Latest Article

Hikmah Anugerah Air Dalam Tradisi Siraman Penganten

Ritual Siraman Calon Pengantin
Seorang calon pengantin pria atau wanita dengan untaian bunga melati di lehernya dengan baju putih bersih dimandikan dengan air sritaman. Air yang dicampur dari tujuh sumber disebari bunga mawar, melati dan kenanga. Air dari tempuran, pertemuan sungai melambangkan bercampurnya dua jiwa, air dari mata air yang tak pernah kering melambangkan rizki yang [...]

Continue reading

About

Berbagai perbedaan suku, budaya agama, bangsa, status sosial, ekonomi, ras, dan gender dalam kehidupan manusia pada saat ini hendaknya tidak menjadi pemicu konflik, melainkan harus dianggap sebagai rahmat, sebagai keindahan yang akan menyalakan semangat perdamaian dan persatuan guna mewujudkan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang. Itulah salah satu misi dari adanya media alternatif ini.

Recent articles

Gambar Calon-Calon Pemimpin Bangsa yang Menempel di Pohon

Triwidodo

Maraknya gambar calon-calon anggota DPR dan DPRD di tepi jalan menggelitik Pakdhe Jarkoni, sehingga sore itu dia memanggil keponakannya Wisnu untuk diajak berdiskusi.

 

Pakdhe Jarkoni: Wisnu, bagaimana pandanganmu sebagai aktifis mahasiswa tentang fenomena gambar digital calon-calon pemimpin yang dipasang di ruang-ruang publik?

 

Wisnu: Jenuh Pakdhe, my temans seneng lihat Gambar Slank atau Luna Maya saja. Some temans ngrasani, katanya sekarang lebih banyak Genderuwo, itu yang malam-malam suka nempel di pohon. Tapi pakdhe zaman kan sudah modern, mengumpulkan masa bikin repot, ngomong di televisi mahal, lagian tingkat Kabupaten/Kota kan perlu mengingatkan kenalan-kenalan untuk memilihnya, ya nggak pakdhe.

Continue reading

Share This Post

Ajaran Leluhur tentang Makna Ungkapan Terima Kasih

Triwidodo

Cerita Para Pemandu

 

Barter hadiah persembahan

Ada seorang sahabat yang baru memanen singkong “spesial” di ladang pegunungan yang subur dan mengantarkan singkong tersebut kepada Sang Guru. Sang Guru menerima dan masuk ke dalam rumah bertanya kepada isterinya, apakah ada yang yang diberikan kepada sahabatnya. Sang istri mengatakan bahwa ia baru saja memasak ikan yang diperoleh dari kolam di belakang rumah. Selanjutnya, Sang Guru memberikan masakan ikan tersebut kepada sang sahabat. Tidak lama kemudian datanglah sahabat yang lain memberikan ayam bakar. Sang Guru menerimanya dan mengucapkan terima kasih dan memberikan singkongnya kepada sahabatnya. Alangkah indahnya sebuah masyarakat yang warganya saling berterima kasih.

Continue reading

Share This Post

Mengalahkan Bathara Kala Simbol Mengatasi Waktu Dunia

Triwidodo

Waktu dunia dan waktu spiritual

Santo Agustinus menulis bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan waktu, artinya waktu dimulai ketika dunia berawal. Perlu dibedakan antara waktu dunia dan waktu spiritual. Waktu adalah rangkaian kejadian, suatu kontinuitas. Dalam waktu ada masa lalu, masa kini dan masa depan.

Waktu dunia mempunyai tekanan, misalnya pemberian hadiah ulang tahun akan sangat berarti apabila tepat waktu. Sedangkan waktu spiritual tidak ada garis yang jelas antara tahapan kejadian. Misalnya waktu seseorang merasa dirinya damai tidak jelas batasannya. Einstein mengatakan waktu hanya berlaku pada satu orang. Misalnya seseorang berada di Solo pada saat ini dan waktu menunjukkan pukul 09.00, tetapi temannya di Papua pada saat itu menunjukkan pukul 11.00. Suara seseorang di radio saat itu di Solo akan sampai di Papua beberapa detik kemudian.

Continue reading

Share This Post

Pesan Terakhir Bhisma Tentang Dharma Dalam Diri Manusia

Triwidodo

Pesan terakhir Bhisma

Resi Bhisma pernah bersumpah untuk setia melindungi Kerajaan Hastinapura. Seiring dengan perjalanan sang kala, Kerajaan Hastinapura dipimpin kelompok Kurawa yang tidak memahami kebajikan. Terdapat berbagai pertimbangan mengapa Resi Bhisma tetap memegang sumpahnya ketika Hastina berperang melawan Pandawa. Beberapa pertimbangan tersebut perlu diungkapkan untuk melengkapi pemahaman tentang karakter Bhisma.

Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya: “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”

Continue reading

Share This Post

Kasih Ibu Dewi Kunti Dalam Diri Manusia Indonesia

Triwidodo

Kebahagiaan untuk melahirkan, membesarkan putra

            Seekor induk ayam, bertelor, bermeditasi mengerami telor-telornya, dengan hening, sabar dan penuh kasih menunggu menetasnya mereka. Setelah menetas, sang induk melindungi, mengajari anak-anaknya mencari makan sampai mereka mandiri.

            Seorang ibu mempersiapkan raga dan jiwanya agar telurnya dibuahi. Selanjutnya telur yang menjadi sel induk tersebut, dipelihara dalam rahim yang kokoh dan difasilitasi untuk menggandakan diri, berkembang dan dibawa kemanapun juga selama sembilan bulan sepuluh hari. Setelah sang bayi lahir, diberinya makan dari air susunya, diajarinya bicara dengan penuh kesabaran, bahkan terus menerus didoakannya sampai akhir hayat dirinya.

Continue reading

Share This Post

Semar Rohnya Indonesia

Triwidodo

Semar di dalam diri manusia Indonesia

Tokoh Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang. Penampilan dan perannya mengundang penafsiran yang beraneka ragam. Peran Semar menarik untuk ditelaah kembali dalam pencarian jati diri bangsa yang pada saat ini sedang menghadapi tekanan dari budaya asing yang melanda seluruh pelosok Nusantara. Hal ini penting agar bangsa Indonesia tidak terlalu jauh terperosok ke dalam budaya asing dan melupakan akar budayanya sendiri.

Continue reading

Share This Post

Pagelaran Wayang Sebagai Model Pemicu Peningkatan Kesadaran

Triwidodo

Pelajaran dari model fisik, model perilaku dan model pemicu peningkatan kesadaran

Sungai Bengawan Solo sering terjadi banjir, oleh karena itu pemerintah merencanakan pembangunan sudetan sungai baru di Desa Babat, Lamongan menuju ke laut, agar dapat mengurangi besarnya banjir. Dalam perencanaannya, sebuah perhitungan teknis saja tidak cukup, karena banyak faktor lapangan yang sulit disederhanakan. Oleh karena itu para pakar membuat model penelitian fisik di laboratorium dengan membuat model Sungai Bengawan solo dengan skala dimensi yang lebih kecil. Pada model tersebut dibuat sudetan dan dicoba dengan simulasi beberapa besaran debit banjir. Hasil penelitian menggunakan model tersebut lebih dapat mewakili kenyataan yang terjadi di lapangan dari pada perhitungan teknis semata.

Para pakar perilaku ingin mengetahui apakah kondisi lingkungan tertentu dapat mempengaruhi moral seseorang. Satu kelas mahasiswa di Universitas Washington melakukan simulasi model perilaku selama dua minggu. Separuh mahasiswa menjadi sipir, penjaga penjara sedangkan separuhnya lagi menjadi narapidana. Belum sampai satu minggu simulasi dihentikan, karena perilaku para sipir sangat keterlaluan, semakin semena-mena, sedangkan para narapidana semakin hari semakin tertekan, depresi berat. Ternyata lingkungan kerja mempengaruhi perilaku. Ini merupakan contoh model penelitian perilaku.

Continue reading

Share This Post

Makna Gunungan dalam Pagelaran Wayang Kulit

Triwidodo

Gunung, Candi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Secara umum Gunungan menggambarkan bentuk gunung, profil lapisan permukaan bumi yang menonjol. Gunung mempunyai sifat alamiah yang stabil. Gunung menggambarkan tempat yang tinggi, sejuk, oksigen yang tipis, lereng yang curam penuh hutan belukar, pada kaki gunung biasanya terdapat dataran yang subur. Daerah pegunungan cocok sebagai tempat peristirahatan, tempat mencari kedamaian batin. Pemandangan yang indah dan alami di pegunungan membangkitkan rasa terdalam dalam diri seseorang.

Continue reading

Share This Post

Salah Satu Penyebab Anak Bangsa Kurang Cerdas

Triwidodo

Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan Pakdhe jarkoni diajak diskusi Bu Guru Nana di depan rumahnya.

 

Bu Guru Nana: Tindak-tindak, jalan-jalan Pakdhe? Kelihatan segar sekali.

 

Pakdhe Jarkoni: Iya, sejak Sekolah Dasar Pakdhe sudah suka olah raga. Bagaimana murid-murid sekarang Bu Guru? Tambah kritis ya pemikirannya?

  Continue reading

Share This Post

Budaya Sebagai Alat Pemersatu

Triwidodo

Malam semakin larut tetapi pakdhe Jarkoni masih asyik berdiskusi dengan Wisnu, keponakannya seorang aktifis mahasiswa.

 

Pakdhe Jarkoni: Budaya memberi ciri khas pada suatu bangsa. Beda bangsa kita dengan bangsa lain terletak dalam perbedaan budayanya. Budaya adalah unggulan-unggulan dari adat kebiasaan yang bersifat luhur dan universal dari suatu bangsa.

 

Wisnu: Maksud Pakdhe, perbedaan adat atau kebiasaanlah yang sering membuat friksi dan budayalah yang mempersatukan suatu bangsa?

 

Pakdhe Jarkoni: Betul, adat adalah kebiasaan-kebiasaan yang mungkin saja pada masa itu baik, sedang sekarang tidak sesuai lagi. Misalkan adat adu jago, adat main kartu pada waktu malam hari sebelum penguburan jenazah. Adat yang menjadi unggulan yang bersifat luhur adalah budaya. Para founding fathers mengumpulkan unggulan-unggulan dari setiap daerah, maka terkumpulah 5 butir Pancasila. Ada juga unggulan-unggulan lain dari setiap daerah tetapi yang bersifat mencakup seluruh wilayah Nusantara adalah 5 butir Pancasila.

 

Wisnu: Baiklah pakdhe, kami bisa menerima bahwa unggulan adat dari setiap daerah di Nusantara, yang bersifat universal yaitu Pancasila. Bagaimana dengan agama? Bukankah agama pada prakteknya ingin membenarkan pandangan dan keunggulannya sendiri?

 

Pakdhe Jarkoni: Agama jelas bukan adat, akan tetapi kita dapat juga mencari unggulan-unggulan dari setiap agama, yang semuanya pasti dianggap unggul oleh penganut agama masing-masing. Walaupun demikian ada juga unggulan yang bersifat universal, misalnya penerapan kasih dan penggunaan hati nurani. Bukankah sila-sila dalam 5 butir Pancasila tidak bertentangan dengan semua agama. Bukankah para founding fathers mempunyai kejeniusan yang tinggi untuk mempersatukan Nusantara dengan menggunakan budaya yaitu budaya Pancasila?

 

Wisnu: Pakdhe, masalahnya sering ada kaitannya antara agama dan politik. Bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama sangat mudah diselewengkan, agama bukan lagi sebagai kekuatan pembebas dari berbagai penindasan dan ketidak adilan. Bahkan agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.

 

Pakdhe Jarkoni: Adalah kewajiban moral agama untuk ikut memandu politik agar tidak berkembang kepada hal-hal yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya. Agama harus mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum. Sudahlah Wisnu, kembali pada kearifan lokal, jadikan Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa.

 

Wisnu: Betul pakdhe, saya mempertanyakan para pemimpin yang menomorduakan kepentingan persatuan bangsa Indonesia, untuk kepentingan politiknya.

 

Triwidodo

November 2008.

Share This Post