Berjuang dari Bumi Gora menjadi Bumi Sri
Provinsi NTB sebagai Bumi Gora (Gogo Rancah, pertanian tadah hujan yang dikembangkan di zaman pak Harto), berjasa dalam mendukung swasembada pangan sejak tahun 1984. Bagaimana pun sistem tadah hujan tergantung pada banyaknya curah hujan, dan ada kecenderungan perubahan iklim secara global. Pemerintah berpikir keras bagaimana memanfaatkan Jaringan Irigasi Interkoneksi untuk menghasilkan produksi pertanian secara berkelanjutan. Untuk mempertahankan swasembada dan meningkatkan produksi diperlukan tanaman padi yang bisa menghemat air, sehingga air yang dapat dihemat dapat dipakai untuk memperluas sawah beririgasi.
Padi SRI (System of Rice Intensification) adalah budidaya tanaman padi yang hemat air, produksi yang tinggi dan biaya tanam yang rendah. Pengujian selama 8 musim tanam di NTB memberikan tambahan hasil panen 3.4 ton per ha, penghematan air sekitar 35% serta penghematan biaya sekitar 20%. Akan tetapi pelaksanaan SRI masih terbatas pada areal Demplot, mungkin baru sekitar 3-4 % dari total areal persawahan di Pulau Lombok. Adalah merupakan perjuangan Provinsi NTB untuk membumikan padi SRI, karena penerapan hal yang baru di tengah masyarakat yang sudah nyaman dengan pola lama merupakan perjuangan yang sangat berat walau perjuangan yang sangat mulia.
Garis Besar cara menanam padi SRI
Penanaman padi SRI memerlukan perubahan budaya dengan tidak menanam ‘as usual’, seperti pada biasanya. Padi SRI hanya memerlukan maksimal genangan air 2 cm dibandingkan genangan padi biasa yang membutuhkan genangan air 15-20 cm. Air yang biasa dibutuhkan untuk mengairi 1 ha dapat mengairi 7-10 ha. Persemaian benih dapat dilakukan diatas nampan dengan benih 5-10 kg per ha dibandingkan benih cara biasa yang membutuhkan 50-75 kg per ha. Seuatu penghematan luar biasa dalam penggunaan benih. Penanaman padi Sri membutuhkan 14 orang per ha dibandingkan dengan penanaman padi biasa yang membutuhkan 40 orang per ha per musim tanam. Biaya penanaman padi SRI sebesar Rp. 260.000. per ha dan lebih hemat dari penanaman biasa yang membutuhkan biaya Rp 500.000. per ha.
Sebuah perubahan memerlukan hasrat dan kemauan serta kerja keras untuk mengubah pola kebiasaan lama. Melepaskan diri dari ‘comfort zone’, zona kenyamanan lama adalah tindakan yang perlu ‘power of the will’. Selanjutnya diperlukan ‘power of knowledge’, pemahaman pengetahuan dan harus dilakukan dengan ‘power of action’, tindakan, agar sukses. Dalam istilah Sanskerta diperlukan ’ Icha Shakti’, ‘ Gyaana Shakti’ dan ‘Kriya Shakti’. Lakukan dan lakukan secara berulang-ulang, agar menjadi kebiasaan, dan lakukan sehingga menjadi perlaku, dan akhirnya mengubah karakter kita.
Menghormati zat hidup
Tanaman mengandung sekitar 80% air, dan unsur lainnya dan zat hidup. Sesungguhnya ketika menanam, manusia hanya bertindak sebagai fasilitator. Yang membuat biji padi menjadi lembaga adalah zat hidup. Ketika manusia memelihara padi manusia hanya sebagai fasilitator, yang memelihara kehidupan padi adalah zat hidup. Bila tidak ada zat hidup, manusia memelihara sebaik mungkin pun tidak dapat menghidupkan tanaman. Ketika manusia mengolah tanah membalikkan sisa akar dan tubuh padi kedalam tanah sebetulnya manusia bertindak sebagai fasilitator. Yang mendaur ulang bekas tanaman adalah alam dan bakteri organik. Mencipta, Memelihara dan Mendaur Ulang adalah kekuatan Ilahi, manusia bertindak selaras dengan alam untuk memfasiltasinya. Bahkan ketika pasangan suami istri membuat anak, mereka hanya sebagai fasilitaror pembuahan. Yang membuat air ketuban, yang mengembangakan satu sel awal menjadi bentuk manusia adalah zat hidup.
Penemuan Dr. Masaru Emoto, bahwa air mempunyai kesadaran, membentuk hexagonal yang cantik ketika mendapat vibrasi kasih dan rusak bentuknya ketika mendapat vibrasi negatif dapat memperjelas fenomena alam. Benda di alam ini mengandung 5 unsur elemen alami, ruang, angin, api, air dan tanah. Adonan jumlah elemen tiap benda berbeda. Tanaman yang sebagian besar kandungannya berupa air, jelas akan terpengaruh oleh vibrasi negatif ataupun positif sesuai dengan penemuan Dr. Masaru Emoto. Dalam air pun terkandung zat hidup yang dapat menghidupi tanaman.
Seorang Amerika menghubungkan kedua elektrode ‘lie detector’ pada sebatang bunga ‘Adhatoda Vasica’, kemudian menyiramkan air pada bagian akar bunga, setelah itu dia menemukan pena elektronik dari ‘lie detector’ dengan cepat menggoreskan suatu garis lengkung. Garis lengkung ini persis sama dengan garis lengkung dari otak manusia ketika dalam waktu yang sangat pendek mengalami suatu rangsangan maupun kegembiraan. Selanjutnya, dia meletakkan dua tanaman dalam pot dan salah seorang siswa diminta menginjak-injak salah satu tanaman sampai mati, dan kemudian tanaman yang masih hidup dipindah ke dalam ruangan dan dipasangi ‘lie detector’. Empat orang siswa diminta masuk ruangan satu per satu. Ketika giliran siswa kelima, siswa yang menginjak tanaman masuk ke dalam, belum sampai berjalan mendekat, pena elektronik segera menggoreskan suatu garis lengkung, suatu garis lengkung yang terjadi saat manusia merasa ketakutan. Luar biasa, tanaman mempunyai emosi, tanaman mempunyai kesadaran.
Penghormatan terhadap benih tanaman yang ditanam satu persatu pada padi SRI dan tidak dimasukkan karung dengan cara lama, pengetahuan tentang benih yang ditanam selagi masih muda berumur sekitar 10 hari dibanding cara lama yang menunggu sekitar 25 hari. Jarak antar padi yang sekitar 30 cm akar anakan dapat berkembang, sinar matahari lebih banyak kena tanaman dan mudahnya menyiangi antara dua tanaman adalah suatu bentuk penghargaan kepada tanaman. Bahkan suara ‘sonic bloom’ yang dapat memperbanyak produksi adalah tiruan dari bunyi tanaman garengpung yang berfrekuensi tinggi. Semoga suara klenengan di Jawa, suara Gendang Belik di Lombok dapat memberi vibrasi positif bagi kehidupan padi. Menyelaraskan diri dengan alam dan memaksimalkan potensi dir adalah kuncinya.
Leluhur kita menghormati seluruh alam. Menghormati pohon dengan sesajen dan memberi kain loreng ‘rwabineda’ di pohon nampak seperti perbuatan syirik, akan tetapi tujuannya adalah mulia bagaimana menjaga kelestarian alam, agar pohon tidak dibabat semena-mena. Dari pengetahuan kita belajar bahwa semua benda hidup punya usia dan mereka ingin dipelihara. Bagian terkecil suatu benda adalah atom dimana terdapat elektron yang selalu bergerak mengelilingi inti. Benda yang dianggap matipun sejatinya ada gerakan didalam atom-atomnya. Ya Tuhan, Ya Rabb, jernihkan pandanganku sehingga aku bisa melihat wajah-Mu di Timur di Barat dan di mana-mana. Tuhan, Zat Hidup ada dimana-mana sehingga kita harus menghormati seluruh alam ini. Kesalahan dilakukan ketika kita bertindak tidak selaras dengan alam. Terima kasih Guru yang mengingatkan kita semua untuk bertindak selaras dengan alam.
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
April 2009.
BUKAN SEBUAH SANDIWARA, Ada suatu kenyataan yang aneh, dilihat dari geografisnya Indonesia lebih tepat disebut negara maritim, kenyataan hingga kini tetap kokoh dengan label negara agraris. Artinya, Indonesia bukannya dikenal dan terkenal karena batu bara, timah, minyak, emas maupun hasil industrinya, tetapi mencuat dan dicatat karena hasil buminya yang melegenda berabad-abad. Buktinya, teh, kopi, kopra, kelapa sawit, rempah-rempah, minyak atsiri, telah lama melanglang buana dengan membawa trade mark Indonesia. Ya, petani kita telah membuat Indonesia punya nama di dunia ! Pernyataan ini bukannya untuk membesar-besarkan jasa petani. Sebab petani Indonesia memang ” orang besar “. Dan justru terasa lebih besar lagi ketika nama mereka jarang dikenal. Di Jawa, petani sering hanya disebut dengan perumpamaan Si Dadap atau Si Waru, Si Suta atau Si Naya. Seolah nama mereka tak layak dicatat. Karyanya saja yang ditunggu, buah tangannya saja yang perlu. Ibarat, semua suka makan berasnya, tetapi tidak ingin terpercik lumpur dari sawahnya. Dalam pandangan banyak orang, petani hanyalah ” wong cilik “. Sama halnya rumputan yang tumbuh di permukaan tanah. Memang, jasa mereka besar dalam mencegah erosi permukaan bumi ini. Tetapi, resikonya terus juga terinjak dan diinjak oleh jutaan kaki hewan dan manusia. Mungkin, gara-gara posisi petani selalu terletak dibawah, dekat dengan tanah, banyak generasi muda anak cucu petani yang enggan mewarisi profesi ini, dan kepengin mencicipi hidup di alam yang ” lebih benderang dan tinggi “. Entah jadi pegawai negeri, guru, dosen, pengusaha dll. Yang penting meninggalkan desa, meninggalkan predikat ” wong tani ” yang dinilai tak punya masa depan karena akan terus dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Oleh cangkul, tengkulak, pasar, mall, hingga selera-selera modern dan global yang makin berkuasa di dunia. Potret kecil ini tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab, dunia pertanian Indonesia rasanya memang belum pernah menjadi subjek. Para peteni pun belum memproleh kemandiriannya secara individu, social, dan professional. Pada realitasnya, dunia pertanian selalu mengalami tarik-menarik, baik oleh kekuasaan, ilmu pengetahuan, pasar, hokum, ekonomi, perdagangan, hingga dinamika social politik di tanah air. Bertahun-tahun dunia pertanian telah menjadi “ lapangan sepak bola “ bagi para avonturir yang mencari keuntungan disana, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh “ menanam “ benih-benih bermutu dan layak dikenang zamannya. Setidak-tidaknya karena alasan seperti diataslah, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI melakukan gerakan menjumpai para petani diseluruh pelosok negeri, menyambung silaturahmi positif konstruktif. Sekaligus membangun tradisi belajar bersama “ asah-asih-asuh “ secara terbuka (seperti difatwakan oleh Ki Hajar Dewantara), yang dijiwai semangat tenggang rasa dan patembayatan tinggi. Soalnya, sesuatu yang tak pernah berubah di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian, para petani pun akan menghadapi perubahan demi perubahan yang kadang terlampau cepat, kadang belum sepenuhnya dimengerti, sehingga tidak sampai diketahui dan diantisipasi sama sekali. Untuk itu, relawan media komunikasi pertanian SIDATANI benar-benar ingin membantu menemukan celah lorong untuk lolos dari berbagai permasalahan yang membelit petani selama ini. Mungkin, gerakan jumpa petani ini kesannya terlalu tinggi, terlampau berlebihan. Namun, kami para relawan SIDATANI yakin. Tidak ada jalan yang tiba-tiba mulus di masa awal. Tidak ada bukit yang tiba-tiba rata. Tidak ada sawah yang tiba-tiba berpematang. Seluruh tatanan itu harus dibuat dan membutuhkan cucuran keringat. Pendek kata, relawan SIDATANI telah bertekad jumpa petani menjadi saudara, menjadi sahabat petani di seluruh Indonesia. Kami akan sama-sama menyangkul, merumput, membuat benih, menanam, memelihara, memberantas hama penyakit, hingga memanen, dan bergandengan tangan menangani berbagai kegiatan pasca panen yang cukup rumit di lapangan. Terakhir sekali, kami mengetuk hati para dermawan, untuk membiayai perjalanan relawan SIDATANI jumpa petani, dalam bentuk penjualan : PAKET JUMPA PETANI, senilai Rp. 57.500,- (lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) berupa 1 (satu) liter pupuk bio organic HERBAFARM + 1 EKS MAJALAH SIDATANI, dari penjualan paket tersebut, Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) akan kami gunakan untuk biaya perjalanan JUMPA PETANI ke seluruh Indonesia. Paket JUMPA PETANI akan kami kirimkan kepada para dermawan, atau bisa juga di sumbangkan kepada para petani, melalui relawan SIDATANI. Bagi dermawan yang berminat bisa transper melalui : Ardiansyah al Ertha, SE – Bank Central Asia (BCA), Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 4450941943 atau Bank Mandiri, Cabang Katamso Yogyakarta, rekening : 1370005425307. Bukti transper, mohon FAX : 0274 – 370324 atau Telp/SMS ke : 08172346363, 081321490378.
Terima kasih sekali atas pengetahuan yang sangat bermanfaat.