August 26, 2014

Wahai Timur Tengah…. Belajarlah dari Budaya Nusantara…

Kenapa tidak? Nusantara sudah kenal nabi terlebih dahulu daripada daerah gurun tersebut. Mau bukti? Lihatlah kearifan lokal leluhur nusantara. Pelajarilah kebijakan Sunda, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya. Kearifan lokal selain yang saya sebutkan di atas penuh dengan petuah yang memanusiakan manusia.

Bukan kah tujuan agama juga ke arah yang satu itu, memanusiakan manusia? Mengapa mesti ragu dan malu terhadap keindahan dan ke bagusan warisan leluhur. Ragu karena kita pernah di kira atau disangka penyembah berhala, seperti penyembah pohon?

Pernahkah terpikir oleh kita tentang esensi penghormatan penebangan pohon? Warisan leluhur yang luar biasa. Seandainya pen sakralan pohon tetap lestari, tiada bakal terjadi bencana kemanusiaan seperti tanah longsor dan banjir. Mengapa?

Para leluhur kita sudah sadar betul bahwa manusia bisa hidup karena jasa tumbuhan dan alam. Darimana makanan kita berasal? Dari bumi. Apa fungsi pohon – pohon besar? Akar yang kuat menahan tanah agar tidak longsor. Mengapa di sekitar beringin tua sering ditemukan mata air? Karena akar memiliki kemampuan untuk menahan air. Tidak diragukan bahwa adanya pohon besar sekaligus juga jadi sumber air.

Itulah sebabnya pada zaman dahulu penebangan pohon dipersulit dengan syarat sajen atau upacara. Tujuannya jelas, mempersulit orang menebang pohon secara membabi buta. Kemudian cara lain dengan mengatakan bahwa pada pohon ada penunggu dan sebagainya. Dengan cara menakuti terbukti manusia takut menebang pohon. Suatu kebijakan yang cerdas. Penyelamatan pohon berarti penyelamatan kehidupan manusia. Bukan kah air merupakan kebutuhan utama manusia. Manusia bisa hidup tanpa makan selama beberapa hari, tetapi tanpa air, manusia sulit bertahan hidup.

Mengapa nabi tidak turun di nusantara? Karena memang nusantara tidak lagi butuh nabi baru. Besar kemungkinan, nabi sudah turun di wilayah ini. Wilayah Sunda Land. Buktinya adalah tersebarnya kearifan berbasis kedaerahan. Jawa, Sunda, Tapanuli atau Batak, Sulawesi, Kalimantan, dan lain daerah sudah memiliki keraifan lokal. Bukan kaerifan impor. Jika tidak percaya, jangan terburu membantah, tetapi gali dan pelajari punya leluhur masing – masing, saya yakin bahwa leluhur anda memilikinya. Bukan impor dari daerah gurun atau Nasaret.

Sangat besar kemungkinan ada yang mebantah, itu berasal dari budaya, bukan nabi. Lha, saya akan balik bertanya, duluan manakah antara agama dan budaya? Pasti lebih dahulu budaya. Mengapa? Mari kita telaah makna kata budaya. Budaya berasal dari kata ‘budhi’ dan ‘hridaya’. Budhi berarti tradisi atau lebiasaan yang baik, selaras dengan alam. ‘Hridaya’ berarti saripati atau inti. Jadi budaya berarti saripati atau inti kebiasaan yang baik. Budaya bukan sebagaimana yang diartikan secara negatif, seperti budaya korupsi dan sebagainya. So, agama semestinya tidak lepas dari budayanya. Dan ini terkait erat dengan lingkungan setempat.

Pernahkah kita berpikir, mengapa para nabi kebanyakan turun di wilayah Timur Tengah? Petnahkah kita mengaitkan antara wilayah yang tidak pernah damai dengan wilayah turunnya nabi? Bukan kah wilayah Timur Tenga merupakan wilayah yang jarang damai? Jika kita mau menelaah dengan pikiran terbuka, kita akan memahaminya. Jika tidak, itu juga bukan urusan saya……. Saya hanya menyampaikan kegelisahan saya. Sama sekali tidak berpretensi buruk terhadap agama. Tidak…. Bukankah para rasul dan nabi adalah pengingat untuk menuju ka jati diri manusia. Bukan untuk berkuasa atas manusia? Itulah sebabnya para rasul dan nabi juga selalu berpendapat bahwa Tuhan mengirimkan utusan Nya setiap zaman dan wilayahnya masing – masing. Tuhan Maha tahu. Dia lah sang maha bijaksana.

Pikiran kita lah yang sempit sehingga selalu saja menganggap bahwa si fulan lebih baik daripada si badu. Semua ulah pikiran. Ulah ego yang selalu merasa paling benar sendiri….. Jika ini yang terjadi, Dia belum eksis dalam hati kita….

Ego…ahh… Ego…..

Kita terhipnosis oleh kebodohan dan rasa rendah diri sehingga kurang menghargai ketinggian budaya sendiri….

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone