June 9, 2008

Detik-Detik sebelum Konperensi

United Nations Climate Change Conference
(Bali, 3-14 Desember, 2007)
Anand Krishna*

1. Detik-Detik sebelum Konperensi: Desember 2, 2007

( i )

Hari Minggu, hari yang ditentukan oleh Panitia Konperensi untuk pendaftaran….. Dalam perjalanan dari tempat tinggal saya di Bali menuju Kawasan Nusa Dua dimana Sidang Istimewa akan digelar, dimana-mana saya melihat Umbul-Umbul dan Spanduk berukuran lebar tentang Perubahan Iklim.

Jarak antara satu umbul-umbul dan umbul-umbul lain tidak lebih dari 20 meter, ditambah lagi dengan spanduk. Berarti, dalam perjalanan dari tempat tinggal saya di Kuta menuju Kawasan Nusa Dua saja, saya sudah pasti melewati ribuan umbul-umbul dan spanduk. Luar biasa!

Dan, luar biasa pula kata-kata yang tertulis diatas spanduk, antara lain yang paling sering kulihat: “Boros Energi, Boros Emisi, Hidup Merugi”.

Pertanyaan yang muncul: Lalu solusinya apa?
Saya tidak tahu siapa yang mengusulkan kata-kata itu. Pun saya tidak tahu siapa saja yang menyutujuinya. Yang jelas, baik yang mengusulkan maupun yang menyutujui sudah jelas adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang, dianggap cukup cerdas oleh Panitia Penyelenggara. Jelas, mereka bukanlah orang-orang dungu.

Dungu…….
Ah, saya baru ingat bila ada seorang kolumnis yang disomasi karena menggunakan kata “dungu” bagi seorang pejabat. Ya, ya, ya, kita memang bukan dungu…. Tapi, itu tidak berarti kita sudah cukup cerdas.

Kecerdasan menuntut Solusi, bukan saja pembeberan fakta. Alangkah baiknya, alangkah lebih tepatnya, bila spanduk-spanduk itu menawarkan solusi yang cerdas:

Hemat Energi, Cegah Emisi, Hidup Alami!

Ya, ya, ya, kita memang bukanlah bangsa yang dungu, tapi koq lucu ya, umbul-umbul yang sudah pasti menghabiskan dana ratusan juta itu berwarna kuning dominan, dan hurufnya berwarna putih!

Putih diatas Kuning……
Maaf, kedua mata saya memang dungu, dunguuuuuu banget, maka susah membacanya. Barangkali mata orang lain tidak sedungu mata saya. Mudah-mudahan mereka dapat membacanya.

Lagi pula, kuning adalah warna daun yang sudah layu…. Merah Tua dibawah kuning mengingatkan saya pada api, kebakaran hutan. Bagus, tapi lagi-lagi tidak menawarkan solusi. Warna Solusi adalah Warna Hijau!

( ii )

Hmmmmm…… Kemudian, di kampus sidang, kampus yang wah, Pelataran Westin dengan segala kemewahannya…… Tetapi, setelah registrasi, mencari jalan keluar pun sulit bukan main.

Mau cari Desk Informasi, ternyata belum siap.
Memalukan ya?

“Ya, ya, memalukan bagi UN,” bilang seorang teman.

Teman lain mengingatkan, “Bukan, bukan UN…. Ini adalah konperensi yang difasilitasi dan diadakan oleh Indonesia. Tuan rumahnya kita. Memalukan bagi kita….”

Belum selesai, kita mendengar keluhan beberapa orang asing, “So, what next? Where do we go from here?” Mau kemana, mau gimana, ngaak ada yang bisa menjawab.

Persiapannya memang betul-betul jauh dari sempurna….. “Tetapi, ya persiapan kan tidak penting,”ujar sobatku, seorang aktivis juga.

“Lha, koq begitu?
Penting dong” teman lain berkeberatan dengan komentar “tidak penting” itu.

Maka, Sahabat Tidak Penting berlaga kembali untuk mempertahankan Thesis Tidak Penting-nya dengan nada sinis, “Tujuan kita kan me-goal-kan dana 37.5 triliun rupiah setiap tahun dari negara-negara kaya untuk hutan kita. Selama tujuan itu tercapai, ya sudah…. Persiapan, dan apa pula itu perkara spanduk dan umbul-umbul….. semuanya yang tidak penting, ah!”

Iya ya, yang penting memang Fulus sih.
Jayalah Fulus, Berjayalah Fulusudin, Hidup Fulus!

( iii )

Nah, ini yang paling lucu, dan paling serrrruuu!!!
Tentang Partisipasi NGO atau Non-Governmental Organizations, dalam bahasa kita Lembaga Swadaya Masyarakat. Kecuali satu Yayasan Pelangi, lembaga-lembaga lain jauh-jauh hari sudah di-“giring” untuk “bersatu” dalam satu Forum yang dibentuk untuk menampung seluruh aspirasi masyarakat yang disebut Civil Society bersama Organisasi-organisasinya yang berjumlah puluhan (CSO = Civil Society Organizations).

Persatuan diatas segalanya!
Wow, hebat ya, tepuk tangan….

Negara-negara lain, masing-masing diwakili oleh sekian banyak NGOs. Kita, Indonesia sebagai Tuan Rumah hanya diwakili oleh 2 Lembaga. Pertama, Yayasan Pelangi dan Gugusan dari lembaga-lembaga lainnya yang disebut CSO.

Bagus kan, bagus ya….. Lha, kita kan selalu menjunjung tinggi Persatuan….. Ya, Persatuan. Bukan Kesatuan.

Maka, teringat kembali masa lalu, ketika saya masih seorang pengusaha. Dulu pun polanya sama, persis. Duapuluhan tahun yang lalu begitu, sekarang pun masih begitu.

NGOs di Indonesia digiring untuk “menyatu”…. Tanya kenapa? Ya jelas, biar suaranya bulat kan. Kalau tidak bulat, kan repot.

Nah, kalau ada NGOs yang ribut, ya ribut sendiri saja di dalam Forum yang memang dibentuk untuk menampung keributannya. Jangan mencemari lingkungan konperensi dengan ocehanmu. Jagalah kebersihan ruang sidang… Yang terdengar memang semestinya suara ketukan palu saja. Huebattttt!

Selama 3-4 hari pertama sidang, urusan fulus biar diselesaikan dulu. Itu urusan besar, urusan pemerintah. Urusan-urusan lain bisa diatur kemudian hari. Urusan Besar mesti diurusi Negara-Negara Besar, ya seperti Amerika, Australia, Inggeris – yang biasa disebut G-7 atau apa itu. Sekarang, ditambah Naga Cina. Emisi India, yang juga terbesar setelah Cina, masih kurang lebih 50% dari Cina, jadi Singa India belum masuk daftar Orang-Orang Besar. Lagipula negaranya baru maju, masih banyak persoalan dalam negeri, bisa nyumbang berapa sih?

Ah, tapi itu bukanlah urusan kita….
Jadi, urusan kita apa yah?

Untuk apa kita berada di konperensi ini?
Untuk bersuara, jelas….. Tidak boleh diam. Orang mau dengar, mau tidak dengar – itu urusan mereka. Ini adalah tantangan bagi Civil Society Organizations untuk bersatu-padu dalam pikiran, ucapan dan tindakan:

  1. Lembaga Swadaya Masyarakat mesti kembali menjadi Lembaga Swadaya.
  2. Dari Masyarakat, untuk Masyarakat – itu yang semestinya menjadi slogan dan motto LSM atau NGO.
  3. Jangan terima sumbangan atau bantuan atau apa pun namanya dari pemerintah atau dari lembaga-lembaga yang terkait dengan pemerintah. Hanyalah dengan cara ini, Lembaga Swadaya Masyarakat dapat bertahan sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat.
  4. Funding atau dana semestinya dari donasi dari pihak-pihak yang tidak memiliki agenda terselubung, dan dari para pengurus dan anggotanya sendiri. Berarti, pengurus dan anggota semestinya tidak digaji. Semestinya mereka bekerja secara sukarela. Bahkan membiayai kegiatan lembaganya. Berarti, kita semua mesti bekerja. Kita semua mesti memiliki pekerjaan dan usaha sendiri, sehingga dapat berbakti bagi masyarakat tanpa imbalan apa pun jua. Berarti, kita semua mesti membiayai diri kita masing-masing. Tidak perlu sedekah dan gaji dan tunjangan atau apa pun sebutannya, dari siapa pun jua.

Dalam Pesannya untuk International Volunteer Day tahun ini (5 Desember), Sekjen PBB Ban ki-Moon mengingatkan kita semua akan pentingnya Kesukarelawanan atau Volunteerism. Beliau mengakui kontribusi kesukarelawanan, dan pentingnya peran para sukarelawan dalam merespons Tantangan Perubahan Iklim.

Hanyalah kau, wahai sukarelawan yang dapat mengabdi tanpa digaji, dapat berkarya tanpa pamrih, dapat berbuat tanpa mengharapkan imbalan apa pun jua….. Bangkitlah, karena kebangkitanmu-lah yang dapat menyelamatkan bumi ini. Bukan kebangkitan mereka yang sedang bernegosiasi untuk memperoleh sedekah dari pihak asing untuk merawat negeri ini.

Ketika Jiwa Sukarelawan di dalam dirimu bangkit; ketika Semangat Sukarelawan di dalam diriku terjaga; ketika kita bersatu-padu dan bergerak bersama; ketika jantung kita berdenyut dengan irama yang sama, dan otak kita memikirkan hal-hal yang sama bagi Ibu Pertiwi; ketika bersama pula kita melangkah ke depan – maka, percayalah kita pasti berhasil…. Tiada kekuatan yang dapat menghalangi kita, karena kita sudah selaras dengan kekuatan-kekuatan alam. Kekuatan-kekuatan buatan sungguh tidak berarti dibanding dengan kekuatan alam yang selalu Maha…..

2. Hari Pertama: Desember 3, 2007

( iv )

Lagi-lagi dalam perjalanan menuju kawasan Nusa Dua, kami berusaha untuk “berdamai” dengan kemacetan lalu lintas dan makin semrawutnya pengendara motor….

Berdamai….
Ya, berdamai…. Ribuan tahun yang lalu para pujangga di wilayah peradaban Sindhu, yang disebut Shintu oleh pelancong dari Cina, Hindu oleh sudagar dari Timur Tengah, dan Indies atau Indische oleh pedagang dari Barat – mengajak kita untuk berdamai dengan Alam, dengan Lingkungan….

Berdamailah Engkau dengan Bumi,
Berdamailah pula dengan Langit,
Berdamailah dengan Tumbuh-Tumbuhan,
dengan Bulan dan Bintang…..

Berdamailah dengan Api,
Berdamailah dengan Angin,
Berdamailah dengan Air,
Berdamailah dengan Tanah dan Ruang….

Berdamailah dengan Hewan diatas Bumi,
Berdamailah dengan Penghuni di bawah Bumi,
Berdamailah dengan Burung-Burung yang Terbang di atas,
Berdamailah dengan Semua dan Segalanya……

Dengan apa dan siapa saja manusia mesti berdamai? Jawabannya: Dengan apa dan siapa saja, dengan semua. Bila diurut, sudah pasti menjadi Daftar yang sangat panjang, dan kian memanjang dari hari ke hari…. dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, dan jaman ke jaman.

Tidak ada jalan lain bagi manusia, kecuali berdamai.
Berdamai dengan lingkungan, dengan alam, terlebih lagi dengan “diri” sendiri, dengan sesama manusia. Tiada keselamatan bagi manusia tanpa kedamaian sempurna seperti itu.

Renungan suci atau tak suci di tengah keramaian itu tiba-tiba terputus oleh wajah Sang Buddha….. Di Bali, wajah Buddha memang dapat ditemukan dimana saja. Dari patung-patung besar dan kecil di pinggir jalan, hingga T-Shirt dan tempat dupa – sepertinya Buddha telah menguasai seluruh ruang gerak manusia Bali.

Tapi, tunggu dulu….
Apa iya, Buddha telah menguasai seluruh ruang gerak manusia Bali?

Seandainya saja itu betul….
Seandainya seluruh ruang gerak manusia Bali dikuasai oleh Buddha….. Hidup kita sudah pasti berawarna lain, bercorak lain…. Ternyata hidup kita masih juga berwarna sama, masih juga bercorak sama dengan corak-corak lain sedunia…..

Buddha mengajak kita untuk mengendalikan napsu. Itulah, itudah dalam peribahasa Bali…. Kuncinya memang itu.

Rasanya kurang tepat cara kita merespons Perubahan Iklim dengan ber-konperensi-ria. Konperensi ini saja, walau diadakan di Bali dan bukan di New York, sudah pasti menghabiskan puluhan milyard rupiah dari pihak penyelenggara. Tepatnya, Republik Indonesia sebagai Tuan Rumah. Belum lagi ratusan milyard yang dihabiskan oleh para peserta dari manca negara selama belasan hari di Bali.

Uang, uang, uang…. Lagi-lagi fulus….. Berjayalah engkau selalu….. Uang, fulus, napsu, Buddha, Bali…. Pikiranku mulai terbebani oleh sesuatu yang terasa mendesak untuk segera keluar – persis seperti seorang perempuan yang sedang hamil tua.

“Solusi bagi Perubahan Iklim adalah Pengendalian Diri!”

Solusi ada di tangan Manusia Amerika, Manusia Barat…. Solusi ada di New York, di kawasan Manhattan yang tidak pernah gelap. Solusi ada di kota London dan Geneve dan kota-kota besar lainnya di Barat.

Solusi ada di tangan Manusia Asia dan Afrika, di tangan Manusia Dunia Ketiga, di tangan Manusia Negara-Negara yang sedang berkembang…..

Janganlah meniru gaya hidup orang barat.
Kau hanya akan menyengsarakan dirimu.

Kendati demikian, langkah pertama mesti diambil oleh Manusia Barat, karena persoalan kita berawal dari Barat.

Live Simply, Buy Less, Spend Less!

Hidup Sederhana berarti tidak berbelanja lebih dari apa yang dibutuhkan. Hidup Sederhana berarti tidak memboroskan uang. Karena, uang adalah energi, kekuatan…. Dan, uang yang diboroskan itu selalu mendorong manusia untuk mencari lebih sebagai penggantinya. Demikian, kita terjerat oleh kesia-siaan ciptaan kita sendiri.

Solusi bagi Perubahan Iklim ini ada di tangan kita, di tangan manusia biasa seperti Anda dan saya. Pemerintah tidak punya solusi. Pemerintahan mana pun jua. Bahkan, mereka yang duduk dalam pemerintahan tidak tahu bagaimana merespons isu yang amat sangat penting ini.

Manusia Amerika, Manusia Barat mesti berhenti menjadi konsumtif. Lalu, apa yang akan terjadi?

Pertama: Adalah negara-negara yang sangat bergantung pada ekspor ke Amerika dan negara-negara Barat lainnya – akan terpukul. Industri mereka akan hancur. Namun, kehancuran itu hanyalah untuk sementara waktu. Karena, pertumbuhan di negara-negara pengekspor itu, misalnya Cina saja, sudah tidak normal.

Kedua: Negara-negara berkembang akan belajar untuk bertumbuh secara alami. Mereka menjadi lebih mandiri. Pemerintah akan lebih memperhatikan persoalan dalam negeri, dan mengembangkan potensi pasar domestik.

Ketiga: Negara-negara penghasil minyak, para calo dan perusahaan-perusahaan raksasa yang selama ini secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi penguasa dunia – akan gugur satu per satu. Raksasa-raksasa ini memang mesti gugur. Keguguran mereka adalah kememangan bagi kekuatan manusia. Dunia akan kembali dikuasai oleh manusia, bukan lagi oleh raksasa.

Keempat: Lembaga-lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lain sebagainya akan terbebaskan dari sangkar mas buatan para raksasa. Lembaga-lembaga luhur nan mulia ini ibarat Dewi Sinta yang telah diculik oleh Rahwana. Maka, Dewi Sinta mesti diselamatkan, dan dikembalikan ke pangkuan Rama. Perserikatan Bangsa-Bangsa memang sejak awal sudah semestinya berkantor pusat di Asia atau Afrika. Biaya operasional disini jauh lebih rendah. Lagi pula hampir tiga perempat manusia hidup di Asia dan Afrika. Tidak ada alasan untuk mempertahankan markas besar lembaga-lembaga tersebut di New York, Geneve, London atau Paris.

Ah, ternyata aku berpikir sangat jauh….. sementara Westin dimana aku akan ikut berkonperensi-ria dengan orang-orang terhormat sedunia makin dekat….. Terpikir, “Ah, munafik juga kau…. Bukankah selama ini kau berjuang mati-matian untuk memastikan kehadiranmu di konperensi orang-orang terhormat ini? Sekarang, malah mengritik habis…”

Munafik?
Barangkali….. Tapi, aku berada disini bukan untuk mengritik saja. Aku menawarkan solusi. Mau dipakai, silakan…. Tidak dipakai, juga terserah. Kelak, kita semua mesti bertanggung jawab terhadap anak cucu kita yang sudah pasti kekurangan air bersih untuk minum….

( v )

Konperensi di buka oleh Ketua yang sesaat kemudian lengser….. dan, terpilihlah Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Bapak Rachmat Witoelar, sebagai Ketua baru UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Pidato beliau sangat rapi, teratur, sopan, dan sistematik. Setiap peraturan birokrasi dipatuhi, tiada sesuatu yang keluar dari protokol resmi. Acara berjalan lancar, dan aman.

Kemudian, giliran Executive Secretary Mr.Yvo de Boer naik panggung….. Sentuhan-sentuhan manusiawi yang sering keluar dari pakem birokrasi dan protokol terasa tidak aneh dan asing. Pasalnya, pada bulan September yang lalu, saya sempat menghadiri Konperensi Besar yang diselenggarakan di Markas Besar PBB di New York, dengan Tema Besar yang sama….. Hmmmmm, Manusia PBB, dari Sekjen hingga Relawan di Kantin – sudah tidak birokrat lagi. Sudah jauh lebih manusiawi….

Giliran birokrat dan teknokrat kita keluar dari pakem. Padahal, pikir-pikir, dulu kita punya Bung Karno yang amat sangat manusiawi. Hampir setiap pidato beliau, dari yang paling resmi dan disampaikan dalam bahasa asing, hingga yang sangat tidak resmi dan disampaikan dalam bahasa nasional, bahkan dihiasi dengan peribahasa daerah – semuanya memiliki sentuhan humanis, sentuhan manusiawi yang jelas dan terasa oleh siapa pun jua.

Kembali kepada Sekretaris Boer:
“Memulai sesuatu yang baru selalu sulit. Namun bila kita mengarahkan seluruh perhatian kita pada kesempatan-kesempatan di depan mata dan tidak terlumpuhkan oleh tantangan – maka kita pasti berhasil.”

Lebih-lebih lagi ketika beliau mengakhiri pidatonya dengan harapan: “Saya mengharapkan visi, kasih dan kebijakan bagi Anda.”

Dalam bahasa Inggeris, kata-kata tersebut mampu menggetarkan setiap hati: “I wish you vision, I wish you compassion and I wish you wisdom.” Luar biasa…. Saya pun berharap Tuan Boer,berharap bila kata-kata itu menyentuh hati Manusia Barat dan ia berperilaku selaras dengan alam. Tidak membebani alam, tidak memboroskan energi…. Sehingga, bersama kita semua terselamatkan dari bencana yang sudah di depan mata.

( vi )

Ya, bencana memang sudah di depan mata.
Pemanasan Global sudah terjadi. Perubahan Iklim sudah terasa. Air danau dan kolam dan sungai makin surut. Air laut sudah mencemari sumber-sumber air bersih kita. Negara-Negara Pulau Kecil seperti Samoa, bahkan Pulau Bali yang sangat kecil, kendati merupakan bagian dari Negara Besar – sudah terancam eksistensinya.

Kita tidak bisa menunggu lagi.
Saat untuk berbuat sesuatu adalah saat ini.

Sungguh sangat lucu, tidak masuk akal dan tidak manusiawi bila kita menggunakan saat ini untuk bernegosiasi tentang jumlah uang yang mesti disedekahkan oleh negara-negara kaya kepada negara-negara miskin dan/atau berkembang, supaya mereka melindungi hutan mereka.

Tidak, tidak bisa.
Kita mesti mendesak negara-negara kaya itu untuk menghentikan lelucon ini.

Dan, adalah tanggung-jawab kita sebagai Rakyat Sedunia, People of the World, untuk mendesak pemerintahan kita masing-masing untuk tidak berpolitik dan bernegosiasi tentang jumlah uang. Ini menyangkut keselamatan warga sedunia. Urusan politik dan uang adalah lelucon besar.

Negara-negara maju atau kaya, apapun sebutannya, mesti segera dan saat ini juga menghentikan pencemaran udara dengan mencegah terjadinya emisi karbon yang berlebihan.

“Tapi, mereka tidak mau… Amerika tidak mau, sekutunya yang lain juga sama….” Kata temanku.

Tidak mau bagaimana?
Mereka harus mau. Rakyat mereka mesti mendesak mereka untuk mau. Tidak bisa tidak mau.

“Lha, buktinya mereka tetap pada pendirian mereka. Tidak mau menandatangani Protokol Kyoto yang semestinya diindahkan oleh setiap negara peserta. Dan, emisi karbon dicegah bersama,” lanjut temanku.

Okay, fine, bila memang demikian, maka seperti yang pernah diimpikan oleh Bung Karno, Asia dan Afrika mesti bersatu, termasuk Timur Tengah yang punya minyak banyak itu. Jatuhkan Sanksi Ekonomi terhadap Amerika dan sekutunya yang tidak mengindahkan Protokol Kyoto.

Tidak hanya negara-negara maju saja yang bisa menjatuhkan sanksi ekonomi. Negara-negara berkembang pun bisa. Hentikan aliran minyak untuk satu bulan. Biarlah Wallstreet dan Bursa London terjun bebas……

Adakah keberanian di dalam diri kita, di dalam diri Indonesia untuk menggalang dan mempersatukan kekuatan-kekuatan Asia dan Afrika dan bersama-sama menghadapi semua pihak yang tidak mau mengindahkan protokol Kyoto.

Dalam wawancaranya dengan pers, Sekretaris Boer sudah mengaku bahwa Konperensi di Bali tak akan mampu mendesak Amerika untuk menandatangani perjanjian Kyoto tentang pengurangan emisi. Kenapa, kenapa kau melemah wahai Arjuna? Oooopps, sorry Mr. Boer, barangkalu kau tidak kenal sama Arjuna. Tapi, janganlah melemah. Bisikilah atasanmu yang baru, saudaraku sebangsa dan setanah air yang kebetulan saat ini menjadi Menteri Lingkungan Hidup untuk tidak me-goal-kan rencana sedekah dari barat untuk timur. Tantanglah mereka yang tidak fair, percayalah pada ke-fair-an dirimu.

Kebenaran pasti jaya, yakinilah hal ini!

( vii )

Gubernur Bali mengucapkan selamat datang kepada peserta resmi konperensi yang berjumlah 9,144 orang dari 127 negara….. Jumlah ini masih akan membengkak bila ditambah dengan insan pers dan lain-lain. Luar biasa!

Para artis dari ibukota membawakan lagu yang luar biasa pula, tentunya tentang lingkungan….. Hanya saja, sayang, sayang sekali – lagu itu hanya dinikmati oleh kita-kita yang berbangsa dan berbahasa Indonesia. Bapak Menteri tampak bahagia dan menikmati pula.

Seandainya, lagu itu diterjemahkan….. Seandainya terjemahan itu diproyeksikan pada dua layar raksasa yang tersedia. Seandainya, lagi-lagi seandainya….

Ah, tak terpikir oleh panitia.
Panitia sudah pasti sibuk dengan segala macam kesibukan. Masak dibebani lagi dengan pekerjaan tambahan untuk menerjemahkan lagu.

Tapi, ya bagaimana?
Kemudian, terpikir lagi….. Seandainya para negosiator kita pun berbahasa Indonesia saja, tidak ada yang menerjemahkan mereka, seandainya, ini memang konyol saya tahu – maka perkara fulus akan terselesaikan. Kita tak perlu lagi menggadaikan jiwa kita dengan uang 37.5 trilyun rupiah per tahun selama sekian tahun.

Masih berandai-andai…..
Seandainya Bapak Menteri dan pejabat-pejabat lain, semuanya mengenakan baju batik lengan pendek – maka…… Ah, barangkali lupa….

Tapi, coba bayangkan jika mereka tidak lupa….

Pertama: Kita akan mempromosikan produk nasional, para peserta lain dari luar negeri barangkali ikut tergugah untuk memakainya pada hari kedua dan seterusnya. Jelas, para pedagang di Bali akan meraih keuntungan yang wajar, waras, sopan, dan ramah lingkungan.

Kedua: Dengan cara itu, kita dapat membuktikan kesungguhan kita dalam hal merespons perubahan iklim. Suhu alat penyejuk boleh dinaikkan sedikit. Tidak perlu terlalu dingin.

Masih banyak keuntungan-keuntungan lain…. tapi, ya itu, seandainya kita tidak lupa bahwa kita sedang menghadiri Konperensi tentang Perubahan Iklim dan langkah konkret sekecil apapun lebih bunyi daripada kata-kata besar.

Seandainya…..
Seandainya para peserta kita, insan pers kita yang berada di pelataran khusus yang disediakan untuk pameran dapat menahan diri dan tidak merokok….. Kita merokok, dan beberapa bule ikutan juga.

Kita sedang bicara tentang iklim, tentang lingkungan….. dan, kita sendiri mencemarinya dengan asap rokok….

Ya Allah, Ya Rabb, dagelan apa pula ini?
Berilah kami kemampuan Widhi, Tao, Buddha, Gusti, Bapa di Surga – untuk memahami maksudmu di balik semuanya ini…… Semoga kita dapat membaca Surat-Mu, semoga kita dapat memahami apa yang tersirat dalam Surat itu. Semoga…….

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone