August 13, 2014

‘Aku’ lah Keabadian itu…..

Peringatan saat naik pesawat jelas sekali. Semua dilakukan demi keselamatan penumpang. Seorang ibu yang membawa anak kecil diperingatkan agar mengenakan tabung oksigen terlebih dahulu sebelum membantu anaknya. Seorang perenang mesti memiliki kemampuan untuk berenang terlebih dahulu sebelum membantu orang yang akan tenggelam. Bila tidak, ke duanya akan mengalami bencana.

Dalam mengarungi bahtera kehidupan pun demikian juga. Bantulah diri sendiri terlebih dahulu. Seseorang yang belum memiliki kemampuan untuk berenang mengarungi kehidupan, jangan harap bisa membantu orang lain. Jika tidak, hasilnya bisa ditebak. Ke duanya tenggelam. Kematianlah yang dialami ke duanya.

Hanya seorang yang memahami tujuan kehidupan memiliki kemampuan untuk menyeberangi lautan kehidupan. Bergantunglah pada orang tersebut. Peta hutan kehidupan selalu memiliki rambu yang sama setiap zamannya. Jebakannya tetap sama. Keterikatan terhadap duniawi. Anggap bahwa mereka yang sudah memeluk agama adalah jalan keselamatan. Kebanyakan manusia lupa bahwa agama hanya sarana unuk mengarungi lautan kehidupan.

Bantulah diri sendiri, baru membantu orang lain. Membantu diri sendiri berarti tiak lagi bergantung pada orang lain. Berarti memiliki kepuasan terhadap segala sesuatu yang dimilikinya saat ini. Hiduplah dalam keadaan kekinian. Here and now. Not nowhere.

Sayangnya dalam setiap keadaan kita selalu saja merasa kecewa, marah, irihati, dan dendam. Saat itu kita hidup di masa lalu. Saat kecewa, kita hidup di masa depan. Tidak ada keselarasan antara badan dan pikiran. Dan inilah yang menyebabkan oang terjebak dalam kesengsaraan. Kita menderita tatkala badan dan pikiran tidak berada di saat ini.

Coba saja perhatikan, seseorang yang bisa bersyukur hanya jika ia menyadari bahwa segala sesuatu yang diterimanya saat ini adalah keberkahan. Saat kita buang air besar atau pun kecil, kita melepaskan kelegaan. Kita bersyukur karena telah berhasil membuang air. Apa yan kita suarakan saat itu? Ahhhh…. Apalagi saat kita menahan lama keinginan kencing. Kenikmatan yang luar biasa. Tiada pikiran lain. Hanya bagaimana kita punya kesempatan untuk melepaskan air yang lama kita simpan. Saat itu ada keselarasan antara pikiran dan badan. Itulah kekinian. Hidup di saat ini.

Setelah itu, kita kembali pada pikiran kemarin. Marah, kecewa. Kita lepas dari kekinian. Saat marah atau kecewa, kita berada dalam kelemahan. Kita tidak berdaya. Kemudian cari sandaran pada orang lain. Kita begitu diperbudak oleh keinginan kita. Dalam kondisi seperti ini, kita berupaya membantu orang lain? Akibatnya? Kematianlah yang dihadapi.

Bangkitkan kesadaran diri. Kita lupa akan jati diri kita. Aku adalah keabadian. Jika aku sudah ditempelkan dengan nama, ia sudah menjadi individualisme. Jika aku berdiri sendiri, ia bersifat abadi dan universal.

Sesungguhnya, ‘aku’ tidak pernah mati. Yang mati adalah ketika aku + nama = individu. Misalnya, aku Hento. Hento bisa mati, tetapi ‘aku’ tidak akan mati. Aku + Hento – Hento = aku. Ya hanya ada kata ‘aku’. Ketika Hento mati, aku tetap eksis pada setiap individu. ‘Aku’ tidak pernah mati…..

Sadarilah bahwa ‘aku’ tidak terbatas. ‘Aku’ tetap eksis sepanjang kehidupan. Sadarilah bahwa badan ini bukan di dunia tempatnya. Bendawi hanyalah sarana untuk mengarungi kehidupan. Agama hanya sampan yang harus diletakkan saat sudah berlabuh di pantai tujuan…. Percuma mengatakan bahwa sampan yang dinaikinya terbaik. Bisa terjebak tetap nyaman tinggal di atas sampan….. Ia akan mengulangi kehidupan dengan selalu berkayuh di atas sampan. Sampan bukanla tujuan, sekedar sarana….

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone