June 20, 2011

Renungan Bhagavatam: Keteladanan Dewahuti, Sebagai Putri, Istri, Ibu Dan Sekaligus Hamba Yang Berbhakti

Kardama telah pergi melanjutkan perjalanan spiritualnya sebagai Sanyasin. Dan, Kapila sudah menginjak remaja kala Dewahuti teringat kehidupannya di masa lalu. Dewahuti adalah seorang putri yang baik yang patuh terhadap kedua orang tuanya, Svayambhu Manu dan Satarupa. Sejak kecil Dewahuti begitu yakin bahwa Gusti Yang Maha Pengasih akan membimbing dirinya lewat orang-orang yang yang berada di dekatnya. Dewahuti yakin bahwa ayah dan ibunya adalah guru pemandu yang diutus Gusti untuk membimbingnya saat dirinya lahir ke dunia. Setelah Dewahuti kawin dengan Kardama dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Dewahuti menganggap Kardama sebagai guru spiritualnya. Dan, setelah Kardama pergi, maka Dewahuti merasa yakin bahwa Kapila, putranya sendiri adalah wujud Narayana yang akan memandu dirinya yang tidak mengenal Veda dan ilmu keilahian lainnya kecuali hanya berbekal pengabdian yang tulus.

Dewahuti teringat pesan Brahma, sang mertua pada saat dirinya dan Kardama menikahkan putri-putrinya, “Menantu terkasihku, Narayana berkehendak mengajarkan Brahmawidya, ilmu tentang keilahian kepada dunia. Oleh karena itu, Narayana akan lahir sebagai putramu. Dia akan mengajari ilmu itu pertama kali kepadamu, agar kau terbersihkan dari Avidya, ketidaktahuan yang menjadi penyakit di dunia ini! Mereka yang sakit jiwanya merasa dirinya hampa, akan selalu mengejar kedudukan, ketenaran dan kekayaan. Seseorang yang ingin menonjolkan dirinya pun, sedang menderita sakit.”

Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…….. Ketakselarasan dengan alam membuat kita tidak nyaman, sakit. Ketakselarasan pula yang menyebabkan kelahiran dan kematian. Keselarasan akan membuat kita kekal, abadi – bebas dari kelahiran dan kematian. Keselarasan kita dengan alam adalah Rencana Allah bagi kita – Kehendak Ilahi. Ketakselarasan kita dengan alam adalah buatan kita. Lalu, apakah kita dapat berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Rencana Allah, dengan Kehendak Ilahi? Apakah kita dapat melakukan sesuatu yang kemudian menjauhkan kita dari Allah? Jawabannya “Tidak”. Tetapi kenyataannya di lapangan, fakta di depan mata berbicara yang lain. Ternyata kita memang jauh dari Allah, setidaknya kejauhan itu “terasa”. Ternyata tindakan kita memang tidak selaras dengan alam. Apa yang terjadi? Apa yang membuat kita merasa jauh? Apa yang menjadi penyebab ketakselarasan kita dengan alam? Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul……… Yesus Sang Guru, ibarat seorang dokter. Setiap orang yang datang kepada-Nya akan diperiksa satu per satu. Kemudian Ia meracik dan memberi obat sesuai dengan penyakit dan kebutuhan masing-masing orang. Karena itu, obat yang diberikan kepada Petrus, belum tentu cocok untuk Maria atau Miriam. Obat yang diberikan kepada Yudas belum tentu cocok untuk Yohanes. Ada kalanya Ia hanya memberi “vitamin atau obat penenang” kepada para penderita penyakit ringan………

Dewahuti berkata kepada Kapila, “Putraku, bunda tahu bahwa kau adalah Narayana sendiri. Aku minta kau membantu ibundamu. Aku lelah dan muak hidup dengan hanya memuaskan kesenangan indera dan pikiran. Kamu adalah matahari yang dapat mengusir kegelapan pikiran orang awam seperti diriku. Di dalam badan yang terdiri dari 5 elemen alami, sudah Kau tanamkan rasa “aku” dan “milikku”. Berilah aku jalan untuk menuju kedamaian dan keselamatan.”

Kapila tersenyum dan berkata, “Wahai ibunda, menurutku hanya ada satu yoga yang mengakhiri penderitaan atau samsara. Aku telah mengajarkannya kepada para resi yang sudah siap pada kalpa lalu. Dan, Aku akan memberi pelajaran yang lebih mudah. Bunda, adalah pikiran yang menyebabkan perbudakan atau kebebasan. Manakala pikiran di arahkan keluar diri, ia akan mengembara menjauhi Atman. Akan tetapi jika pikiran berbalik ke dalam diri, mengarah kepada-Ku, maka ia akan menjadi penyebab kebebasan dari jerat indera. Ini adalah langkah pertama menuju tujuan. Manakala rasa “aku” dan “milikku” lenyap, pikiran akan bebas dari nafsu, kemarahan dan lain-lainnya. Pikiran menjadi murni. Kesenangan dan penderitaan dunia tidak akan mempengaruhinya. Keterikatan pada dunia dilepaskan dengan jalan bhakti terhadap-Ku dan mempertahankan kesadaran kebenaran tentang Aku, maka selanjtnya pikiran dapat merasakan keilahian. Dari semua jalan kepada-Ku, Bhakti adalah yang paling mudah. Para bijak mengatakan keterikatan adalah salah satu sifat yang tak dapat dipisahkan dari manusia. Keterikatan selalu ada, maka ubahlah obyek keterikatan dari obyek luar diri kepada obyek di dalam diri, dari obyek duniawi menjadi keterikatan pada-Ku.

Dalam buku “Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003 disampaikan…… Yang dibutuhkan hanyalah peralihan kesadaran. Dari luar ke dalam diri, itu saja. Bila kita memperoleh sesuatu dari “luar”, kita akan tergantung pada “suatu di luar diri”. Dan, ketergantungan dalam bentuk apapun memperbudak jiwa kita. Seorang sufi, seorang yogi, seorang bikku, seorang santo, santa, sudah bebas dari perbudakan semacam itu. Ia sudah tidak tergantung pada sesuatu di luar diri. Dalam bahasa kami di ashram, ia telah “memberdayakan diri”-nya. Anak-anak muda di ashram yang sudah terbebaskan dari ketergantungan pada narkoba, napsa, tahu persis bahwa “kebahagiaan, ketenangan, kedamaian” yang mereka cari lewat obat-obatan itu, dapat diperoleh dari dalam diri………

Kapila melanjutkan, “Wahai ibunda proses memindahkan keterikatan dari yang rendah kepada yang lebih tinggi merupakan proses yang bertahap. Untuk itu langkah terbaik adalah “sadhusangha”, berkumpul dengan para sadhu. Bagaimana mengenali para sadhu? Mereka tidak terpengaruh penderitaan dan rasa sakit. Mereka penuh rasa kasih terhadap semua makhluk. Mereka damai dengan diri mereka sendiri. Pemikiran mereka hanya terfokus kepada-Ku. Mereka tertarik hanya pada cerita tentang Aku. Dan mereka merasa bahagia saat menceritakan tentang Aku kepada orang lain. Bunda! Bila pikiranmu terfokus pada mereka, maka mereka mampu membantumu untuk melepaskan keterikatan yang lain.”

“Berkumpul dengan para sadhu secara terus-menerus membuat Bunda akan terbiasa dengan cerita tentang Aku. Cerita yang menyenangkan telinga dan membahagiakan hati. Kebahagiaan dalam dalam cerita ini akan membimbing Bunda menuju diri-Ku. Keterikatan pada diri-Ku akan akan menyebabkan Bunda terlepas dari perangkap alami disekitar Bunda dan integensia akan semakin tajam. Tidak ada lagi keterikatan kepada obyek indera. Menyerahkan diri seluruhnya kepada-Ku akan menjadi satu dengan Aku, bahkan di dalam kelahiran kali ini!”

Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan………. “Dengan Satsang, pergaulan baik atau “good company” kata Shankara, “bebaskan dirimu dari keterikatan.” Berarti pergaulan yang baik justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusanga menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk mengevaluasi persahabatan Anda selama ini…….

Dewahuti menyimak seluruh perkataan Sang Putra dan larut dalam pemahaman-Nya, “Putraku, ceritakan bagaimana wanita bodoh seperti aku yang belum belajar Veda dan kebenaran yang lain, dapat mencapai-Mu. Jalan mana yang paling mudah membimbing ke arah-Mu?”

Dengan sabar Kapila menjelaskan, “Jalan Bhakti Bunda. Para sadhu berpikir hanya melayani Aku. Terikat hanya pada Aku. Melaksanakan tindakan hanya untuk Aku. Berbicara hanya cerita tentang Aku. Mereka sangat berbahagia dengan memikirkan Aku. Mereka tidak tertarik dengan kemuliaan duniawi dan surgawi, akan tetapi Aku memberikan kepada mereka semua yang berhak mereka peroleh. Para bhakta-Ku tidak akan pernah binasa. Waktu yang adalah senjataku tidak berdaya sejauh mereka bersatu dengan Aku. Aku sayang kepada mereka sebagai sayangnya ayah terhadap putra-putranya. Bhakta-ku tidak punya rasa takut kepada siapa pun. Karena segalanya di alam semesta ini ada di bawah kekuasaanku…….. Untuk bebas dari maya dan mencapai keadaan dimana kekuatan dunia tidak tidak dapat mempengaruhi jiwa, satu jalan sudah cukup, yaitu jalan bhakti. Berpikirlah tentang Tuhan sepanjang waktu. Bhakti akan dengan sendirinya memberimu Jnana, pengetahuan/kesadaran dan Vairagya, ketidakterikatan. Engkau tidak perlu mencarinya. Mencintai Tuhan akan membuatku tidak peduli terhadap cinta yang lain. Manakala seorang Bhakta tujuan hidupnya hanya Tuhan, maka ia telah belajar Kebenaran. Avidya, ketidaktahuannya telah lenyap. Orang yang menyadari ini adalah Brahman sendiri. Menyadari Brahman bukan pengetahuan tetapi suatu keadaan. Engkau akan mengetahui bahwa engkau adalah Brahman. Wahai ibunda, aku telah mengajarimu jalan yang mudah.”

Untuk memahami tingkatan-tingkatan kesadaran, dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000, Bapak Anand Krishna menyampaikan pandangannya……. Dalam bahasa Sankerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Dan energi tidak bisa mati, tidak bisa dibunuh. Jadi, bagi dia badan itulah materi. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Oleh karena itu mereka selalu mengagung-agungkan kekuatan pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati. Itulah ‘energi yang tak terjelaskan. Itulah ‘kesadaran murni’ yang tak terungkapkan……..

Dalam buku “Five Steps To Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan…… Senantiasa beradalah dalam kesadaran Ilahi. Sadarkah, kita bahwa kita tidak berada di luar-Nya? Kita tidak bisa berada di luar-Nya. Kesadaran Ilahi meliputi keseluruhan diri kita. Ia berada di luar dan didalam diri kita. I am Brahman, Aham Brahmaasmi, Soham, Itulah Aku kebenaran Hakiki itulah kebenaranku. Tidak ada kebenaran yang rendah dan kebenaran yang tinggi. Hanya ada satu kebenaran. Dan, aku tak terpisah dari kebenaran tunggal itu. “Akulah Brahman” berarti aku tidak tercela. Air tidak bisa membasahi diriku, hanya badanku yang menjadi basah. Api tidak mampu membakar jiwaku; hanyalah ragaku yang terbakar. Kita menjadi lebih percaya diri, lebih percaya pada kesucian diri dan menjadi lebih mudah bagi kita untuk memastikan kesucian tindakan serta ucapan kita karena pemahaman ini. “Aku berasal dari-Nya, dan aku akan kembali kepada-Nya.” Kepercayaan kita pada kalimat ini membebaskan diri kita dari rasa takut terhadap neraka. Kita juga tidak tergiur oleh tawaran surga. Karena aku sadar bahwa ia berada di atas surga dan neraka. Ia melampaui keduanya. Ia jauh lebih besar daripada keduanya……..

Setelah selesai mengajarkan Samkhya lewat ibunya, maka Kapila pamit dan segera meninggalkan ibunya. Dewahuti sudah ditinggalkan 9 putrinya, kemudian suaminya, dan terakhir putranya. Akan tetapi dia telah mendapatkan pelajaran tentang bhakti langsung oleh Narayana sendiri yang mewujud sebagai Kapila, putra terkasihnya. Dia melaksanakan ajaran Kapila dengan sepenuh hati. Pikirannya terfokus pada Narayana. Rasa suka dan duka tidak mempengaruhinya lagi. Dan ia telah menyatu dengan Narayana bahkan sebelum maut menjemputnya…… Tempat dimana Dewahuti mencapai Brahman menjadi tempat suci. Badan Dewahuti menjadi sebuah sungai suci yang disebut Siddhapada.

Dalam buku “Vedaanta Harapan Bagi Masa Depan”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 disampaikan……. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu…….
Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna yang kami kutip dari beberapa bukunya yang berjumlah sekitar 140-an. Sayang pandangan Beliau sering disalahpahami mereka yang tidak senang dengan ilmu pemberdayaan diri yang berguna bagi seseorang untuk menyadari jatidirinya. Silakan lihat…..

http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=3815

http://www.freeanandkrishna.com/

Kisah Dewahuti adalah perjalanan hidup seorang wanita yang melayani orang tua dengan penuh bhakti, melayani suami dengan penuh hormat dan melayani putra-putrinya dengan penuh kasih. Dewahuti menganggap mereka semua sebagai Tuhan yang mewujud di dalam keluarganya sebagai pemandunya, dan akhirnya Dewahuti dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk menyatu dengan-Nya.
Namaste, Gusti dalam diriku menghormati Gusti yang bersemayam dalam dirimu __/\__

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone