June 9, 2008

Pasarku Sayang, Pasarku Malang

Di masa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional seperti konfllik etnis, agama, dan keterpurukan ekonomi. Pasar tradisional merupakan suatu harapan bagi bangsa ini.

Selama ini banyak dari kita yang tidak menyadari betapa pentingnya peran pasar tradisional yang selama ini sudah menjadi bagian dari kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari. Bahwa dengan tergusurnya pasar tradisional, ikut lenyap pula sebagian dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Pasar Tradisional adalah suatu wadah yang menampung orang-orang dimana terdiri dari latar belakang yang berbeda, etnis dan agama namun bisa saling berinteraksi tanpa hambatan akan perbedaan tersebut. Human relations masih tetap eksis dimana tidak ditemukan di pasar modern, (yang justru mengarah pada individualistis). Sifat kegotong royongan masih terlihat dimana pada zaman moderen ini semangat itu sudah memudar. Melalui pasar tradisional, para petani kita masih bisa hidup dengan menjualkan hasil panennya dengan profit margin yang memuaskan. Uang dari penjualan hasil sumber alam kita masih berputar di dalam negeri kita sendiri dan rakyat mendapatkan manfaatnya.

Pasar modern seperti hipermarket yang penuh dengan kenyamanan, cenderung menjual sayur-mayur dan buah-buahan impor dengan harga yang cukup miring. Jelas iming-iming ini membuai kita untuk lebih memilih berbelanja di hipermarket dengan segala fasilitasnya yang moderen. Tetapi kita tidak menyadari bahwa dengan cara seperti itulah kita ikut berperan dalam mematikan pasar tradisional. Sayur-mayur dan buah-buahan impor ini mematikan para petani kita. Akhirnya kita telah menciptakan pengangguran dan angka kemiskinan semakin meningkat. Yang dampaknya, tanpa kita sadari akan kembali kepada kita sebagai rakyat Indonesia secara keseluruhan. Para pemilik hypermarket adalah perusahaan-perusahaan luar negeri yang sudah kaya raya dan kita perkaya lagi dengan memberikan izin kepada mereka untuk membangun hipermarket-hipermarket disetiap pojok kota. Uang yang diperoleh dari semua keuntungan itupun akhirnya akan diboyong ke luar negeri. Bangsa sendiri dirugikan.

Saya tidak menentang keberadaan pasar-pasar moderen seperti hipermarket, tetapi harus ada kebijakan dari pemerintah untuk membatasi pembangunan hipermarket-hipermarket tersebut. Pemerintah harus lebih melindungi rakyat kecil ketimbang para pengusaha besar yang sebenarnya sudah kaya raya. Berapa persenkah dari keseluruhan jumlah penduduk di Indonesia yang mampu berbelanja di hypermarket tersebut? Di Jabotabek sendiri 29 pasar tradisional sudah mati. Pasar Ikan di Cilincing yang selama ini terkenal dengan ikan-ikannya yang langsung dibawakan dari laut oleh para nelayan, sekarangpun sudah mati. Dengan matinya pasar tersebut menganggur pulalah para nelayan kita. Dan kehidupan perekonomian yang berpihak pada rakyat, semakin terpuruk.

Kita tidak menyadari bahwa sebenarnya peran pasar tradisional dapat menghidupkan kembali kedaulatan ekonomi kita yang selama ini dijajah oleh bangsa asing. Dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur mayur lokal, kita menghidupkan kembali para petani kita. Dengan pasar tradisional kita menghidupkan kembali hubungan kebhinekaan dan sifat gotong royong yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Perdamaian bangsa bisa terwujud dalam skala kecil seperti pasar tradisional dan semua itu harus dimulai dari diri kita sendiri.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone