July 20, 2011

Kita Sakit Jiwa……………..

Orang yang sibuk mencari kesembuhan berarti dirinya sakit. Mereka yang sibuk mencari kekayaan sudah menyatakan dirinya miskin. Bagus sekali orang yang sudah merasakan dirinya sakit sehingga ia berupaya cari kesembuhan. Kita yang senang melihat penderitaan orang lain juga termasuk sakit. Ini sering kali kita temui. Tidak usah jauh-jauh melihat kepada orang lain. Mari kita lihat diri kita sendiri.

Bagaimana sikap kita saat ada kecelakaan di jalan raya? Jika kita masih ingin menonton berarti kita sakit. Kecuali jika kita punya niat membantu. Sadarkah kita bahwa saat kita melihat atau menonton sudah membuat kemacetan. Dengan cara memperlahankan kendaraan yang kita kendarai berarti sudah membuat orang di belakang kita menderita. Berapa banyak kerugian akibat ulah ketidak sadaran kita? Bensin yang terbakar, waktu yang terbuang, dsb. Sementara apa yang bisa kita peroleh dengan melihat kecelakan di jalan raya? Apa kita bisa membantu hanya dengan menonton. Lebih-lebih jika kecelakaan di jalan tol. Jalan yang melarang kita untuk berhenti sembarangan. Kita harus sadar dimana posisi kita saat itu. Inilah yang disebut meditasi sebagai way of life. Hidup dalam kesadaran.

Dalam keseharian kita tidak sadar bahwa begitu senang melihat orang lain menderita. Misal suatu saat kita diberi suatu kewenangan untuk berbagi harta atau waktu atau kekuasaan. Sering dengan berbagai dalih kita mengurangi hak seseorang. Walaupun kita tahu bahwa orang tersebut memiliki prestasi. Ini adalah suatu perilaku yang tidak adil. Berarti tidak jujur terhadap diri sendiri. Kita bersikap adil bila kita mampu memberikan sesuatu reward bagi orang yang memiliki prestasi . Bukan berdasarkan like or dislike. Suka atau tidak suka. Suka atau tidak suka adalah lapisan emosional. Seseorang yang mengedepankan perasaan suka atau tidak suka adalah orang sakit. Sakit emosionalnya. Emosional berhubungan dengan mental. Berarti orang tersebut sakit mental. Demikian juga jika kita senang melihat kecelakaan tanpa memiliki kemampuan sedikitpun untuk membantu, berarti kita sakit mental.

Dalam setiap tayangan TV jika berkaitan dengan kerusuhan atau keributan banya orang menonton. Sering kali kita secara tidak sadar senang menonton tayangan demikian. Ini berarti kita sedang dalam keadaan sakit JIWA. Sakit jiwa bukan berarti gila saja. Kegilaan kita juga merupakan penyakit mental.

Saat ini secara tidak sadar kita semua dalam keadaan sakit jiwa. Mau bukti? Perhatikan saja apa yang senang kita tonton? Jika kita senang menonton kekerasan atau orang lain menderita, berarti kita sakit jiwa. Sesungguhnyalah kita semua sedang sakit jiwa. Berita-berita media hampir semua menayangkan berita kekerasan atau perselingkuhan orang. Media kita menyajikan yang di INGIN kan masyarakat. Bukan yang di BUTUH kan masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan dibutuhkan? Dibutuhkan berarti digunakan untuk mempertahankan kehidupan. Dengan kata lain asupan tersebut memberikan kebaikan kepada diri kita. Diinginkan belum tentu dibutuhkan. Keinginan kebanyakan berkaitan dengan nafsu emosional. So, jika kita senang dengan berita yang disajikan oleh media demi memenuhi keinginan kita, ketahuilah bahwa kita sedang sakit jiwa. Sakit mental. Kita yang memberikan asupan diri kita dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi jiwa kita. Inikah tujuan perjalanan kehidupan ini?

Kita telah merendahkan jiwa tidak memuliakan jiwa. Kita hanya senang dengan berita atau tayangan yang hanya bermanfaat untuk diskusi. Sehingga kita bisa menonjolkan kehebatan kita.Ego kita yang kita tonjolkan. Namun kita membunuh jiwa kita. Jiwa yang mulia ada dalam diri kita. Jiwa yang harus kembali dalam keadaan murni. Sayang di sayangkan. Kita sendiri yang telah memberikan baju kotor kepada sang jiwa mulia. Ingat BUKAN ORANG LAIN yang mengotori jiwa kita. Kita sang maha penentu bersih atau kotornya jiwa sendiri…..

Salam mengamati jiwa sendiri!!!!!!!!

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone