August 24, 2014

Kerelawanan

” Kini kerelawanan bukan lagi kelompok relawan. Tapi bangsa dan negara membutuhkan seluruh rakyat menjadi relawan perubahan. ”

~ Narliswandi Piliang (@IwanPiliang7)

Pasca pemilihan presiden yang berlangsung dengan aman dan damai. Istilah relawan menjadi populer di masyarakat kita.
Semangat kerelaan yang muncul sebagai gerakan moral dari masyarakat luas yang menginginkan sebuah perubahan. Perubahan yang nyata dari sebuah gerak pembangunan bangsa.

Menarik sekali dicermati tentang hal ini, bahwa semangat kerelawanan ini saya rasa bukan muncul secara terkoordinasi dalam sebuah ikatan-ikatan kaku sebuah organisasi maupun lembaga, namun lebih pada sebuah spirit yang lahir dari kesadaran diri akan sebuah efek positif yang tidak bisa lahir sendiri tanpa upaya jelas dari diri untuk ikut serta berperan dan berperanan sebagai bagian dari suatu bangsa.

Kembalinya semangat kegotong-royongan ini akan menjadi sebuah energi dahsyat pendorong roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun untuk itu bukan tidak tanpa halangan. Pasti ada saja pihak yang merasa terganggu oleh hal ini.
Ini juga merupakan sebuah batu ujian yang penting sekali akan sebuah niat awal dari kerelawanan tersebut.
Jangan sampai slogan kerelawanan itu menjadi megah dan besar namun tidak disertai niat tulus dan ikhlas.

Mereka yang bersungguh-sungguh hati melaksanakan semangat kerelawanan ini, tidak akan patah semangat oleh kata-kata, penilaian maupun anggapan miring yang tersematkan pada dirinya.

Sebuah Pengingat

Mungkin kebanyakan dari masyarakat belum mengetahui dan menyadari tentang adanya sebuah hari dimana kita diingatkan tentang semangat kerelawanan ini.

Setiap tanggal 1 September di peringati sebagai Hari Bakti Bagi Ibu Pertiwi. Dan nanti peringatan yang ke 10 ini akan diadakan sebuah Sarasehan Budaya Menuju Global Harmoni di Jogjakarta.

Ini mengingatkan kepada kita semua untuk kembali kepada jatidiri bangsa. Untuk kembali menyadari betapa perbedaan yang ada di bumi Indonesia adalah sebuah kekayaan yang sesungguhnya, yang mesti dirawat dan dijaga dengan penuh bakti.

Indonesia dapat menjadi kontributor dalam menciptakan sebuah kehidupan damai, harmonis dan saling menghargai bagi dunia ini.
Dari semangat kerelawanan dan bakti ini akan dapat menjadi sebuah teladan bagi dunia. Pelan namun pasti gerakan ini akan menciptakan sebuah aliran perubahan.
Dengan semangat kerja keras dan tanpa pamrih, hal itu bukanlah sesuatu yang sukar diraih.

Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Bapak Anand Krishna dalam “Karma Yoga bagi Orang Modern” bahwa :

” Karma Yoga ( Transpersonal ) tidak hanya mengubah kesadaran diri berlandaskan ego pribadi dengan kesadaran ilahi, tetapi mengembangkannya secara terus menerus hingga kehadiran Allah dapat dirasakan setiap saat dan di setiap tempat. Hingga kita mencapai kesadaran kosmis.
Kiranya kesadaran inilah yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Kesadaran inilah yang dapat merevolusi dunia kita.”

Inilah saatnya kita sedikit demi sedikit belajar melepaskan keterikatan kita, egoisme sempit diri kita, dengan semangat kerelawanan dan bakti, untuk turut andil dalam menciptakan surga di bumi yang nyaman untuk ditempati bersama.

Bukit Pelangi,
Minggu, 24 Agustus 2014

Rahayu…

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone