July 5, 2011

Renungan Bhagavatam: Kelahiran Marut, Pupusnya Dendam Ibu Para Asura

Diti dan Aditi adalah putri-putri dari Daksha yang kawin dengan Resi Kasyapa, cucu dari Kardama dan Dewahuti. Diti menurunkan para Asura, sedangkan Aditi menurunkan para dewa. Pada suatu saat Diti sangat sedih saat melihat para asura banyak yang dibunuh oleh Indra dan para dewa, sehingga dia dendam kepada Indra. Diti bertapa agar dapat menurunkan putra yang dapat membunuh Indra. Diti kemudian selalu bertindak untuk menyenangkan hati Resi Kasyapa, sehingga pada suatu hari Kasyapa berjanji akan memenuhi apa pun yang diminta oleh Diti. Diti kemudian menyampaikan keinginan untuk mempunyai putra yang dapat membunuh Indra. Resi Kasyapa kalah janji, dan bagaimana pun dia tetap akan memenuhi janjinya. Resi Kasyapa berkata, “Aku akan memberi pelajaran tentang mantra dan kamu harus melakukan tapa brata sepanjang tahun. Jika kamu melakukan hal itu, maka pada akhir tahun kamu akan melahirkan putra yang menjadi jawaban dari doamu. Tidak lama kemudian Diti mengandung anak dari Kasyapa dan dia melakukan tapa brata dengan keras. Indra mengetahui kemarahan Diti dan dia juga tahu bahwa Diti sedang melakukan tapa brata yang keras untuk melahirkan putra yang dapat membunuhnya. Indra adalah seorang dewa tetapi dia merasakan ketakutan menghadapi ancaman kematian.

Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003 disampaikan……. Kehidupan ini sangat misterius. Tidak ada cara lain menghadapi kehidupan ini, kecuali dengan menjalaninya, melakoni-nya. Mengikuti arus dan mengalir terus, bagaikan sungai. Selama saya masih melawan maut, melawan arus, saya justru menambah kegelisahan saya. Saya buang begitu banyak tenaga, namun hasilnya nihil. Saya mencari sandaran, mencari rakit, mencari papan yang dapat saya jadikan alat bantu, tidak saya dapatkan. Begitu saya melepaskan segala macam harapan, begitu saya melepaskan segala macam harapan, begitu saya membiarkan diri saya terbawa oleh arus, saya pun menjadi lega. Ketegangan hilang, kegelisahan lenyap. Tidak ada lagi rasa khawatir, tidak ada lagi rasa takut. Sekarang saya siap menerima apa saja……..

Entah siapa yang membimbing Indra, kemudian setiap hari Indra datang membawa buah-buahan, bunga dan rumput persembahan dan diberikannya pada Diti, bibinya. Bahkan Indra selalu membawakan air suci untuk keperluan ritual Diti. Kewanitaan Diti tersentuh oleh perhatian Indra, sang kemenakannya. Tanpa terasa kemarahan Diti terhadap Indra sudah jauh berkurang. Indra sendiri selama setahun mulai paham kesusahan seorang wanita saat anak keturunannya dibunuh olehnya. Mungkin ada kemunafikan yang terjadi dalam diri Indra, dia memperhatikan kebutuhan bibinya untuk mengadakan ritual bagi kelahiran seorang putra yang akan membunuh dirinya. Bahkan Indra tahu semakin dekat dengan hari kelahiran, selama bibinya taat pada ritual yang diajarkan ayahandanya, maka calon sang putra semakin tambah sakti. Diti mulai memaafkan kesalahan Indra, akan tetapi dia tetap menjalankan tapa bratanya untuk melahirkan putra yang dapat membunuh Indra. Indra hanya melakoni apa pun yang dirasakannya sebagai suara nuraninya…….

Pada suatu hari, Diti sangat kelelahan, karena dalam keadaan hamil dan bertapa brata dengan keras selama berbulan-bulan. Diti tertidur sebelum mandi dan melakukan salah satu ritual. Indra segera memanfaatkan kelalaian ini, dengan yoganya dia segera masuk ke dalam kandungan Diti. Indra melihat calon bayi yang bersinar keemasan. Kemudian Indra mengambil vajranya dan memotongnya menjadi tujuh bagian. Potongan-potongan mulai berteriak dan Indra berkata, “Ma Ruda”, jangan menangis. Kemudian masing-masing potongan tersebut dipotongnya masing-masing tujuh bagian. Semua potongan berubah menjadi bayi kecil yang berkata, “Indra! Mengapa kamu melakukan hal ini, bukankah kami adalah saudara-saudaramu. Kami semua selama berada dalam kandungan makan sari makanan dari buah-buahan yang kau berikan kepada ibuku. Sebagian air suci yang diminum ibuku yang diperoleh darimu telah menjadi bagian dari tubuh kami.” Indra menjawab, “Jangan takut saudara-saudaraku, aku melakukan ini agar kalian menjadi saudara-saudaraku. Kalian akan menjadi satu denganku. Kalian bukan Detya, Asura akan tetapi kalian akan tinggal di istana para dewa dan kalian akan disebut Marut.

Diti bangun dari tidur dan menemukan bahwa anak-anaknya telah dilahirkan. Mereka bersinar keemasan dan berada di sisi Indra. Diti berkata, “Indra , aku tengah melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan putra yang dapat membunuh kamu. Bagaimana bisa aku mempunyai 49 putra? Jika kamu mampu berkata benar sampaikan apa yang telah terjadi?” Indra berkata, “Ampuni aku bibi. Dengan keinginan melindungi diri dari kemarahanmu, aku masuk ke dalam kandunganmu dan mencoba membunuh anak yang akan lahir. Akan tetapi walaupun dipotong-potong oleh vajraku, anak itu tidak mati, bahkan setiap potongan menjadi anak tersendiri. Aku melakukan hal ini hanya terdorong naluri untuk mempertahankan kehidupanku. Para putramu hidup dan aku tidak bisa membunuh mereka, mereka tidak bisa mati. Kemarahan Diti terhadap Indra sudah menguap dan dia berkata, “Adalah takdir yang menjadikan aku lengah dalam menjalankan tapa brataku. Aku sangat hati-hati, melakukan dengan penuh keseksamaan, akan tetapi hari ini aku melakukan kesalahan. Itu juga bukan kecerobohanku, hanyalah maya Narayana yang menyebabkan itu terjadi. Anak-anakku telah diberi keabadian oleh suamiku, itulah sebabnya vajramu tidak berdaya. Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan dan aku juga beruntung bahwa anak-anakku tidak bisa mati.

Indra masih menunggu lanjutan kata-kata Diti dengan penuh kecemasan, dia takut apabila Diti mengeluarkan kutukan bagi dirinya. Kutukan dari seorang wanita yang baik justru lebih berbahaya dari kematian. Indra sangat cemas, karena tidak tahu apa yang terjadi dalam diri bibinya. Hanya Narayana yang tahu. Indra sadar bahwa sebagai dewa dia pun masih belum dapat membuka misteri dari Narayana. Dia pun tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya. Dalam ketidaktahuan tentang misteri kehidupan, Indra menjadi sadar bahwa selama ini dia tidak pernah peduli dengan kematian para asura. Apakah ini juga merupakan peran yang diberikan-Nya kepada dirinya? Indra juga tidak tahu setelah tugas dia berakhir dia akan menjadi apa, dia tahu dia hidup hanya untuk satu manvantara yang berarti satu zaman dengan salah satu Manu dan kemudian akan digantikan oleh Indra lainnya……..

Adalah suatu keangkuhan bila kita menganggap paling bisa memahami siapakah sebenarnya Tuhan, Allah, Gusti, Hyang Widdhi, Narayana ataupu sederet nama sebutan lainnya. Bahkan kehidupan ini pun masih merupakan misteri. Yang penting adalah menjaga kemanusiaan di dalam diri dan peduli dengan sesama manusia. Dalam buku “The Gospel Of Michael Jackson”, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009 disampaikan…….. Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa ketidakpedulian satu orang adalah suatu kehilangan besar bagi umat manusia dan perasaan manusia, suatu kehilangan yang tak dapat diperbaiki atau dibetulkan. Dengan menjadi cuek, tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri. Kita sedang membunuh perasaan manusia dan kepekaan di dalam diri kita. Kematian fisik adalah pasti. Pada akhirnya kita semua harus mati. Yang baik dan jahat, yang cantik dan buruk rupa, yang benar dan salah – semuanya harus mati juga. Para nabi, para manusia Ilahi juga mati, begitu juga para Buddha dan Avatar. Kematian pasti tidak dapat dihindari. Tentunya Michael Jackson tidak membicarakan kematian fisik, yang memang tak terhindarkan. Sang maestro sedang bicara tentang kematian kemanusiaan kita, kematian perasaan manusia kita yang terlalu dini – saat tubuh fisik masih hidup……… Michael Jackson bertanya, “Apa gunanya kehidupan, jika akhirnya semua harus mati?” Sesungguhnya pertanyaan ini malah sangat masuk akal. Mari kita tanyakan dengan cara lain: Apa gunanya hidup manusia, jika kemanusiaan dan perasaan manusia di dalam diri kita mati? “Harusnya kehidupan bisa lebih baik daripada yang ini, jauh lebih indah daripada yang ini” – kehidupan ini bukan hanya “suatu masa dalam waktu” antara dua titik lahir dan mati. Kehidupan ini lebih daripada dua titik itu. Yang lahir harus mati. Kelahiran adalah penyebab utama kematian. Tidak mungkin ada kematian tanpa kelahiran. Jadi jika kita lahir untuk mati – apa tujuannya kehidupan? Kenapa kita harus lahir?  Apa kelahiran kita ini hanya kecelakaan? Apa kematian itu hanya kebetulan? Kalau begitu, bagaimana kita memaknai kehidupan kita? Apa artinya hidup? Seluruh pertanyaan penting ini telah menghantui para filsuf dan pemikir kita sejak jaman dahulu. Seluruh pertanyaan ini telah melahirkan sistem-sistem agama dan kepercayaan. Ilmu pengetahuan juga berusaha menemukan jawabannya. Dalam keangkuhan dan kesombongan kita, kita mungkin berpikir kita telah menemukan jawabannya. Namun, jauh di dalam hati kita, kita tahu jawaban-jawaban itu hanya dugaan belaka. Pertanyaan aslinya masih tetap terselubungi misteri………..

……….Kelahiran adalah proses bersemainya bibit kehidupan. Proses ini berlangsung terus dalam kehidupan kita. Pertumbuhan dan perkembangan adalah kata kunci kehidupan. Evolusi adalah hukum kehidupan. Kematian bukanlah akhir dari proses ini. Sebaliknya, kematian hanyalah menandakan akhir satu siklus, dan juga menandakan mulainya satu siklus baru pada saat yang sama. Sebutir benih mati sebagai benih untuk menghadirkan sebuah tanaman, sebatang pohon. Lalu tanaman ini, pohon ini pun mati. Tetapi, pohon itu tidak akan mati sebelum meninggalkan benih-benih baru yang siap bersemi, berkembang, dan menghadirkan tanaman atau pohon baru. Sebutir benih mati sebagai benih untuk menghadirkan sebuah tanaman, sebatang pohon. Lalu tanaman ini, pohon ini pun mati. Tetapi, pohon itu tidak akan mati sebelum meninggalkan benih-benih baru yang siap bersemi, berkembang, dan menghadirkan tanaman atau pohon baru. Begitulah, proses ini berlangsung terus. Proses ini bukan hanya berkelanjutan, tetapi juga proses yang memungkinkan, pertumbuhan. Sebatang pohon yang sekarat meninggalkan banyak benih, hampir tak terhitung banyaknya. Setiap benih punya potensi untuk tumbuh jadi sebatang pohon. Satu menjadi seribu. Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Bagaimana membongkar misteri kehidupan? Tidak akan pernah kita bisa melakukannya. Setiap benih punya potensi untuk tumbuh jadi sebatang pohon. Satu menjadi seribu. Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Bagaimana membongkar misteri kehidupan? Tidak akan pernah kita bisa melakukannya. Karena kehidupan kita, atau masa hidup kita jika Anda lebih suka menyebutnya begitu, hanyalah bagian dari Keseluruhan Kehidupan dan Keseluruhan Hidup. Bagian kita adalah bagian dari Keseluruhan, tetapi tetap kita tidak dapat mengukur Yang Seluruhnya itu. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berusaha memahami bagian kita ini. Sepenggal kehidupan ini, kehidupan yang kita jalani saat ini dan di sini, inilah yang harus kita jalani. Sepenggal kehidupan tempat kita bereksperimen……….

Bapak Anand Krishna mengurai keangkuhan manusia yang menganggap dirinya memahami segalanya. Dengan kesadaran bahwa manusia masih jauh dari pemahaman untuk membuka misteri kehidupan, maka dia tidak akan angkuh dan merasa paling benar sendiri. Pandangan seperti ini penting sekali agar umat manusia tidak bertindak menggunakan kekerasan agar orang lain mengikuti pendapatnya yang dirasakan paling benar sendiri. Sayang pandangan tersebut sering disalahpahami oleh sebagian kelompok…… Silakan lihat….

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Diti kemudian melanjutkan perkataannya, “Berbagai kehendak Tuhan tidak pernah dapat digagalkan. Ambillah para putraku bersamamu dan mereka akan menjadi saudara-saudaramu. Kamu adalah seorang dewa dan mereka juga akan menjadi dewa, walau mereka keturunan Diti.” Indra dan para Marut lega mendengar akhir dari skenario Narayana……. Mereka semua melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, meninggalkan kehendak pribadi mereka………..

Dalam buku “One Earth, One Sky, One Human Kind, Celebration of Unity in Diversity”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2009 disampaikan…….. Tuhan adalah Yang Terberkati, Ia tidak memerlukan konfirmasi kita. Di sini sebenarnya kita belajar memberkati yang lain, dan juga diri kita sendiri. Kita sedang berusaha menguasai seni memberkati, yang dengan gampangnya diperoleh mereka yang telah memasrahkan diri pada KehendakNya. Memasrahkan diri pada KehendakNya berarti membiarkan Ilahi untuk bicara melalui kita. Cinta kasih adalah bahasa Tuhan. Puja-puji adalah bagian dari tutur katanya. Kebaikan adalah tata bahasanya. Ini adalah panggilan untuk meninggalkan pembelajaran bahasa benci dan sengketa, serta kembali belajar bahasa cinta dan persahabatan……… Kau adalah awal mula, pertengahan, dan akhir. Kelahiran, masa dewasa, dan kematian, seluruhnya terjadi di dalamMu. Kau meliputi segalanya dengan kasihMu. Kau adalah semuanya. “Kau hidupkan yang mati, Kau miliki kekuatan untuk menyelamatkan” – jika kita percaya pada Keabadian Tuhan, jika Tuhan memang Abadi, lalu bagaimana dengan kita dan alam semesta yang tercipta dalam citraNya? Jika yang Itu Abadi, maka yang ini harusnya juga abadi. Jika yang Itu Hidup Selamanya, maka yang ini harusnya juga selamanya hidup……. Jadi, apakah kematian itu? Penjelasan paling bagus: kematian adalah mitos. Kematian hanyalah tampak luar, seperti kelahiran. Mereka hanyalah gelombang-gelombang dalam samudera luas yang disebut Kehidupan Abadi. Ada kelahiran, dan kematian, dan kebangkitan kembali, dan kehidupan baru. Seluruhnya terjadi di permukaan Kehidupan Abadi. Yang ada di dalamnya….. adalah tebakan kita semua…….. Kaulah satu-satunya tempat berlindung. Yang jatuh, tersepak, babak belur, sakit, miskin, putus asa dan tidak punya rumah – semuanya menemukan kedamaian dalam diriMu. Yang terikat menemukan kebebasannya. Yang bebas menemukan pemenuhan jalan hidupnya padaMu. Tuhan adalah Kebebasan Paripurna, dan juga Sang Penyelamat…….. Kau tiada taranya. Tidak ada satupun yang bisa menandingiMu, karena segalanya adalah Engkau. Engkaulah kehidupan, kematian, kebangkitan kembali, dan juga keselamatan. Bait ini sangatlah indah. Si pemuja tidak lagi memohon hal material melainkan pemahaman, pengetahuan, dan wawasan sejati yang mendalam. Doa ini memohon kebijaksanaan, dan karenanya adalah doa yang sangat bijak. Materi hanyalah manifestasi dari energi. Kebijaksanaan adalah energi. Begitu anda peroleh, materi akan mengikuti. Sekarang jika kita menderita, mungkin sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri. Penjelasan paling mungkin adalah bahwa kita mengejar materi dan melupakan energi yang merupakan sumber materi……… “Mohon berikanlah kami pengetahuan, pemahaman,  dan pandangan yang jernih mendalam dariMu” – bukan hanya pilihan katanya. Urutan kata-kata ini juga sangatlah penting.  Pengetahuan bukanlah akhir, melainkan langkah pertama menuju pencapaian pemahaman dan pandangan yang jernih. Pengetahuan itu murni milik pikiran. Pikiran kita menyerap segala macam pengetahuan, tapi tidak semuanya dicerna dan diubah menjadi pemahaman. Apa yang kita ketahui dan apa yang kita pahami adalah dua hal yang berbeda. Saya kenal anda, tapi saya mungkin tidak memahami anda. Saya tahu apa dan di mana Amerika Serikat. Tapi saya belum tentu tahu semuanya tentang orang Amerika. Saya mungkin tidak tahu adat-istiadat dan tradisi dan kebudayaan orang Amerika. Pengetahuan tanpa pemahaman itu seperti rahim yang kering, steril, tidak dapat mengandung. Seperti pohon tanpa buah. Kemudian, setelah pemahaman baru muncul pandangan yang jernih, sebagai daging buah pemahaman tersebut. Jika pemahaman adalah seorang bayi, pandangan yang jernih adalah karakter dari bayi tersebut begitu dia tumbuh dewasa………

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone