August 18, 2014

Omong kosong, Mereka Percaya Surga Atau Neraka Setelah Kematian…

Peristiwa beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 4 Oktober hari Jumat, seorang anak sekolah bernama Tompel menyiramkan air keras dalam sebuah bus. Si Tompel menurut keterangan seorarng anak penurut, baik di sekolah maupun di rumah. Namun ternyata di luar sekolah dan rumah, si Tompel telah seringkali melakukan tawuran antar sekolah. Kepribadian yang berganti dan dengan gampang diubah menunjukkan bahwa si Tompel berperilaku munafik. Apa penyebabnya?

Jika dikatakan tidak belajar agama, pasti banyak yang protes. Lucunya, anggapan bahwa perilaku yang semakin mengarah tindakan kriminal ini terjadi semakin marak. Dendam dan kemarahan begitu merajalela. Jika dikatakan bahwa agama tidak diajarkan di sekolah tidak masuk akal. Anak sekarang porsi ajaran agama jauh lebih banyak. Sayangnya, mereka yang mengajarkan belum memahami makna dari agama.

Peristiwa presiden PKS (LHI) sebagai bukti nyata bahwa walalupun sudah dipanggil ustad tidak menjamin berkelakuan tidak melenceng. Markup pada pengadaan Alquran juga pasti beragama dan sembahyangnya tidak pernah blong. Dan banyak lagi bahwa sesungguhnya agama bukan solusi. Agamanya baik, hanya cara penyampaiannya yang kurang tepat.

Pengetahuan tentang surga dan neraka pasti sudah disampaikan berulangkali. Baik di rumah maupun di sekolah oleh guru agama. Sesungguhnya cara menakuti dengan menekankan bahwa jika melakukan kejahatan akan masuk neraka sudah tidak mempan lagi. Dalam hal ini sesungguhnya mereka tidak percaya akan adanya neraka sebagai tempat hukuman setelah kematian. Mengapa??? Karena tidak seorangpun yang pernah merasakan panasnya api neraka. Mereka tidak pernah mendapatkan bukti.

Jika saja cara menyampaikan materi agama dengan cinta, hati mereka akan tersentuh. Mengapa? Karena setiap orang memiliki keilahian dalam dirinya. Dalam salah satu ayat Alquran jelas dinyatakan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Dengan kata lain tidak ada keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Bukankah tanpa kehadiran Tuhan manusia tidak bisa eksis di bumi. Siapa yang membuat keterpisahan antara Tuhan dan manusia? Pikiran yang merasa bisa hidup tanpa Tuhan. Inilah arogansi diri.

Tidak ada yang memisahkanmu dari Tuhan, Hyang Maha Cinta.

Kesan palsu bahwa engkau terpisah dari Nya, menimbulkan segala

macam kegelisahan dan kekhawatiran.

(Live – Love – Laugh by Anand Krishna)

Anak sekolah yang seringkali tawuran disebabkan oleh rasa gelisah dalam dirinya. Tidak ada ketenangan. Rasa ketenangan terjadi jika kita menyadari bahwa Tuhan tidak berada terpisah dari diri kita. Yang disampaikan oleh para pemuka agama yang mengajarkan agama di sekolah adalah bahwa manusia harus menyembah Tuhan. Jika dikatakan menyembah berarti ada dua individu yang terpisah. Sedikit yang menyampaikan secara mendalam bagaimana menyembah Tuhan dengan benar.

Menyembah Tuhan berarti mencintai dan menyayangi semua ciptaan Tuhan. Hal lain yang sangat menyedihkan adalah kita tidak sadar bahwa seorang anak kecil lebih gampang menyimpan memori. Kita seringkali membawa seorang anak ke tempat pemotongan hewan. Si anak menyimpan memori bahwa menumpahkan darah adalah hal biasa. Menumpahkan darah adalah perbuatan kekerasan yang sama sekali bertentangan dengan perintah Tuhan. Mungkin ada yang membantah, itu kan perintah agama.

Benar perintah agama. Tetapi printah agama juga kah membawa seorang anak kecil yang masih polos untuk menonton hewan disembelih. Sadarkah kita bahwa seorang anak kecil memiliki kemampuan tinggi dala hal penyimpanan memori? Kekerasa ini menjadi satu ingatan yang kuat melekat dalam diri seorang anak. Sehingga di saat dewasa, seorang anak dengan sendirinya memiliki sifat kekerasan dalam perbuatannya.

Seseorang yang sadar bahwa dirinya tidak terpisah dari Tuhan, tidak merasa gelisah dan khawatir. Tidak berbeda dengan seorang LHI. Jika dirinya yain bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa kehadiran Tuhan, ia tidak akan mengumbar nafsu syahwatnya. Sesungguhnya ia tidak percaya akan adanya surga dan neraka. Yang ia percaya adalah bahwa uang memdatangkan kenikmatan duniawi. Lantas untuk apa menunggu kenikmatan bidadari setelah kematian. Toh, tidak seorangpun penjahat yang hidup lagi dan berkata bahwa mereka merasakan siksaan di neraka setelah kematian?

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone