June 7, 2011

Mensana incorpore sano….. Atau ‘Jiwa yang sehat membuahkan badan sehat’

Mana yang harus sehat terlebih dahulu: Badan atau jiwa/pikiran?

Pepatah Yunani berkata: ‘Mensana in corpore sana’ –> ‘Dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat’ Suatu pepatah yang tidak benar saat ini. Mungkin sekali zaman Yunani kuno benar, tapi saat ini kurang tepat. Lihat saja orang gila. Badannya sehat, kekar serta gerakannya lincah. Tapi jiwanya jelas sakit.

Sesungguhnya yang dimaksudkan jiwa disini kemungkinan besar adalah pikiran yang tidak waras. Jika ditelusuri atau direnungkan lebih dalam lagi, apakah pikiran yang tidak waras hanya berkaitan dengan kelupaannya atau tindakannya yang tidak waras?

Jika kita amati lingkungan sekitar kita, lebih baik ketemu orang gila ketimbang mereka yang tampaknya berdasi atau menduduki jabatan tetapi cara berpikirnya TAMPAK nya waras dalam ukuran sesama tetapi jika dinalar dengan pikiran yang mengutamakan kepentingan selaras dengan alam, jadi tidak waras.

Sesungguhnya mereka yang alur pikirannya hanya mementingkan kepentingan golongan, kelompok atau diri sendiri bisa dikatagorikan tidak selaras dengan alam. Bisa juga diklasifikasikan termasuk gila. Semuanya hanya definisi masyarakat umum yang sesungguhnya belum juga dijadikan katagori waras.

Jika yang disebut pikiran gila adalah yang tidak sadar, waspadalah kita-kita yang berpikiran tidak selaras dengan alam termasuk klasifikasi gila. Perbuatan yang selaras dengan alam juga mesti dipilah lagi. Karena alam sendiri bersifat dualitas. Contohnya air. Dalam jumlah sedikit dibutuhkan manusia. Namun apabila yang datang airnya berlebihan seperti banjir, ya jadi bersifat merusak. Demikian juga api. Dalam jumlah kecil bersifat memberikan cahaya yang bermanfaat jadi penerang lingkungan. Atau pengubah bahan masakan dari mentah jadi matang sehingga bisa bermanfaat bagi manusia. Namun jika api yang besar, terjadilah kebakaran.

Tampaknya demikian juga jika dengan kebutuhan manusia. Jika jumlahnya sedikit ya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun jika si manusia berpikir untuk yang berlebihan jadi keserakahan.

Ujung-ujungnya jadi tidak waras alias tidak sadar. Luar biasanya pikiran yang tidak sadar ini juga berbadan sehat. Jika kita menggunakan kearifan leluhurnya kita, tidak bakal terjadi kerusakan seperti ini. Kerusakan ini terjadi karena kita percaya pada kata mutiara Yunani. Mensana incorpore sano. Dalam tubuh sehat terdapat jiwa yang sehat.

Kearifan leluhur nusantara lebih unggul. Dalam potongan kalimat lagu Indonesia Raya ada bait yang luar biasa:

……. Bangunlah jiwanya Bangunlah badannya…..

Inilah luar biasanya warisan leluhur nusantara. Jiwa dulu yang mesti diperbaiki atau dibangunkan. Jika jiwa sudah bangun atau sadar dengan sendirinya badan menjadi sehat.

Dalam jiwa yang sehat berarti pikirannya juga sehat. Pikiran yang sadar senantiasa berpikir selaras dengan alam. Yang berarti menggunakan atau memanfaatkan sumberdaya alam juga secara tepat. Yang dimaksud dengan tepat disini adalah porsi yang tidak berlebihan. Artinya sesuai dengan kebutuhan.

Mereka yang berpikir hanya mengambil sesuai kebutuhan berarti juga turut memikirkan kepentingan orang lain. Bukan hanya mementingkan kepentingan golongan, kelompok atau diri sendiri. Jika ini terjadi berarti kelestarian lingkungan juga turut terjaga. Karena pemanfaatan sumberdaya alam juga tidak dengan penuh keserakahan.

Seorang yang punya jiwa yang sehat berarti punya pikiran yang sadar dan biasanya mereka memiliki cara berpikir yang tenang. Otak adalah kendali atau pusat penggerak detak jantung. Pikiran yang selalu digerakkan keinginan berlebihan sangat ber-efek pada detak jantung. Detak jantung tidak teratur berkibat pemompaan oksigen dari paru-paru juga tidak teratur. Alhasil penyakit mulai bermunculan. Dan badan menjadi tidak sehat alias sakit…

Ternyata kearifan leluhur lebih bijak dari pada kebijakan dari luar……….

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone