September 15, 2014

Kebodohan Besar saat Anggap Setan di Luar Diri…..

Resize of laugh

Pandangan ke luar diri menjadikan manusia lengah untuk menggali ke dalam. Alhasil, ia semakin jauh dari Tuhan. Ia mengabaikan pesan Baginda Rasulullah SAW. Ia terjebak oleh hipnosis massal yang selalu saja mencari kesalahan orang lain. Ia lupa bahwa manusia lahir, hidup, dan mati dalam kesendirian.

Siapa bilang manusia hidup tidak sendiri? Boleh anda ingat peristiwa masa lalu. Saat anda sakit. Siapa yang merasakan sakit? Diri sendiri kan? Sedekat istri, saudara, ataupun teman, mereka tidak bisa mengurangi rasa sakit yang anda derita. Paling banter yang mereka berikan bantuan materi dan dukungan non materi. Namun tetap saja yang merasakan sakit diri sendiri.

Kesembuhan yang terjadi adalah juga karena upaya sendiri. Mungkin ada orang yang menyanggah, mereka bisa membantu penyembuhan dengan obat. Jika kita tidak mau minum obat, mungkinkah obat bisa menyembuhkan? Kemauan kita untuk sembuh, maka kita bersedia minum obat. Doa? Jika kita tidak sinkron dengan doa mereka, tidak mungkin kesembuhan terjadi. Itulah yang saya maksud hidup juga sendiri.

Setan di luar diri gampang dilihat, setan dalam diri yang susah untuk dilihat. Ibaratnya, gajah di pelupuk mata tidak terlihat, kuman di seberang laut terlihat jelas. Mengapa? Karena seluruh perhatian energi kita tertumpah untuk melihat hal yang kecil di luar diri. Setan segede gajah pun tidak bakal terlihat karena energi kita habis untuk mencarai kesalahan orang lain. Tiada energi tersisa ntuk melihat ke dalam diri.

Kita lupa pesan Baginda Rasulullah SAW. Tuhan berada lebih dekat dari urat lehermu. Berarti tiada keterpisahan antara diri kita dan Tuhan. Masuk ke dalam diri berarti menyelami keindahan kebersamaan diri dengan Tuhan. Tumpahakan energi kita untuk mendekatkan diri pada Dia Yang Mahaindah. Tiada guna menjauhkan diri dari Tuhan jika ingin merasakan keindahan rasa dengan Tuhan. Perasaan bahagia dan damai, itulah persatuan dengan Tuhan. Bukankah itu sifat Tuhan. Rasa indah dan damai membuktikan bahwa tiada lagi keterpisahan antara diri dan Tuhan.

Ketika manusia masih memburu kedamaian diri, ia masih terpisah dengan Tuhan. Kata ‘tpisah’ sesungguhnya juga tidak tepa. Rasa damai dan bahagia tertimbun oleh pikiran manusia yang sibuk memenuhi keinginannya. Tuhan tidak pernah hilang. Yang perlu dilakukan hanya menyadari kehadiran Nya. Hanya itu.

Untuk itu, kurangi keinginan melihat ke luar diri. Memejamkan mata berarti memutus hubungan dengan dunia luar. Cukup sudah energi dibuang dengan cara membuka jendela, mata. Saat mata terbuka, pikiran bekerja. Saat pikiran sibuk, hati mulai gelisah. Emosi meningkat.

Pikiran tidak bisa dilawan. Semakin melawan pikiran semakin jelas bayangan. Bayangan permasalahan. Hidup tidak dalam kekinian. Hidup tidak dalam kekinian berarti pikiran berada di masa lalu atau masa depan. Antara pikiran dan badan tidak sinkron. Alhasil, orang menjadi gelisah. Pikiran untuk memenuhi keinginan itulah setan yang bercokol dalam diri manusia.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone