June 9, 2008

Wawancara Anand Krishna Soal Isu Perubahan Iklim Jelang KTT UNFCCC di Bali

Indonesia Jangan Jual Negara untuk Kepentingan Karbon

Perhelatan internasional UNFCCC (United Nation Framework Climate Change) atau konferensi PBB terkait perubahan iklim di Nusa Dua, 3-14 Desember 2007, tampaknya bakal menjadi ajang pertarungan negosiasi bisnis dan politik. Apa untungnya bagi Indonesia? Berikut pertikan wawancara Radar Bali dengan Anand Krishna, tokoh spiritualis yang juga salah satu delegasi Indonesia untuk UNFCCC Bali.


Sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk UNFCCC, bagaimana Anda merefleksikan perubaham iklim yang kian menjadi ancaman ini?
Perubahan iklim sebetulnya sudah dirasakan sejak tahun 1970-an. Sejak saat itu pemerintah Inggris mengambil kebijakan membuat tanggul penahan pasangnya air laut. Tetapi nyatanya kota London tetap kebanjiran. Dari kasus ini, saya kira kita patut berterima kasih kepada sutradara Al Gore yang membuat film tentang dahsyatnya perubahan iklim yang ternyata telah membuka kesadaran kita tentang ancaman ini.
Kita sudah tahu bahwa dampak perubahan iklim ini tidak saja mengakibatkan naiknya air laut ke darat dan naiknya suhu udara, tetapi juga bagi kesehatan juga melahirkan banyak virus kebal dan ancaman bencana lainnya. Jadi kerusakan lingkungan kita sudah sangat serius.

Apakah Anda punya pengalaman tentang persoalan ini?
Kebetulan bulan September 2007 lalu saya menghadiri konferensi pemanasan global di New York yang di hadiri LSM lingkungan seluruh dunia. Sayangnya, tidak satu pun LSM dari Indonesia tidak hadir.

Apakah Indonesia akan memperoleh manfaat even ini?
Manfaat tentu ada. Tapi yang dikejar oleh pemerintah kita justru forum ini dipakai hanya untuk mencari uang Rp 37,5 triliun setiap tahun sebagai kompensasi pemeliharaan hutan. Sehingga kita tak menggunduli hutan untuk mencegah pemanasan global. Jadi memang betul lebih banyak jual beli karbon saja di forum UNFCCC Bali ini.

Bukankah bagus hutan Indonesia terpelihara?
Memang sekilas bagus, tapi karena asing dalam hal ini negara maju merasa memberi jasa pembiayaan pemeliharaan hutan. Maka suatu saat tentu mereka akan meminta imbalan dari jasa yang diberikan. Walaupun ini tak tertera ditasa kertas, tapi kita pasti tak dapat berbuat banyak ketika suatu saat mereka bilang akan memakai hutan yang telah dibiayai tadi. Kalau itu yang terjadi kan kita ini ibararatnya seperti penjaga hutan saja.

Apakah itu langkah keliru?
Bukan hanya keliru, tapi sudah fatal salah karena itu artinya kita telah menjual negara kita kepada negara lain.

Lantas yang harus di lakukan pemerintah Indonesia?
Ya tak perlu cari uang buat pemeliharaan hutan dari asing, kita mesti mampu memelihara hutan yang luas ini dengan biaya sendiri agar lepas dari ketergantungan asing. Justru negara maju yang penyumbang terbesar emisi karbon itu harus bangun hutan sendiri, bukan menyuruh orang memelihara hutan.

Apa yang dapat dibawa Indonesia ke forum UNFCCC ini?
Sebenarnya kita khususnya Bali punya konsep tri hita karana untuk keseimbangan lingkungan, tapi dalam praktinya disayangkan hanya jargon saja. Bali juga punya hari Raya Nyepi yang secara factual terbukti mengurangi gas emisi karbon secara total.

Apa harapan Anda dari forum UNFCCC ini?.
Saya berharap apa pun hasilnya, sebagai bangsa jangan menjadikan forum UNFCCC ini untuk cari uang saja. Kalau pun dipaksan, digunakan untuk apa uang itu nantinya. Jangan sampai uang itu justru digunakan untuk kepentingan pesta politik 2009. Saya berharap Indonesia mampu memberi perubahan bagi dunia. Yaitu dengan cara mengatakan tidak pada unsure pencemar plastik dan mengurangi transportasi penghasil emisi karbon.(muhammad ridwan)

Jumat, 30 Nov 2007 – Sumber: Jawapos

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone