Dalam perjalananya sebagai Rasul, Nabi Muhammad dihadapkan dengan Suku Quraisy di bawah pimpinan pamannya sendiri Abu Jahal menentang kenabian Muhammad. Bukan hanya sekedar menentang. Dalam ketidakpercayaan mereka terhadap kabar, pesan dan ajakan Muhammad. Suku Quraisy tidak segan-segan menggunakan kekerasan, pedang untuk menyerang, mengitimidasi Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya.
Untuk menjaga keimanan para pengikutnya, dan karena Nabi Muhammad begitu menyayangi ummatnya. Akhirnya Nabi Muhammad memutuskan untuk berhijrah ke kota Yastrib yang kemudian diganti dengan nama Madinah al- Munawarah yang mempunyai arti kota yang tercahayai, tercahayai oleh nur Muhammad, kasih sayang Muhammad dan kasih sayang antara kaum Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dengan kaum anshor (orang-orang yang menolong).
Dalam sebuah riwayat menyebutkan, ketika Nabi Muhammad hendak berhijrah, beliau bersujud mencium tanah kota mekkah tempat kelahirannya.Nabi Muhammad sangat mencintai tanah kelahirannya. Beliau memutuskan untuk berhijrah (berpindah) bukan karena membenci tanah kelahiranya dan penduduk kota mekkah. Tetapi semata-mata karena beliau memikirkan keselamatan dan perkembangan jiwa pengikutnya (murid-muridnya) yang waktu itu masih sedikit jumlahnya.
Sesampainya di kota Yastrib, Nabi Muhammad dan pengikutnya (Muhajirin) disambut dengan suka cita oleh kaum Anshor (anshor berasal dari kata Nashoro yang artinya menolong). kaum anshor memberikan bantuan, perlindungan kepada kaum muhajirin tanpa rasa prasangka walaupun mereka baru saling kenal. Tentang keutamaan sifat kaum anshor ini diceritakan dalam Alquran surat Al-Hasyr ayat 9:
” Dan orang-orang yang telah menempati kota madinah dan telah beriman (anshor) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka (Anshor) ’mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun merkea dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikirannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
Kaum Anshor mencintai Kaum Muhajirin tanpa memandang siapa kaum muhajirin, walaupun Kaum Muhajirin bukan keluarga mereka ataupun karena karena mereka mengharapkan imbalan. Bahkan mereka lebih mendahulukan kepentingan kaum muhajirin daripada dirinya sendiri. Di Madinah (Yastrib) inilah Nabi Muhammad dapat mewujudkan kehidupan bernegara yang Beliau cita-citakan. Dimana semua orang saling menyayangi tanpa memandang siapapun mereka. Semua merasa terlindungi dibawah kepemimpianan Nabi Muhammad. Tidak ada Muslim, Yahudi, ataupun Nasrani semua hidup berdampingan.
Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Umar bin Khatab, Rasulullah bersabda: ”diantara hamba-hamba Allah, ada hamba-hamba yang bukan nabi, bukan pula syuhada’ tetapi kelak pada hari kiamat, para nabi dan para syuhada’ cemburu atas kedudukan mereka di sisi Allah SWT.”
Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah beritahukanlah kepada kami, siapakah mereka dan apakah perbuatan mereka? Mungkin kami akan mencintai mereka! Rasulullah menjawab, ” mereka adalah sekelompok manusia (suatu kaum) yang saling mencintai dalam ridha Allah, bukan karena ada hubungan keluarga, juga bukan oleh motif harta benda yang bisa membuat mereka saling memberi dan menerimanya. Demi Allah! Wajah-wajah mereka ketika itu, benar-benar bercahaya! Dan mereka berada dia atas mimbar-mimbar cahaya!
Di setiap agama, disetiap masa ada seorang utusan, rasul, avatar, mesias yang diturunkan Tuhan untuk menuntun dan membimbing manusia kepada kebenaran sejati. Kepada mereka kita bercermin untuk senantiasa mengintropeksi diri apakah kita jauh atau dekat dengan kebenaran. Maka ketika Nabi Muhammad dengan jelas menyuarakan pesan cinta tanpa pilih kasih, rahmat untuk semesta, menunjukan kelembutan bukan kekerasan, melindungi bukan menghakimi maka tidak ada alasan untuk kita yang mengaku sebagai ummatnya, pengikutnya, muridnya tidak mengikuti perilakunya yang kita anggap sebagai suri tauladan. Muhammad bukan fisik, raganya sudah lama meninggalkan kita tapi Muhammad adalah ajaran yang tak pernah mati sampai akhir zaman. Kalau kita mulai lupa, mari mengingatkan diri kembali, merayakan kelahiranya setiap hari dengan mencintai keluarga sebangsa yang beraneka ragam suku dan agama, karena perbedaan adalah kekayaan terbesar bangsa Indonesia.
Tulisan ini untuk kalian para muslim, islam yang melampaui kata, islam yang bermakna dia yang berserah diri, dia yang tidak menjadikan syahadat hanya di ujung bibir tapi dia yang menjadi saksi bahwa hanya Tuhan yang merajai hati bukan uang, kekuasaan, bahkan dogma sekalipun. tulisan ini untuk semua para muslim yang menolong tanpa harus bertanya agamamu apa, muslim yang mengasihi tetangganya tanpa menanyakan apapun latar belakangnya, muslim yang bersahabat tanpa menanyakan dulu kolom agama di ktp mu apa. Tulian ini untuk islam yang bukan berarti konstitusi, atau qonun. Karena islam melampaui segalanya..kalian semua adalah muslim apapun agama atau jalan yang kalian pilih.
oleh Muslihah Razak