hadiri oleh Dr. Muhammad A.S. Hikam, APU yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional pada era Presiden Abdurahman Wahid sebagai pembicara dan Utami Pidada mantan Anggota DPR RI di pandu oleh moderator Dian Martin yang merupakan Wakil ketua dari Yayasan Anand Ashram.

Acara diskusi kebangsaan ini juga di hadiri oleh mahasiswa/mahasiswi dari universitas Bung karno, UIN syarif Hidayahtullah, Unindra, Liga Mahasiswa Nasional Untuk demokrasi (LMND) , dan Jaringan Kerja Budaya Rakyat.

Krisis Identitas Melanda Bangsa

As Hikam mengatakan bahwa DNA bangsa yaitu PANCASILA sudah mulai dihilangkan dari tubuh bangsa ini sehingga ada seorang anggota DPR yang sampai lupa atau sengaja melupa-lupakan diri akan sila-sila yang terkandung di dalam Pancasila, bagaimana mungkin seorang anggota DPR yang melupakan sila-sila Pancasila dapat menjalankan amanah rakyat dan memajukan bangsanya ?.

Penghilangan DNA bangsa melahirkan RNA yang menghendaki keseragaman yang di tempuh dengan menggunakan cara apapun termasuk kekerasan atas nama agama seperti yang sedang terjadi saat ini yang dapat kita ketahui dari berita di televisi, Koran dan media online.  Pancasila adalah budaya yang membentuk karakter bangsa ini dimana menjadi bangsa yang terbuka, sehingga unsur  budaya dari belahan dunia manapun dapat tumbuh dan hidup di dalam lahan jiwa bangsa Indonesia, dan jika tetap berpegang pada DNA bangsa yaitu Pancasila maka setiap elemen bangsa dapat hidup dalam kedamaian.

Hikam menutup bahwa kita semua harus bersyukur lahir sebagai warga Negara Indonesia, dan merupakan tugas kita semua untuk mengembalikan Pancasila sebagai DNA bangsa sehingga krisis identitas ini dapat di akhiri.

Mengembalikan Pendidikan Budi Pekerti

Sementara itu Ayu Pidada menjelaskan upaya-upaya untuk menghancurkan Pancasila terlihat dengan sangat jelasnya di mulai dari upaya  mengamandemen UUD 45 yang kemudian menghasilkan kontitusi baru yaitu Hasil Amandemen 2002.  Batang Tubuh Hasil Amandemen 2002 tidak di jiwai oleh Pancasila yang kemudian menyebabkan kekacauan system di republik ini, dimana musyawarah dan mupakat di gantikan dengan demokrasi murni yang berlandaskan voting. Pada voting terjadi adu kekuatan langsung, oleh karenanya terjadi ‘pertempuran’ yang harus dimenangkan dengan segala cara. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan semangat bangsa yang berdasarkan Pancasila yaitu Musyawarah dan Mufakat.

Ayu Pidada juga menyoroti bahwa semua ini terjadi karena kita sudah tidak memiliki Budi lagi, sehingga dengan mudahnya melakukan banyak hal yang bertentangan dengan Sila-Sila Pancasila, Budi pekerti yang luhur yang di dasari oleh sila-sila Pancasila akan melahirkan budaya. Sebuah kebudayaan yang luhur berdasarkan sila-sila Pancasila akan mengangkat sebuah negri menuju kejayaan, di butuhkan kerja keras untuk itu. Namun yang paling utama hal tersebut harus dimulai dari rumah, dimana ibu-ibu mendidik anaknya dengan dengan pendidikan budi perkerti berdasarkan Pancasila, bukan berdasarkan azas keagaman atau kesukuan, melainkan berdasarkan Pancasila. Jika hal ini di lakukan maka akan lahir generasi berikutnya yang berjiwa Pancasila.

Setiap Unsur  Kehidupan Berbangsa Harus Mengandung Unsur Pancasila

Sebagai penutup Anand Krishna yang merupakan tokoh spiritual lintas agama yang berani dan selalu konsisten menyuaran semangat berkebangsaan menyampaikan bahwa segala unsur  kehidupan berbangsa yang kita kerjakan harus mengandung unsure Pancasila. Hal ini bisa di mulai dari perfilman (hiburan) dimana di buat film-film, sinetron-sinetron yang mengandung unsur Pancasila.

Kemudian pendidikan kitapun harus turut pula mengandung unsur pancasila, mulai dari pendidikan fisika harus mengandung hingga pendidikan olah raga juga harus mengandung unsur Pancasila. Di perlukan kerja kerus untuk merumuskan hal itu, namun itu bukanlah hal yang tidak mungkin jika kita semua dapat duduk bersama dan merumuskannya dalam semangat Pancasila.

= = = =

Di Publikasikan di :

http://www.surahman.com/

http://www.oneearthmedia.net/ind

http://www.facebook.com/su.rahman.full

http://www.kompasiana.com/surahman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone