August 7, 2014

Mengenal Kegelapan

IMengenal Kegelapan

” The true traveler has no destination
and no fixed time of arrival.”

~ Laozi

dawn-in-the-City-of-Londo-003Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, sinarnya sejenak menyiratkan keindahan warna jingga dan keemasan. Sebelum nanti akhirnya warnanya pudar diganti dengan gelap. Kegelapan yang hadir ketika sinar matahari tidak lagi kelihatan, dan malam menggantikan hadirnya.

Siklus Alam

Ada siang ada juga malam. Ada gelap ada juga terang. Demikian alam ada karena dualitas yang terjadi, untuk sebuah keseimbangan.
Kebanyakan manusia menghindari kegelapan. Kegelapan diidentikkan dengan kejahatan, kesuraman, atau keadaan yang menakutkan.

Manusia melupakan titik awal kehadirannya di rahim ibunya. Selama 9 bulan 10 hari mereka berada dalam kegelapan pekat dalam perut ibunya.
Sebuah alam kecil,dimana manusia perlahan-lahan menyempurnakan bentuknya. Sebuah mahakarya yang menakjubkan dari rangkaian mekanisme alam yang tercipta dan hadir di muka bumi.

Titik awal dan titik akhir

Demikian setelah lahir ke dunia. Bertemu dengan cahaya terang lewat indera penglihatannya. Manusia menjadi terpesona pada cahaya. Cahaya luaran yang beraneka warna menggodanya untuk terus bertahan dan menikmati dunia, seakan hidup tidak akan pernah berakhir.

Segala pengalaman hidupnya membawanya pada situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Dan ketika waktu hidupnya telah habis, jatah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan telah habis, manusia tidak rela melepaskan dirinya, meninggalkan keterikatan-keterikatan yang lahir dari pertemuan indera-indera dengan hal-hal luaran.
Kematian dirasakannya sebagai momok yang menakutkan. Ketidaksiapannya menatap gelapnya alam kematian, membawanya dalam penolakan yang menghadirkan sengsara diri. Doa dan segala amal salehnya dirasakan kurang dan tidak banyak membantu.

Meditasi

Untuk menghindari ketakutan akan kegelapan kematian. Manusia perlu kembali mengingat memory ketika dia masih berupa janin, yang tinggal hidup dalam kegelapan yang sunyi namun membuatnya aman dan nyaman. Sebuah keadaan meditatif yang alami terjadi selama itu.

Dan hanya meditasilah yang dapat menjadi solusi dari itu semua. Meditasi bukanlah sebagai pengganti doa. Semua ketakutan, kengerian, dan kekhawatiran yang hadir pada hati manusia karena manusia melupakan menengok dalam kegelapan yang sunyi dan aman didalam dirinya sendiri.
Peran dan status luaran selama hidup di dunia tidak akan kekal lestari selamanya, bersama dengan badan yang mengikuti mekanisme alam, terus mengalami penurunan fungsi dan pada akhirnya nanti akan melebur. kembali sesuai dengan elemen-elemen alam yang menyertainya.

Demikian meditasi membawa manusia untuk tetap sadar serta bersiap diri, melepaskan keterikatan-keterikatan yang membebani jiwa. Hingga sampai saatnya harus kembali ke pada asal mulanya lewat pintu kematian yang gelap itu.
Bersahabat dengan kegelapan akan memampukan manusia meminimalkan rasa takut dan khawatir yang berlebihan.

Ya, hidup hanyalah jeda antara titik kelahiran dan titik kematian. Dan mempersiapkan bekal pengenalan diri lewat meditasi akan melapangkan jalan hidup manusia.

Bagi yang mau menyelami meditasi lebih jauh dan dalam bisa mengakses www.anandashram.or.id

Rahayu…

Bukit Pelangi, 7 Agustus 2014

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone