June 30, 2011

Renungan Bhagavatam: Bharata, Keterikatan Manusia Menjelang Kematian

Bharata adalah putra Rsaba. Ia memerintah kerajaan dengan benar dan baik dan dicintai oleh rakyatnya. Bahkan kerajaannya dikenal sebagai Bharatavarsa. Bharatavarsa mengalami zaman keemasan dibawah kepemimpinan Raja Bharata. Bharata adalah seorang panembah Narayana. Di dalam hatinya hanya ada Narayana dan tak ada yang lain selain Narayana. Setelah beberapa lama memerintah, dia menobatkan putranya sebagai raja penggantinya dan dia pergi ke Haridwar ke ashram Pulaha. Bharata hidup sendiri di sana dalam kedamaian dan tidak punya rasa keterikatan terhadap duniawi. Hari-hari dilewati hanya berpikir tentang Narayana.

Pada suatu hari, manakala Bharata sedang duduk akan melakukan meditasi pagi di tepi sungai Mahanadi, dia melihat seekor rusa betina yang tengah hamil sedang membungkukkan kepalanya untuk minum air sungai. Tiba-tiba terdengar raungan seekor singa yang sangat keras yang mengagetkannya. Karena ketakutan yang amat sangat sang rusa melompat dengan sekuat tenaga menuju seberang. Akhirnya sampai juga sang rusa betina di seberang. Dalam keadaan lunglai bercampur cemas, anaknya lahir prematur dan kemudian sang rusa betina meninggal. Bharata segera menghampiri anak rusa yang kemudian digendongnya ke ashram dan diberinya susu dengan penuh kasih seperti halnya seorang ibu yang mengasihi putranya. Hari-hari lewat dan Bharata menjadi semakin tua, akan tetapi rasa kasihnya terhadap anak rusa semakin bertambah. Ia menjadi sangat terikat dengan sang anak rusa. Ia berpikir, “Anakku tanpa ayah dan tanpa ibu, kecuali diriku. Aku adalah satu-satunya tempat perlindungannya.”…….. Kasih sayang terhadap rusa tersebut membuat Bharata lupa terhadap terhadap kegiatan rutinnya untuk selalu berdoa, meditasi dan melakukan persembahan kepada Narayana.  Hari demi hari berlalu dan akhirnya Bharata mengalami kematian. Sebelum meninggal pikirannya terpusat kepada sang rusa. Akhirnya Bharata dilahirkan sebagai rusa……..

Beruntung tumpukan kebaikan telah dilakukan Bharata dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya, sehingga dia dapat menyadari mengapa dia terlahir sebagai rusa. “Aku telah meninggalkan keterikatan terhadap keluarga dan istana dan hidupku semata-mata kupersembahkan kepada Narayana. Kemudian aku merasa kasihan kepada anak rusa yang lahir menderita, sehingga hidupku terfokus padanya. Aku telah salah jalan, melepaskan keterikatan yang satu dan mengikatkan diri pada keterikatan yang lain, sehingga aku tidak menjadi seorang Brahmi melainkan menjadi seekor rusa. Aku harus menyelesaikan kehidupanku sebagai seekor rusa ini dengan mendekati para resi yang sedang mendekatkan diri kepada Narayana.”…….. Sang rusa memilih hidup di sekitar para resi. Setiap malam mendengarkan mereka menyanyikan kirtan, lagu-lagu pujian. Dia juga memperhatikan mereka yang sedang berdoa di waktu pagi dan menjelang senja. Hidupnya hanya terfokus pada Narayana. Atas rahmat Ilahi, akhirnya sang rusa meninggal dan ia lahir lagi sebagai putra seorang Brahmana, Resi Angirasa. Resi Angirasa mempunyai 9 orang putra dari istri pertamanya dan dari istri keduanya mempunyai seorang putri dan seorang putra yaitu Bharata.

Bharata adalah putra Rsaba, perwujudan dari Narayana sendiri untuk mengajar Atmawidya, pengetahuan keilahian. Bharata hampir mencapai Narayana, akan tetapi dia harus menuntaskan karma yang telah dilakukan pada kehidupan sebelumnya, sehingga dia harus melewat kelahiran sebagai seekor rusa. Kini, untuk menyelesaikan obsesi yang belum diselesaikannya, dia dilahirkan kembali sebagai putra seorang Brahmana.

Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan tentang proses ilmiah kelahiran kembali sebagai berikut…….. Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali itu mengalami proses “pengolahan”. Dan “pengolahan” tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Lapisan superconscious mind pun sudah ada dalam diri setiap orang. Ada lapisan mind, subconscious mind dan super conscious mind. Setiap lapisan sudah ada. Berkembang atau belum itu soal lain. Tetapi, sudah ada. Selama ini, lapisan super conscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Jika masih mau lahir kembali, super conscious mind sama pentingnya – bahkan mungkin jauh lebih penting – daripada subconscious mind. Tanpa super conscious mind, siapa yang akan mengelola dan menyimpan subconscious mind, lalu meneruskannya dalam tubuh lain? Tetapi, jika tidak mau lahir kembali, super conscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika kita masih “hidup”, masih ber-“tubuh”. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas super conscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, pada saat kematian tidak ada yang dapat mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali…….. “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya…….. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind“. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya………

Bharata tidak ingin mempunyai keterikatan dengan siapa pun, karena sudah pernah mengalami kehidupan sebagai seekor rusa akibat dari keterikatannya. Dia bertekad untuk menyelesaikan kebebasan dari keterikatannya pada kehidupan ini. Akan tetapi ia justru dikenal sebagai orang bodoh yang tidak selaras dengan lingkungan kehidupannya. Ayahnya ingin menjadikan dia seorang Brahmana yang baik, akan tetapi merasa kewalahan karena tak dapat memahami putranya yang tidak mau terikat dengan apa pun. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Bharata dipekerjakan oleh saudara-saudara tirinya sebagai pembantu yang mengerjakan apa pun yang diperintahkan oleh mereka. Bharata melayani mereka dengan sebaik-baiknya dan selalu bekerja dengan rajin sejak pagi hingga matahari terbenam dan menerima dengan baik apa pun yang diberikan kepadanya.

Adalah seorang kepala perampok yang belum mempunyai putra dan diberitahu oleh orang kepercayaannya, bahwa dia perlu mengorbankan seorang manusia kepada Dewi Kali agar dia dikaruniai seorang putra. Para anak buahnya kemudian mencari orang yang cocok sebagai persembahan dan mereka menemukan Bharata cocok sebagai persembahan. Para perampok heran manakala Bharata tidak melawan kala diikat dan dibawa menuju kuil tempat pengorbanan. Ia diminta mandi dan diberi pakaian yang bersih dan diminta duduk menutup mata. Seorang yang mirip dengan pendeta membaca mantra dan mengangkat pedangnya untuk membunuh Bharata…….. Dewi Kali datang dan melihat seorang brahmana yang bersinar terang di tempat pengorbanan. Dia melihat ada sebuah rencana jahat manakala ada seorang brahmana yang rela dikorbankan untuk kepentingan para perampok. Sang Dewi tahu bahwa kejahatan itu akan diserahkan kepadanya. Sang Dewi kemudian membunuh semua perampok dan memberkati Bharata dan kemudian lenyap……

Pada suatu ketika seorang raja bernama Rahugana sedang bepergian di sepanjang tepi sungai Iksumati. Ia adalah seorang raja negara Sindhu dan Sauvara. Ia sedang ditandu dan merasa perlu menambah tenaga seorang lagi untuk mengangkat tandunya. Sang raja melihat Bharata yang bertubuh tegap sedang duduk menjaga ladang dan ditawarinya untuk menjadi pengangkat tandunya.  Bharata walau seorang brahmana, tetapi mau melakukan pekerjaan apa saja, sehingga menyanggupinya. Akan tetapi setelah berjalan beberapa lama, sang raja merasa ada yang aneh dengan langkah dari para pemanggul tandunya. Ternyata Bharata selalu memperhatikan tanah yang akan diinjaknya, apakah ada cacing atau serangga atau benih apa pun. Setelah merasa aman dia baru melangkahkan kakinya. Para pembantu berkata pada sang raja bahwa itu bukanlah kesalahan mereka, langkah sang pendatang baru tidak selaras dengan langkah mereka.

Sang raja marah, ia berpikir bahwa ia dalah manusia agung yang harus dituruti perintahnya dan menganggap orang lain lebih rendah derajatnya dan mestinya mereka menurut, karena akan dibayar mahal olehnya. Sang raja berkata kepada Bharata, “Kamu bertindak seperti mayat berjalan, kamu tidak mengindahkan perintahku. Aku harus memberi pelajaran kepadamu. Aku akan menghukum keangkuhanmu!” Bharata tersenyum kepada sang raja dan berkata, “Aku kau anggap tidak melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku dengan baik.  Dan, kamu menganggap dengan kemarahanmu aku akan takut atau hatiku akan tersakiti. Haruskah aku bercerita kepadamu, bahwa kau menganggap badanku ini nyata dan beban yang kupanggul adalah nyata? Aku sejati berada dalam diriku dan tak ada hubungan dengan badanku. Menghina dan menyakiti diriku tidak mempengaruhi Aku sejati. Kau menganggap tubuhku, pikiran dan perasaanku sebagai diriku. Tapi aku tahu bahwa kau salah. Aku sejati tidak terpengaruh oleh ucapanmu.

Dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………

Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna tentang adanya tingkat-tingkat kesadaran dalam diri manusia. Tingkat kesadaran tersebut harus diupayakan naik dengan cara pemberdayaan diri. Sayang ada sekelompok orang yang belum dan tidak mau memahaminya. Mereka menganggap pikiran adalah diri mereka. Mereka kemudian menganggap pikiran mereka adalah yang paling benar. Mereka tidak paham bahwa setiap orang lahir membawa sifat genetik dari orang tuanya dan kemudian mendapat pemahaman kebenaran dari orang tua, pendidikan, lingkungan dan pengalaman hidupnya. Kebenaran seseorang adalah kebenaran menurut pola pemikirannya. Orang yang beda orang tua, beda lingkungan dan pendidikan serta beda pengalaman akan mempunyai pemahaman kebenaran yang tidak sama….. Silakan lihat……

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Bharata melanjutkan, “Kau mengatakan aku seperti mayat yang berjalan. Wahai raja, proses kelahiran dan kematian tidak membatasi Aku. Perbedaan antara seorang raja dan seorang pembantu muncul karena perasaan dualitas.”

Bapak Anand Krishna pernah memberikan sebuah wejangan…….. bahwa sesungguhnya “aku” tak terpengaruh oleh kelahiran dan kematian, gelombang pasang dan surut, suka dan duka dan lain sebagainya, semuanya sekedar awan yang sedang berlalu. Jika aku menganggap diriku awan, maka aku pasti berlalu, itulah sifat awan. Apa yang kukhawatirkan? Tapi, jika aku menganggap diriku langit, maka aku tak ternoda, dan tak terpengaruh oleh “lalu-lalang” awan. Tak ada yang perlu kukhawatirkan juga. Kekhawatiran muncul ketika aku menganggap diriku “penghuni bumi yang MEMILIKI sawah” – kemudian seluruh hidupku “kupikir” tergantung pada awan dan hujan. Apakah itu kebenaran? Makanan yang kuperoleh dari sawah itu sekedar membantu keberlangsungan badan. Dan badan hanyalah salah satu bagian dari kepribadianku. Segala macam persoalan yang kita hadapi adalah persoalan badan, jasmani – dimana pikiran menciptakan identitas palsu seolah badan itulah aku. Selama khayalan seperti itu masih kita layani, selama itu pula kita masih dalam samsara, masih belum nirvana. Nirvana, atau moksha adalah pemisahan badan/pikiran/perasaan dari “aku”. Dan, itu mesti terjadi sekarang dan saat ini juga, karena sesaat lagi barangkali kesadaranku merosot dan aku tidak sadar lagi bila perpisahan itulah kebenaran. Perpisahan dengan identitas palsu adalah Yoga, union with the Ultime Truth, persatuan dengan, dan peleburan dalam kebenaran mutlak………

Raja Rahugana termenung lama dan dapat memahami kebenaran yang diucapkan oleh Bharata, dia jatuh terduduk dan bersujud pada Bharata dengan berlinang air mata, “Keangkuhanku telah kau binasakan. Aku adalah raja dari Sindhu dan Sauvira akan mencari Resi Kapila untuk belajar Brahmawidya, akan tetapi kau adalah Kapila sendiri yang datang menyelamatkan aku!” Bharata kemudian menjelaskan Brahmawidya dengan penuh kasih sayang, “Adalah pikiran manusia yang menyebabkan dia terperosok ke dalam rawa samsara atau yang menyebabkan dia menemukan kebebasan. Pikiran manakala diarahkan ke arah Tuhan, maka tidak ada ketakutan lagi. Kebijaksanan yang diperoleh ini tidak dapat diganti dengan tapa penebusan dosa. Bukan pula diganti dengan menyelenggarakan upacara ritual tanpa cacat.  Tidak dapat ditukar dengan memberi makan 1.000 orang. Tidak juga dengan derma yang dilakukan oleh para Grihastha. Menyanyikan veda berkelanjutan dan pemujaan kepada para dewa pun tak dapat memperoleh kebijaksanaan tersebut. Hanya dengan jatuh di kaki seorang suci,  menyerahkan diri kepada seorang Guru yang tak terpengaruh lagi terhadap kelahiran dan kematian, seorang manusia dapat mencapai keselamatan.” Bharata kemudian memberkati Raja Rahugana dan melanjutkan pengembaraannya di atas permukaan bumi sampai tugas sucinya di atas dunia selesai.

Bapak Anand Krishna pernah memberi wejangan……. Berkaryalah tanpa motif pribadi! Karena motif pribadi itulah yang mengikat kita dengan hukum sebab akibat. Dan, hukum sebab akibat tidak pernah bisa menjamin suka saja. Karena dasar dari hukum itu adalah dualitas. Ada suka pasti ada duka pula. Segala sesuatu dalam dunia ini diciptakan berpasangan. Demikian pula menurut Qur’an. Tapi, tujuan hidup adalah melampaui dualitas dvaita menuju tauhid, advaita. Maka untuk menuju TUJUAN BESAR itu kita mesti melupakan tujuan-tujuan kecil/motif-motif pribadi. Pertanyaannya apakah kita bisa berkarya tanpa motif? Jawabannya, ya. Dan, sesungguhnya kita “hanya bisa berkarya”  tanpa motif. Mereka yang berkarya dengan motif sesungguhnya “belum berkarya”. Mereka diperbudak oleh motif. Pilihan di tangan kita, mau berkarya, atau mau menjadi budak. Jika ingin berkarya, maka bebaskan diri dari perbudakan oleh motif. Berkaryalah di ladang dunia ini, karena ladang ini adalah ladangmu, ladangku, ladang kita, ladang DIA. Berkaryalah karena duduk bermalasan pun karya, tapi karya yang tidak cerdas. Maka, berkaryalah dengan cerdas. Hasil tidak perlu dipikirkan, hasil akan datang sendiri. Mereka yang diperbudak oleh motif sesungguhnya tidak percaya diri. Dan tidak percaya bahwa mereka bisa berkarya dengan baik, dan bahwasanya karya baik tidak bisa tidak menghasilkan kebaikan……..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone