With Love from Indonesia to the World

Surat Cinta untuk Habib Rizieq dan Munarman dari Korban Tragedi Monas

Salam damai.

Semoga damai selalu menyertai Bapak berdua.

Semoga saya tidak terlalu lancang mendoakan kedamaian untuk Bapak berdua. Karena saya tahu belum ada kedamaian di dalam hati Bapak berdua. Darimana saya tahu ? Dari tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri dan bahkan sempat menjadi salah satu korban yang memerlukan perawatan intensif. Penyerangan yang dipimpin langsung oleh Bapak Munarman dan ‘mungkin’ diketahui oleh Bapak Habib. Dari tragedi itulah saya mengetahui belum ada kedamaian dalam diri Bapak berdua.

Tragedi itu membuat saya dan beberapa saudara sebangsa kita terluka. Luka fisik kami dapat sembuh, trauma mental kami dapat kami atasi dengan berbagai macam terapi. Namun saya melihat Andalah yang paling terluka diantara kami semua. Saya belum pernah melihat kebencian dan amarah sehebat itu dalam diri seorang manusia. Dan saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya Anda menanggung semua beban itu. Kebencian Anda, amarah Anda, dan kekerasan yang muncul karenanya dapat memakan anda hidup-hidup.

Terlepas dari semua yang telah Anda lakukan, kekerasan tanpa pandang bulu, pembenaran kekerasan tersebut atas nama agama, pengalihan isu kekerasan menjadi isu agama yang berpotensi memecah belah kesatuan kita sebagai sebuah bangsa, dan upaya-upaya penghinaan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, saya tetap menghargai anda sebagai sebagai manusia Indonesia. Karena apapun konsep yang Anda gunakan untuk menafikan hal tersebut, Anda, para korban, kita semua tetap saudara sebangsa, bangsa Indonesia. Kita sama-sama hidup dari bumi pertiwi ini, kita sama-sama mempunyai kenangan, ikatan terhadap tanah air kita ini. Meski terlahir dari latar belakang yang berbeda, seperti Anda yang terlahir dari keluarga Muslim dan saya yang terlahir dari keluarga Hindu, seperti Anda lelaki dan saya perempuan, saya meyakini satu persamaan di antara kita yaitu, kita sama-sama orang Indonesia.

Perbedaan kita adalah sebuah kepastian. Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk menghapus kenyataan tersebut. Begitu juga dengan perbedaan yang lain, katakanlah perbedaan dengan aliran lain, yang berkat ancaman ‘kekanakan’ Bapak Munarman, kelompok minoritas tersebut sekarang terancam jiwanya. Saya tidak mendukung atau membenarkan aliran tersebut, karena jelas saya bukan orang yang tepat untuk memberikan pendapat mengenai hal tersebut. Namun keberadaan kelompok minoritas tersebut dengan kelompok Anda berdua adalah sama. Keduanya menuai pro dan kontra dari sejak lama. Namun selain kelompok Anda, tidak ada kelompok lain yang mengancam keberadaan kelompok lain dan bahkan sekarang kelompok Anda adalah satu-satunya kelompok yang terbukti telah sering kali mengganggu ketertiban dan keamanan umum serta melecehkan aparatur negara bahkan Presiden RI.

Pancasila dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ adalah pemersatu bangsa. Kondisi bangsa kita yang terdiri dari beribu pulau, beragam suku, ras dan agama, dapat dipersatukan selama puluhan tahun oleh kesaktian Pancasila. Lagi-lagi, kenyataan ini tidak dapat Anda nafikan karena keberadaan Indonesia saat ini ada bukti nyata. Apapun skenario yang Anda punya untuk menghapus perbedaan itu, mulai dari mengalihkan isu kekerasan menjadi isu pembubaran aliran agama tertentu sampai dengan menyebarkan isu penggantian landasan negara ini dengan landasan agama tertentu, sepertinya tidak akan berjalan mulus tanpa hambatan. Seperti pada tragedi Monas yang Anda coba alihkan menjadi isu agama, keberadaan Saya, perempuan yang beragama Hindu, yang sedang merayakan hari kelahiran Pancasila, yang tak luput dari serangan, mematahkan semua isu yang Anda coba munculkan. Begitu pula kalau Anda mencoba mengangkat isu penggantian landasan negara kita ini. Saya yakin, selain Saya sendiri, lebih banyak masyarakat yang mencintai perdamaian dan mampu melihat keindahan dalam perbedaan.

Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, apa yang Anda takutkan dari perbedaan ? Dan mengapa Anda takut sekali akan perbedaan ? Perbedaan adalah rahmat dari Tuhan, jika saya tidak salah mengutip dari kitap suci Anda.

Maka dari itu, saya sarankan Anda berdua untuk mulai berdamai dengan diri Anda masing-masing. Olah kebencian dan amarah Anda dengan cara yang lebih sehat, misalnya dengan bernyanyi dan menari. Kemudian bernyanyi dan menari untuk ke-Indonesia-an kita. Niscaya, Anda akan temukan sesuatu yang lebih indah. Dan perbedaan yang selama ini selalu memicu jenggot Anda untuk terbakar, akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih indah. Oh iya, setelah Anda selesai dengan diri Anda sendiri, jangan lupa untuk menyebarkan keindahan yang Anda temukan kepada seluruh laskar Anda. Indonesia akan menjadi jauh lebih indah tanpa kebencian dan kekerasan dari Anda dan seluruh laskar Anda.

Salam cinta dan damai untuk Anda berdua.

Nyoman Aisanya Wibhuti

Share This Post

9 Responses to “Surat Cinta untuk Habib Rizieq dan Munarman dari Korban Tragedi Monas”

  1. wintolo says:

    Mereka berdua adalah orang yang patut dikasihani. Mereka lupa terhadap kitab yang mereka yakini, Al Quran. Barang siapa yang buta hatinya di dunia, akan lebih buta lagi di akherat. Mereka berdua adalah korban para ulama yang menyesatkan/membelookan ajaran Islam yang cinta damai. Juga mereka telah mengkhianati ajaran Nabi Muhammad yang sangat mencintai kedamaian. Jadi sesungguhnya mereka berdua adalah musuh Islam ajaran Nabi Muhammad. Sebagaimana pernah Rasulullah sabdakan bahwa Abdul Wahab adalah yang dilahirkan di Nadjh adalah pengkhianant Nabi. jaran itulah yang diikuti oleh mereka berdua, Wahabi. Pelecehan terhadap ajaran Rasulullah yang penuh rahmat bagi alam semesta. Kasihanilah mereka, doakan selalu agar segera diberikan rahmat oleh Allah. Marilah kita kirimkan kasih kepada mereka berdua yang sedang dibakar amarah. Amarah adalah salah satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Allah.

  2. Benn Isman says:

    Jika semua manusia bisa saling mendoakan, bahkan terhadap seseorang yang pernah menyakiti diri kita, alangkah indahnya dunia ini. God Bless Nyoman Aisanya Wibhuti.

    Salam Damai.

  3. ari triyatno widodo says:

    semoga mereka berdua.menyadari kesalahan atas kenyakinannya

  4. Y Rizki Priyoko says:

    Kejadian baik maupun buruk kita tetap di dalam Dia. Hanya sedikit yang bisa tersadar bila baik maupun buruk kita masih di dalam Dia. Salam.

  5. jhunaidi says:

    saya sangat mendukung perjuangan habib rizieq dan munawarman perlu anda ketahui bahwa suatu masalah bisa diselesaikan dengan jalan damai dan bisa juga diselesaikan dengan kekerasan perlu anda ingat indonesia merdeka direbut dengan kekerasan karena dengan jalan damai indonesia tidak pernah akan merdeka apalagi bila dalam agama kami ada yang menodai dengan mangatakan ada nabi selain nabi Muhammad SAW. SAW artinya nabi penutup tidak ada nabi yang lain.Nabi kami dan orang orang muslim sangat cinta dengan kedamaian tapi bila nabi kami dipermainkan maka taruhan nyawa kami tidak menjadi masalah wassalam

  6. Ahmed says:

    Mas, Nabi Muhammad SAW saja menghadapi orang yang menghinanya sangat sabar dan penuh dengan kasih sayang sehingga orang yang menghinanya bisa berubah dengan sendirinya tanpa perlu adanya paksaan. Contohlah Sang Nabi untuk berbuat seperti itu, jalan kekerasan sangat cepat menyelesaikan masalah tetapi tidak akan lama bertahan. Jadi tolong jangan menggunakan cara instan dan preman untuk mereka yang berbeda pendapat dengan kita. Orang tua yang penuh cinta tidak akan memukul anaknya walau berbuat salah, tetapi dibimbing dan diberi contoh sehingga anak tersebut dengan penuh kesadaran bisa berubah dengan sendirinya. Janganlah terbawa emosi, Nabi mengajarkan JIHAD SEUMUR HIDUP untuk melawan nafsu kita sendiri. Cintailah musuhmu dan bawalah ia ke jalan yang benar tanpa perlu adanya kekerasan. Itulah esensi dari ajaran semua agama di dunia, yaitu Cinta.

  7. candra says:

    Kekerasan bukanlah suatu solusi dan hanya memperburuk keadaan. Saat kita mencoba menyelesaikan suatu masalah dengan jalan kekerasan, hanya luka yang sebenarnya didapat, baik mereka yang kita lukai maupun diri kita.
    Dunia ini diciptakan penuh perbedaan. Cintailah pebedaan itu, karena dengan mencintai perbedaan kita dapat saling memahami dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

  8. Wijaya says:

    Kasihan mas Jhunaidi……masih diliputi kegelapan, amarah, kebencian…….

  9. Ambara Sugama says:

    Perlu kebesaran hati yang luar biasa HANYA untuk memaafkan seseorang yang telah berbuat jahat kepada kita. Selanjutnya, entah kata apa lagi yang harus saya berikan kepada orang yang sanggup mendoakan kedamaian pada orang yang telah menzoliminya, mengingat kata LUAR BIASA sudah dipakai hanya pada orang yang sanggup memaafkan?

    Terlihat jelas sudah kualitas mereka yang disebut pimpinan agama itu, egonya masih setinggi MT EVerest dan hanya kebencian yang mendominasi pikirannya…..apakah benar Allah yg selalu mereka puja sebagai yel2 senang dengan orang orang seperti ini???

    Inikah potret umat beragama kita, hasil pedidikan agama kita ?? Tanya Kenapa???

Leave a Reply

Powered by Wordpress | Designed by Elegant Themes