October 5, 2008

Antara Fakir Miskin dan Fakir Moral

Sore itu terjadi dialog antara Pakdhe Jarkoni dengan Wisnu, keponakannya. Sebagai mahasiswa Wisnu termasuk progresif dan pembangkang terhadap norma-norma yang dianggapnya sudah kurang relevan pada saat ini.

Wisnu: Pakdhe, kemarin pakdhe memberikan beras kepada para satpam, dan tukang pungut sampah di komplek. Membayar zakat fitrah ya pakdhe? Kami melihat pemberian zakat mestinya bukan hanya dari segi lahiriah, mestinya berdasarkan akhlak, moral, segi batiniah. Memang memberi zakat kepada fakir miskin itu baik, tetapi mengapa kita tidak memberikan sesuatu kepada mereka yang fakir moral? Saya yakin hasilnya akan cepat terasa bagi bangsa dan negara.

Pakdhe Jarkoni: Weleh-weleh, keponakan pakdhe sudah mulai kritis ya? Maksudmu di bulan penuh berkah ini jangan hanya diisi dengan kegiatan ritual dan kesakralan ibadah, melainkan menyangkut segi sosial kemasyarakatan? Pinter kowe, cerdas kamu Wisnu!

Wisnu: Iya pakdhe, terminologi miskin perlu diperluas, bukan hanya warga atau masyarakat yang lemah ekonomi, tetapi juga yang lemah moral. Muzaki nya bukan orang yang mampu secara keuangan, tetapi para pemimpin dan pers yang jernih dan memiliki otoritas kuat. Kalau pemberian zakat diharapkan dapat memberikan kail dan bukan hanya memberikan ikan, maka bagaimana caranya agar pejabat yang fakir moral dapat memberdayakan moral mereka sendiri.

Pakdhe Jarkoni: Maksudmu, para pejabat yang tidak memiliki integritas dan martabat di hadapan publik harus diberi zakat moral? Disantuni dan diluruskan perilakunya? Pemberinya tokoh spiritual yang jernih, yang terbebaskan dari kepentingan politik dan kepentingan pribadi? Kemudian mesti didukung pers yang bertanggung jawab? Saya kok lebih setuju bagaimana caranya agar mereka yang fakir moral dapat memberdayakan diri mereka sendiri.

Wisnu: Saya dijuluki mahasiswa yang kritis pakdhe, saya melihat ada gejala “ketidakdewasaan moral” dalam umat Islam. Masyarakat selalu menanyakan hukum agama mengenai segala sesuatu, bukankah itu menandakan bahwa umat Islam tidak berani berpikir sendiri. Mereka memandang bahwa hukum adalah sesuatu yang tertera dalam teks Kitab Suci, sementara hasil penalaran manusia bukan dianggap sebagai suatu hukum yang mengikat.

Pakdhe Jarkoni: Untuk itu perlu bentuk hukum yang lain, yakni hukum nurani. Inspirasi gagasan ini diperoleh dari hadis Nabi yang terkenal, “Istafti qalbaka”, mintalah fatwa pada nuranimu sendiri. Inilah awal dari memberdaya diri sendiri. Karena tidak menggunakan nurani dan bergantung pada pendapat luar maka mereka melakukan tindakan tidak benar, tindakan merugikan negara dan bangsa tanpa rasa bersalah. Memang aturan menerima hadiah dan mark up belum ada fatwanya. Bukankah ambil sedikit dari yang diterima kemudian sumbangkan ke masyarakat sudah dapat pujian?

Wisnu: Betul Pakdhe, sangat penting bagi umat Islam untuk mengembangkan kesadaran moral yang tinggi, mendalam, dan penuh tanggungjawab. Hal itu tak bisa lain kecuali jika umat Islam terus mengasah agar nuraninya berkembang dengan sehat. Nurani yang sehatlah yang akan menjadi pemandu bagi seorang beriman. Dalam menghadapi segala sesuatu, ia tak harus selalu bertanya kepada seorang ustadz lebih dahulu; ia hanya perlu bertanya kepada nuraninya sendiri. Ia boleh bertanya kepada seorang ustadz, tetapi pada akhirnya keputusan final tetap ada di tangan nurani yang bersangkutan.

Triwidodo

September 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone