August 10, 2014

Pendidikan dan Pengasuhan Anak Tanggung-Jawab Siapa ?

Pendidikan dan Pengasuhan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Dalam sebuah keluarga mempunyai anak dirasakan melengkapi suatu kebahagiaan. Anak juga dianggap sebagai pelanjut kesinambungan harapan orang tua.

Tanggung-jawab Diri

different-parenting-stylesDi saat ini, di era persaingan hidup yang makin ketat dan kebutuhan hidup serta keuangan yang meningkat seringkali kedua orang tua sibuk dalam bekerja.
Saya menjadi teringat dengan apa yang terjadi pada keponakan saya yang berumur sekitar 4-5 tahun. Setiap hari, dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, sang anak dititipkan di tempat penitipan anak. Dengan hanya membayar Rp. 5000,00/hari semua kebutuhan sang anak terpenuhi, dari tempat bermain, makan siang dan juga tempat belajar.
Sebuah hal yang simpel dan menyenangkan untuk sejenak bagi orang tua untuk melepaskan diri dari kenakalan, suara tangis dan sikap rewel yang biasa dilakukan anak-anak seumuran itu.

Tempat Penitipan Anak

Orang tua yang baik harus benar-benar paham dan dapat memilih tempat untuk penitipan anak. Karena masa-masa usia balita adalah masa pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Masa dimana sang anak mudah menerima dan menyerap teladan dan pengajaran yang diberikan oleh para pengasuh atau pendidik di sana.
Pemilihan tempat ini penting sekali untuk anak sendiri, karena dapat menjadi bekal utama dalam berinteraksi sosial dan belajar berkembang serta menjadi percaya diri dalam hidupnya.
Meskipun begitu orang tua dan lingkungan keluarga serta masyarakat juga menjadi sebuah harapan besar untuk mengajar dan membentuk watak anak-anak kedepannya nanti.

One Earth School

Ini merupakan sebuah institusi pendidikan pertama di Indonesia yang berbasiskan “Interfaith Harmony”. Sekolah ini digagas oleh Bapak Anand Krishna, seorang spiritualis dan tokoh humanis lintas agama. Anak-anak peserta didik selain diajarkan ilmu pengetahuan juga diajak untuk saling menghargai perbedaan yang ada, baik warna kulit, suku maupun agama. Bagi anda yang tertarik untuk melihat dan mengetahui lebih jauh bisa mengunjungi http://www.oneearthschool.org

Cerita Tentang Meerabai

Pernahkah anda mendengar/ membaca tentang Meerabai, Sang Pecinta Krishna?

Pada suatu hari, dia melihat rombongan pengantin. Masih kecil, baru berusia 4-5 tahun, dia bertanya kepada ibunya,” Bu, mereka mau kemana?

” Itu mempelai rombongan pria, Nak. Mereka hendak pergi ke rumah pengantin wanita,”jawab ibunya.

“Untuk apa?” Tanya si kecil.

“Untuk menjemput pengantin wanita.” Demikianlah tradisi India.

“Lalu?”

“Ya, mereka berpesta. Pesta perkawinan.”

“Pesta, perkawinan, baju baru – ah, enak dong…”Pikir si kecil. Dan dia mulai menarik-narik ujung sari ibunya,” Bu,bu aku juga mau kawin…”

“Ya nak..kamu juga akan kawin. Nanti dijemput juga oleh mempelai pria.”

“Nanti kapan,bu? Aku mau kawin sekarang…”

“Ya, Nak…tapi kamu belum dijemput.”

“Dijemput siapa?” Tanya Meera. Satu pertanyaan belum terjawab, dia betanya lagi,”Aku sudah punya mempelai pria belum?”

Anak kecil mau dijawab apa? Kebetulan di atas meja ada patung Krishna,” Itu tuh…”Pengantin Pria” kamu,”jawab sang Ibu sambil menunjuk patung Krishna.

“Krishna? Dia Pengantin Pria-ku? Dia akan datang menjemputku?”

“Ya,ya dialah Pengantin Pria-mu. Dia akan datang menjemputmu.”

Dan sejak hari itu Shri Krishna menjadi “Pengantin Pria” Meera.
(Narada Bakti Sutra,Gramedia,2001)

Ya,tidak setiap anak seperti Meerabai. Tidak setiap anak menjadi seorang Pecinta sejati, namun anak yang dirawat dan dipelihara dengan cinta akan dapat menjadi berkah dan pembawa kasih bagi dunia ini.

Smoga…

Bukit Plangi,
10 Agustus 2014

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone