July 12, 2010

Semua Sedang Bersyair

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (Al quran : 36:69)

Masih terdengar suara ibu-ibu pengajian di daerah tempatku tinggal, suaranya dimasukan ke dalam pengeras suara dan dapat di dengar hingga jauh. Anak-anak es de di sekolah itu masih terus saling sahut menyuarakan ayat-ayat dari Al quran. Di teve-teve Ustad muda itu masih menyenandungkan ayat-ayat Al quran. Di pestival-pestival terdengar suara merdu berlomba saling unjuk merdu menyuarakan Al quran.

Bersyair…..

Kita semua sedang bersyair. Apapun itu kitab sucinya.

Kita sedang bersyair.

Disemua kitab suci ada ayat yang menyatakan bahwa kitab suci adalah merupakan pedoman untuk melakoni hidup agar lebih bahagaia dan tentram. Namun kemudian karena melakoni ajaran kitab suci sangatlah sulit, maka kita mencari mudahnya saja yaitu dengan cara bersyair.

Para pelajar sibuk di suruh bersyair atau nilainya tidak akan bagus, para ibu rumah tangga sibuk di suruh bersyair atau kehilangan gossip info terbaru. Para ustad sibuk bersyair atau kehilangan jemaah pengajiannya yang berdampak pada asap dapur. Para politikus sibuk bersyair demi mendapatkan posisi kedudukan yang lebih nyaman. Kita semua sedang bersyair, dan bersyair dengan suara termerdu yang kita mampu sajikan.

Siapa yang sedang kita bohongi ?

Ku dengar suara dari kejauhan berbisik, “kamu tidak sedang membohongi siapa-siapa, kamu tengah membohongi dirimu sendiri”

Bohong,

Bohong dan bohong lagi.

Seberapa manis syair yang kita kumandangkan, seberapa merdu syair yang kita senandungkan. Tetap saja seindah-indahnya syair tidak akan pernah bisa mengalahkan indahnya prilaku. Prilaku kitalah yang di nilai, bukan indah dan merdunya syair.

Tanpa menggunakan pengeras suara, tanpa di liput oleh TV, tanpa di umumkan di dalam Koran-koran, kehidupan akan mencatat prilaku kita tanpa ada kesalahan. Siapa yang sedang kita bohongi ?, kita mengtasnamakan Tuhan dan Kitab Suci Tuhan hanyalah untuk keuntungan diri dan kelompok sendiri. Berbisnislah jika engkau masih ingin berbisnis tetapi jangan mengatas namakan moral dan Tuhan demi keuntungan dirimu dan kelompokmu. Berpolitiklah jika engkau masih ingin kekuasaan, namun jangan jadikan moral dan Tuhan serta kebhinekaan sebagai barang dagangan untuk mensukseskan ambisimu dan kelompokmu.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram”. [Ar-Rad: 28]

Ingatlah akan Allah dalam setiap helaan nafasmu, siapa sebenarnya yang sedang kita bohongi. Suara di kejauhan itu menyahut lagi dengan nada yang lebih kencang “kamu tidak sedang membohongi siapa-siapa, kamu tengah membohongi dirimu sendiri”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone