June 9, 2008

Tolak Perdagangan Karbon

Tokoh spiritualis Anand Krisna, secara tegas menolak perdagangan karbon (carbon trading). Anand lebih memilih konsep berdiri di atas kaki sendiri ketimbang mengharap sedekah dari negara maju untuk Indonesia agar melindungi hutannya.

”Lagi pula apabila dana itu diterima, apakah ada jaminan dana itu benar-benar diperuntukkan bagi pelestarian hutan?,” tanya Anand, saat mengunjungi meja pameran Yayasan Anand Ashram di Kampung CSF, BTDC, Nusa Dua, Bali, Selasa (4/12) siang.

Karena tidak ada jaminan, kata Anand, maka ia secara tegas menolak bantuan dana dari Negara Maju (G-8).

Apalagi, tegas Anand, bantuan itu kemudian akan menjadi alasan bagi negara maju untuk tidak mengurangi emisi karbon dioksida (C02) sebagai penyebab pemanasan global. Dengan demikian, laju komsumsi di negara maju tak perlu dikurangi.

Alasan lainnya, Anand merasa setiap sedekah dari G-8 memiliki jebakan. Soalnya, setiap sedekah atau bantuan, pasti memiliki kepentingan. Dan, karenanya, mengandung sebuah obligasi bagi negara penerima bantuan.

Komsumsi
Menurut pengarang buku laris tentang spiritualitas ini, salah satu kunci dari pengurangan efek rumah kaca akibat emisi CO2, adalah menekan nafsu komsumsi. Celakanya, laju komsumsi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), begitu tinggi.

Misalkan saja, kata Anand, di AS penduduk negara itu didorong untuk menggunakan mobil berukuran besar yang boros energi. Akibatnya emisi yang dilepaskan negara maju seperti Amerika Serikat begitu tinggi.

”Saya pernah membaca hasil sebuah penelitian. Di situ disebutkan Manhattan merupakan kota penghasil emisi terbesar di planet ini,” ujarnya.

Karena itu, Anand lebih setuju jika uang bantuan dalam jumlah puluhan trilyun rupiah tidak diberi ke Indonesia untuk menjaga hutannya sebagai mekanisme perdagangan karbon. Tapi lebih baik uang itu diberikan ke rakyat di negara maju agar mereka mengganti kendaraannya lebih kecil sehingga lebih menghemat energi.

”Dengan menekan laju komsumsi, barangkali industri akan ambruk. Namun inilah satu-satunya harga untuk menyelamatkan bumi,” tegasnya.

Pesimis
Anand sendiri mengaku pesimis akan hasil Konfrensi PBB tentang Perubahan Iklim yang berlangsung selama 3-14 Desember di Nusa Dua, Bali.

Menurut dia, bila pertemuan ini masih didominasi kepentingan bisnis dan dunia industri, maka pertemuan yang memakan ongkos jutaan dolar AS ini hanya akan jadi sebuah komedi sekaligus tragedi.

Padahal ancaman perubahan iklim akibat efek rumah kaca sudah ada di depan mata. ”Bila pertemuan ini masih didominasi dan diwarnai kompromi antara dunia bisnis dan politik, maka tenggelamnya pulau-pulau kecil akan terjadi. Tak terkecuali Bali,” tegasnya.

Untuk itulah, Anand mengaku merasa perlu menyatukan diri dengan Civil Society Organization Forum (CSF) Indonesia. Terutama untuk mendorong para pebisnis dan politisi untuk serius menyelamatkan Bumi sebelum akhirnya Bumi menjadi planet panas yang tak bisa dihuni seperti planet Mars.

Source: Satu Dunia

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone