<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>One Earth Media</title>
	<atom:link href="http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.oneearthmedia.net/ind</link>
	<description>With Love from Indonesia to the World</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 14:27:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Renungan Keduabelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1155</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1155#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 14:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[vivekananda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1155</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami istri setengah baya mengagumi Swami Vivekananda. Swami Vivekananda adalah Master, Pemandu rohani yang memiliki semangat bergelora. Bung Karno, Presiden Pertama Indonesia menjadikan Swami Vivekananda sebagai idolanya. Nampaknya, Bung Karno dan mereka yang berjuang bagi Ibu Pertiwi tak pernah lepas dari penjara yang direkayasa para musuhnya. Tetapi mereka tak pernah menyerah putus asa, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami istri setengah baya mengagumi Swami Vivekananda. Swami Vivekananda adalah Master, Pemandu rohani yang memiliki semangat bergelora. Bung Karno, Presiden Pertama Indonesia menjadikan Swami Vivekananda sebagai idolanya. Nampaknya, Bung Karno dan mereka yang berjuang bagi Ibu Pertiwi tak pernah lepas dari penjara yang direkayasa para musuhnya. Tetapi mereka tak pernah menyerah putus asa, karena meyakini Kebenaran mereka. Kali ini sepasang suami istri membicarakan renungan keduabelas dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Buku-buku Bapak Anand Krishna menjadi referensi mereka&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Renungan Keduabelas&#8230;&#8230;.. <em>Kita memiliki Daya Kekuatan: Semua potensi daya kekuatan di alam sudah ada dalam diri. Adalah kita sendiri yang meletakkan tangan sebelum mata kita berteriak hari mulai gelap. (Adalah</em> <em>kita sendiri yang menyerah selagi kesempatan berjuang masih ada). </em></p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Leluhur kita, Dharmakirti Svarnadvippi, seorang “Guru” dari Sumatera di Zaman Sriwijaya mengajarkan bahwa kita memiliki potensi yang luar biasa. Dalam buku “<strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;&#8230;Hampir seribu tahun yang lalu, bangsa kita pernah melahirkan seorang pujangga yang namanya pun tidak tercatat dalam sejarah kita. Orang itu adalah Dharmakirti. Intisari ajaran Dharmakirti pun demikian: pelajarilah dirimu, urusi dirimu. Dengan mempelajari diri, sesungguhnya Anda sudah mempelajari Keberadaan. Dengan menyelami diri, Anda sudah menyelami Tuhan. Dengan mengenal diri, Anda mengenal Allah. Segala sesuatu dalam alam ini ada dalam dirimu. Dan apa yang ada dalam dirimu juga ada dalam alam ini. Tidak ada perpisahan antara kamu dan sesuatu yang dekat dengan kamu. Tidak ada pula perpisahan antara kamu dan sesuatu yang sangat jauh darimu. Dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semuanya ada dalam dirimu&#8230;..<span id="more-1155"></span></p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Yang bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri kita. Sudah ada dalam bentuk &#8220;potensi&#8221; diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Seorang Master memahami potensi manusia, oleh karena itu dia mendorong para muridnya untuk mengembangkan potensi dirinya&#8230;&#8230;&#8230; Seperti seorang anak nelayan yang baru pertama kali berenang di laut, kemahiran berenang sudah ada di dalam “gen” dia. Sang anak telah mewarisinya dari kedua orang tuanya, namun kemahiran itu masih berupa potensi yang terpendam; seperti benih yang masih berupa biji, belum ditanam. Ia masih harus menanamnya, dan menanamnya sendiri. Sang ayah bangga melihat anaknya terjun ke dalam laut tanpa bantuan. Ia meneriaki anaknya dari jauh saat menghadapi ombak besar, bagaimana ia harus merenggangkan otot-ototnya, <em>and just let go</em>! Ia tidak ikut terjun, karena ia yakin akan kemampuan anaknya. Anak itu adalah perluasan dari jiwanya; jiwa seorang nelayan. Ia membiarkan anaknya terombang-ambing, karena ia yakin bahwa anaknya tidak akan tenggelam. Ia juga mempercayai kemampuannya sendiri, dengan instingnya sebagai nelayan. Bila anak itu sudah mulai tenggelam dan tidak mampu membantu dirinya, sang ayah akan mengetahuinya dan akan langsung terjun ke laut untuk menyelamatkannya. Seperti sang nelayan itulah Sadguru, Guru Sejati, Master, Murshid! Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo”</strong>.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Dalam buku “<strong>Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. la lahir bersama benih kemanusiaan. Pun Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, adalah kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya – kemanusiaannya. Kesadaran awal manusia membebaskan dirinya dari arogansi, dari keangkuhan, dari kesombongan&#8230;&#8230;&#8230; Dalam buku ”<strong>Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditati</strong>f” disampaikan&#8230;&#8230; Kesadaran awal adalah bahwa kita belum sadar. Atisha menganjurkan agar kita “meneliti sifat kesadaran yang belum lahir dalam diri kita”. Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa “kesadaran belum tumbuh dalam diri kita”. Kesadaran masih merupakan potensi yang terpendam. Kita berpotensi menjadi Buddha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu&#8230;&#8230; Dalam buku “<strong>Youth Challenges And Empowerment</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Setidaknya kita semua sudah memiliki potensi untuk itu. Selanjutnya, tinggal dikembangkan. Namun, ada juga yang tidak mengembangkannya, sehingga potensi itu mulai berkarat. Pada akhirnya, potensi itu tidak dapat digunakannya, seperti biji yang tidak ditanam dan di sia-siakan. Akhirnya, ia mati. Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan. Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya;  seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah &#8220;kenyaman&#8221; yang mematikan potensi kita&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang istri:</strong> Sayangnya, sistem pendidikan dan norma-norma sosial kita tidak dapat memberikan apa yang sang anak perlukan&#8230;.. . Dalam buku “<strong>The Gospel of Michael Jackson</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;. Kebutuhan fisik, mental, intelektual dan emosional kita terpenuhi. Tetapi kebutuhan spiritual tidak. Anak di dalam diri kita tetap saja kurang gizi dan tak berkembang. Atas nama spiritualitas, anak sering dicekoki dogma dan doktrin agama. Hadiah dan hukuman, surga dan neraka, Tuhan dan setan, semuanya ini matematika belaka. Makanan ini bagus buat pikiran, intelek dan emosi, tetapi tidak bagi sang jiwa. Sang anak di dalam diri, percikan spiritual di dalam diri tiap orang dari kita, perlu berjalan terus melewati seluruh dualitas dan kemudian menyatu dengan sang sumber, sumbernya di dalam Jiwa. Diri kecil kita kangen, rindu menyatu dengan Diri yang Lebih Tinggi. Sang anak, sang bayi di dalam diri kita mencari kebahagiaan sejati. Dia tidak peduli akan kenyamanan fisik dan kenikmatan sensual &#8230;&#8230;.. Tetapi masyarakat dan norma-norma sosial menentang kegelisahan macam ini. Sesungguhnya mereka malah tidak mau mengakui keberadaannya. Masyarakat dan sistem sosial bersama-sama memutuskan pendidikan macam apa yang bakal diberikan pada anak-anak. Keputusan mereka mencerminkan kebutuhan mereka, bukannya kebutuhan, kesenangan, ketidaksenangan, dan potensi sang anak. Anak yang memenuhi kebutuhan mereka bakalan diberikan hadiah dan penghargaan&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Swami Vivekananda memberi nasehat perlunya kita gigih berjuang&#8230;&#8230;.. Sebelum penerimaan wahyu, seorang nabi pun menjalani suatu proses yang cukup panjang. Adalah kekeliruan manusia jika proses itu tidak diperhatikan. Adalah kemalasan manusia jika proses itu diabaikan. Adalah kelicikan manusia bila ia tidak mau tahu tentang proses itu. Kenapa? karena, dengan cara itu ia dapat membenarkan kemalasannya, “Mereka kan nabi; sementara aku hanya orang biasa!” Kita mau berubah, tetapi tidak mau bekerja. Malas. Lalu, kemalasan kita dimanfaatkan oleh mereka yang sedikit kurang malas dari kita. Mereka menawarkan pembangkitan kundalini, pencerahan instant, bahkan ke avataran, ke buddhaan dan kerasulan bersertifikat. Wueee hebat ! Jaman dulu, para avatar, rasul dan Buddha tidak memiliki sertifikat dari Tuhan Allah. Perubahan tidak terjadi begitu saja. Kita harus berupaya tidak bermalas-malasan untuk itu. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya</strong>”&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Dalam buku “<strong>Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru</strong>” disampaikan&#8230;.. Ada yang, bersifat malas, ada pula yang menjadi malas karena kelemahan fisik. Namun, keduanya, menurut Niti Sastra, sulit mencapai kesempurnaan hidup. Pertanyaan yang barangkali timbul, sifat malas dapat dipahami, tetapi bagaimana dengan mereka yang menjadi malas karena lemah fisik? Ada kalanya, kelemahan fisik pun karena kemalasan kita mengurusi badan; kemalasan kita memperbaiki diri; kemalasan kita melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk. Seorang penjudi pun sesungguhnya pemalas. la ingin mencari uang dengan cara gampang. Begitu pula dengan para penipu dan pembohong. Mereka mau untung, tapi tidak mau membanting tulang. Para pezinah juga malas. Mereka menginginkan pelampiasan nafsu tanpa tanggung jawab. Seorang pemalas sungguh tidaksadar. Bagaimana pula ia dapat menggapai kesempurnaan dalam hidupnya? Bagaimana pula ia dapat memperoleh pencerahan?</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku&#8230;&#8230; Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktivitas, kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bemalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka, hasil pekerjaan mereka dimasa lalu. Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah&#8230;&#8230; Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan</strong>“. Kemudian buku “<strong>Surat Cinta Bagi Anak Bangsa</strong>” menyampaikan&#8230;&#8230;. Seorang pejuang berkata bahwa Orang yang benar-benar percaya bahwa Tuhan itu bersifat Adil, Pengasih dan Penyayang harus menjadi pejuang yang militan, supaya keadilan, kasih dan sayang itu dapat mengalir sebagai sungai yang jernih, yang dengan airnya menghidupkan bumi&#8230;&#8230; Menjadi pejuang militan tidak berarti menjadi perusak. Menjadi militan berarti menjadi dinamis. Dinamika murni dan bertanggungjawab yang harus menjadi motor penggerak National Integration Movement. Bergeraklah, jangan duduk diam&#8230;&#8230;. Orang yang menyebut nama Tuhan, tetapi tidak berjuang supaya bumi menjadi tempat yang aman dan damai, bebas dari haus dan lapar, sengketa dan benci, tindasan dan peperangan, kapitalisme dan imperialisme, tidak lebih dari badut di panggung sandiwara dunia&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Kehendak yang Kuat dan Semangat untuk Berjuang, ibarat dua sisi kepingan uang logam, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Celakanya, kita hidup di tengah masyarakat di mana &#8220;semangat untuk berjuang&#8221; bukanlah sesuatu yang diminati oleh para tokoh. Kita telah menjadi bagian dari sistem, di mana para pembuatnya adalah politisi, petinggi, pakar, dan mereka yang menganggap diri mereka super dan melebihi orang lain. Mereka takut kehilangan kedudukan dalam masyarakat. Mereka sangat takut terhadap para pejuang karena para pejuang adalah para pemberontak yang dapat mengakhiri sistem buatan mereka. Karena itu, seluruh sistem pendidikan kita pun disesuaikan sehingga tidak lagi menciptakan generasi yang kritis. Menjadi kritis berarti menggunakan pikiran dan hati. Menjadi kritis berarti memutar otak dan merasakan apa yang tidak terasakan oleh banyak orang&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Youth Challenges And Empowerment</strong>. Dalam buku “<strong>Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;. Krisis yang dialami negeri kita sungguh multi-dimensional, sekian banyak sisinya &#8211; ada sisi ekonomi, sisi politik, bahkan sisi agama. Di atas segalanya, Krisis segala Krisis yang tengah kita alami saat ini sesungguhnya Krisis, jati Diri. Kita lupa jati diri kita siapa. Kita lupa potensi diri kita, kemampuan kita. Kita menjadi bangsa pengemis&#8230;&#8230; Semoga kita semua sadar&#8230;..</p>
<p>Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1155</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Kesebelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1153</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1153#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 02:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[vivekananda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1153</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan tentang Pandangan Hidup Swami Vivekananda yang berjumlah lima belas. Mereka sudah sampai pada Renungan yang Kesebelas. Buku-buku Bapak Anand Krishna dijadikan referensi mereka. Bagi mereka pandangan para Master selalu ada benang merah kesamaannya.
Sang Istri: Renungan Kesebelas&#8230;&#8230;..Tidak ada yang mustahil: Jangan pernah berpikir ada yang mustahil bagi jiwa. Sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan tentang Pandangan Hidup Swami Vivekananda yang berjumlah lima belas. Mereka sudah sampai pada Renungan yang Kesebelas. Buku-buku Bapak Anand Krishna dijadikan referensi mereka. Bagi mereka pandangan para Master selalu ada benang merah kesamaannya.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Renungan Kesebelas&#8230;&#8230;..<em>Tidak ada yang mustahil: Jangan pernah berpikir ada yang mustahil bagi jiwa. Sungguh keterlaluan cara berpikir yang demikian. Apabila ada dosa, hanyalah ada satu dosa yaitu bila meyakini bahwa kamu atau orang lain lemah</em>.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> <em>Jangan pernah berpikir ada yang mustahil bagi jiwa. </em>Setelah memahami sejarah evolusi dari DNA, kita harus mensyukuri kelahiran kita sebagai manusia. Dalam buku “<strong>The Gospel of Michael Jackson</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.  Janganlah kita hinakan kelahiran, tubuh dan pikiran manusia kita. Kelahiran sebagai manusia adalah anugerah besar, kalau tidak yang terbesar, dari Bunda Alam Semesta. Marilah bersyukur atas pemberian ini. Inilah cara untuk mengembangkan rasa percaya diri. Inilah cara untuk mengembangkan rasa percaya diri. Rasa syukur membawa kita pada rasa percaya diri. Rasa percaya diri akan membawa kita pada keyakinan&#8230;&#8230;&#8230;.. Rasa takut kita warisi dari proses evolusi yang panjang. Rasa takut ini juga yang kita bagi dengan binatang lain. Rasa takut menurunkan kita menjadi binatang sosial. Dengan demikian, rasa takut adalah penghambat kemajuan dan evolusi lanjutan. Untuk menyadari takdir kita sebagai manusia, kita harus setidaknya berusaha meniadakan rasa takut. Begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, kita mulai bisa memproyeksikan, mewujudkan sifat ilahi dalam diri. Mekanisme “flight or fight” atau “lari atau berkelahi” lahir dari rasa takut. Karenanya kita menjadi reaktif. Begitu kita diserang, kalau tidak balik melawan, ya kita lari. Kita tidak bereaksi dengan cara lain. Namun, begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, saat itulah kita berhenti menjadi reaktif. Sebaliknya kita menjadi responsive, saat diserang, kita tidak langsung balik melawan atau mengambil langkah seribu&#8230;&#8230;&#8230;<span id="more-1153"></span></p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Benar suamiku, Swami Vivekananda berkataa <em>hanyalah ada satu dosa yaitu bila meyakini bahwa kamu atau orang lain lemah</em>&#8230;&#8230;&#8230; Tanpa disadari, alam bawah sadar kita sudah terlanjur menyimpan sekian banyak memori yang kemudian menentukan sifat kita, watak kita, karakter kita. Kadang kita merasa tidak berdaya melawan salah satu kelemahan diri. Padahal sadar betul bahwa itu merupakan kelemahan sesuatu yang harus diatasi, dilampaui. Berbagai cara pun kita tempuh untuk melawannya. Banyak energi yang terboroskan hasilnya tetap nihil. Fisik malah kekurangan energi karena perlawanan, jiwa pun melemah. Cara-cara yang kita tempuh selama ini salah, keliru. Kelemahan-kelemahan diri tidak perlu dilawan, harus dibuang. Alam bawah sadar kita perlu dibersihkan. Itulah tujuan utama latihan-latihan kita. Alam bawah sadar yang penuh dengan berbagai macam memori ibarat tong sampah yang harus dibersihkan. Seperti gelas kotor yang harus dibersihkan dulu sebelum diisi dengan air bersih&#8230;&#8230;&#8230; Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Self Empowerment</strong>”&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku, dalam buku “<strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Jika Anda sudah tahu “apa yang terbaik”, Anda tidak akan “mencari” lagi, karena “yang terbaik” justru tidak perlu dicari. Yang terbaik justru ada di dalam diri Anda. Yang dibutuhkan bukanlah “pencarian”,tetapi “penggalian”. Akhirilah pencarian Anda. Mulailah menggali dalam diri Anda sendiri. Dan untuk penggalian, Anda tidak butuh terlalu banyak pengetahuan. Sedikit saja sudah cukup&#8230;&#8230;&#8230;. Mereka ingin menjadi kuat. Tetapi cara yang mereka tempuh salah. Mereka belum sadar bahwa sumber kekuatan ada dalam diri mereka. Mereka tak melihat bahwa merebut hak orang dan menambah kepemilikan bukanlah cara yang tepat untuk menyadari kekuatan diri. Untuk menyadari kekuatan diri, Anda tidak perlu merebut atau merampas sesuatu milik orang lain. Yang dibutuhkan adalah perenungan, meditasi. Anda harus menyelami diri sendiri, meniti jalan ke dalam diri&#8230;&#8230;.. Sadarilah bahwa Anda sesungguhnya tidak lemah. Selama ini Anda pikir Anda lemah. Lalu Anda mempercayai “pikiran” itu. Kelemahan diri Anda hanya ada dalam pikiran. Bangkitlah-bangunlah-sadarlah! Dan setelah menyadari kekuatan diri, jangan duduk diam&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Benar suamiku. Dalam buku “<strong>Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran</strong>” disampaikan bahwa setelah menyadari adanya kelemahan diri, kita harus berupaya mengubahnya &#8230;&#8230;. Ia yang mengakui kelemahan dirinya, ia yang mengakui kesalahan dirinya, telah mengambil langkah awal menuju transformasi diri. Dan tanpa langkah awal itu, tidak seorang pun yang dapat membantu Anda. Hendaknya para meditator tidak sibuk memperhatikan orang lain. Kelemahan orang lain, keliaran dan ketidakwarasan orang lain melulu yang biasanya kita perhatikan. Diri sendiri lupa diperhatikan. Alihkan perhatian Anda. Jangan dilihat di luar diri. Lihatlah dalam dirimu. Jaga pula dirimu. Jangan sampai tanaman kesadaran yang baru tumbuh sedikit musnah terinjak-injak oleh binatan-binatang liar. Berhati-hatilah dengan pergaulan Anda, dengan persahabatan dan kemitraan Anda! Transformasi diri berarti mengubah diri. Transformasi diri menuntut perubahan total. Renovasi tanggung bukanlah suatu solusi. Transformasi diri berarti peningkatan kesadaran. Naluri hewani harus dibuang jauh-jauh. Kesadaran insani pun harus dilampaui. Tujuan kita adalah Kesadaran Murni, Kesadaran Ilahi!&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> <em>Apabila ada dosa, hanyalah ada satu dosa yaitu bila meyakini bahwa kamu atau orang lain lemah</em>. Swami Vivekananda mengingatkan siapa “Aku” sejati kita, sehingga meyakini kelemahan diri adalah tindakan salah. Dalam buku “<strong>Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Kadang kita mengidentitaskan diri kita dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan emosi. Kadang kita terlibat dengan benda-benda duniawi yang tidak permanen. Kadang kita bersuka ria, kadang tenggelam dalam duka yang tak terhingga. Kita melupakan identitas diri kita yang sebenarnya. Kita lupa akan “Aku” yang sejati, yang tak pernah musnah, yang kekal dan abadi&#8230;&#8230;.. Dalam buku “<strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat. Anda tidak bisa membeli “keilahian” ataupun “kemuliaan”. Bahkan Anda tidak perlu membelinya, karena “keilahian” itulah kebenaran diri Anda, karena “kemuliaan” itulah jatidiri Anda&#8230;&#8230;&#8230;  Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula “Keilahian” adalah Sifat Dasar Allah. “Kemuliaan” adalah Sifat Dasar “Ia Yang Maha Mulia”. Dan itu pula yang Ia berikan kepada Anda. Sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama”, Tuhan sudah membekali Anda dengan “keilahian”, “kemuliaan”&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Swami Vivekananda berkata tentang dosa. Alam bawah sadar atau <em>subconscious</em> adalah beban yang kita warisi sejak lahir. Dalam tradisi Kristen, mereka menamakannya “Dosa Asal”&#8230;&#8230;.. Kata &#8220;dosa&#8221; itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta &#8220;dosha&#8221; yang berarti &#8220;kesalahan&#8221; atau &#8220;kekhilafan&#8221;. Jadi sesuatu yang bisa diperbaiki. Kemudian jika agama Kristen bicara tentang &#8220;dosa asal&#8221;, kita dapat memahaminya. Yang dimaksudkan adalah synap-synap asli yang membentuk <em>subconscious mind</em> kita saat kelahiran. Itu jelas merupakan beban, tetapi dapat diringankan. Walaupun mempengaruhi hidup, kita bisa saja melepaskan diri dari pengaruhnya. Pemahaman yang betul tentang hukum evolusi dan sebab-akibat akan membebaskan manusia dari rasa takut. Dan membuat dirinya lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas setiap perbuatan, ucapan, dan pikirannya&#8230;&#8230; Demikian disampaikan dalam buku “<strong>MedEri MedisMeditasi, Persepsi Baru Bagi Manusia Baru</strong>”&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku&#8230;&#8230;.. Dosa disebabkan oleh ketakselarasan kita dengan alam. Setiap tindakan yang tidak selaras dengan alam adalah dosa. Dosa tidak memiliki eksistensi di luar tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Adanya dosa karena adanya tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Matematika dosa sebenarnya sederhana sekali. Dosa = Aku + Tindakan yang tidak selaras dengan alam&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena</strong>”&#8230;&#8230;. Dalam buku “<strong>Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Apa yang disebut dosa, oleh para pujangga kita, disebut ketaktahuan. Dosa atau Dosha adalah kekeliruan, Kesalahan, Kesalahpahaman, Kekhilafan. Dan, dapat diatasi. Agama, bagi para pujangga kita, adalah sarana untuk mengatasi dosha-dosha manusia. Maka, ia tidak bekerja sendiri secara otomatis. la harus dilakoni. Tidaklah cukup jika kita mengaku sudah beragama, atau mencantumkan agama tertentu dalam kolom KTP kita&#8230;&#8230;.. “<strong>Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Pada dasarnya, “Kau” – “Aku” yang menghuni badan ini tak ternodakan. Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Begitu kau sadar, kau dapat mengoreksi dirimu. Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadaran-Nya, dalam kesadaran “Aku” yang sejati, dalam kesadaran Ia. Pada kondisi semacam itu dosa, kekhilafan tak akan terjadi&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Istri: </strong>Setelah kita menyadari kekuatan jiwa dan tidak ada yang mustahil bagi jiwa, sebaiknya kita mulai <strong>b</strong>elajar untuk memberi. Dalam buku”<strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;..<strong> </strong>Belajarlah untuk memberi. Memberi, tetapi tidak mengharapkan “ucapan terima kasih”. Memberi dan memberi dan memberi! Dengan memberi dan mengasihi, kualitas hidup Anda akan meningkat. Dan kualitas hidup itulah yang penting. Apa gunanya hidup sampai usia 70 atau 80 atau 90 tahun, apabila kehidupan Anda tidak berkualitas? Apabila waktu Anda hanya tersia-sia hanya untuk kejar-mengejar kekayaan, kedudukan dan ketenaran, ketahuilah bahwa kehidupan akan melewati Anda begitu saja. Demikian, sesungguhnya Anda tidak pernah hidup. Anda hanya melewati waktu, atau justru waktu melewati Anda&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku dan mari kita praktekkan apa yang kita ketahui dalam hidup sehari-hari. Dalam buku “<strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan</strong>” tersebut juga disampaikan bahwa&#8230;&#8230;<strong> </strong>Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang “nganggur”, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan “ton” pengetahuan. Apa gunanya? “Sekilo” yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus. Anda hanya membebani otak Anda&#8230;&#8230;&#8230; Semoga&#8230;&#8230;.</p>
<p>Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1153</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat – Surat Islam Dari Endeh 4</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1151</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1151#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 23:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Su Rahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010)
Endeh, 15 September 1935,
Assalamu’alaikum,
Paket Pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua menyampaikan banyak terimakasih atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : <strong>Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010</strong>)</p></blockquote>
<p>Endeh, 15 September 1935,</p>
<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Paket Pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua menyampaikan banyak terimakasih atas potongan 50% yang Tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka bermaksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, Insya Allah.</p>
<p>Saya sendiripun tak kurang-kurang berterimakasih, mendapatkan hadiah lagi beberapa brochures. Isinya brochure kongres Palestina itu, tak mampu menangkap “Center Need Of Islam”. Di Palestina orang tak lepas dari convensionalusm, tak cukup kemampuan buat mengadakan perubahan yang radikal di dalam aliran nyata membawa Islam kepada kemunduruan. Juga pimpinan kongres itu ada “rumit”, orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya tehnik kongres. Program kongres yang terang dan nyatapun tidak ada. Orang tidak zangkelijk, dan saya kira kongres itu, orang terlalu “menutup pantat satu sama lain” terlalu “caressing each other”, terlalu “mekaar lekker maken”. Memang begitulah gambarannya di dunia Islam sekarang ini : kurang ruh yang nyata, kurang tenaga yang wujud, terlalu membedaki satu sama lain”, terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada sedikit berkemajuan. Orang Islam biasanya sudah bangga kepada “Mesir” dan “Turki”! terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga ! ! !</p>
<p>Brosur yang lain-lain sedang saya baca, Inya Allah nanti saya akan ceritakan kepada Tuah saya punya pendapat tentang brosur-brosur itu. Terutama brosurnya Tuan A.D Hasnie saya perhatikan betul-betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brosur Hasnie sambil lalu, maka bisalah saya katakana bahwa “cara pemerintahan Islam” yang diterapkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang “up to date”. Begitulah hukum kenegaraan Islam ?, Tuah A. D. Hasnie menerangkan, bahwa dekorasi parlementer itu menyelamatkan dunia ?. Memang sudah satu anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara pemerintahan. Juga Moh. Ali di dalam ia punya tafsir Al – Quran yang terkenal, mengatakan bahwa itu idealnya Islam. Padahal ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi, yang juga bisa dikatakan cocok dengan azas-azas Islam!.</p>
<p>Kejadian di Bandung yang Tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, bagaimana belum tahu. Tuan telah punya anak telah dipanggil  lagi ketempat asalnya. Saya bisa menduga Tuan punya duka cinta, dan saya pun semakin insyaf, bahwa manusia punya gidup adalah sama sekali di dalam gemgaman illahi. Yah, kita harus tetap tawakal, dan haraplah Tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakal itu kepada saudara-saudara yang lain-lain, yang juga di timpa kesedihan.</p>
<p>Sampaikan salamku kepada semua.</p>
<p>SOEKARNO.</p>
<p>Endeh, 25 Oktober 1935</p>
<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Sedikit kabar yang perlu anda ketahui : hari Jumat, malam sabtu 11/12 Oktober yang  lalu, saya punya ibu mertua, yang ikut saya ke tanah Intermiran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang sangat berat bagi saya dan saya punya isteri, yang alhamdulliah, kami pikul dengan tenang, tawakal dan ikhlas kepada illahi. Berkat bantuan Tuhan. Inggit tidak meneteskan airmata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Juami, semoga Allah senantiasa menguatkan apa yang masih lembek pada kami bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amin!. Keakitan ibu mertua dan wafatnya , adalah menyebabkan saya belum bisa menulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakit ibu mertua hanya empat hari.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>SUKARNO</p>
<p>Bung Karno tengah membangunkan kita semua, membangunkan bangsanya. Satu hal yang Bung Karno yakini adalah jikalau Islam bangkit, maka bangkitlah negeri ini. Namun bukan Islam  secara lisan, bukan Islam phisik, bukan Islam riasa, Bukan Islam pulasan-pulasan melainkan ruhnya Islam. Apinya Islam. Jiwanya Islam. Oleh karenanya Bung Karno memberikan perbandingan kemajuan di Negara Islam dengan tuntutan jaman, karena pemahaman kita semua tentang Islam berhenti kepada Negara Islam, berdirinya Negara Islam dan berlakunya Syariat Islam. Islam lebih dari pada undang-undang Syariat, Islam adalah Nikmat bagi Alam Semesta, oleh karenya jikalau Api Islam bangkit, Jikalau Jiwa Islam bangkit maka berjayalah negeri ini. Berjayalah Prikemanuasia dan Prikeadilan.Meski sebuah Negara menggunakan undang-undang syariat jikalau nilai-nilai kemanuas dan cinta kasih tidak tumbuh dan berkembang, maka negeri itu belumlah bangkit jiwa Islamnya.</p>
<p>Di samping itu Bung Karno juga menerangkan bahwa apa yang terjadi kepada kehidupan kita, hendaknya dapat terus memicu terjadinya pengembangan diri (evolusi diri) , Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja. Dan itulah inti dari surat bung Karno ini, bahwa semua tidak mungkin berhenti, semua sedang bergerak, dan pemahaman kitapun harus terus bergerak, harus terus hidup. Dan itu adalah kehendak Illahi, kehendal Allah Tuhan yang maha esa adanya.</p>
<p>Bersambung . . . . . . . . . .</p>
<p>==</p>
<p>Di Publikasikan di :</p>
<ul>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.surahman.com/" target="_blank">http://www.surahman.com/</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.oneearthmedia.net/ind" target="_blank">http://www.oneearthmedia.net/ind</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/su.rahman.full" target="_blank">http://www.facebook.com/su.rahman.full</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.kompasiana.com/surahman" target="_blank">http://www.kompasiana.com/surahman</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1151</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Kesepuluh Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1149</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1149#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 03:57:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[vivekananda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1149</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami istri kembali membicarakan tentang Renungan Kesepuluh dari Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Buku-buku Bapak Anand Krishna tetap menjadi referensi mereka. Karena pandangan-pandangan Bapak Anand Krishna telah mengubah diri mereka dari dalam, sehingga hidup mereka menjadi lebih bermakna. Dan mereka yakin bahwa pandangan para Master itu universal adanya.
Sang Istri: Renungan Kesepuluh&#8230;&#8230;.. Menjadi Diri Sendiri: Keyakinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami istri kembali membicarakan tentang Renungan Kesepuluh dari Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Buku-buku Bapak Anand Krishna tetap menjadi referensi mereka. Karena pandangan-pandangan Bapak Anand Krishna telah mengubah diri mereka dari dalam, sehingga hidup mereka menjadi lebih bermakna. Dan mereka yakin bahwa pandangan para Master itu universal adanya.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Renungan Kesepuluh&#8230;&#8230;.. <em>Menjadi Diri Sendiri: Keyakinan terbesar adalah menjadi benar sesuai sifat alami diri. Miliki keyakinan dalam diri!</em></p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Swami Vivekananda memberi nasehat tentang pentingnya kekuatan diri sendiri, bukan menyandarkan diri pada kekuatan di luar&#8230;&#8230;&#8230; Power adalah kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri. Sifatnya alami. Force adalah kekuatan yang berasal dari luar diri, dibuat-buat, tidak alami, termasuk bila kita percaya pada dukungan dari pihak lain, baik  institusi maupun perorangan&#8230;&#8230;. Buku “<strong>Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern</strong>” menyampaikan bahwa kita mempunyai potensi diri yang masih harus dikembangkan&#8230;&#8230;&#8230; Hidup kita terasa hampa, kosong, karena memang tidak ada isinya. Kita tidak pemah mengisinya dengan sesuatu yang indah. Hidup kita tidak memiliki kedalaman. Kalaupun memiliki kedalaman, maka masih kosong. Kehampaan itu, kekosongan itu yang membuat kita gelisah. Kemudian, kita berupaya untuk mengisinya dengan kekayaan, kedudukan dan ketenaran. Semuanya sia-sia, karena kekayaan, kedudukan dan ketenaran akan menguap dalam sekejap. Sesaat kemudian, kita menjadi hampa kembali, kosong lagi. Lalu gelisah lagi! Kita tidak bisa mengisi diri kita dengan bayang-bayang. Kita harus mengisinya dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna. Dan yang lebih berarti, yang lebih bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri kita. Sudah ada dalam bentuk &#8220;potensi&#8221; – potensi diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Kembangkan potensi diri, jadilah diri sendiri. Lalu, apabila I Ching menganjurkan agar kita meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah &#8220;tirulah semangat mereka&#8221;. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti kita menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang kita lakukan, kita akan selalu jaya, selalu berhasil!&#8230;&#8230;..<span id="more-1149"></span></p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Dalam buku “<strong>Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran</strong>” disampaikan tahapan spiritual yang dimulai dengan menjadi diri sendiri&#8230;&#8230;..  Jujur dulu, <em>be yourself</em>. Jangan meniru orang. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis – semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada. Karena itu, setelah berhasil mengusir &#8220;kemunafikan&#8221; dari dalam diri, jangan terlena. Jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir &#8220;arogansi&#8221;, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan. Terakhir, baru mengatasi “dualitas”&#8230;&#8230;.. Belum mengusir kemunafikan, belum pula mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku, bahkan menjadi diri sendiri itu adalah sisi lain dari moksha, kebebasan. Dalam buku “<strong>Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Jangan menganggap dirimu rendah, jangan menganggap dirimu tinggi<em>. Just be yourself</em>. Jadilah dirimu. Itu saja. Tidak perlu meniru orang. Dan “menjadi diri sendiri” itulah moksha—kebebasan! Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya. Kesadaran diri merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Shri Shankara sedang berupaya untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya kita bukan budak. Sesungguhnya tidak ada rantai yang membelenggu kita. Bahwasanya kita sedang mengada-ada. Sadarlah!&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang istri:</strong> Mengenal diri sendiri berarti mengenal Allah. la tidak berada di suatu tempat di atas, yang selama ini kita namakan sorga. Menyatakan bahwa Allah berada di sorga, dan tidak di neraka, hanya membuktikan betapa sempitnya Kekuasaan Allah. la berada di mana? Sorga dan neraka bukanlah nama suatu tempat. Kehidupan ini bisa menjadi sorga dan bisa juga menjadi neraka bagi kita. Hidup dalam kasih-Nya, hidup dengan kesadaran, itulah sorga. Itu yang membuat hidup Anda bahagia. Hidup dalam kebencian, hidup tanpa kesadaran, itulah neraka. Itu yang membuat hidup Anda sengsara&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku ”<strong>Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern</strong>”. Suamiku, bila Allah berada di Timur di Barat dan di mana-mana, semestinya berada dalam diri kita juga. Dalam buku “<strong>Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Yesus adalah cerminan diri kita. Ia sedang mengajak kita untuk  “menjadi” Dia; menjadi diri sendiri. Kita tidak mengindahkan ajakan itu, karena memang lebih gampang memuja-Nya; lebih gampang “menyatakan diri” sebagai pengikutnya daripada “menjadi Dia”. Menjadi “Dia” adalah pekerjaan yang sangat berat; kita belum siap untuk itu. Menyatakan diri sebagai umat Kristiani adalah pekerjaan yang mudah. Menjadi Kristus dan memikul sendiri kayu salib adalah pekerjaan berat&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku&#8230;&#8230;.  Penerapan syariat haruslah dimulai dari &#8220;diri sendiri&#8221;. Agama haruslah terlebih dahulu diterjemahkan dalam keseharian kita sendiri. Sudahkah kita berdamai dengan diri sendiri? Sudahkah kita menerapkan kasih dalam keseharian kita? &#8220;Berdamai&#8221; berarti kau menerima kesenangan dan ketaksenangan mereka dengan rasa kasih yang sama. Kau tidak lebih mengasihi mereka yang menyenangimu dibandingkan dengan mereka yang tidak menyenangimu. Semangat inilah yang harus mewarnai syariat. Ketika bicara tentang Mohabbat atau Kasih Sejati, Cinta Ilahi, sebagai &#8220;hasil akhir syariat&#8221;, janganlah kau mengartikan bahwa penerapan syariat harus menunggu sampai berkembangnya Kasih di dalam dirimu. Penerapan syariat dengan penuh kesadaran, bukan karena paksaan, itu pun pada diri sendiri, kelak akan berkembang menjadi Mohabbat, Kasih. Kemudian, kehadiranmu, keberadaanmu akan menyebarkan syariat, Syariat Mohabbat&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog</strong>”&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Dalam buku “<strong>Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran</strong>” disampaikan  bahwa Kesadaran Murni dapat dicapai dengan mengenali jatidiri&#8230;&#8230;&#8230; Aku meyakini bahwa meskipun sudah sadar, jika dipengaruhi oleh <em>mind</em>, kesadaran manusia bisa merosot lagi. Kemudian, ia mengalami perubahan-perubahan, penderitaan dan kelahiran serta kematian yang  tidak berkesudahan&#8230;&#8230;&#8230;. Menemukan jatidiri sama dengan menemukan Tuhan. Aku meyakini bahwa Sumber Abadi/Puncak Kenyataan atau Kesadaran Murni dapat dicapai dengan menyadari atau mengenali jatidiri&#8230;&#8230;&#8230;. Sekarang aku baru tahu, baru yakin bahwa Kesadaran diri harus diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Aku meyakini bahwa kesadaran diri mengantar kita pada tindakan tanpa perbuatan dan akhirnya pada pencerahan&#8230;&#8230;&#8230;. Sekarang aku baru tahu, yakin bahwa di atas segalanya, seseorang harus mandiri. Aku meyakini kemandirian diri dan harus bertanggungjawab pada suara hati nuraninya sendiri yang merupakan manifestasi dari kesadaran-Nya – dari Kesadaran Murni!&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> <em>Keyakinan terbesar adalah menjadi benar sesuai sifat alami diri.</em>&#8230; Swami Vivekananda agar kita sesuai dengan sifat dasar, sifat alami kita. Dalam buku “<strong>Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya</strong>” disampaikan bahwa&#8230;.. Ketahuilah sifat dasarmu. Seperti apakah jiwamu? Jiwa seorang seniman atau seorang saintis? Seorang seniman yang berprofesi sebagai peneliti, dokter, politisi atau prajurit, akan menderita seumur hidup, karena semua pekerjaan itu membutuhkan otak, bukan hati. Ketahuilah sifat dasarmu. Jika kita memiliki jiwa seorang saintis, dan berprofesi sebagai musisi atau penari, kita pun pasti gagal dan menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri. Setelah mengetahui sifat dasar, pelajarilah kemampuan diri. Jangan melakukan sesuatu di luar batas kemampuan, kecuali kita ingin meningkatkan kemampuan diri. Dan keinginan itu disertai dengan upaya nyata, dengan kerja keras untuk mencapainya. Dua check points utama adalah : Pertama: Ketahuilah sifat dasarmu. Kedua: Kenalilah kemampuan dirimu&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> &#8230;&#8230;.Mulai saat ini, cintailah diri Anda sendiri. Cintailah hidup ini. Jadikan kehidupan ini menjadi sesuatu yang dinamis. Beralirlah seperti sungai. Jangan berhenti dalam perjalanan Anda menuju Lautan Illahi. Belajarlah berkata, &#8220;Aku mencintai diriku&#8221;. Anda selama ini sibuk mempelajari orang lain, mencintai orang lain, memperhatikan orang lain &#8211; sehingga lupa mempelajari diri sendiri, mencintai diri sendiri, memperhatikan diri sendiri. Jangan sibuk membuka selubung orang lain, bukalah selubung Anda sendiri&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku ”<strong>Kehidupan. Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri</strong>”.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku, dalam buku “<strong>Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Temukan Dirimu dengan upaya sungguh-sungguh. Inilah jihad sesungguhnya. Jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena jihad yang ini mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada hal-hal luaran; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar; kebahagiaan yang kekal, abadi, sekekal diri kita, seabadi jiwa kita. Kebahagiaan itulah jadi diri kita. Itulah sifat dasar kita. Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati diri-”mu” atau jdi diri-“ku” tetapi hanya jati diri. Titik. Jati diri adalah esensi kehidupan, inti sari kehidupan; titik awal dan titik akhir kehidupan&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Latihan-latihan meditasi hanya dapat mengantar Anda sampai pada tahap “kenal cinta”, kenal “diri sendiri”, kenal Allah. Selanjutnya Anda harus berjalan sendiri. Selanjutnya, Anda harus kerja sendiri. Berserah diri sepenuhnya, penggallah “kepala” ego Anda, dan cinta dalam diri Anda akan semakin matang, semakin dewasa, semakin mendekati “tahap kasih”, di mana Anda merasakan kesatuan, persatuan dengan semesta&#8230;&#8230;. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi</strong>”.</p>
<p><strong>Sang Suami: </strong>Bagaimana pun dalam buku “<strong>Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri</strong> “ disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Dunia kita terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok yang malas dan mengharapkan perubahan dan kelompok yang rajin dan mengakibatkan terjadinya perubahan. Celakanya, kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tak pernah surut. Banyaknya jumlah pemalas itu telah mempengaruhi seluruh budaya kita. Lebih banyak di antara kita yang “berharap” daripada yang bekerja untuk mewujudkan harapan itu. Mereka belum paham bahwa pembaharuan itu mesti terjadi dari diri sendiri&#8230;&#8230;.. Semoga kita semua melakukan pembaharuan diri sendiri&#8230;&#8230;</p>
<p>Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1149</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Islam Dari Endeh 3</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1143</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1143#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 10:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Su Rahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rakyat Bersuara]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010)
Endeh, 17 Juli 1935
Assalamu’alaikum,
Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudah kah saudara terima saya punya surat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : <strong>Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010</strong>)</p>
<p>Endeh, 17 Juli 1935</p>
<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudah kah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu ?.</p>
<p>Kabar Endeh: sehat wal’afiat, Alhamdullilah. Saya masih terus studi Islam, tetapi saya kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari , sudah cabut-cabut rumput di kebun dan di samping “mengobrol” dengan anak bini buat menggembirakan mereka, sisa waktu saya pakai untuk membaca saja. Berganti-ganti membaca buku-buku Ilmu Pengetahuan Sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangan kaum Ilmu Pengetahuan yang bukan Islam.</p>
<p>DI Endeh sendiri tak seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot bin kolot. Semuanya hanya nertaqkid saja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu dua pengetahuan sedikit, di Endeh ada seorang “sajid” yang sedikit terpelajar, tetapi tidak dapat memuskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab Fiqih”: mati hidup dengan kitab fiqih itu, dus-kolot, dependent, unfree, taglid, Quran Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqih itulah yang seakan-akan menjadi algojo “Ruh” dan  “Semangat” Islam. Bisa sebagai misal, satu masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada “Wetboek van starafrecht” dan “Burgerlijk Wetboek”, kepada artikel ini dan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segera menjadi masyarakat “mati”, masyrakat “bangkai”, masyarakat ialah justerui ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada ruh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sekali tenggelam di dalam “kitan-fiqih” itu tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup.</p>
<p>Nah, negitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada saja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit- autoriteit ke Islaman itu pun, masih ada yang mengandung beberapa hal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan bertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu gampang melebarkan saya punya sayap. . . . .</p>
<p>Alhamdulliah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka mulai sehaluan dengan kita dan tidak mau mengambing saja lagi kepada kekolotanlagi kepada kekolotannya, ketahayulannya, kemusyrikannya  dan mulai terbuka hatinya buat agama yang “hidup”.</p>
<p>Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaise, mereka minta kepda saya mendatangkan buku-buku itu dengan separuh harga. Sekarang saya minta keridhaan Tuan mengirimkan buku-buku yang saya sebutkan diabwah ini dengan separuh harga…. Haraplah Tuan ingatkan, bahwa yang mau baca buku-buku ini adalah korban-korban malaisme, dan bahwa mereka pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolotan dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyrakat mesum sebagai sekarang !.</p>
<p>Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa saja yang bisa menambah pengetahuan saya, terserah kepada saudara buku apa.</p>
<p>Terimakasih lebih dahulu, dari saya dan kawan-kawan di Edeh.</p>
<p>Sampaikan salam saya kepada saudara-saudara yang lain.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>SUKARNO.</p>
<p>Ah, kekolotan.  Bung Karnopernah cerita sewaktu di Edeh ketika sedang diskusi mengenai Islam dan Ilmu pengetahuan social lainnya, temperature sempat naik menjadi 180 derajat, hal ini di karena kekolotan, dan apa yang di lakukan oleh Bung Karno hanya tertawa dan berlalu.</p>
<p>Kita tidak dapat berdikusi dengan merek ayang kolot, yang bisa di lakukan hanyalah berlalu. Mungkin di dalam berlalunya itu kita akan di cemooh dan dikatai sebagai pengecut, namun cemoohan itu tidak membuat diri kita menjadi pengecut. Karena betapa rendahnya diri kita jika keperkasaan atau kejantanan di nilai dari sebuah ajang perdebatan.</p>
<p>Dan kekolotan itu berasal dari kurangnya pengetahuan, kurangnya pengalaman, Bukan berena bodoh, meski orang yang kolot sering kali berlaku bodoh.  Mungkin bisa jadi orang yang klolot memiliki segudang pengetahuan, tetapi tidak pernah di praktekan, mirip burung beo. Bisa dan pintar bekata-kata tetapi tida mengerti apa yang diucapkannya, tiada pernah menyelami, tiada pernah mengalami, semua berdasarkan katanya.</p>
<p>So saatnya membuka diri , dan biarkan hawa segar ilmu pengatuah dari segala penjuru arah menyegarkan diri kita, boleh jadi kita tidak setuju dengan kelembabannya, namun jangan ditolak, biarkan saja, karena bisa jadi esok anda dapat memahami kelembabannya tersebut. Kelembabam itu tidak akan pernah dapat menyesatkan kita, karena apa karena saat ini di dunia ini kita semua sedang tersesat. Oleh karena di dalam doa kita berucap kepada Allah, “Ya Allah Ya Rabb Tunjukilah aku jalan yang lurus dan benar”, andai kita sudah tahu mana jalan lurus dan benar itu kita tidak akan berdoa seperti itu dan kita juga sudah tidak berada di sini. Sahabat saya, sekaligus guru, Pak Triwidodo pernah menulis di dalam artikelnya <strong>Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</strong>,: <strong> “Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati&#8230;&#8230;&#8230;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hanya niat sahabat, hanya niat dan itu sudah cukup.</p>
<p>[Baca Notenya <a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=422852927595&amp;id=1587940362&amp;ref=mf" target="_blank">http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=422852927595&amp;id=1587940362&amp;ref=mf</a>]</p>
<p>Bersambung . . . . . . . . . .</p>
<p>==</p>
<p>Di Publikasikan di :</p>
<ul>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.surahman.com/" target="_blank">http://www.surahman.com/</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.oneearthmedia.net/ind" target="_blank">http://www.oneearthmedia.net/ind</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/su.rahman.full" target="_blank">http://www.facebook.com/su.rahman.full</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.kompasiana.com/surahman" target="_blank">http://www.kompasiana.com/surahman</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1143</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1141</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1141#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 06:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[vivekananda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1141</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Renungan Kesembilan dari Lima Belas Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensinya.
Sang Istri: Renungan Kesembilan&#8230;&#8230;. Dengarkan suara jiwa kita: kita harus berkembang dari dalam diri. Tidak ada yang bisa mengajar, tidak ada yang membuat kita spiritual. Tidak ada pengajar kecuali jiwa kita sendiri.
Sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Renungan Kesembilan dari Lima Belas Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensinya.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Renungan Kesembilan&#8230;&#8230;. <em>Dengarkan suara jiwa kita: kita harus berkembang dari dalam diri. Tidak ada yang bisa mengajar, tidak ada yang membuat kita spiritual. Tidak ada pengajar kecuali jiwa kita sendir</em>i.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Kata lain dari suara jiwa adalah suara hati nurani. Dalam buku “<strong>Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230; Suara lembut hati nurani anda, adalah suara &#8220;wong cilik&#8221; dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras <em>mind</em> yang selalu membingungkan. <em>Mind</em> tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran &#8211; Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan &#8220;hakikat diri&#8221;, dengan &#8220;jati diri&#8221;. Dan penemuan &#8220;jati diri&#8221; tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut &#8220;penemuan&#8221;. Anda tidak pernah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda. Dan anda akan selalu berjaya, berhasil!&#8230;&#8230;.<span id="more-1141"></span></p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara hati nurani. Dalam buku “<strong>Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Lao Tze mengatakan bahwa suara hati nurani kita berasal dari sumber sama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu dalam alam ini. Kebijaksanaan yang tidak dapat ditandingi, itulah suara nurani kita. Tetapi, suara hati nurani ini tidak akan terdengar oleh para cendekiawan. Mereka yang membanggakan dirinya sebagai cendekiawan akan menjadi tajam, menjadi teknokrat, birokrat. Mereka bisa menjadi apa saja. Mereka dapat menduduki jabatan-jabatan tinggi. Tetapi mereka kehilangan kontak dengan sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan materi, suara hati mereka, kesadaran mereka. Sebaliknya, mereka yang sadar begitu percaya pada diri sendiri, sehingga tidak akan terikat pada identitas-identitas diri yang palsu. Mereka tidak akan menyombongkan diri mereka sebagai cendekiawan. Mereka akan semakin rendah hati. Pandangan mereka semakin lembut, tidak terfokuskan pada sesuatu. Mereka melihat dunia ini seutuhnya. Untuk meraih sesuatu, mereka tidak akan besikeras sedemikian rupa sampai-sampai tindakannya merugikan orang lain.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Lao Tze akan sangat membingungkan mereka yang hanya bekerja dengan fakta. Lao Tze melihat di balik fakta. Selama ini anda diharapkan menjadi tajam, pintar, cerdik. Lao Tze melihat bahwa kecerdikan kita selalu melahirkan konflik dan pertikaian. Ketajaman kita selalu menyakiti orang lain. Jadilah seperti pisau yang tumpul, maka Anda tidak akan menyakiti siapa pun. Semakin cerdik Anda, semakin jauh Anda dari suara hati nurani. Kecerdikan apa yang dimiliki oleh Muhammad? Pendidikan apa yang pernah diraihNya? Dalam kesederhanaan itulah, wahyu dapat diturunkan&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Iya suamiku, Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara jiwa bukan suara pikiran. Pikiran adalah kumpulan informasi, informasi dari luar diperoleh lewat panca indera. Informasi tersebut kontak dengan tubuh maka muncullah emosi. Oleh karena itu pikiran hanya menerima hal yang menyenangkan dirinya, menjauhi hal yang tidak menyenangkan dirinya dan acuh terhadap hal yang tidak berkaitan dengan dirinya. Karena dia selektif kadang kita mengabaikan hal yang penting bagi perkembangan jiwa kita. Dalam buku “<strong>Ishq Ibadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230; Hasil ketajaman atau kecerdasannya yang membuat dia makin kritis. Karena menganggap kurang logis dan tidak masuk akal, otak kita bisa menolak apa saja, termasuk apa yang sesungguhnya amat sangat penting bagi perkembangan jiwa kita, bagi evolusi batin kita&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Mendengarkan suara jiwa juga berarti membuka jiwa kita, bukan membuka otak&#8230;&#8230;. Dalam buku “<strong>Ishq Ibadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah</strong>” juga disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Membuka diri tidak berarti membuka otak. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaan. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Membuka diri berarti membuka jiwa kita. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Tidak perlu membuka satu persatu. Kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati&#8230;&#8230;&#8230; Dengan hanya mengulangi niat untuk membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran saja, sesungguhnya kita sudah melangkah ke dalam keterbukaan diri! Setiap kali melihat sesuatu yang baru, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Bukalah dirimu, jiwamu, batinmu, ucapkan niatmu,maka jiwamu akan terbuka semakin lebar&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Bukalah hatiku sehingga terdengar suara-Mu yang berasal dari dalam diriku juga. Selama ini yang terbuka hanyalah pikiran kita. Itu pun baru terbuka sedikit saja&#8230;&#8230;&#8230; Kemudian, undang-undang, kitab suci semua akan kita gunakan demi kepentingan diri, demi keuntungan pribadi. Padahal yang dibutuhkan adalah keterbukaan hati. Undang-undang  bukan tak bisa salah. Penafsiran serta pemahaman kita bisa keliru, tetapi hati nurani tidak pernah salah. Suara hati tidak pernah keliru&#8230;&#8230;. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi</strong>”&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara hati, bukan suara pikiran dan perasaan. Dalam buku “<strong>Fear Management, Mengelola Ketakutan Memacu Evolusi Diri</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Kita perlu waspada, jangan-jangan apa yang kita anggap “suara hati” selama ini sesungguhnya bukanlah suara hati. Itu baru tuntutan pikiran dan perasaan. Mereka bergabung untuk menciptakan kebisingan  di dalam diri. Kemudian, kebisingan di dalam diri itu  membuat kita menjadi “berisik”. Dan, selama kita masih berisik, suara hati tidak terdengar. Karena itu, tenang dulu&#8230; dalam keadaan tenang itulah, suara hati baru terdengar. Bagaimana menenangkan diri, supaya suara hati terdengar jelas? Pertanyaan ini selalu muncul karena ketololan kita dalam memahami “mekanisme” badan. Kita bisa mulai dengan memperhatikan badan. Perhatikan napas, detak jantung, denyutan otak kita. Dalam keadaan tenang, napas kita teratur; detak jantung harmonis, berirama; dan denyutan otak menjadi sangat pelan. Sebaliknya, dalam keadaan tidak tenang, napas kita tidak teratur. Detak jantung tidak harmonis. Iramanya kacau. Denyutan otak menjadi liar. Untuk menenangkan diri, aturlah napas. Tarik  napas dan buang napas 10 menit saja, maka kita menjadi tenang&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri: </strong>Yang berjiwa scientist akan mengejar pembuktian. Ia bisa menjadi seorang ilmuwan, seorang cendekiawan. Ia akan menghafal teks-teks agama. Ia bisa berceramah. Ia bisa memikat masa dengan dalil-dalilnya. Bahkan bisa menjadi seorang pakar agama. Ia masih belum spiritual. Jiwa dia masih seorang saintis. Ia adalah manusia berotak “pincang”, karena yang berkembang hanyalah otak kirinya. Otak kanan yang berhubungan dengan keindahan, dengan rasa, dengan seni, belum berkembang. Kelompok yang berjiwa spiritual telah mengalami perkembangan otak kiri dan sekarang tengah mengalami perkembangan otak sebelah kanan. Ialah seorang “Insan Kamil”—manusia sempurna. Yang masih mengejar mukjizat, yang masih mencaripembuktian, yang masih mengharapkan “yang aneh-aneh” adalah orang-orang yang berjiwa pincang. Ia butuh waktu, dan  butuh waktu cukup lama untuk melampaui otak kiri dan mengembangkan otak kanannya&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha</strong>”.<strong></strong></p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Kebenaran dihasilkan oleh intuisi, dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. Saat dalam kebingungan, duduklah diam bersama diri Anda. Rileks, berhenti sejenak, tenang dan Anda akan mulai mendengar suara halus intuisi Anda, intuisi yang sinonim dengan Kebenaran. Hanya apabila Anda berada dalam keadaan hening, intuisi mulai berfungsi. Tak peduli betapa populernya suatu kepercayaan, apabila suara halus intuisi Anda tidak mendukungnya, itu bukan diperuntukkan bagi Anda. Ikuti intuisi Anda sendiri. Sebutlah itu nurani Anda, atau mungkin intuisi Anda-apa pun yang Anda suka, itu adalah rahim yang mengandung Kebenaran. Inilah definisi saya tentang Kebenaran dan saya percaya bahwa Kebenaran ini sendiri saja yang dapat membuat Anda jaya, menang&#8230;&#8230; Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri</strong>”&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Suara hati nurani akan membawa kita kepada penemuan jatidiri. Dalam buku “<strong>Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;&#8230; Cinta berasal dari hati nurani. Dan cinta tidak pernah takut. Demi cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Bisa membunuh dan bisa terbunuh. Seorang penguasa bisa meninggalkan kekuasaannya. Seorang raja bisa melepaskan kerajaannya. Itu baru cinta. Apalagi Kasih! Kasih yang berasal dari lapisan nurani yang terdalam, terbawah, lebih berani lagi. Jika Anda sudah mulai kontak dengan suara hati nurani bila Anda mulai mendengarkan suara hati nurani, penemuan jati diri tinggal tunggu hari saja. Bisikannya saja sudah cukup untuk membebaskan Anda dari rasa takut. Sebaliknya, tidak adanya kontak dengan hati nurani membuat Anda tidak mengenali diri sendiri&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Istriku aku ingat pada petikan dari buku “<strong>Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern</strong>”&#8230;&#8230;.  Dengarkan sekali lagi hadits yang indah ini “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang lemah lembut dan tenang yang dapat memuat-Ku”. Keyakinan, kelembutan dan ketenangan, tiga hal ini yang anda butuhkan. Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam kalbu anda, dalam hati anda, itu saja yang anda butuhkan. Selama anda masih mencari-Nya di luar, sesungguhnya anda belum berkeyakinan, anda belum cukup lemah lembut dan jelas belum tenang&#8230;&#8230;.. Semoga kita semua menjadi hamba yang beriman yang lemah lembut dan tenang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>September, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1141</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Islam Dari Endeh 2</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1139</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1139#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 20:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Su Rahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[spritual]]></category>
		<category><![CDATA[sukarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1139</guid>
		<description><![CDATA[(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010)
Endeh, 26 Maret 1935
Assalamu’alaikum W.w.,
Tuan punya kiriman pos paket telah tiba ditangan saya, seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : <strong>Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010</strong>)</p>
<p>Endeh, 26 Maret 1935</p>
<p>Assalamu’alaikum W.w.,</p>
<p>Tuan punya kiriman pos paket telah tiba ditangan saya, seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada Tuhan terima kasih kami laki-isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi “ganyeman” seisi rumah; di Edeh ada juga jambu mede, tapi varieteit “liar” , rasanya tak nyaman. Maklum , beluma da orang yang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu , maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!.</p>
<p>Buku yang tuan kiriman itu segera saya baca. Terutama “Soal-Diajwab” adalah suatu kumpulan jawahir-jawahir. Banyak yang semula kurang terang, kini lebih terang. Alhamdullilah!.</p>
<p>Saya  belum ada Bukhari dan Muslim yang bisa dibaca. Betulkah belum ada Bukhari Inggris? Saya pentingkan sekali mempelajari hadis, oleh karena saya tuliskan sedikit di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang di “jalankan” hadis yang dhaif dan yang palsu. Karena hadis-hadis yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi di liputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketahayulan bid’ah, anti rasionalisme, dll. Padahal tak  ada agama yang lebih rasional dan simplistic daripada Islam. Saya ada sangkakan keras bahwa rantai taqlid yang merantai ruh dan semanagat Islam dan yang merantaikan pintu-pintu Bab el Ijthiad, antara lain, ialah hasilnya hadis-hadis yang dhaif dan palsu itu. Kekolotan dan kekonsevatifan-pun dari situ datangnya. Karena itu adalah saya punya keyakinan yang dalam, bahwa kita tak boleh menghasilkan harga yang mutlak kepada hadist. Walaupun menurut penyelia diakatakan SHAHIEH. Human reports (berita yang datang dari manusia) tak absolute, absolute hanyalah kalam Ilahi. Benar atau tidaknya pendapat saya ini? Di dalam daftar buku, saya baca Tuan ada sedia “Jawahirul-Bukhari”. Kalau Tuah tiada keberatan , saya minta buku itu, niscaya di situ banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil.</p>
<p>Dan kalau Tuan tidak keberatan pula, saya minta “keterangan hadis mi’raj”. Sebab, saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri, dan dengan pendapat Essad Bey, yang di dalam salah satu bukunya ada mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi’raj itu dengan percaya saja, yakni dengan mengecualikan keterangan “akal”. Padahal keterangan yang rasional di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psikologi dan para psikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalitis itu. Kenapa suatu hal harus “dighaibkan” kalau akal bisa menerangkan ?.</p>
<p>Saya ada keinginan pesan dari Eropa, kalau Allah mengabulkannya dan saya punya mbakyu suka membantu uang harganya, bukunya Ameer Alie “The Spirit Of Islam”. Baiklah buku ini atau tidak? Dan dimana uitgevernya ?</p>
<p>Tuan, kebaikan budi Tuahn kepada saya, hanya sayalah yang merasai betul harganya, saya kembalikan lagi kepada Tuhan. Alhamdulilah, segala puji kepadaNya.</p>
<p>Dalam pada itu, kepada Tuan 1.000 kali terimakasih.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>SUKARNO</p>
<p>Satu yang saya kagumi dari bung Karno adalah semanagatnya untuk belajar, dalam kondisi di asingkan seperti itu, jika saya mungkin saya sudah memikirkan entah tentang apa, namun bung Karno masih memikirkan buku, dan terus ingin membaca buku karena bung Karno meyakini bahwa Bab El Ijtihad tidak boleh di tutup, tidak boleh ada sesuatu yang dibakukan karena pembakukan sesuatu akan bertentangan dengan hukum alam yang selalu bergerak, selalu hidup.</p>
<p>Buat bung Karno pemahaman adalah sesuatu yang hidup, agama adalah sesuatu yang dinamis yang harus terus diperbahartui pemahamannya dari waktu ke waktu, pemahaman kitalah yang pewrlu diperbaharui, bukan agamanya.</p>
<p>oleh karenanya yang dulu ghaib sekarang bisa jadi dengan kemajuan sience menjadi bukan ghaib lagi, semisal bagaimana air dapat mensucikan tubuh dan jiwa kita ketika seseorang berwudhu. Dari doa dan niat yang kita pancarkan melalui getar pikiran merubah Kristal-kristal air sehingga mempengaruhi tubuh dan jiwa, hal ini sudah dibuktikan oleh ilmuan dari Jepang. Semisal segela air yang di bacakan doa Kristal airnya akan berubah, dan ketika diminum dapat merubah Kristal air yang ada di dalam tubuh danpaknya adalah kesehatan. Banyak sekali yang dulunya ghaib namun sekarang sudah dapat dijelaskan oleh kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia.</p>
<p>Termasuk di singgung oleh bung Karno mengenai  Is’ra dan Mi’raj, bung Karno tidak mengatakan bahwa dia tidak mempercayai peristiwa itu, namun coba kita gali lagi, coba kita renungkan lagi, pasti ada makna yang tersembunyi di balik itu. Dan bung Karno mengajak kita untuk merenungkan hal itu, menggali akan hal itu.</p>
<p>Dan itulah yang membuat bung Karno menjadi besar dan tetap dikenang sepanjang masa, saatnya kita kembali membuka  Bab El Ijtihad, boleh jadi anda tidak setuju, itu urusan anda, namun juga jangan merecoki mereka-mereka yang tengah mencoba berijtihad untuk memperbaiki keimanan mereka, untuk memperbaiki khadari cinta mereka.  Hidupmu adalah hidupmu, itu urusanmu, dan hidupku adalah hidupku dan itu menjadi urusanku, menjadi tanggungawajabku terhadap Allah. Dan aku dengan sangat sadar, menyadari bahwa setiap perbuatanku akan aku pertanggungjawabkan dihapan Allah.  Dan aku tidak akan bersembunyi dibalik bujuk rayu setan atau kehilafan atau apapun jika aku salah, aku akan dengan jujur mengatakan bahwa aku salah, dan aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, oleh karenanya saat  ini aku membuka kembali Bab El Ijtihad agar aku dapat terus memperbaiki diriku.</p>
<p>So mari kita buka kembali Bab El Ijtihad yang sudah kita lupakan.</p>
<p>. . . . . . Bersambung</p>
<p>==</p>
<p>Di Publikasikan di :</p>
<ul>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.surahman.com/" target="_blank">http://www.surahman.com/</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.oneearthmedia.net/ind" target="_blank">http://www.oneearthmedia.net/ind</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/su.rahman.full" target="_blank">http://www.facebook.com/su.rahman.full</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.kompasiana.com/surahman" target="_blank">http://www.kompasiana.com/surahman</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1139</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Islam Dari Endeh 1</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1134</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1134#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 11:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Su Rahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rakyat Bersuara]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[suakrno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1134</guid>
		<description><![CDATA[Bung Karno sosok perkasa ini akan selalu dikenang sebagai  toko dunia yang lahir dari rahim Indonesia, rahim Nusantara. Pemikiran-pemikiran bung Karno ibarat mutiara yang senantiasa selalu bersinar, salah satunya adalah pemikiran bung Karno tentang Islam. Pemikiran yang sangat maju dijamannya, bahkan hingga saat ini sehingga tidak banyak yang dapat menerima, bahkan merasa terancam oleh pemikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Karno sosok perkasa ini akan selalu dikenang sebagai  toko dunia yang lahir dari rahim Indonesia, rahim Nusantara. Pemikiran-pemikiran bung Karno ibarat mutiara yang senantiasa selalu bersinar, salah satunya adalah pemikiran bung Karno tentang Islam. Pemikiran yang sangat maju dijamannya, bahkan hingga saat ini sehingga tidak banyak yang dapat menerima, bahkan merasa terancam oleh pemikiran bung Karno ini. Dengan pemikiran-pemiran tersebut bung Karno konon khabarnya diangkat menjadi Tokoh Pembaharu disandingkan dengan sederet nama tokoh islam, namun kemudian gelar itu dihapuskan oleh pemerintah Soeharto dikarenakan dianggap pemikiran bung Karno mengarah pada konsep-konsep sekuler.</p>
<p>Dalam kurun waktu 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 tercatat surat menyurat bung Karno yang berisikan pemikiran beliau tentang Islam, Salah Satu Jargonya yang cukup menyengat dan pedas adalah <strong>“Islam Sontoloyo”.</strong></p>
<p>Saya mencoba menghadirkan surat-menyurat bung Karno dari Endeh  secara bersambung, semoga  dapat kita renungakan bersama, isi dari surat menyurat itu tidak saya edit saya tampilkan apa adanya, saya hanya memberikan sedikit ulasan pada bagian awal dan bagian akhir. Semoga surat menyurat ini dapat mencerdaskan kita semua dan dapat menghidupkan api Islam di negeri tercinta ini, bung Karno telah melihat bahwasanya kebangkitan Islam di negeri ini adalah kebangkitan negeri ini, oleh karenanya mari kita selami pemikiran beliau untuk kemajuan bangsa Indonesia.</p>
<p>(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : <strong>Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam  –  Ir Soekarno  -  Sega Arsy  2010</strong>)</p>
<p><strong>Endeh, 1 Desember 1934</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini : Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al Muctar, Debat Talqien. Al Burhan Complete, Al Jawahir.</p>
<p>Kemudian, jika saudara-saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid”. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengamatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!.</p>
<p>Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>SUKARNO</p>
<p>==</p>
<p><strong>Endeh, 25 Januari 1935</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum,</p>
<p>Kiriman buku-buku gratis berserta karto pos, telah saya terima dengan girang hati dan terimakasih yang tiada hingga. Saya menjadi termenung sebentar, karena tak selayaknya di limpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Murah!.</p>
<p>Pada ini hari semua buku dari saudara yang ada pada satya, sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca “Bukhari” dan “Muslim” yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris saya perlu kepada Mukhari dan Muslim itu, karena di situlah di himpun hadis-hadis yang sahih. Padahal saya membaca keterangan dan salah seorang pengenal Islam bangsa Inggris, bahwa di hadis-hadis Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia menerangkan bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islamm, kemesuman Islam, ketahayulan orang Islam, banyaklah karena hadis lemah itu, yang sering lebih “laku” dari ayat-ayat Al Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar. Berapa besarkah bencana yang telah datang pada umat Islam dari misalnya “hadis” yang mengatakan bahwa “dunia”  bagai senai akherat bagi orang “muslim”, atau “hadis” bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik dari pada beribadah satu tahun, atau “hadis” , bahwa orang-orang Mukmim harus lembek dan menurut seperti  unta yang telah di tusuk hidungnya!.</p>
<p>Dan adakah persatuan Islam sedia sambunganya Al Burhan I – II ? pengetahuan saya tentang “Wet” mendesak kepada “Dien”</p>
<p>Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Anatara lain ia punya Inleiding di dalam “Komt tot bet gebed” adalah menarik hati.</p>
<p>Wassalam dan Silaturrahmi.</p>
<p>SOEKARNO</p>
<p>. . . . . . Bersambung</p>
<p>==</p>
<p>Di Publikasikan di :</p>
<ul>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.surahman.com/" target="_blank">http://www.surahman.com/</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.oneearthmedia.net/ind" target="_blank">http://www.oneearthmedia.net/ind</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/su.rahman.full" target="_blank">http://www.facebook.com/su.rahman.full</a></li>
<li><a rel="nofollow" href="http://www.kompasiana.com/surahman" target="_blank">http://www.kompasiana.com/surahman</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1134</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Kedelapan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1132</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1132#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 22:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[vivekananda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami istri setengah baya kembali melanjutkan pembicaraan tentang Renungan Kedelapan dari Lima Belas Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan regerensi buku-buku Bapak Anand Krishna. Mereka yakin Kebenaran itu universal adanya dan bisa dipahami dan dicapai dengan memakai keyakinan apa saja.
Sang Istri: Renungan kedelapan&#8230;&#8230;..Tegakkan cita-cita: tugas kita adalah memberi semangat kepada setiap orang yang berjuang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami istri setengah baya kembali melanjutkan pembicaraan tentang Renungan Kedelapan dari Lima Belas Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan regerensi buku-buku Bapak Anand Krishna. Mereka yakin Kebenaran itu universal adanya dan bisa dipahami dan dicapai dengan memakai keyakinan apa saja.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Renungan kedelapan&#8230;&#8230;..<em>Tegakkan cita-cita: tugas kita adalah memberi semangat kepada setiap orang yang berjuang mencapai cita-cita tertingginya, dan yang juga berupaya agar cita-citanya mendekati dengan K</em><em>ebenaran</em>.</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Para Master bermaksud menumbuhkan dorongan dari dalam diri kita&#8230;&#8230;. <em>Urge</em> adalah keinginan yang sangat kuat, keinginan yang menjadi dorongan dari dalam diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu sehingga kita tidak membutuhkan lagi dorongan dari pihak lain di luar diri. Kembangkan dorongan kuat di dalam diri&#8230;&#8230;.. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo</strong>”. Dorongan dari dalam diri berbeda dengan motivasi dari luar yang biasanya dikaitkan dengan kenikmatan indra sebagai tujuan&#8230;&#8230;.. Ada yang mengaitkan “kenikmatan indra” dengan hidup, dan “hawa napsu” dengan kehidupan itu sendiri. Mereka membutuhkan “motivasi” untuk bekerja. Mereka membutuhkan “dorongan” untuk hidup. Motivasi atau dorongan yang mereka butuhkan itu hanya kata lain bagi kenikmatan indera dan hawa napsu. Motivasi dan dorongan yang mereka butuhkan ujung-ujungnya berupa “kenikmatan sesaat” kenyamanan yang dapat terganggu kapan saja&#8230;&#8230;..  Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Bodhidharma Kata Awal Adalah Kata Akhir</strong>”.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> <em>T</em><em>ugas kita adalah memberi semangat kepada setiap orang yang berjuang mencapai cita-cita tertingginya, dan yang juga berupaya agar cita-citanya mendekati dengan K</em><em>ebenaran</em>. Swami Vivekananda menyampaikan nasehat agar cita-cita tertinggi kita sedapat mungkin mendekati Kebenaran. Bahagia adalah rasa di dalam diri, bukan tercapainya rasa kenikmatan di luar diri. Karena yang di luar diri selalu berubah dan tidak abadi&#8230;&#8230;. Dalam buku “<strong>Be Happy! Jadilah Bahagia Dan Berkah Bagi Dunia</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.. Sekolah dan universitas tidak mengajarkan “seni kebahagiaan”, padahal kebahagiaan adalah tujuan hidup kita semua. Seni ini harus kita pelajari dari alam, dari lingkungan, dari kehidupan itu sendiri. Seni ini harus dipelajari dari mereka yang telah meraih kebahagiaan yang nyata, <em>tangible</em>, yang dapat dirasakan dalam hidup itu sendiri&#8230;&#8230;<span id="more-1132"></span></p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Master Rumi menyampaikan banyak orang mencari Gusti Yesus untuk kesembuhan badannya. Padahal seharusnya minta obat untuk jiwanya, sehingga keinginannya mendekati Kebenaran. Dalam buku “<strong>Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;..  Nasihat Rumi untuk bersahabat dengan Yesus harus dipahami artinya. Yesus dikenal sebagai penyembuh. Ya, dia bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Kita harus pintar-pintar memohon bantuannya. Jika anda minta minyak gosok untuk punggung yang pegal atau obat tetes untuk mata yang memerah, anda sungguh menyia-nyiakan Yesus. Sementara ini, kita sungguh menyia-nyiakan Yesus dengan meminta hal-hal yang tidak berarti. Meminta keselamatan badan, yang pada suatu saat sudah pasti menjadi debu; meminta harta dan takhta, yang pada akhirnya justru bisa mencelakakan kita. Mintalah keselamatan jiwa. Jika bersahabat dengan Yesus, jangan meminta gula-gula. Mintalah sesuatu yang lebih bermakna. Rumi juga menjelaskan bahwa Yesus tidak berada di luar diri. Yesus berada di dalam diri-senantiasa siap sedia untuk membantu anda!&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Tentang Kebenaran. Dalam buku “<strong>Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.  Baik dan buruk hanyalah perasaan sesaat. Siang-malam, panas-dingin, gugur-semi – tak satu pun yang bertahan selama ini. Tak satu pun akan bertahan. Kendati demikian, di balik semua ini adalah Kebenaran Mutlak yang selalu ada. Kebenaran yang melampaui segala penjelasan, tidak ada dalam alam ini, tapi alam ini ada karena-Nya&#8230;&#8230;.. Demikian juga dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan&#8230;&#8230;. Dengan dorongan kuat itu kita bisa menyelam ke dalam diri dan orang yang pernah mengambil langkah ke dalam diri, bahkan satu langkah saja, pasti pernah dicium oleh-Nya. Karena yang perlu kita ambil hanyalah satu langkah itu. Kembangkan dorongan dalam diri. Begitu kita memasuki diri, Ia akan menarik kita lebih dalam, dan lebih dalam lagi. Bila kita masih mengeluh belum pernah dicium oleh-Nya, atau mencicipi cinta-Nya, berarti langkah yang menentukan itu belum pernah kita ambil&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Swami Vivekananda memberi nasehat, <em>T</em><em>ugas kita adalah memberi semangat kepada setiap orang yang berjuang mencapai cita-cita tertingginya, dan yang juga berupaya agar cita-citanya mendekati dengan kebenaran</em>. Berupaya agar kita pantas menjadi sahabat nabi, berupaya agar kesadaran kita mendekati kesadaran nabi. Dalam buku “<strong>Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Ada &#8220;pedagang&#8221; yang sedang melakukan perjalanan suci &#8220;untuk&#8221; memperoleh pengampunan-Nya. Ada pula &#8220;pedagang&#8221; yang berdoa &#8220;agar&#8221; keinginannya tercapai. Apa pun yang kita lakukan, ada buntutnya. Ada &#8220;mau &#8220;-nya. Bermohonlah, supaya yang sulit dipermudah bagimu. Supaya Dia menuntunmu sepanjang jalan hidup ini, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidupmu. Mohonlah bimbingan-Nya. Nasihat ini sekaligus merupakan teguran agar kita tidak &#8220;berdagang&#8221; dengan Tuhan. Seorang sahabat harus berupaya agar kesadarannya mendekati kesadaran nabi. Dan kesadaran nabi tidak mengenal &#8220;hubungan dagang&#8221;. Tidak ada barteran, tukar-menukar dan lain sebagainya. Seorang nabi, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha tidak akan menjalin hubungan dagang dengan Tuhan, dengan Allah, dengan Keberadaan. Dia berserah diri sepenuhnya, &#8220;Bukan kehendakku, Ya Allah, tetapi terjadilah Kehendak-Mu!&#8221;Seorang Nabi sedang bicara dengan kerumunan. Ada juga doa-doa berbau &#8220;dagang&#8221; yang mereka ajarkan. Doa-doa semacam itu diperuntukkan bagi mereka yang masih berjiwa dagang, bukan bagi para &#8220;sahabat&#8221;. Pilihan ada di tangan kita, mau mempertahankan jiwa dagang atau mau bersahabat dengan nabi. Bila mau bersahabat dengan nabi, kita harus pasrah. Harus menerima Kehendak Ilahi. Jangan mengeluh, jangan menyangsikan kebijakan-Nya&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri: </strong>Kita harus jujur terhadap diri sendiri, kita mencari ayat-ayat untuk membenarkan tindakan kita, atau apakah kita benar-benar mencari Kebenaran sesuai suara hati nurani kita. Dalam buku “<strong>Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;.  Arjuna memberikan dalil-dalil yang terdengar sangat moralis, namun sebenarnya ia sedang menipu diri sendiri. Ada dua kelompok manusia. Yang satu ingin mencari konfirmasi atas tindakannya dari agama, yang kedua akan bertindak sesuai anjuran agama. Perbedaan antara kedua kelompok ini ibarat perbedaan antara bumi dan langit. Yang satu hanya mencari pembenaran atas tindakannya, yang kedua bertindak sesuai Kebenaran&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Berbicara tentang Kebenaran, buku “<strong>Ishq Mohabbat, Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki</strong>” menyampaikan bahwa&#8230;&#8230;. Kebenaran tak pernah basi, ia tetap segar, namun pemahaman kita bisa menjadi basi. “Kebenaran sebagaimana kita pahami dulu” barangkali sudah tidak dapat diterima lagi sebagai “kebenaran kini”. Upaya hari ini memaksakan pemahaman kemarin hanya menciptakan keraguan, kesangsian, kekacauan. Pemahaman tentang kebenaran yang ditunda penyebarannya, dan disebarkan lama setelah “terjadinya” pemahaman itu, mengeluarkan aroma tak sedap pula. Bila “pemahaman kita tentang kebenaran” hanya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan umum, tidak jadi soal. Kita boleh menundanya sampai kapan saja. Pemahaman yang basi sudah pasti terasa basi. Celakanya adalah ketika pemahaman kebenaran itu bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan umum.Kita tidak mengonsumsinya sendiri, tidak mencicipinya sendiri, dan menyajikan begitu saja kepada orang lain. Kita tidak tahu bila sajian kita sudah basi&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Sang Istri:</strong> Banyak pemicu di luar yang senantiasa berupaya untuk mengelabui dan menjauhkan diri kita dari kebenaran. Harta sebagai pemicu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa “kau lebih kaya dari orang lain” atau sebaliknya, “kau miskin, dia kaya”&#8230;&#8230;&#8230; Demikian disampaikan dalam buku “<strong>The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern</strong>”. Kebiasaan yang telah tersimpan dalam pikiran bawah sadar kita juga mempersulit kita mencari Kebenaran&#8230;&#8230;&#8230;<strong> </strong>Selama pancaindra dikuasai pikiran, dikuasai oleh apa yang disebut upaadhi atau conditioning, maka Kebenaran akan tampak terbagi-bagi, terpecah-belah. Tampak banyak, padahal satu adanya. Upaadhi berarti “program” yang sudah berubah menjadi kebiasaan. Dari kecil kita diprogram untuk mempercayai kebenaran tentang berbagai hal. Beranjak dewasa, kita mulai kritis. Banyak hal tidak masuk akal, tetapi kita sudah terlanjur diprogram untuk mempercayainya. Karena itu terjadilah konflik di dalam diri. Banyak orang terperangkap dalam permainan lama: menolak conditioning lama, masuk conditioning baru pun akan membuat kita tetap jauh dari Kebenaran. Awan delusi tetaplah awan delusi. Lama atau baru sama saja&#8230;&#8230;. Demikian disampaikan dalam buku “<strong>Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal</strong>”&#8230;..</p>
<p><strong>Sang Suami:</strong> Buku “<strong>Life Workbook, Melangkah Dalam Pencerahan, Kendala Dalam Perjalanan, Dan Cara Mengatasinya</strong>” menyampaikan bahwa&#8230;&#8230;<strong> </strong>Energi di dalam badan saya tidak beda dari energi di dalam badan Anda. Kesadaran di dalam diri saya tidak beda dari kesadaran di dalam diri Anda. Ekam Sad Viprah Bahudha Vadanti, Kebenaran Satu Ada-Nya. Mereka yang Paham Menyebut-Nya dengan Berbagai Nama. Setiap sisi Kebenaran diberi nama. Oke, fine, karena, Tuhan pun membiarkan hal itu terjadi&#8230;&#8230;. Buku “<strong>Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern</strong>” juga menyampaikan bahwa kebenaran itu satu adanya&#8230;&#8230;<strong> </strong>Lihatlah dengan pandangan yang jernih dan akan Anda temukan bahwa kebenaran itu satu adanya. Jangan takut terhadap mereka yang buta. Karena kebutaan mereka, karena sempitnya wawasan mereka, Anda akan dicela. Anda  akan difitnah mencampuradukan agama, bahkan Anda akan dianiaya dan disiksa – memang merekalah yang berkuasa di muka bumi ini. Tetapi jangan lupa akan kekuatan Kebenaran itu sendiri. Sekuat-kuatnya mereka, lihat saja sejarah, mereka tidak berhasil membunuh orang-orang seperti Anda. Akhirnya mereka sendiri yang musnah, karena mereka menolak Kebenaran, karena mereka lebih mementingkan kedudukan mereka, karena mereka hanya percaya pada angka dan jumlah. Mereka hanya percaya pada kuantitas, tidak pada kualitas. Walaupun umat mereka, penganut paham mereka bertambah terus, apakah ada gunanya? Apakah ada perubahan pada sikap mental, apakah ada peningkatan pada kesadaran?&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Sang istri:</strong> Dalam buku “<strong>Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik</strong>” disampaikan bahwa&#8230;&#8230;..<strong> </strong>Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa “Kebenaran” Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran merupakan jalan pribadi. Jalan menuju kebenaran begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun&#8230;&#8230;..<strong></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>Agustus, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1132</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelita Cinta Hati</title>
		<link>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1130</link>
		<comments>http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1130#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 19:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Su Rahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rakyat Bersuara]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[anand ashram]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.oneearthmedia.net/ind/?p=1130</guid>
		<description><![CDATA[Jika di tanya Surahman siapa saja orang yang berjasa menempa dirimu sehingga kamu dapat tersenyum di dalam dukamu, di dalam sakitmu. Ibuku, adalah sumber kekuatanku. Belaian  lembut ibuku menyamankan aku, dalam setiap kondisi apapun, manakala aku oleng, akau akan mengingat ibuku, mengingat masa kecil dimana aku selalu lari ke dalam peluk ibuku dan menyamankan diriku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika di tanya Surahman siapa saja orang yang berjasa menempa dirimu sehingga kamu dapat tersenyum di dalam dukamu, di dalam sakitmu. Ibuku, adalah sumber kekuatanku. Belaian  lembut ibuku menyamankan aku, dalam setiap kondisi apapun, manakala aku oleng, akau akan mengingat ibuku, mengingat masa kecil dimana aku selalu lari ke dalam peluk ibuku dan menyamankan diriku di dalam peluknya itu.</p>
<p>Lantas, adalah mantan-mantan kekasih ku. Karena mereka mengajarkan banyak tentang cinta dan cara mencintai. Dan tanpa sadar mereka mengajarkan aku bagaimana mengikis egoku dan kesontoloyoan diriku.</p>
<p>Kemudian ada pak War, bapak Poejo Wardoyo. Seorang spiritual yang mengajarkan tauhid kepada diriku, dari beliaulah aku mulai menyadari bahwasanya ada sesuatu yang harus dicari dan ditemukan di dalam hidup ini  yaitu jati diri. Beliaulah yang meletakan pondasi tauhid ke dalam diriku. Terimakasih pak War.</p>
<p>Dari pencarian tersebut aku mulai mengenal bapak Anand Krishna, melalui sebuah buku Masnawi , Jalaludin Rumi, buku ini diberikan oleh mantan seorang kekasih. Agak aneh juga, mengingat buku tersebut di beli di Jogya oleh kakak mantan kekasihku itu, yang menjadi permasalah si kakak ini kolot bin fanatic. Jika di nalar dengan akal maka tiada mungkin dia membeli buku bapak Anand Krishna.</p>
<p>Dari buku itu aku mulai mengenal dan menyelami bapak Anand Krishna, aku mulai mencari buku-buku yang lain di perpustakaan Jakarta selatan, pada waktu itu koleksinya cukup lengkap. Dan mulai saat itu bapak Anand Krishna menjadi inspirasiku, meski ketika bertemu langsung dengan beliau bibirku menjadi gagap. Layaknya seorang abg di es em pe yang bertemu dengan pujaan hatinya, senang sekaligus takut. Namun aku menikmati setiap saaat duduk bersama beliau, dan saat-saat seperti itu adalah saat-saat yang selalu ku rindukan,  ah………..</p>
<p>Bapak, aku hanya ingin mengucapkan Selamat Ulang tahun.</p>
<p>Dan terimakasih atas segala apa yang telah engkau berikan kepada kami, kepada bangsa ini. Dan aku yakin, esok akan banyak mata yang terbuka dan mengetahui tentang siapa engkau bapak, apa yang engkau perbuat. Engkau adalah pelita cinta di dalam hati, engkau adalah embun penyejuk jiwa. Engkau adalah Inspirasi, engkau adalah kekuatan dan semangat. Engkau adalah sesuatu yang Indah yang diturunkan untuk memperindah hati kami semua…………….</p>
<p>Terimakasih bapak.</p>
<p>==</p>
<p>Di Publikasikan di :</p>
<ul>
<li><a href="http://www.surahman.com/" target="_blank">http://www.surahman.com/</a></li>
<li><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind" target="_blank">http://www.oneearthmedia.net/ind</a></li>
<li><a href="http://www.facebook.com/su.rahman.full" target="_blank">http://www.facebook.com/su.rahman.full</a></li>
<li><a href="http://www.kompasiana.com/surahman" target="_blank">http://www.kompasiana.com/surahman</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.oneearthmedia.net/ind/?feed=rss2&amp;p=1130</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
